Monday, 4 February 2019

MANIFESTASI KEINGINAN BIAR CEPAT TER REALISASI DALAM KACAMATA VIBRASI RASA

Oleh Lia Kurniawati


Setiap kita pasti punya keinginan apapun bentuknya dan kadang keinginan ini diucapkan secara sadar melalui lisan, dalam ritual doa, atau terbersit dalam hati. Sesuai judul manifestasi keinginan agar cepat terealisasi. Kata manifestasi adalah perwujudan jadi keinginan mewujud itu menjadi kenyataan, keinginan itu sesuatu yang ada di dalam, sedang realita adalah seuatu yang terjadi  di luar sedangkan manifestasi adalah proses dari dalam menuju realisasi.

Banyak dari kita berpikiran bahwa mewujudkan keinginan jalur perwujudan dari keinginan,  dari doa2 kita hanya satu jalur, jalur yang mungkin kita anggap reguler atau pada umumnya. Misalnya anda lagi sakit pengen sembuh, kalau jalur reguler ya sakitnya berkurang-berkurang dan berkurang langsung sembuh atau sakitnya hilang. Kasus lain ketika banyak hutang, bayar, bayar tiba-tiba tau tau udah lunas aja. Atau perhatian anda ingin umroh, anda sudah buka rekening tapi tak jua bertambah eh tau-tau ada rejeki nomplok langsung bisa pergi umroh.

Padahal jika kita mengamati dengan baik, ada jalur yang tidak banyak disukai oleh kebanyakan orang padahal jalur ini sering terjadi dan ini merupakan satu pilihan yang tidak bisa dihindari apabila kita menginginkan sesuatu dimana kita belum pantas. Biasanya akan diarahkan pada jalur ini bukan ke jalur reguler atau sama dengan ketika anda menginginkan sesuatu dalam berdoa kayak minta baju, misalnya anda minta baju ukuran XL sementara Tuhan melihat badan anda kecil, lain  karena kita tidak mau mengganti doa atau keinginan kita tetap memilih XL maka tidak ada opsi lain untuk  Tuhan mau tidak mau membesarkan badan anda supaya ukuran baju XL yang anda minta muat dipakai oleh anda. Atau sebaliknya permintaan baju kita ukuran S sementara tubuh kita gede, maka tidak ada pilihan lain bagi tuhan mengecilkan tubuh kita biar pas dengan ukuran bajunya.  

Keinginan itu kudu pas, keinginan itu seperti baju jadi kita kebesaran atau kekecilan, na ini kudu pas! ketika permintaan ini pas dengan kepantasan kita itu seperti badannya sesuai dengan baju yang kita pakai.   Tapi ketika anda meminta baju yang tidak relevan ukurannya, maka yang sering terjadi anda akan dipantaskan melalui jalur manifestasi non reguler atau jalur ekstrimisasi.

Jalur ekstrimisasi itu satu mekanisme atau manifestasi doa yang sedang di alami oleh orang tersebut itu di pentokin sampai titik maksimal baru akan berbalik pada sebuah jalur yang anda harapkan. Contohnya ketika anda punya utang kemudian minta dilunasi, misalnya
Ada dua jalur manifestasi (proses) keinginan atau manifestasi doa,
  1.       .   Ketika meminta kudu siap apa yang pantas dengan kita
  2.        .  Ketika menginginkan sesuatu maka kita akan dipantaskan dengan ektremisme kejadian-kejadian yang anda hadapi.

Tidak ada keinginan yang tidak didengar, tidak ada keinginan yang tidak dikabulkan oleh Allah semuanya diproses, semuanya dimasukkan dalam manifestasi hanya saja jalurnya tidak  selalu kita harapkan tapi bisa juga melalui jalur kepantasan. Intinya sabar dan ikhlas.

Sunday, 3 February 2019

GAGAL FAHAM, FIKSI YANG BERURUSAN DENGAN POLISI




Oleh : Lia Kurniawati

Fiksi dan non fiksi akhir-akhir ini mencuat begitu pongah di permukaan jagad daring hingga banyak program berita gosip membanjiri kontennya dengan berita ini. Padahal kedua kata ini sejatinya akrab dengan para penulis, editor, penerbit dan yang berkecimpung dalam dunia penulisan. Dulu sekali dan mungkin saat ini anak-anak di sekolah SMP-SMA mengenal juga. Ini salah satu pengalaman saya jaman SMP kayaknya, salah satu guru Bahasa Indonesia saat itu bilang  bahwa FIKSI itu akar katanya FAKTA. Jadi karangan penulisan FIKSI itu berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

euh! entah karena sama-sama berawalan F sehingga pemahaman yang melekat di benak saya FIKSI itu sama dengan FAKTA. So, ketika seorang Rokky Gerung menyoal kitab suci itu Fiksi saya mengiyakan dengan asumsi di atas. Entah dia baca kitab suci yang mana? Quran, bibel, ataukah yang lainnya. Dan satu hal lagi awang-awang saya menyimpulkan kalau fiksi itu berkaitan dengan sastra dan sastra itu sudah pasti indah, dan tentunya Allah menyukai keindahan kan?! Contohnya banyak surat-surat yang Allah wahyukan dalam al Quran bernada indah seindah sastra. Ini saya kutip dari guru ngaji subuh saya KH. Uman Syahruman. Buktinya apa? Coba buka QS. Az-zalzalah pasti setiap akhir ayat akan berakhiran sama ... aha.

Idza zulzilatil ardu zilzaalaha, wa akhrojatil ardhu ashqoolaha .. kurang lebih saya simpulkan mirip pantun. Masih banyak keindahan sastra yang termaktub di dalam al quran.  Itu bukti bahwa Allahpun Maha epik dalam sastra. Dan fiksi-sastra dn keindahan sungguh suatu hal yang mengenyangkan, menyenangkan dan mengindahkan.

Ternyata kaget juga kenapa dari sebuah kata “Fiksi” lantas berurusan dengan polisi, bikin saya penasaran, lalu saya googling apa itu Fiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oalaaah ternyata saya sewaktu SMP gagal faham kah ataukah guru yang mengajar salah menyampaikan?!  Menurut KBBI, Fiksi itu ternyata fiktif alias cerita karangan (roman, novel dsb), rekaan, khayalan, tidak berdasarkan fakta, atau pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan dan pikiran.

Hmm .. menurut tokoh yang mendadak viral itu “Kitab suci itu fiksi ...” patut ditelaah atau dipertanyakan beliau itu sudah baca kitab suci apa, sehingga dapat menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi? Jangan-jangan dia nggak baca kitab suci al quran? Artinya mengapa dia bisa menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi, karena apa yang ada dalam benak kita sebagian besar merupakan hasil dari membaca. Dan bisa jadi dia berkesimpulan begitu jangan-jangan dia membaca kitab suci yang lain selain al quran atau persisnya tidak membaca kitab suci al quran. 

Ahli filsafat Indonesia menyampaikan bahwa pemahaman filsafat sebenarnya masih rancu untuk dikategorikan ke ranah yustisi (hukum), karena  filsafat berkaitan dengan penembangan pemikiran dan masing-masing orang berbeda sudut pandang, berbeda menafsirkan.  
Bahasan selanjutnya untuk kata non fiksi, ternyata tulisan bergenre ini adalah berkategori non fiktif artinya berdasarkan fakta contoh luaran sastranya cukup banyak dijumpai salah satunya artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau disertai. Selain itu banyak buku-buku non fiksi populer lainnya sepeti bibliografi seseorang, feature, buku pelajaran dll.

Jika kisah seseorang di tulis dalam bentuk novel lalu bergenre fiksi ataukah non fiksi?
Contoh novelnya Laskar Pelangi .. yang bisa jawb sila isi di kolom komentar ya.
Jadi simpulannya bahwa ketika kita bercelotehpun sudah seharusnya kita paham apa yang sedang dibicarakan, kemudian tidak salah menafsirkan. Sang penafsirpun sesungguhnya sedang mengemukakan data-data yang sudah terinput sebelumnya. dan intinya setiap individu bebas menafsirkan namun sepakati bersama simbol-simbol atau tanda-tanda yang dikomunikasikan agar potensi “berseberangan pendapat” mampu diminimalisir..

Saturday, 26 January 2019

BAPAKKU


BAPAK

Oleh : Lia Kurniawati

Nyut-nyut ... kepala rasanya pusing tujuh keliling makin lama makin berasa, hasil pemeriksaan dokter dari klinik semalam terkena vertigo katanya. Tapi yang pastinya karena banyak pikiran, terutama mikirin Bapak, orangtua satu-satunya yang masih hidup setelah lama ditinggal ibu.

Bukan lagi menjadi pikiran kami berempat anak-anaknya. Aku, Aa, teteh, dan Neni si bungsu sangat sayang pada bapak. Bapak yang ganteng, berparas enak dipandang para perempuan kalau bahasa anak-anak sekarang “good looking” katanya. Kelakuan Bapak, seringkali membuatku jengkel sekaligus buatku tertawa kecil jika mengingat kelakuan-kelakuannya yang sesekali terlihat konyol.
Satu hal kekurang ajaran sekaligus kelebihan bapak yaitu selalu “laku” aja ke perempuan manapun. SETIA, Setiap Tikungan Ada! Bukan setia dalam arti sesungguhnya.  

Teringat almarhumah ibu, saat itu hidupku dan kakak adikku terlantar gara-gara Bapak nikah lagi ke Ibu Gede, wanita karir yang punya kedudukan di militer. Saat itu pangkat ibu di militer bukan pangkat ecek-ecek. Sudah sampai pangkat Letnan Kolonel. Sedangkan bapak? Hanya seorang tenaga keamanan di beberapa pabrik tekstil. Bisa disebut juga jeger barangkali, karena punya pengaruh yang besar jika berada di lingkungan pekerjaannya. Jeger terhormat lebihnya, karena dari gaya bapak berkomunikasi dengan lingkungannya terlihat bijak dan elegant. Mungkin itu salah satu daya tarik bapak.

Ibu Gede ngga tahu kalau bapak meninggalkan anak-anaknya kami berempat, dan istri yang mendadak pesakitan.  Kami panggil ibu gede karena ibu terlihat penggede, berharta dan punya wibawa yang luar biasa. Katanya saat menikahi ibu Gede pun hajatnya luar biasa rame, sebab ibu Gede yang membiayai. Kayaknya ibu gede sangat mencintai bapak. Pastinya ibu gede tidak mendapatkan apapun dari bapak, atau sekedar diberikan hadiah mas kawin. Semuanya di tanggung dari Ibu Gede.

Aku yakin, bapak “MoKonDo” alias Modal Kon**l Doang! Yang buatku tidak habis pikir, pelet bapak bener-bener jitu!  Mendapatkan perempuan manapun kaya dan mapan sangat piawai bapak lakukan.

Teringat Wali kelasku saat SD kelas empat, Ibu Irus namanya, suka ngedadak kecentilan jika sesekali bapak mengantarkanku ke sekolah. Selanjutnya aku seringkali melihatnya di bonceng bapak, selanjutnya lagi aku sering mendapatkan hadiah tas, sepatu atau baju dari Bu Irus. Namun tragis waktu aku menginjak kelas enam, ibu Irus meninggal karena penyakit liver.
Kalau saja saat itu aku sudah berpikir dewasa, sudah bisa menduga ada peran bapak disana, peran bapak yang menyebabkan Bu Irus punya penyakit berat. Liver, tentunya hati bu Irus terlalu menanggung sesuatu dari bapak yang menyebabkan ia tak bisa bertahan. Bisa jadi rasa yang ia miliki pada Bapak hanya bertepuk sebelah tangan, atau mungkin terlalu banyak di bodoh-bodohi bapak yang menyebabkan tumbuhkan penyakit hati yang sedang  lara. Entahlah aku tak tahu.

Ibuku pun sepertinya begitu, akhirnya meninggalkan kami lebih dulu. Tinggal berempat, memperjuangkan nasib  kami sendiri-sendiri tanpa hadirnya bapak. Tinggal di rumah nenek yang sangat besar masih satu keberuntungan buat kami, setidaknya kami punya tempat untuk berteduh. Aa yang saat itu baru menginjak kelas tiga STM nyambi jadi tukang ojeg, sedangkan teteh keluar dari sekolah lebih memilih bekerja di pabrik. Dan aku baru menginjak kelas tiga SMP mengatur keuangan yang diberikan oleh Aa hasil dari ngojeg dipakai modal membuat bala-bala dan es teh manis, dibawa ke sekolah. Jual paksa ke teman-teman supaya mereka membeli daganganku. Sedangkan Neni,  ia ku tugaskan membawa dagangan untuk dititipkan di warung Bi Onah. Kantin kecil di sekolah.

Rupanya saat itu bapak sudah melupakan kami, empat jiwa yang akan dijadikan pertanyaan dan tanggung jawabnya di akhirat kelak. Bertemupun hanya sesekali dan itupun hanya sebentar. Boro-boro menafkahi, sekedar memberikan kami uang jajan sekalipun sepertinya tak terpikirkan, sesekali keliatan aku lewat  depan rumah Bu Gede pun langsung kena damprat.

“Jangan pernah liat-liat apalagi dekat-dekat rumah bapak, nanti ibu Gede marah!” hardiknya
Oh, jadi aku baru tahu kalau bapak takluk juga sama bu Gede, kayaknya karena Ibu Gede punya pangkat dan temperamental. Semenjak itu, aku sama sekali nggak pernah iseng-iseng mengunjungi rumah bapak. Biarin dianggap nggak ada juga!

Hubungan persaudaraan kami semakin erat, kami saling membantu satu dengan lainnya. Manis pahit bersama sangat berasa dan berarti untuk kami.

Aa kerja keras mencari tambahan penghasilan kesan kemari, bantu-bantu di bengkel si Uda, jadi sopir tembak si Abang. Begitu keluar sekolah sempat menganggur satu tahun lamanya kehidupan kami sedikit oleng karena Aa belum berpenghasilan tetap.

Dasarnya Allah Maha Penyayang, dan mungkin faktor keberuntungan memayungi kami melalui Aa. Kakak terbaik sedunia ku ini lulus diterima di akademi militer. Saat mendengar kabar gembira tangis haru tak lagi bisa kami bendung. Aa merangkul kami erat seraya bercucuran air mata tanda bahagia setelah perjuangan kami membuahkan hasil.

Allah maha membolak-balikkan hati umatnya. Sejak kejadian itu Bapak mulai sadar, memperhatikan kami. Mulai sering mampir ke rumah nenek. Ibu Gede sekarang tahu bahwa lalaki gagah perkasa dambaannya dunia akhirat, punya anak empat yang mulai beranjak dewasa.
Ibu Gede tak terlihat marah saat mengetahui bapak sudah punya kami, tidakpun merasa dibohongi oleh bapak .. yaa mungkin karena sudah dinikahi bapak, laki-laki ganteng yang selalu beruntung mendapatkan wanita manapun!.

Roman mukanya terlihat sumringah kala hari lebaran kami mengunjungi rumah Ibu Gede, kami bertiga sebenarnya enggan mengunjungi mereka mengingat perlakuan mereka yang jelas-jelas menelantarkan kami sedari kecil. Tapi hatiku dan adik-kakakku selain Aa luluh juga berkat rayuan Aa,

“Buruk buruk papan jati, meskipun busuk tetap Bapak tangkal derajat buat kita anak-anaknya, yang patut dihormat dan diminta doanya buat kesejahteraan kita” begitu kata Aa.

***

Pendek cerita, ibu Gede tahu mengenai Aa yang lolos di Akademi militer dan Ibu gede sangat mendukung kemajuan Aa. Bukan hal yang sulit baginya untuk menempatkan Aa pada posisi yang aman dan nyaman karena memang ibu berpangkat dan disegani di kantornya.

Tahun berganti tahun Aa lewati hanya untuk memperhatikan dan mengurusi kami, mengurusi sekolah-sekolah kami adik-adiknya sampai kami lulus dan masing-masing berumah tangga, namun tidak dengan Aa dan Teteh. Aa terlihat enggan menjalin hubungan dengan perempuan.

Aku dinikahi kang Maman, laki-laki sholeh terbaik se alam dunia yang Allah kirim, sikapnya penuh perhatian, tanggungjawab, sangat mengayomi, baik dan tak pernah macam-macam, kelakuannya sangat jauh dari mertuanya. Begitupun Neni, sikap suaminya tak beda jauh dengan Kang Maman. Hanya sayang, Teteh seperti yang trauma, dua kali dipinang, dua kali itu pula Teteh menolak. Dua kali berencana menikah, dua kalipun digagalkan. Hatiku sedikit peri mengingat umur teteh menjelang tua. Tetanggapun melabeli teteh perawan tua. Oleh karenanya teteh lebih memilih karier daripada mengurusi dan memperhatikan kehidupan pribadinya.  Bahkan sudah menempati jabatan tertinggi di perusahaannya.

Dan Aa, beberapa bulan terakhir terlihat menggandeng perempuan namun sayang terlihat ragu-ragu untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
“Aa, ayo cepet nikah!, Kan adik-adik Aa semuanya sudah ada yang tanggung jawab, perkara teteh biarkan saja ngga usah terlalu dipikirkan. Teteh bisa jaga dirinya sendiri.”
“Masa terus-terusan membujang! Nggak baik.”
“Takut nggak sayang ke adik-adik Aa”
“Ih. Enggak dong A! Nggak mungkin Alloh memberikan jodoh yang tidak sekufu dengan Aa. Kan Aa juga baik, pasti Alloh menghadiahi Aa istri yang baik juga buat mendampingi Aa.”

Selang setahun sejak saat itu, Aa memutuskan menikah. Hanya saja Aa terlalu mengkhawatirkan kami, sampai menitipkan pada istrinya untuk tetap mau berbagi, memberikan perhatian, rejeki dan asupan materi lainnya dari Aa sebagai bentuk kasih sayang. Syukur tiada terkira ternyata istri Aa pun perempuan sholehah, begitu tahu bahwa suaminya menjadi tulang punggung dan sandaran adik-adiknya, tidak pernah susah untuk membantu kami. Alhamdulillah, kami berempat diberikan nikmat rejeki berlimpah tak kekurangan suatu apapun.

Menyoal Bapak, selalu saja ada cerita. Awal tahun kemarin, ada perempuan umur sembilan belas tahun datang ke rumah. Gendong bayi, sambil menangis menyampaikan bahwa dia istri bapak dari Kota Surabaya. Padahal dua bulan sebelumnya tukang warung nasi di terminal, sengaja menemui Aa di kantor, ngaku sudah dikawin siri Bapak.

Ya Alloh Bapak! Bapak! Bentar-bentar nikah  dan parahnya lagi sembari ninggalin anak. Yang anehnya koq bisa-bisanya nyembunyiin itu semua dari kami.

Tukang warung nasi bercerita ke Aa, sudah lima tahun jadi istri bapak, dan anaknya sudah masuk TK sekarang. Dan yang datang ke rumah tempo hari mahasiswi semester dua! Katanya tergila-gila oleh Bapak makanya mau dinikahi juga.

Anehnya, diantara kami nggak ada yang berani menasihati Bapak, Punya kekuatan apa ya sampai Bapak begitu? Sampai kehabisan kata-kata jika aku terus memikirkan kelakuan Bapak. Terkadang melihat ekspresinyapun tatkala kami pergoki perempuan demi perempuan yang bapak nikahi, tak ada roman-roman penyesalan apalagi merasa berdosa. Sampai kamipun menyerah nggak ada sisa rasa kesal ataupun benci untuk Bapak. Hanya sebatas gemes dan geregetan. Selebihnya hanya rasa sayang yang ada di hati kami.

Aa hanya mampu menghela nafas,
“biarin Aa yang ngurus adik-adik anak-anak bapak dari istri-istrinya, kasian! daripada Bapak nggak tanggungjawab. Kita semestinya bisa berpikir lebih dewasa lebih mampu memberikan kasih sayang pada mereka. Kan darah yang ada di tubuh merekapun sama dengan darah yang mengalir di badan kita.”

“jangan sampai mereka merasakan kepedihan yang sama saat kita ditinggalkan Bapak dulu”
Sejak hari itu, Aa rajin mentrasnfer biaya untuk adik-adik dari istri-istri baru Bapak.
Kelakuan Bapak yang begitu rupa, membuat migren dan sakit kepalaku tak kunjung sembuh.
Bagaimana tidak! Aku juga perempuan, ikut merasakan pula apa yang terjadi pada perempuan-perempuan itu. Perempuan yang takluk dalam pelukan Bapak.

Tapi malah Bapak sendirinyapun cuek, berewek nyengled! Nggak peduli apa yang telah ia lakukan. Malahan akhir-akhir ini seringkali ikut menginap di rumahku. Iya, rumah nenek yang aku cicil perbulannya untuk menjadi milikku dan Kang Maman dengan membayar melalui ahli warisnya yang lain.

Pagi itu, memberanikan diri sambil menyodorkan kopi bertanya pada Bapak,
“Bapak, kenapa nikahin perempuan terus?!, ibu Gede tau nggak soal ini?”
“bukan salah Bapak koq! Perempuan iu yang maksa pengen dinikahi Bapak, Bapak suka nggak tegaan.”

“ibu Gede nggak tahu soal ini, kalau saja sampai tahu pasti marahnya luar biasa. Makanya jangan sampai ada yang berani ngomong sama ibu, nanti Bapak kena marah! Biarin aja ga tau ini koq!”
Ringan banget jawabnya bapak, sampai gemes aku dibuatnya.
“Bapak cinta sama Teh Elas yang di terminal?”

“Nggak lah!, Cuma kasian suka di gangguin para sopir-sopir dan para jeger terminal, kan kalau sudah hafal Teh Elas istri Bapak mereka nggak bakalan berani kurang ajar lagi.”
“Kalau sama Rini? Mahasiswi yang pantesnya jadi adik Nani?”
“Rini nggak punya ayah dari bayi, katanya nyaman kalau ketemu dan ngobrol bareng Bapak. pernah sekali nganter ibunya ke rumah sakit, tadinya suka sama ibunya tapi anaknya malah lebih lengket ke Bapak. Yaudah kepaksa di kawin aja, sayang juga ... cantik anaknya.”
“Bentar! Jadi selama ini ibu gede nggak tau kalau Bapak beristri lagi?”

“Ya nggak dong! Kan Bapak tiap malem jaga paberik, tentunya sangkaan ibu ya Bapak lagi dines . makanya kalau kalian semua sayang Bapak, udaaaah diem aja nggak usah banyak omong!”

Hhhmmm... jadi Bapak takut juga sama ibu Gede. Pantesan dulu saat sedang rumah tangga dengan ibu tega meninggalkan, tega juga meninggalkan kami yang kecil-kecil dan masih butuh biaya demi ibu Gede. Perempuan yang sangat besar sekali pengaruhnya. Tapi tetep aja ternyata Bapak tergolong Susis (Suami Sieun (Takut) Istri.

Tapi sayangnya ketakutan Bapak terhadap ibu Gede tak menjadikannya laki-laki setia, masih tetep saja tergoda perempuan-perempuan di luaran sana. Apalagi yang menjadi istri-istrinya yang baru cantik-cantik dan merekapun bisa mapan hingga Bapak tak perlu repot-repot menafkahi mereka. Cukup meniduri dan meninggalkan darah dagingnya.

***
Teringat dongeng nenek dari Bapak, dulu kakekpun sama seperti Bapak. Beristrikan duabelas orang dan kesemuanya nggak ada yang minta cerai atau diceraikan semuanya berpisah karena ajal.
“Apa Aki punya jimat khusus buat menaklukkan perempuan, nek? Terus ilmunya diturunkan ke Bapak?”

Nenek hanya mesem, tak banyak bicara.   

Tapi yang aku lihat di diri Aa, laki-laki yang sangat setia sama istri. Sepertinya darah ibu yang mengalir pada diri kami semua. Sesekali rasa khawatir menghinggapi memikirkan Kang Maman, dari segi fisik sama seperti Bapak, berparas cakep berperawakan ganteng jika sekali melewati kumpulan ibu-ibu muda tak pelak seribu mata memndang berusaha menggoda. Tapi dasar Kang Maman suami sholeh, tak sedikitpun bergeming, malah seringkali menenangkan pikirku.

“Masa akang tega menyakiti Neneng, jangan samakan akang dengan Bapak. Biarkan saja Bapak begitu memang kebutuhan dan kemauannya begitu. Jangan terlalu mikirin Bapak.”
“Tapi sepuluh tahun kita berumah tangga, tak juga diberikan keturunan. Neneng khawatir Kang. Kali aja akang penasaran atau kesepian ingin memiliki anak.”

“Cukup mendengarkan suara Neneng yang cerewet saja akang sudah bahagia dan tenang. Atau gimana kalau kita ambil anaknya Rini, istrinya Bapak yang masih mahasiswi kasian katanya belum membereskan skripsi?”

“Lah, nanti malah akang cinta Rini gimana?”
“ih! Ya nggak dong. Masa suka sama istri mertua! Takut neeng.”
Tawa kamipun lepas, sejenak vertigopun menghilang entah kemana.

Pajajaran, 26 Januari 2019




Tuesday, 8 January 2019

BABAK BARU

Dua kali adzan seolah mengharu biru menyambut datangnya malam.  Langit terlalu kelam kala lembayung lama sekali meninggalkan semburat bias awan. Sebuah teras balkon lantai dua sebuah apartment sewaan mulai akrab ditapaki kedua bilah kaki. Basah, bukan lagi becek! Aku terlalu berani menanggalkan sandal di lawang pintu sana demi sebuah penghormatan lantai yang mulai licin tersapu lap pel.

Bekas-bekas semburat air hujan memenuhi lantai balkon,  dua laki-laki dan satu perempuan selainku sibuk beradu argumen. Dari arah mana lancangnya air hujan masuk ke dalam kamar, bahkan ruang tengah menyapa setengah mata kaki kami. Perlahan tapak kaki mulai terkoyak, tulangnya seolah berontak tak ayal menahan dingin .. Linu bercampur ngilu, yaaa rhematiku kambuh!

Pandangku nanar, menatap langit kelam tak ada sesuatu diluar sana yang layak jadi bidikan tatapan mata. Satu laki-laki yang setia berkawan dengan kami karena berbayar, sedang pria jangkung terlihat selalu ikhlas kala aku dan istrinya meminta bantuan tanpa pamrih.
Tetiba dinginnya sepi menyelimuti hati, entah mengapa?! Haruskah bersedih ataukah berbahagia? Berada bersama mereka, meski hampir sebaya tapi mereka selalu bersedia ada.

"Terima kasih Tuhan .. Kau kirimkan orang-orang yang peduli"  gumam kecilku tak kuasa menahan gelegak liur terpaksa harus ku telan.

Babak baru,
Selalu ada alinea baru dalam setiap lembaran buku! Rengkuhan langit malam mulai menjadi, adzan terakhir tak terdengar lagi ... bergegas kusambar tali tas rami untuk menggelayuti bahu, sedang leher botol air mineral yang tersaji di atas meja segera ku sambar seraya mengikuti pria jangkung menuruni tangga meninggalkan dua orang yang sedang bergegas pula.



SELERA YANG TAK BERSELERA

Terkadang atau bahkan seringkali dosa yang ngga kerasa itu salah satu diantaranya memaksakan selera kita untuk dapat diterima oleh orang lain. Penentuan selera pun bisa jadi bahan cemooh. Selera digabungkan dengan ego akan melambungkan sesuatu kebenaran mutlak, mutlak yang hanya ada dalam sudut pandang pribadi.

Semisal, menurut saya standard kendaraan on the road keluaran pabriknya sudah cukup untuk menunjang aktifitas saya, namun lain halnya dengan selera teman, adik atau kakak saya. Bisa jadi jika mereka memiliki kendaraan dengan type sama mereka akan mengubahnya dari sisi mesin, ataupun accesories lainnya. Dan ini kembali pada selera dan standard diri.

Namun selera dan standard diri ini akan bermasalah jika di bumbui ego memaksakan selera kita terhadap orang lain yang justru akan mengakibatkan hilangnya jati diri seseorang. Namun sudut pandang lain berbicara bahwa Selera dan standard diri bisa jadi berubah seketika oleh berbagai faktor, faktor dari dalam hati (internal) atau faktor rujukan (eksternal).

Kalau faktor internal ini didapatkan dari rangsangan audio (pendengaran), visual (penglihatan) atau keduanya (audio visual) melalui pengalaman dan hal ini menimbulkan sensasi senang yang bisa jadi akan mengubah satu standard utama ke standard yang lain atau mengubah selera.

Contohnya ketika saya melihat dan mengalami naik kendaraan wangi, bersih dan lega dalam imaginasi akan menimbulkan sensasi tersendiri yang nantinya akan teraplikasi jika saya punya kendaraan type A saya akan memilih perngharumnya merk ini, modifikasi bagian bodynya akan begini dan begitu.

Faktor kedua, penggabungan selera dan ego yang akan merusak/mengubah standard seseorang. Dan seringkali faktor ego ini dibumbui dengan "memantaskan" selera pribadi untuk diterapkan pada orang lain. Padahal tidak pantas dan tidak sesuai dengan citra pemilik ataupun standard seseorang tsb.

Lalu bagaimana hal tsb bisa terjadi?
Berikut beberapa faktor yang jadi "pendukung" perubahan keterpaksaan, diantaranya :
1. Keengganan mengungkapkan keinginan
2. Pihak kedua lebih mendominasi
3. Ketidak mampuan pihak pertama untuk "menolak"

Menolak, justru akan lebih baik untuk mengukuhkan eksistensi diri kita namun untuk beberapa type orang kesulitan untuk berkata "tidak" karena faktor masa lalu yang tak mengajarkannya secara masif.

Kembali pada selera, ego dan kepatutan seseorang akan sangat berbeda satu orang dengan lainnya dan ini akan menentukan standard seseorang terhadap sesuatu. Hargai diri kita agar tidak selalu menerima selera orang lain yang dipaksakan dengan berkata "tidak".

Mendapati orang lain kecewa dengan keputusan yang kita ambil untuk mempertahankan jati dan prinsip diri bukanlah suatu dosa.

Monday, 7 January 2019

Hutang

Hutang, sesuatu hal yang mau tak mau harus segera terbayarkan. Beruntungnya jika hutang itu berbentuk uang, ada limit waktu yang bernama jatuh tempo penanda penyelesaian satu urusan jika sudah tertunai.

Lain halnya dengan hutang budi, hutang dimana ia tak kan pernah terselesaikan karena tak ada tempo tertentu sebagai tanda pelunasan akhir dan lalu selesai sebuah urusan. Salah satu sifat manusia ialah seringkali merasa menyimpan jasa tertentu jika ini menyangkut soal hutang budi lebih parah lagi jika hutang budi ini digabungkan dengan hutang uang. Lengkap sudah penerima manfaat seolah tergadai jalan hidupnya pada si penghutang.

Jika penggabungan kedua hal ini terjadi, maka bersiaplah jalan hidup anda direcoki, pendapat-pendapat anda menguap begitu saja tanpa realisasi, dan anda tak punya kuasa lagi terhadap diri anda sepenuhnya. Lantas bagaimana jika sudah terjadi hal yang demikian?

Disarankan segera berdoa, ikhtiarkan dan niatkan pada yang maha kuasa untuk dijauhkan dari orang-orang yang dapat merusak kepribadian dan kehidupan anda.

"Saya sudah berdoa agar dijauhkan dari yang begitu, tapi koq masih saja dipertemukan dengan yang demikian?"

Sadari juga bahwa ada doa-doa (niat) anda terdahulu yang meminta didekatkan dengan orang-orang yang menguntungkan! dan mungkin orang yang hadir saat ini "berselimutkan" hutang budi dan hutang uang itulah yang menjadi jawaban dari doa-doa anda yang di aminkan semesta.

Tetap bersemangat untuk merajut kehidupan yang lebih baik, mandiri dan tanpa jeratan hutang. Berdoalah agar dijauhkan dan dilindungi dari orang-orang keras hati yang dapat mengubah jalan hidup anda.

Sepertiga malam
Bandung, 7 Januari 2019

Sunday, 16 December 2018

SPIRITUALITAS & SEKSUALITAS

Ada yg mengatas namakan spiritualitas gonta ganti istri atau bahkan nambah istri, katanya sunnah rasul! Laah hati-hati itu namanya ada sesuatu yg dalam dirinya yg "belum selesai". Nafsu seksnya belum selesai, bilangan nafsu ini bisa jadi kehilangan figur kasih sayang semasa cilik yang terbawa sampai dewasa yg akhirnya gonta ganti mencari sana sini.

Kenali & Penuhi dulu hak jasmaniahmu lalu naikkan levelnya ke tingkat spiritual, jika masih berniat gonta ganti sana sini sekali lagi .. Allah ngasih tubuhmu itu bukan untuk jadi sumber kesusahan tapi sumber kebahagiaan, jadikan tubuhmu "kendaraan" untuk ciptakan kebahagiaan bukan untuk siksaan. Tubuhmu tak layak untuk disiksa aroma tubuh yg berbeda.

Tetapi jika dg bergonta ganti sana sini membuatmu merasa bahagia, wess ada sesuatu yang belum selesai dalam dirimu! Dan itu takkan pernah bisa menaikkan level spiritualitasmu.

Allah maha baik, kenali keinginan Nya.

Dari tulisan yg pertama, ada yg bertanya .. "Lalu apa yg belum selesai itu teh?"

Begini, saya teringat salah satu hadist ..
'Didiklah anak2 mu sesuai jamannya', kurang lebih begitu sabda rasul. Penjabaran yg boleh saya utarakan bahwa .. Pendidikan bukan hanya semata ilmu akademik akan tetapi pemberian hak dan kewajiban pada setiap anak sesuai masanya.

Misalnya pada 5 tahun pertama jika anak minta dibelikan mainan pluitan atau sekedar balon .. Mbok ya kasih jangan nunggu tar sok-tar sok .. Kburu abis masanya dan tau2 mereka udah gede. Begitupun tahapan usia anak selanjutnya apingan keberadaan ortu harus selalu sigap memberikan kasih sayang.

Jangan sampai kehadirannya ada tapi seolah kagak ada akibatnya pada masa remaja anak mudah jatuh cinta karena kurang bangunan cinta dari orangtua. Dan ini terus berlanjut sampai masa tua nyari2 terus pasangan yg "menurutnya" sesuai untuk pemenuhan hasrat kasih sayang yang hilang pada masanya karena belum kenyang dapet kasih sayang itu tadi .. So! Jika sudah terlanjur terjadi segera atasi, sadar diri & ngaji diri.🙏

Wednesday, 28 November 2018

DAHSYATNYA KEWAJIBAN BERNIAT dan DAHSYATNYA YAKIN!

Ini cerita panjang ... sangat besar manfaatnya untuk org yang sudah lama sakit dan belum sembuh juga.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit ...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus,

“Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa.

Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas :

‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’.

Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu.
Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa.

Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam.

Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore.

Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri.

Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun.

Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja.

Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku mengernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.” Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar.

Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.” Pak Paulus jeda sejenak.

Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..” Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini. Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku.

Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran.

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat! Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.” Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh, Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha.

Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ." Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?; kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Narasumber : Paulus,
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT

Tuesday, 30 October 2018

TITIK TUHAN (GOD SPOT) PADA OTAK MANUSIA

Otak merupakan organ yang sangat penting dan menakjubkan dalam tubuh manusia. Organ ini berfungsi untuk mengendalikan sistem syaraf  pusat agar tubuh bisa bekerja dengan normal. Otak menjadi kajian yang menarik bagi peneliti. Yang cukup menghebohkan adalah penemuan tentang adanya titik Tuhan (God Spot) dalam di otak manusia. Apakah yang dimaksud dengan God Spot atau titik Tuhan tersebut?

Sekelompok ilmuan pakar syaraf  dari Universitas California San Diego, yang diketuai oleh Dr Ramachandran pada tahun 1997 melakukan sebuah peneilitian yang disebut God Spot atau God Module. God Spot adalah salah satu titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan Tuhannya. Dengan kata lain, terdapat syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon dari aspek agama dan Ketuhanan.

Dikatakan pula bahwa syaraf tersebut akan menjadi lebih utuh  apabila dirangsang untuk mengingat Tuhan. Menurut ahli syaraf, sayaraf ini sangat unik karena tidak teraliri darah sepanjang hari namun tidak mati. Syaraf ini hanya butuh darah dua sampai empat detik saja sebanyak lima kali sehari.

Syaraf ini seperti chip atau module yang ditanam Tuhan dalam otak manusia untuk mendeteksi dengan hal-hal yang berhunbungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari sang pencipta. 

Sebaliknya Apabila syaraf ini tidak aktif maka akan sulit bagi orang-orang untuk menerima moral atau etika apalagi spriritual.

Maka jika seseorang melangkahkan kaki ke masjid dan ada perasaan menghambakan diri, serta perasaan ingin menjunjung Tuhannya mengisi hati mereka, maka ilmuan tersebut mengatakan bahwa itulah tindakan God Spot atau pusat spiritual yang terkandung dalam otak manusia yang mengarahkan mereka berbuat demikian. 

Para ilmuan mengatakan bahwa Tuhan meletakkan syaraf God Spot di dalam otak manusia, karena hal itu merupakan piilihan-Nya sebagai salah satu cara agar terhubung dengan hamba-Nya. Dengan kata lain, adanya titik Tuhan dalam otak manusia, membuat manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhannya. Dan Manusia sebagai hamba, dapat mengembangkan lagi syaraf ini, jika mengenal dan memahami  sang penciptanya. 

Terjadi perdebatan tentang penemuan ini. Perdebatan tidak saja terjadi di kalangan imuan, tetapi kelompok non muslim yang pada dasarnya menentang pendapat tersebut karena pada dasarnya menurut mereka, Tuhan adalah personal yang berada diluar diri mereka. Namun bagaimana menurut Islam? 

Dalam hal ini Islam memandang bahwa Allah SWT sang pencipta otak tidak mungkin berada di dalam otak ini sendiri. Karena jelas bahwa keberadaan Allah diatas Arsy , langit ke tujuh. Seperti dalam firman Allah yang artinya “Yaitu (Rabb) yang bersemayam menetap tinggi diatas Arasy”  (QS.Thoha: 5)

Serta dijelaskan pula dalam QS: Yunus Ayat: 3 yang artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa´at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: Yunus Ayat: 3)

Ayat-ayat dan hadist seputar keberadaan Allah sangat banyak sekali, meskipun begitu Allah memberitahukan bahwa Dia bersama hambanya dimana saja. Dan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Allah lah yang keempatnya.

Begitu juga tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang, kecuali Allah lah yang keenamnya. Bahkan Allah juga menyebutkan, akan ketinggiannya berada di atas Arsy, akan tetapi Allah tetap bersama hamba-hamba-Nya seperti dalam firman Allah yang artinya 

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid:4)

Namun kata Bersama Kami bukan berarti Allah menyatu dengan Makhluk tetapi bersama hambanya dengan ilmu-Nya. Dan Allah SWT yang berada di atas Arsy juga melihat segala sesuatu yang terjadi pada hambanya serta tidak akan ada yang tersembunyi sedikitpun dari dari pandangan Allah SWT. 

Maka telah jelas bahwa menurut pandangan Islam telah jelas bahwa Allah SWT berada dan bersemayam di Arsy-Nya di langit ke tujuh dan bukanlah di otak manusia. Dan dengan kuasanya Allah mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi serta tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah SWT

MEMBINA GENERASI AQIL BALIGH

Dalam Islam tidak mengenal istilah “REMAJA”, bahkan di negara Barat pun tidak mengenal istilah itu sampe abad 19, Remaja yang identik dengan masa galau, bingung, liar dan cenderung negatif ini tidak ada dalam Islam, Istilah Remaja lahir dari budaya dan kegagalan dalam proses pendidikan. Dalam Islam hanya mengenal istilah Pemuda / dewasa muda, Pemuda yang sudah produktif di usia 15 tahun.

Perhatikan proses pendidikan dalam islam :

Umur 0 - 7 tahun, anak tidak boleh diberi beban ( taklif ) syariat, biarkan mereka dengan ego nya, perlakukan mereka seperti Raja, tanamkan image yg positif ttg Allah dan rosulnya, ttg kebaikan, tth dunia yg indah dan kebahagiaan

Umur 7 - 10 , jadikan anak sebagai tawanan, diperintah untuk melaksanakan ibadah ibadah wajib, mulai diberi perintah dan tugas tugas, mulai dilatih tanggung jawab mengurusi diri sendiri dan lingkungan terdekat

Umur 10 - 12 Mulai dikenalkan dengan konsekwensi, apabila proses 0 - 10 dilaksanakan sesuai prosedur fitrah nya, maka di umur ini anak sudah terbiasa menjalankan kewajiban2 nya secara mandiri

Umur 15 sudah menjadi seorang Dewasa dan mukalaf (mampu menanggung beban syariat) dengan ikhlas

Dengan demikian Proses AQIL BALIGH tumbuh bersama.

Komparasi pertumbuhan Aqil Baligh :

AQIL :

Dewasa Mental
Dipengaruhi pendidikan
Berkembangnya akal
Fungsi tanggung jawab
Mandiri, tanggung jawab
Peran Ayah + Ibu

BALIGH :

Dewasa Fisik
Pengaruh nutrisi / asupan makanan
Berkembangnya nafsu
Fungsi reproduksi
Life and death instinc
Peran Ibu + Ayah

Adalah aneh jika saat ini kita bersemangat mengajarkan anak anak kita taklif syar’i tapi tidak membimbing mereka menjadi seorang mukalaf...dalam agama ibadah itu disebut taklif ( beban) mukalaf itu kemampuan untuk menanggung beban tsb, ibaratnya kita mengajarkan anak anak kita jadi atlit angkat besi, kita mengajarkan teknik mengangkat besi nya tapi kita tidak mengokohkan kaki nya, menguatkan otot tangannya, maka apa yang akan terjadi? Patahlah tangannya karena tidak sanggup mengangkat beban tsb.

Apa yang akan terjadi jika BALIGH tidak tumbuh bersama AQIL ? Anak anak kita akan hidup dikuasai nafsu / syahwat, misalnya anak kita sudah baligh di usia 13 tahun dan baru aqil di usia 27 tahun, selama 14 tahun anak kita dikendalikan oleh nafsunya.

Disinilah peran Ayah sangat dibutuhkan, kehadiran ayah sebagai Suplier ego untuk membentuk karakter anak, ayah dituntut jadi Raja Tega dan ibu berperan mengobati  akibat dari  ketegaan ayah tsb.Di dalam Alquran terdapat 17 ayat ttg mendidik anak, 14 ayat pelakunya adalah ayah, 2 ayat pelakunya adlah ibu, dan 1 ayat pelakunya ayah dan ibu, dan ayahlah yg akan dimintai pertanggung jawaban terbesar dlm mendidik anak oleh Allah SWT kelak di yaumul hisab.

Memberi nafkah hanyalah penunjang, hal yang paling utama yg harus dimiliki seorang ayah adalah Qowam ( jiwa kepemimpinan ) Qowamah akan berhasil jika ditunjang dengan kemampuan mencari nafkah dan potensi dirinya.

Indonesia termasuk Negeri Tanpa Ayah terbesar kedua setelah Amerika, hal ini terjadi karena tidak ada peran ayah dalam pengasuhan anak anak nya.

#semoga bermanfaat

Sunday, 30 September 2018

LAPAR, BOKEK? MENIKAH SAJA ...

Beberapa hari yang lalu, saya cukup terusik dengan sebuh gambar bertuliskan

"BOKEK, Nikah, biar ada yang nafkahin" dan "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi". Miris rasanya karena tulisan seperti ini diposting oleh akun-akun tausiyah. 

Menikah itu memang ibadah, namun apakah hal itu menjadi ibadah kalau kita menikah karena ingin dinafkahi? Apakah itu menjadi ibadah karena kita bekerja merasa lelah lalu mengeluh dan ingin menikah saja?

Menikah bagi saya bukanlah solusi hal-hal seperti itu. Butuh kesiapan secara lahir dan batin sebelum menikah.

Tak perlu lah dijelaskan urusan siap menikah secara lahir bagaimana. Sudah ada undang-undang yang mengatur usia yang dianjurkan menikah dan tentunya itu atas pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan organ reproduksi.

Kali ini saya ingin bahas siap batin untuk menikah. Jangan dikira nikah itu segalanya langsung enak apa-apa berdua, langsung dinafkahi total uang suami bakal jadi milik istri. 

Sebelum menikah, kamu harus tahu bagaimana suami memperlakukan keluarganya. Tentu tak etis kalau ia biasa memberi bagian dari gajinya pada keluarganya lalu kamu melarang. Hal ini harus masuk dalam pembahasan sebelum kamu menikah. Bahas bagaimana pengelolaan keuangan nantinya.

Jangan kira menikah langsung segalanya berdua. Kamu harus tau apakah memang nanti kamu akan tinggal berdua atau masih bersama keluarga. Siapkah kamu tinggal di pondok mertua indah? Sudahkah kamu menerima keluarganya. Kamu menikah dengan pasanganmu, tapi sebenarny kamu juga menikahi keluarganya.

Setelah menikah, kamu tentu berharap menjadi ibu. Jangan kira hamil itu mudah, tak semua ibu mengalami kemudahan saat hamil. Ada yang bisa mual hebat, tak mau makan, gatal-gatal, banyak ragamnya. Kamu juga harus tahu hal itu. 

Kamu lelah bekerja, lalu ingin menikah saja? Sudah siapkah kamu dengan segala pekerjaan rumah. Urusan yang rasanya tak selesai-selesai, apalagi setelah kamu punya anak. Mainan yang berserakan, rumah yang berantakan, setrikaan yang menumpuk. Bisa saja kamu akan merindukan dokumen yang menumpuk.

Tahukah kamu, setelah kamu menjadi ibu, mungkin kamu butuh me-time ingin ke salon, ke bioskop, atau sekedar fokus ibadah tapi mendadak suara anak menangis terdengar dan kamu membatalkan semuanya lalu berlari ke anak. Pernahkah itu terbayang dalam pikiranmu?

Dear akun-akun yang menganggap pernikahan itu solusi segalanya. Tolonglah berhenti. Menikah itu memang nikmat, ada kenikmatan tersendiri. Menikah itu memang ibadah. 

Namun, imbangilah anjuran menikah dengan info-info lain yang membuat para lelaki siap menjadi suami, imam, dan bapak. Imbangilah dengan info dan ajuran untuk para perempuan untuk menjadi istri yang patuh, ibu yang baik.

Kalau kalian hanya menyuruh menikah karena bokek, bisa bayangkan ketika suaminya tak bisa menafkahi istrinya menuntut cerai? 

Memang, pelajaran juga bisa diambil selama pernikahan. Tapi sekali lagi, menikah butuh kesiapan. Termasuk siap untuk belajar dalam pernikahan tersebut. Bukan hanya siap memberi nafkah dan menerima nafkah.

Dear akun-akun yang sering menyuruh menikah, lebih baik kalau kamu menyuruh followermu ikut dalam kajian sebelum menikah, kuliah online menjadi istri/ibu/suami/ayah yang baik sebelum menikah. Banyak kok. Jangan langsung menyuruh menikah karena bokek.

#kompasiana

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...