Friday, 31 March 2017

TERSERAH PADA YANG "DIATAS" .. ADA “GOD SPOT” DALAM SETIAP OTAK MANUSIA dan MENDORONG MANUSIA MENEMUKAN TUHAN




Posisi otak ada pada tempurung kepala, dan posisi ini benar-benar bagian paling atas pada tubuh manusia, jadi wajar dan tidak salah ketika bahasa nyeleneh orang-orang atau dalam salah satu percakapan soal jodoh, atau apapun itu yang melibatkan dan menggantikan kata TUHAN adalah "terserah yang di atas".
Keberadaan Nya bukan di atap genteng terlebih di atas langit sana sungguh terlalu jauh .. tapi sesungguhnya sesuatu yang di atas itu ada pada titik saraf otak kita ... hanya saja Dia mempunyai kekuasaan "MELIPUTI" segala-galanya. begitupun kita .. sebagai manusia bisa mempraktekkan bagaimana cara "MELIPUTI" segala sesuatu.
Eksperimen kecilnya begini, bayangkan saat di ruang ujian dengan suasana hening saat tenggorokan kita gatal pengen banget batuk namun segan, kita peduli terhadap orang di samping kita, depan belakang bahkan sampai yang duduk di pojokkan sana dan dengan kepedulian tersebut maka lahirlah keberanian "nyeletuk" juga tu batuk .. perhatikan saat kita batuk itu ada orang yang mengikuti, pasti ada ... dan itu artinya kita sudah bereksperimen "meliputi" sesuatu.
Dalam kitab suci Al-Quran sendiri, Allah SWT pernah berfirman :
“Kami akan memperlihatkan kepa­da mereka tanda-tanda (kekuasaan) Ka­mi di segenap ufuk dan pada diri mere­ka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Quran itu adalah benar ”
(QS Fussilat : 53)
Pada tahun 1997, sekumpulan Ilmuwan pakar saraf dari Uni­versitas California di San Di­ego berhasil menemukan satu saraf kecil di dalam otak manusia yang mampu merespon terhadap aspek agama dan ketuhanan. Saraf tersebut akan menjadi lebih utuh jika dirangsang untuk terus mengingat Tuhan.
‘God Spot’ bertindak sama seperti antena yang memandu kita untuk berpikir tentang ketuhanan. Kajian “God Spot” lainnya ujicoba terhadap penderita epilepsi mereka begitu kuat mengingat Tuhan setelah serangan kejang terjadi. Mereka mengaku bahwa mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan dan seolah olah mendapat petunjuk saat mereka berada dalam kondisi tidak sadarkan diri. Hasil kajian akhirnya mendapati seseorang itu per­caya kepada agama maupun tidak, ia sebenarnya bergantung kepada sejauh mana saraf ini digunakan dan dikem­bangkan.
Dengan itu, ketika manusia melangkahkan kaki ke tempat ibadah yang suci apakah masjid atau gereja, perasaan ingin menghambakan diri dan ingin menjunjung Tuhan selalu mengisi hati mereka. Beberapa ilmuwan mengatakan itulah tindakan ‘God Spot, atau pusat spiritual yang terkandung di dalam otak manusia.
Tuhan meletakkan saraf ‘God Spot’ di dalam otak manusia kerana itu adalah pilihan-Nya sebagai salah satu cara un­tuk Dia berhubungan dengan hamba-Nya. Dan kita sebagai hamba boleh mem­ngembangkan lagi saraf ini jika kita mau lebih mengenali dan memahami tentang kekuasaan Tuhan.
Memetik inspirasi daripada ayat Al­Quran, Dr-Suraiya menjelaskan bah­wa ‘God Spot’ haruslah dikembang­kan dengan sempurna bagi mereka yang mencintai agama. Manakala bagi mereka yang tidak mau mengembangkan fungsi saraf ‘God Spot’ ini, mereka akan dikatakan sebagai Tuli, bodoh dan bu­ta atau ‘Summun Bukmunn Ummyunn’.
Allah swt berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Surah Al A’raf ayat 1

Mengenali Potensi Bipolar di Era Sosial Media Terutama pada Perempuan


Sahabat Ummi, perkembangan teknologi saat ini sangat berkembang pesat, ini akibat dari globalisasi terutama dalam bidang telekomunikasi terutama internet. Penggunaan internet terlebih perkembangan media sosial sangat mempengaruhi manusia pada umumnya di seluruh dunia, yang mencengangkan bahwa penggunaan media sosial yang di akses oleh dunia secara dominan usernya adalah di indonesia.
Era media sosial segala seuatu kegiatan, perilaku manusia di jadikan update dan terus diperbaharui. kita bahas dan telisik dari sudut pandang sisi psikologis penggunaan media sosial yang mempunyai potensi terhadap perilaku "bipolar". perilaku ini dapat timbul dari berbagai faktor salah satu di antaranya adalah faktor lingkungan. dan sumbangsih terbesar saat ini adalah media sosial, yang sering di akses oleh kaum perempuan.
Seperti kita ketahui bersama bahwa kaum perempuan seringkali menggunakan "perasaan" dalam setiap perilaku dan tindak lakunya. hal ini dapat dengan mudah menimbulkan disorder atau kelainan psikologis, kita simak bersama apa yang dimaksud dengan bipolar dan bagaimana cara mengatasinya, berikut paparannya ...
Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa mania dan depresi, karena itu istilah medis sebelumnya disebut dengan manic depressive.
Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang berlebihan tanpa pola atau waktu yang pasti.
Setiap orang pada umumnya pernah mengalami suasana hati yang baik (mood high) dan suasana hati yang buruk (mood low). Akan tetapi, seseorang yang menderita gangguan bipolar memiliki ayunan perasaan (mood swings) yang ekstrim dengan pola perasaan yang mudah berubah secara drastis. Suatu ketika, seorang pengidap gangguan bipolar bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Saat suasana hatinya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri.
Gangguan bipolar saat ini sudah menjangkiti sekitar 10 hingga 12 persen remaja di beberapa kota di Indonesia. ini akibat dasri efek penggunaan media sosial berlebih atau dari faktor lingkungan.
Tanda gejala dari tahap gangguan bipolar adalah sebagai berikut:
1. Gembira berlebihan.
2. Mudah tersinggung sehingga mudah marah.
3. Merasa dirinya sangat penting.
4. Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain.
5. Penuh ide dan semangat baru.
6. Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya.
7. Mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengarnya.
8. Nafsu seksual meningkat.
9. Menyusun rencana yang tidak masuk akal.
10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat.
11. Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan.
12. Menghambur-hamburkan uang.
13. Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan.
14. Merasa sangat mengenal orang lain.
15. Mudah melempar kritik terhadap orang lain.
16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari.
17. Sulit tidur.
18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan satu hari tidak cukup 24 jam

Faktor pemicu munculnya penyakit yang melibatkan hubungan antarperseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan (penghargaan) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan untuk lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan.
Berikut ini cara-cara untuk membantu diri sendiri dalam penanganan gangguan bipolar:
1. Dapatkan pengetahuan tentang cara mengatasi gangguan dan hal-hal yang berkaitan dengan gangguan bipolar. Semakin banyak diketahui, semakin baik dalam membantu pemulihan sendiri dari gangguan ini.
2. Jauhkan stres dengan menjaga situasi keseimbangan antara pekerjaan dan hidup sehat, dan mencoba teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, shalat malam (tahajjud) atau pernapasan dalam.
3. Mencari dukungan dengan memiliki seseorang yang untuk diminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya.
4. Buatlah pilihan yang sehat. Pola tidur, makan, dan berolahraga dapat membantu menstabilkan suasana hati.
5. Menjaga jadwal tidur yang teratur sangatlah penting.
6. Pemantauan suasana hati secara mandiri dengan melacak gejala dan tanda-tanda ayunan suasana hati Anda berayun di luar kendali sehingga dapat menghentikan masalah sebelum dimulai.
So, semua penyakit berawal dari pikiran. Ketika penggunaan media sosial diluar koridor bijak maka pelibatan emosi dalam menanggapi hubungan antarpersonal melalui baik secara sosialita dan media sosial bisa berdampak dalam perubahan perilaku menuju "bipolar" .
Demikian  semoga bermanfaat ..

Profil Penulis:
Lia Kurniawati, S. Ikom, M. MPd.
Dosen ilmu komunikasi
Public Relation Manajer Lima Artha Pro
FB : Lia Kurniawati



http://www.ummi-online.com/mengenali-potensi-bipolar-di-era-sosial-media-terutama-pada-perempuan.html

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...