Monday, 4 February 2019

MANIFESTASI KEINGINAN BIAR CEPAT TER REALISASI DALAM KACAMATA VIBRASI RASA

Oleh Lia Kurniawati


Setiap kita pasti punya keinginan apapun bentuknya dan kadang keinginan ini diucapkan secara sadar melalui lisan, dalam ritual doa, atau terbersit dalam hati. Sesuai judul manifestasi keinginan agar cepat terealisasi. Kata manifestasi adalah perwujudan jadi keinginan mewujud itu menjadi kenyataan, keinginan itu sesuatu yang ada di dalam, sedang realita adalah seuatu yang terjadi  di luar sedangkan manifestasi adalah proses dari dalam menuju realisasi.

Banyak dari kita berpikiran bahwa mewujudkan keinginan jalur perwujudan dari keinginan,  dari doa2 kita hanya satu jalur, jalur yang mungkin kita anggap reguler atau pada umumnya. Misalnya anda lagi sakit pengen sembuh, kalau jalur reguler ya sakitnya berkurang-berkurang dan berkurang langsung sembuh atau sakitnya hilang. Kasus lain ketika banyak hutang, bayar, bayar tiba-tiba tau tau udah lunas aja. Atau perhatian anda ingin umroh, anda sudah buka rekening tapi tak jua bertambah eh tau-tau ada rejeki nomplok langsung bisa pergi umroh.

Padahal jika kita mengamati dengan baik, ada jalur yang tidak banyak disukai oleh kebanyakan orang padahal jalur ini sering terjadi dan ini merupakan satu pilihan yang tidak bisa dihindari apabila kita menginginkan sesuatu dimana kita belum pantas. Biasanya akan diarahkan pada jalur ini bukan ke jalur reguler atau sama dengan ketika anda menginginkan sesuatu dalam berdoa kayak minta baju, misalnya anda minta baju ukuran XL sementara Tuhan melihat badan anda kecil, lain  karena kita tidak mau mengganti doa atau keinginan kita tetap memilih XL maka tidak ada opsi lain untuk  Tuhan mau tidak mau membesarkan badan anda supaya ukuran baju XL yang anda minta muat dipakai oleh anda. Atau sebaliknya permintaan baju kita ukuran S sementara tubuh kita gede, maka tidak ada pilihan lain bagi tuhan mengecilkan tubuh kita biar pas dengan ukuran bajunya.  

Keinginan itu kudu pas, keinginan itu seperti baju jadi kita kebesaran atau kekecilan, na ini kudu pas! ketika permintaan ini pas dengan kepantasan kita itu seperti badannya sesuai dengan baju yang kita pakai.   Tapi ketika anda meminta baju yang tidak relevan ukurannya, maka yang sering terjadi anda akan dipantaskan melalui jalur manifestasi non reguler atau jalur ekstrimisasi.

Jalur ekstrimisasi itu satu mekanisme atau manifestasi doa yang sedang di alami oleh orang tersebut itu di pentokin sampai titik maksimal baru akan berbalik pada sebuah jalur yang anda harapkan. Contohnya ketika anda punya utang kemudian minta dilunasi, misalnya
Ada dua jalur manifestasi (proses) keinginan atau manifestasi doa,
  1.       .   Ketika meminta kudu siap apa yang pantas dengan kita
  2.        .  Ketika menginginkan sesuatu maka kita akan dipantaskan dengan ektremisme kejadian-kejadian yang anda hadapi.

Tidak ada keinginan yang tidak didengar, tidak ada keinginan yang tidak dikabulkan oleh Allah semuanya diproses, semuanya dimasukkan dalam manifestasi hanya saja jalurnya tidak  selalu kita harapkan tapi bisa juga melalui jalur kepantasan. Intinya sabar dan ikhlas.

Sunday, 3 February 2019

GAGAL FAHAM, FIKSI YANG BERURUSAN DENGAN POLISI




Oleh : Lia Kurniawati

Fiksi dan non fiksi akhir-akhir ini mencuat begitu pongah di permukaan jagad daring hingga banyak program berita gosip membanjiri kontennya dengan berita ini. Padahal kedua kata ini sejatinya akrab dengan para penulis, editor, penerbit dan yang berkecimpung dalam dunia penulisan. Dulu sekali dan mungkin saat ini anak-anak di sekolah SMP-SMA mengenal juga. Ini salah satu pengalaman saya jaman SMP kayaknya, salah satu guru Bahasa Indonesia saat itu bilang  bahwa FIKSI itu akar katanya FAKTA. Jadi karangan penulisan FIKSI itu berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

euh! entah karena sama-sama berawalan F sehingga pemahaman yang melekat di benak saya FIKSI itu sama dengan FAKTA. So, ketika seorang Rokky Gerung menyoal kitab suci itu Fiksi saya mengiyakan dengan asumsi di atas. Entah dia baca kitab suci yang mana? Quran, bibel, ataukah yang lainnya. Dan satu hal lagi awang-awang saya menyimpulkan kalau fiksi itu berkaitan dengan sastra dan sastra itu sudah pasti indah, dan tentunya Allah menyukai keindahan kan?! Contohnya banyak surat-surat yang Allah wahyukan dalam al Quran bernada indah seindah sastra. Ini saya kutip dari guru ngaji subuh saya KH. Uman Syahruman. Buktinya apa? Coba buka QS. Az-zalzalah pasti setiap akhir ayat akan berakhiran sama ... aha.

Idza zulzilatil ardu zilzaalaha, wa akhrojatil ardhu ashqoolaha .. kurang lebih saya simpulkan mirip pantun. Masih banyak keindahan sastra yang termaktub di dalam al quran.  Itu bukti bahwa Allahpun Maha epik dalam sastra. Dan fiksi-sastra dn keindahan sungguh suatu hal yang mengenyangkan, menyenangkan dan mengindahkan.

Ternyata kaget juga kenapa dari sebuah kata “Fiksi” lantas berurusan dengan polisi, bikin saya penasaran, lalu saya googling apa itu Fiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oalaaah ternyata saya sewaktu SMP gagal faham kah ataukah guru yang mengajar salah menyampaikan?!  Menurut KBBI, Fiksi itu ternyata fiktif alias cerita karangan (roman, novel dsb), rekaan, khayalan, tidak berdasarkan fakta, atau pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan dan pikiran.

Hmm .. menurut tokoh yang mendadak viral itu “Kitab suci itu fiksi ...” patut ditelaah atau dipertanyakan beliau itu sudah baca kitab suci apa, sehingga dapat menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi? Jangan-jangan dia nggak baca kitab suci al quran? Artinya mengapa dia bisa menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi, karena apa yang ada dalam benak kita sebagian besar merupakan hasil dari membaca. Dan bisa jadi dia berkesimpulan begitu jangan-jangan dia membaca kitab suci yang lain selain al quran atau persisnya tidak membaca kitab suci al quran. 

Ahli filsafat Indonesia menyampaikan bahwa pemahaman filsafat sebenarnya masih rancu untuk dikategorikan ke ranah yustisi (hukum), karena  filsafat berkaitan dengan penembangan pemikiran dan masing-masing orang berbeda sudut pandang, berbeda menafsirkan.  
Bahasan selanjutnya untuk kata non fiksi, ternyata tulisan bergenre ini adalah berkategori non fiktif artinya berdasarkan fakta contoh luaran sastranya cukup banyak dijumpai salah satunya artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau disertai. Selain itu banyak buku-buku non fiksi populer lainnya sepeti bibliografi seseorang, feature, buku pelajaran dll.

Jika kisah seseorang di tulis dalam bentuk novel lalu bergenre fiksi ataukah non fiksi?
Contoh novelnya Laskar Pelangi .. yang bisa jawb sila isi di kolom komentar ya.
Jadi simpulannya bahwa ketika kita bercelotehpun sudah seharusnya kita paham apa yang sedang dibicarakan, kemudian tidak salah menafsirkan. Sang penafsirpun sesungguhnya sedang mengemukakan data-data yang sudah terinput sebelumnya. dan intinya setiap individu bebas menafsirkan namun sepakati bersama simbol-simbol atau tanda-tanda yang dikomunikasikan agar potensi “berseberangan pendapat” mampu diminimalisir..

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...