Bahasa, ketika dieksplorasi sedemikian rupa mampu menunjukkan keajaibannya yang luar biasa. Bahasa mampu menggerakkan segenap energi diri, baik positif maupun negatif. Bahasa juga mampu membangkitkan kesadaran khalayak secara massif untuk melakukan sesuatu, baik yang konstruktif (memberdayakan) maupun yang destruktif (memperdayakan).
Bayangkan, bagaimana seorang Bung Tomo mampu membangkitkan semangat nasionalisme, membakar puluhan juta masyarakat Indonesia untuk berjuang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Bayangkan pula, retorika Soekarno bisa memobilisasi massa secara besar-besaran untuk mengganyang Malaysia.
Keseluruhannya Soekarno dapatkan dari mengelola dan mengolah struktur bahasa tertentu. Kekuatan bahasa semakin menunjukkan kedahsyatannya, saat hal yang irasional dan gila sekalipun mampu digerakkan oleh bahasa.
Coba telaah, bagaimana Adolf Hitler mampu membius rakyatnya untuk melakukan pembantaian besar-besaran terhadap jutaan bangsa Yahudi yang dianggap sebagai biang bangkrutnya Jerman. Peristiwa ini dikenal dengan Holocaust.
Uniknya, pembantaian (genocide) retorika ala Hitler ini membalik keadaan. Dimana semua pembantaian di dunia apapun bentuknya pasti di tentang di seluruh manusia. Namun retorika Hitler mampu menggiring masyarakat German bergerak beramai-ramai dalam upaya memusnahkan bangsa Yahudi sebagai musuh yang harus dihancurkan dan menyisakan sedikit saja sebagai 'pembelajaran' peradaban manusia selanjutnya.
Dalam kaitan dengan politik dan kekuasaan, bahasa memang menempatkan dirinya begitu intens. Sejarah peperangan, dimulai dengan logika-logika dan retorika-retorika bahasa. Begitupun kesadaran untuk mengakhiri peperangan tersebut pun dimulai dengan logika dan retorika bahasa.
Contoh pemanfaatan lain kekuatan bahasa dalam kehidupan adalah bahasa persuasi iklan. Iklan selalu memiliki dua cara untuk menyampaikan pesannya. Cara pertama, melalui pendekatan rational benefit, dengan menginformasikan kelebihan-kelebihan yang dimiliki produk itu sendiri.
Cara kedua, pendekatan emotional benefit mengidentikkan produk itu dengan image tertentu sehingga terbentuk ikatan emosional yang kuat dengan penggunanya. Dan tentu saja, pendekatan emosional benefit jauh lebih efektif dalam membangun komunikasi jangka panjang dengan penggunanya.
Kekuatan bahasa iklan telah menciptakan banyak fenomena. Lihat, bagaimana budaya konsumerisme telah begitu kuat. Praktik pembelian suatu produk tidak lagi didasarkan pada kebutuhan dasar, melainkan pada image yang dijanjikan. Pikiran orang bukan lagi "functional oriented" tetapi "brand oriented".
Contohnya orang mengidentikkan Volvo dengan "savety" nya, orang memakai Lux karena ia adalah "sabun kecantikan para bintang". Orang memakai Adidas karena saat mengenakannya merasa "impossible is Nothing". Atau orang memakai Nike karena mengidentikkan diri sebagai orang yang "easy going" dan untuk melakukan apapu, "Just Ðo It".
Banyak lagi frase-frase atau kalimat-kalimat powerfull lainnya, yang mampu menancapkan makna internal dalam kepala pemirsa, tentang produk atau brand-brand tersebut. Ironisnya, daya persuasi brand bahkan mampu memunculkan fenomena "cult brand", saat sekelompok orang begitu mengultuskan brand layaknya "sekte" tertentu.
Lihat saja fenomena yang terjadi pada Harley Davidson, VW, Apple dan sebagainya. Brand-brand tersebut layaknya "agama" yang menimbulkan fanatisme tersendiri. Inilah yang dalam mind technology disebut dengan istilah "memetic mind control" dimana sebuah metode mengondisikan sekelompok orang untuk memiliki kepercayaan tertentu dengan perilaku khusus, ideologi khusus dan atribut-atribut khusus.
Kehadiran bahasa telah membuktikan dirinya sebagai sebuah kekuatan dahsyat, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, seni dan kebudayaan. Bahasa adalah kekuatan yang mampu merevolusi sistem kepercayaan dan sistem berpikir siapa pun.
Kekuatan bahasa ini memiliki dua sisi. Tidak saja hanya mampu menggerakkan orang lain baik secara pribadi maupun massif, tetapi bahasa juga mampu menggerakkan diri sendiri secara dahsyat.
Itulah sebabnya, bahasa benar-benar harus dikelola dengan baik. Bahasa tidak hanya sekedar mampu menjadikan orang lain berdaya atau terpedaya. Bahasa juga bisa membuat diri sendiri hebat atau malah "gawat darurat".
Bayangkan, bagaimana seorang Bung Tomo mampu membangkitkan semangat nasionalisme, membakar puluhan juta masyarakat Indonesia untuk berjuang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya. Bayangkan pula, retorika Soekarno bisa memobilisasi massa secara besar-besaran untuk mengganyang Malaysia.
Keseluruhannya Soekarno dapatkan dari mengelola dan mengolah struktur bahasa tertentu. Kekuatan bahasa semakin menunjukkan kedahsyatannya, saat hal yang irasional dan gila sekalipun mampu digerakkan oleh bahasa.
Coba telaah, bagaimana Adolf Hitler mampu membius rakyatnya untuk melakukan pembantaian besar-besaran terhadap jutaan bangsa Yahudi yang dianggap sebagai biang bangkrutnya Jerman. Peristiwa ini dikenal dengan Holocaust.
Uniknya, pembantaian (genocide) retorika ala Hitler ini membalik keadaan. Dimana semua pembantaian di dunia apapun bentuknya pasti di tentang di seluruh manusia. Namun retorika Hitler mampu menggiring masyarakat German bergerak beramai-ramai dalam upaya memusnahkan bangsa Yahudi sebagai musuh yang harus dihancurkan dan menyisakan sedikit saja sebagai 'pembelajaran' peradaban manusia selanjutnya.
Dalam kaitan dengan politik dan kekuasaan, bahasa memang menempatkan dirinya begitu intens. Sejarah peperangan, dimulai dengan logika-logika dan retorika-retorika bahasa. Begitupun kesadaran untuk mengakhiri peperangan tersebut pun dimulai dengan logika dan retorika bahasa.
Contoh pemanfaatan lain kekuatan bahasa dalam kehidupan adalah bahasa persuasi iklan. Iklan selalu memiliki dua cara untuk menyampaikan pesannya. Cara pertama, melalui pendekatan rational benefit, dengan menginformasikan kelebihan-kelebihan yang dimiliki produk itu sendiri.
Cara kedua, pendekatan emotional benefit mengidentikkan produk itu dengan image tertentu sehingga terbentuk ikatan emosional yang kuat dengan penggunanya. Dan tentu saja, pendekatan emosional benefit jauh lebih efektif dalam membangun komunikasi jangka panjang dengan penggunanya.
Kekuatan bahasa iklan telah menciptakan banyak fenomena. Lihat, bagaimana budaya konsumerisme telah begitu kuat. Praktik pembelian suatu produk tidak lagi didasarkan pada kebutuhan dasar, melainkan pada image yang dijanjikan. Pikiran orang bukan lagi "functional oriented" tetapi "brand oriented".
Contohnya orang mengidentikkan Volvo dengan "savety" nya, orang memakai Lux karena ia adalah "sabun kecantikan para bintang". Orang memakai Adidas karena saat mengenakannya merasa "impossible is Nothing". Atau orang memakai Nike karena mengidentikkan diri sebagai orang yang "easy going" dan untuk melakukan apapu, "Just Ðo It".
Banyak lagi frase-frase atau kalimat-kalimat powerfull lainnya, yang mampu menancapkan makna internal dalam kepala pemirsa, tentang produk atau brand-brand tersebut. Ironisnya, daya persuasi brand bahkan mampu memunculkan fenomena "cult brand", saat sekelompok orang begitu mengultuskan brand layaknya "sekte" tertentu.
Lihat saja fenomena yang terjadi pada Harley Davidson, VW, Apple dan sebagainya. Brand-brand tersebut layaknya "agama" yang menimbulkan fanatisme tersendiri. Inilah yang dalam mind technology disebut dengan istilah "memetic mind control" dimana sebuah metode mengondisikan sekelompok orang untuk memiliki kepercayaan tertentu dengan perilaku khusus, ideologi khusus dan atribut-atribut khusus.
Kehadiran bahasa telah membuktikan dirinya sebagai sebuah kekuatan dahsyat, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, seni dan kebudayaan. Bahasa adalah kekuatan yang mampu merevolusi sistem kepercayaan dan sistem berpikir siapa pun.
Kekuatan bahasa ini memiliki dua sisi. Tidak saja hanya mampu menggerakkan orang lain baik secara pribadi maupun massif, tetapi bahasa juga mampu menggerakkan diri sendiri secara dahsyat.
Itulah sebabnya, bahasa benar-benar harus dikelola dengan baik. Bahasa tidak hanya sekedar mampu menjadikan orang lain berdaya atau terpedaya. Bahasa juga bisa membuat diri sendiri hebat atau malah "gawat darurat".




