Thursday, 10 December 2015

Manajerial Kepemimpinan Diri (Self Management) dan Pengembangan Minat dan Bakat

Pemimpin, merupakan orang yang mendapatkan mandat  serta mempunyai keahlian dalam mengelola suatu sistem organisasi. Baik organisasi secara biologis maupun organisasi nonbiologis, secara harfiahnya baik tersurat maupun secara tersirat. Sistem organisasi secara biologis dapat dijelaskan sebagaimana  dalam salah satu hadist “ Setiap diri kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban” Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” [HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829]

Dan termasuk kepemimpinan terhadap diri kita sendiri, kepemimpinan terhadap apa yang telah kita lakukan dan penggunaan seluruh anggota tubuh yang telah di berikan Allah SWT.
Kepemimpinan selalu dikaitkan dengan manajemen atau seni pengelolaan. Sedangkan komponen-komponen dari manajemen secara sederhananya menurut Henry fayol  terdiri Planning, Organizing, Actuating dan Controling atau (POAC). Jika di terjemahkan dalam bahasa Indonesia  terdiri dari Perencanaan, Pengorganisasian, Penggerakkan/Pelaksanaan  dan Pengawasan. Manajemen diawali dengan perencanaan dengan menentukan tujuan akhir yang akan dicapai.  Begitupun jika dikaitkan dengan manajemen diri (self management).
Dalam kehidupan sehari-hari unsur-unsur manajemen ini sudah kita lakukan namun seringkali tidak kita sadari. Mengambil contoh dari pengalaman pribadi,  saat mulai bangun tidur  duduk sebentar di pinggir tempat tidur, tak lupa bersyukur karena telah diberikan kesempatan menghirup kembali udara pagi sambil memikirkan segala sesuatu yang akan dilakukan hari itu (perencanaan).  Kemudian mengambil air wudhu untuk sholat bukan suatu kebetulan jika saya muslim dilanjutkan mempersiapkan segala sesuatu yang akan kita bawa atau lakukan berkaitan dengan tugas atau pekerjaan di hari yang bersangkutan (pelaksanaan). Lanjut melaksanakan aktifitas seharian sampai kembali ke rumah pada petang hari.
Dari pelaksanaan kegiatan aktifitas tersebut sesungguhnya hati dan pikiran kita mengontrol dan mengawasi setiap gerak kegiatan yang telah dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah merupakan rangkaian dari manajemen diri. Terlebih jika saat melakukan evaluasi diri (evader) atau refleksi. Dari kegiatan keseharian tersebut sesungguhnya bisa menjadi dasar acuan pengembangan minat dan bakat sesuai dengan kemampuan diri. Tentunya di dukung dengan berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal mencakup stake holder (dukungan lingkungan sekitar kita).
Faktor internal untuk pengembangan minat dan bakat tersebut dengan cara mengenali kemampuan diri dengan menggunakan teknik SWOT. Dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) dengan mengenali kekuatan diri kita untuk melakukan hal yang kita sukai, hingga mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada atau bisa juga dengan menciptakan peluang tersebut, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah mengenali kelemahan yang ada dalam diri serta bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.
Atau teknik strategis lain dengan cara membalikkan semua unsur  dari SWOT menjadi  TOWS sebagai berikut, mengenal apa yang menjadi ancaman T (threats) yang ada di dalam diri kita untuk dijadikan peluang (opportunities) sehingga dari peluang tersebut dapat di ambil keuntungan hingga kita mampu mengenal kelemahan (weaknesses)  serta membangun kekuatan (strengths) dalam diri yang dapat dijadikan modal pengembangan diri sesuai dengan minat dan bakat.

Referensi :
Dari berbagai sumber





Tuesday, 8 December 2015

MENGENAL GANGGUAN PERKEMBANGAN KOORDINASI PADA ANAK

Gangguan perkembangan koordinasi (GPK) atau Developmental Coordination Disorder (DCD) adalah gangguan keterampilan alat gerak yang berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk melaksanakn tugas yang biasa dilakukan sehari-hari. Gejala GPK pada usia sekolah dapat dilihat dari aspek fisik, belajar, maupun dalam perawatan diri. Anak mungkin mudah terjatuh bila berjalan atau lari. Sering tidak dapat memperkirakan jarak secara akurat dan mudah menabrak benda, kesulitan beraktifitas fisik bersama teman, cenderung lamban serta kesulitan mempelajari kegiatan baru misalnya lompat tali.

Saat belajar di kelas, anak mungkin sering mengubah postur tubuh selama menulis untuk menyesuaikan posisi buku karena keterampilan memegang pensil yang kurang. Kesulitan koordinasi gerak mengakibatkan anak cenderung lambat dalam menyalin dan menulis, tulisan tangan jelek karena kesulitan dalam memanipulasi pena atau pensil, serta kesulitan memotong dan melipat ketika melakukan kerajinan tangan.
Dalam hal perawatan diri, anak mungkin sulit mengancingkan baju dan mengikat tali sepatu sehingga tampak lusuh. Anak juga mungkin sering menjatuhkan benda atau menumpahkan minuman. Untuk orangtua, segeralah berkonsultasi ke klinik tumbuh kembang bila ada kecurigaan gangguan perkembangan koordinasi; misalnya terlambat mencapai tonggak perkembangan motor (jalan, merangkak, duduk) sering menabrak benda-benda, clumsiness/canggung, prestasi buruk dalam olahraga, tulisan tangan yang jelek.

Dalam hal ini penting dilakukan deteksi dini agar dapat diberikan pelatihan yang tepat sedini mungkin untuk meminimalkan penolakkannya terhadap kegiatan fisik, di samping untuk meningkatkan kepercayaan diri. Sementara hal yang dapat dikerjakan orangtua di rumah adalah mendorong anak untuk berpartisipasi dalam olahraga yang disukai, memperkenalkan kegiatan berbasis individu (misalnya berenang dan berlari) sebelum ia siap terjun untuk mengikuti kegiatan berbasis kelompok, serta dorong anak berinteraksi dengan temannya melalui kegiatan lain (misalnya musik dan seni).

Hal lain yang dapat  dilakukan adalah memilihkan pakaian yang mudah untuk dipakai atau dilepas, dorong anak melakukan kegiatan praktis sehari-hari yang meningkatkan kemampuan dalam mengatur tugas-tugas motor (menata meja atau tas) dan tonjolkan kelebihan anak (komunikasi secara oral, imajinasi yang kreatif). Di sekolah, orangtua perlu bekerja sama dengan guru agar anak dapat berhasil di sekolah, bahas kesulitan anak dan cara mengatasinya.

Di sisi lain, guru mungkin perlu melakukan beberapa hal, contohnya memastikan posisi anak sudah sesuai dengan meja kerjanya. Kaki anak harus menginjak lantai, lengan harus ditopang di atas meja dengan nyaman. Perlu juga ditetapkan tujuan jangka pendek yang realistis untuk anak, menyediakan waktu ekstra bagi anak untuk menyelesaikan tugas motorik serta  memperkenalkan komputer untuk mengurangi jumlah tulisan tangan.

Hal lainnya adalah untuk fokus pada tujuan pelajaran. Kalau tujuannya menilai kreativitas mengarang, tentu tulisan yang buruk dapat diabaikan. Terakhir, menerapkan metode presentasi alternatif agar anak dapat menunjukkan pemahaman subyek  misalnya, menggunakan gambar untuk menggambarkan ide mereka. Dalam kegiatan yang melibatkan aktifitas fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; buat partisipasi, bukan kompetisi; hargai usaha anak; bukan keterampilan. Beri dorongan umpan balik positif; gabungkan kegiatan yang memerlukan respons koordinasi lengan dan kaki; modifikasi peralatan untuk mengurangi risiko cedera; fokuskan anak pada pemahaman aturan berbagai olahraga. Bila anak sudah sudah paham, ia akan lebih mudah merencanakan gerakannya.

Referensi :
Jenni K Dahliana, Intermeso Keluarga, Kompas Klasika :(2015)



Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...