Status Fb Pak Ary Ginanjar
Beberapa waktu lalu saya membaca postingan Pak Ary Ginanjar, salah satu guru saya, di facebooknya.
Sebuah foto sambil memegang secangkir kopi, melihat ke jendela. Tak ada yang istimewa dengan fotonya. Tapi yang istimewa itu komentarnya, pro dan kontra. Apa yang dipermasalahkan?
Rupanya tulisan statusnya,
Ngopi di lantai 24 Menara 165 sambil mikir kenapa ya Jakarta tetap ramai meskipun sudah ada PSBB?
Tapi saya tidak ingin memindahkan pro kontra status tersebut disini, bukan. Melainkan ingin menunjukkan kepada Anda semua bahwa kita memang sering terpola untuk bertanya diawali kalimat tanya "kenapa".
Pertanyaan kenapa itu tidak salah, sebab memancing pikiran untuk menemukan "karena". Tapi ketika pertanyaan itu diajukan ke diri sendiri bermuatan negatif, pikiran tersugesti dengan jawaban negatifnya.
Contoh, "kenapa hidup sekarang makin susah?"
Jawabnya adalah, "karena pandemi Covid 19 dimana-mana"
Lalu tak sadar jadi sugesti, "hidup semakin susah karena pandemi Covid 19 dimana-mana."_ Tak sadar, sepanjang hidup menuju masa depan, pikiran diarahkan untuk melihat "hidup susah" dan (akibat) "Covid 19".
Apakah membuat Anda termotivasi?
Saya yakin tidak. Anda yang hendak jualan kebutuhan puasa atau lebaran pun jadi khawatir tidak laku bukan?
Sekarang bagaimana kalau pertanyaan kenapa diganti menjadi "bagaimana".
Bagaimana caranya agar ekonomi saya tetap tumbuh 20% setiap bulan dengan mudah dan menyenangkan?
Caranya adalah
Saya yakin pikiran Anda menghadirkan gambar yang sesuai untuk menjawab pertanyaan diatas. Kalau pikiran saya tergambar youtube, artinya saya membuat video youtube.
Baiklah Anda merasa sangsi dengan jawaban pikiran sendiri. Artinya Anda butuh jawaban yang beragam agar punya pilihan.
Tanya saja, "apa lagi?"
"Apalagi yang bisa dilakukan agar ekonomi saya tumbuh 20% setiap bulan dengan mudah dan menyenangkan?"
Kalimat ini bisa diulang berkali-kali ke diri sendiri baik dengan membaca berulang maupun
bertanya dengan suara keras berulang.
Tulis jawabannya.
Kemudian tanyakan, apa yang bisa saya lakukan *sekarang* dengan mudah dan menyenangkan agar income saya tumbuh 20% setiap bulan?
Pilihan jawaban Anda semakin spesifik sehingga memaksa pikiran untuk menemukan jawaban "bisa dilakukan sekarang".
Pelajaran pentingnya adalah pikiran itu netral. Dia memiliki segala informasi yang kita butuhkan. Tapi salah mengajukan pertanyaan membuat salah menemukan jawaban.
Saya membaca kembali postingan Pak Ary dan komentar pembacanya. Komentar kontra berkisar di "mestinya Pak Ary..."
Kenapa saya baca? Sebab menyadarkan saya, bahwa saya pun tak sadar sering menuntut orang lain untuk berfikir dengan cara saya berfikir atau bertindak sesuai dengan pilihan saya.
Padahal, saya sendiri (dulunya) tak mampu mengarahkan pikiran sendiri untuk berfikir sebagaimana mestinya berfikir.
Mungkin dulu saya fokus menuntut orang lain memperbaiki ucapannya, memperbaiki cara berfikirnya, tapi lupa menuntut diri memperbaiki pikiran sendiri.
Wallahualam