BAPAK
Oleh : Lia Kurniawati
Nyut-nyut ... kepala rasanya pusing
tujuh keliling makin lama makin berasa, hasil pemeriksaan dokter dari klinik
semalam terkena vertigo katanya. Tapi yang pastinya karena banyak pikiran,
terutama mikirin Bapak, orangtua satu-satunya yang masih hidup setelah lama
ditinggal ibu.
Bukan lagi menjadi pikiran kami
berempat anak-anaknya. Aku, Aa, teteh, dan Neni si bungsu sangat sayang pada
bapak. Bapak yang ganteng, berparas enak dipandang para perempuan kalau bahasa
anak-anak sekarang “good looking” katanya. Kelakuan Bapak, seringkali membuatku
jengkel sekaligus buatku tertawa kecil jika mengingat kelakuan-kelakuannya yang
sesekali terlihat konyol.
Satu hal kekurang ajaran sekaligus
kelebihan bapak yaitu selalu “laku” aja ke perempuan manapun. SETIA, Setiap
Tikungan Ada! Bukan setia dalam arti sesungguhnya.
Teringat almarhumah ibu, saat itu hidupku dan
kakak adikku terlantar gara-gara Bapak nikah lagi ke Ibu Gede, wanita karir
yang punya kedudukan di militer. Saat itu pangkat ibu di militer bukan pangkat
ecek-ecek. Sudah sampai pangkat Letnan Kolonel. Sedangkan bapak? Hanya seorang
tenaga keamanan di beberapa pabrik tekstil. Bisa disebut juga jeger barangkali, karena punya pengaruh
yang besar jika berada di lingkungan pekerjaannya. Jeger terhormat lebihnya,
karena dari gaya bapak berkomunikasi dengan lingkungannya terlihat bijak dan
elegant. Mungkin itu salah satu daya tarik bapak.
Ibu Gede ngga tahu kalau bapak
meninggalkan anak-anaknya kami berempat, dan istri yang mendadak
pesakitan. Kami panggil ibu gede karena
ibu terlihat penggede, berharta dan punya wibawa yang luar biasa. Katanya saat
menikahi ibu Gede pun hajatnya luar biasa rame, sebab ibu Gede yang membiayai.
Kayaknya ibu gede sangat mencintai bapak. Pastinya ibu gede tidak mendapatkan
apapun dari bapak, atau sekedar diberikan hadiah mas kawin. Semuanya di
tanggung dari Ibu Gede.
Aku yakin, bapak “MoKonDo” alias
Modal Kon**l Doang! Yang buatku tidak habis pikir, pelet bapak bener-bener
jitu! Mendapatkan perempuan manapun kaya
dan mapan sangat piawai bapak lakukan.
Teringat Wali kelasku saat SD kelas
empat, Ibu Irus namanya, suka ngedadak kecentilan jika sesekali bapak
mengantarkanku ke sekolah. Selanjutnya aku seringkali melihatnya di bonceng
bapak, selanjutnya lagi aku sering mendapatkan hadiah tas, sepatu atau baju
dari Bu Irus. Namun tragis waktu aku menginjak kelas enam, ibu Irus meninggal
karena penyakit liver.
Kalau saja saat itu aku sudah
berpikir dewasa, sudah bisa menduga ada peran bapak disana, peran bapak yang
menyebabkan Bu Irus punya penyakit berat. Liver, tentunya hati bu Irus terlalu
menanggung sesuatu dari bapak yang menyebabkan ia tak bisa bertahan. Bisa jadi
rasa yang ia miliki pada Bapak hanya bertepuk sebelah tangan, atau mungkin
terlalu banyak di bodoh-bodohi bapak yang menyebabkan tumbuhkan penyakit hati
yang sedang lara. Entahlah aku tak tahu.
Ibuku pun sepertinya begitu, akhirnya
meninggalkan kami lebih dulu. Tinggal berempat, memperjuangkan nasib kami sendiri-sendiri tanpa hadirnya bapak.
Tinggal di rumah nenek yang sangat besar masih satu keberuntungan buat kami,
setidaknya kami punya tempat untuk berteduh. Aa yang saat itu baru menginjak
kelas tiga STM nyambi jadi tukang ojeg, sedangkan teteh keluar dari sekolah
lebih memilih bekerja di pabrik. Dan aku baru menginjak kelas tiga SMP mengatur
keuangan yang diberikan oleh Aa hasil dari ngojeg dipakai modal membuat
bala-bala dan es teh manis, dibawa ke sekolah. Jual paksa ke teman-teman supaya
mereka membeli daganganku. Sedangkan Neni, ia ku tugaskan membawa dagangan untuk
dititipkan di warung Bi Onah. Kantin kecil di sekolah.
Rupanya saat itu bapak sudah
melupakan kami, empat jiwa yang akan dijadikan pertanyaan dan tanggung jawabnya
di akhirat kelak. Bertemupun hanya sesekali dan itupun hanya sebentar. Boro-boro
menafkahi, sekedar memberikan kami uang jajan sekalipun sepertinya tak
terpikirkan, sesekali keliatan aku lewat
depan rumah Bu Gede pun langsung kena damprat.
“Jangan pernah liat-liat apalagi
dekat-dekat rumah bapak, nanti ibu Gede marah!” hardiknya
Oh, jadi aku baru tahu kalau bapak takluk
juga sama bu Gede, kayaknya karena Ibu Gede punya pangkat dan temperamental. Semenjak
itu, aku sama sekali nggak pernah iseng-iseng mengunjungi rumah bapak. Biarin dianggap
nggak ada juga!
Hubungan persaudaraan kami semakin
erat, kami saling membantu satu dengan lainnya. Manis pahit bersama sangat
berasa dan berarti untuk kami.
Aa kerja keras mencari tambahan
penghasilan kesan kemari, bantu-bantu di bengkel si Uda, jadi sopir tembak si
Abang. Begitu keluar sekolah sempat menganggur satu tahun lamanya kehidupan
kami sedikit oleng karena Aa belum berpenghasilan tetap.
Dasarnya Allah Maha Penyayang, dan
mungkin faktor keberuntungan memayungi kami melalui Aa. Kakak terbaik sedunia
ku ini lulus diterima di akademi militer. Saat mendengar kabar gembira tangis
haru tak lagi bisa kami bendung. Aa merangkul kami erat seraya bercucuran air
mata tanda bahagia setelah perjuangan kami membuahkan hasil.
Allah maha membolak-balikkan hati
umatnya. Sejak kejadian itu Bapak mulai sadar, memperhatikan kami. Mulai sering
mampir ke rumah nenek. Ibu Gede sekarang tahu bahwa lalaki gagah perkasa
dambaannya dunia akhirat, punya anak empat yang mulai beranjak dewasa.
Ibu Gede tak terlihat marah saat
mengetahui bapak sudah punya kami, tidakpun merasa dibohongi oleh bapak .. yaa mungkin
karena sudah dinikahi bapak, laki-laki ganteng yang selalu beruntung
mendapatkan wanita manapun!.
Roman mukanya terlihat sumringah kala
hari lebaran kami mengunjungi rumah Ibu Gede, kami bertiga sebenarnya enggan
mengunjungi mereka mengingat perlakuan mereka yang jelas-jelas menelantarkan
kami sedari kecil. Tapi hatiku dan adik-kakakku selain Aa luluh juga berkat
rayuan Aa,
“Buruk buruk papan jati, meskipun
busuk tetap Bapak tangkal derajat buat kita anak-anaknya, yang patut dihormat
dan diminta doanya buat kesejahteraan kita” begitu kata Aa.
***
Pendek cerita, ibu Gede tahu mengenai
Aa yang lolos di Akademi militer dan Ibu gede sangat mendukung kemajuan Aa. Bukan
hal yang sulit baginya untuk menempatkan Aa pada posisi yang aman dan nyaman
karena memang ibu berpangkat dan disegani di kantornya.
Tahun berganti tahun Aa lewati hanya
untuk memperhatikan dan mengurusi kami, mengurusi sekolah-sekolah kami
adik-adiknya sampai kami lulus dan masing-masing berumah tangga, namun tidak
dengan Aa dan Teteh. Aa terlihat enggan menjalin hubungan dengan perempuan.
Aku dinikahi kang Maman, laki-laki
sholeh terbaik se alam dunia yang Allah kirim, sikapnya penuh perhatian, tanggungjawab,
sangat mengayomi, baik dan tak pernah macam-macam, kelakuannya sangat jauh dari
mertuanya. Begitupun Neni, sikap suaminya tak beda jauh dengan Kang Maman. Hanya
sayang, Teteh seperti yang trauma, dua kali dipinang, dua kali itu pula Teteh
menolak. Dua kali berencana menikah, dua kalipun digagalkan. Hatiku sedikit
peri mengingat umur teteh menjelang tua. Tetanggapun melabeli teteh perawan
tua. Oleh karenanya teteh lebih memilih karier daripada mengurusi dan
memperhatikan kehidupan pribadinya. Bahkan
sudah menempati jabatan tertinggi di perusahaannya.
Dan Aa, beberapa bulan terakhir terlihat
menggandeng perempuan namun sayang terlihat ragu-ragu untuk melangkah ke
jenjang selanjutnya.
“Aa, ayo cepet nikah!, Kan adik-adik
Aa semuanya sudah ada yang tanggung jawab, perkara teteh biarkan saja ngga usah
terlalu dipikirkan. Teteh bisa jaga dirinya sendiri.”
“Masa terus-terusan membujang! Nggak baik.”
“Takut nggak sayang ke adik-adik Aa”
“Ih. Enggak dong A! Nggak mungkin
Alloh memberikan jodoh yang tidak sekufu dengan Aa. Kan Aa juga baik, pasti
Alloh menghadiahi Aa istri yang baik juga buat mendampingi Aa.”
Selang setahun sejak saat itu, Aa
memutuskan menikah. Hanya saja Aa terlalu mengkhawatirkan kami, sampai
menitipkan pada istrinya untuk tetap mau berbagi, memberikan perhatian, rejeki
dan asupan materi lainnya dari Aa sebagai bentuk kasih sayang. Syukur tiada
terkira ternyata istri Aa pun perempuan sholehah, begitu tahu bahwa suaminya
menjadi tulang punggung dan sandaran adik-adiknya, tidak pernah susah untuk
membantu kami. Alhamdulillah, kami berempat diberikan nikmat rejeki berlimpah
tak kekurangan suatu apapun.
Menyoal Bapak, selalu saja ada
cerita. Awal tahun kemarin, ada perempuan umur sembilan belas tahun datang ke
rumah. Gendong bayi, sambil menangis menyampaikan bahwa dia istri bapak dari
Kota Surabaya. Padahal dua bulan sebelumnya tukang warung nasi di terminal,
sengaja menemui Aa di kantor, ngaku sudah dikawin siri Bapak.
Ya Alloh Bapak! Bapak! Bentar-bentar
nikah dan parahnya lagi sembari
ninggalin anak. Yang anehnya koq bisa-bisanya nyembunyiin itu semua dari kami.
Tukang warung nasi bercerita ke Aa,
sudah lima tahun jadi istri bapak, dan anaknya sudah masuk TK sekarang. Dan yang
datang ke rumah tempo hari mahasiswi semester dua! Katanya tergila-gila oleh
Bapak makanya mau dinikahi juga.
Anehnya, diantara kami nggak ada yang
berani menasihati Bapak, Punya kekuatan apa ya sampai Bapak begitu? Sampai kehabisan
kata-kata jika aku terus memikirkan kelakuan Bapak. Terkadang melihat
ekspresinyapun tatkala kami pergoki perempuan demi perempuan yang bapak nikahi,
tak ada roman-roman penyesalan apalagi merasa berdosa. Sampai kamipun menyerah
nggak ada sisa rasa kesal ataupun benci untuk Bapak. Hanya sebatas gemes dan
geregetan. Selebihnya hanya rasa sayang yang ada di hati kami.
Aa hanya mampu menghela nafas,
“biarin Aa yang ngurus adik-adik
anak-anak bapak dari istri-istrinya, kasian! daripada Bapak nggak
tanggungjawab. Kita semestinya bisa berpikir lebih dewasa lebih mampu
memberikan kasih sayang pada mereka. Kan darah yang ada di tubuh merekapun sama
dengan darah yang mengalir di badan kita.”
“jangan sampai mereka merasakan
kepedihan yang sama saat kita ditinggalkan Bapak dulu”
Sejak hari itu, Aa rajin mentrasnfer
biaya untuk adik-adik dari istri-istri baru Bapak.
Kelakuan Bapak yang begitu rupa,
membuat migren dan sakit kepalaku tak kunjung sembuh.
Bagaimana tidak! Aku juga perempuan,
ikut merasakan pula apa yang terjadi pada perempuan-perempuan itu. Perempuan yang
takluk dalam pelukan Bapak.
Tapi malah Bapak sendirinyapun cuek,
berewek nyengled! Nggak peduli apa yang telah ia lakukan. Malahan akhir-akhir
ini seringkali ikut menginap di rumahku. Iya, rumah nenek yang aku cicil
perbulannya untuk menjadi milikku dan Kang Maman dengan membayar melalui ahli
warisnya yang lain.
Pagi itu, memberanikan diri sambil
menyodorkan kopi bertanya pada Bapak,
“Bapak, kenapa nikahin perempuan
terus?!, ibu Gede tau nggak soal ini?”
“bukan salah Bapak koq! Perempuan iu
yang maksa pengen dinikahi Bapak, Bapak suka nggak tegaan.”
“ibu Gede nggak tahu soal ini, kalau
saja sampai tahu pasti marahnya luar biasa. Makanya jangan sampai ada yang
berani ngomong sama ibu, nanti Bapak kena marah! Biarin aja ga tau ini koq!”
Ringan banget jawabnya bapak, sampai
gemes aku dibuatnya.
“Bapak cinta sama Teh Elas yang di
terminal?”
“Nggak lah!, Cuma kasian suka di
gangguin para sopir-sopir dan para jeger terminal, kan kalau sudah hafal Teh
Elas istri Bapak mereka nggak bakalan berani kurang ajar lagi.”
“Kalau sama Rini? Mahasiswi yang
pantesnya jadi adik Nani?”
“Rini nggak punya ayah dari bayi,
katanya nyaman kalau ketemu dan ngobrol bareng Bapak. pernah sekali nganter
ibunya ke rumah sakit, tadinya suka sama ibunya tapi anaknya malah lebih
lengket ke Bapak. Yaudah kepaksa di kawin aja, sayang juga ... cantik anaknya.”
“Bentar! Jadi selama ini ibu gede
nggak tau kalau Bapak beristri lagi?”
“Ya nggak dong! Kan Bapak tiap malem
jaga paberik, tentunya sangkaan ibu ya Bapak lagi dines . makanya kalau kalian
semua sayang Bapak, udaaaah diem aja nggak usah banyak omong!”
Hhhmmm... jadi Bapak takut juga sama
ibu Gede. Pantesan dulu saat sedang rumah tangga dengan ibu tega meninggalkan,
tega juga meninggalkan kami yang kecil-kecil dan masih butuh biaya demi ibu
Gede. Perempuan yang sangat besar sekali pengaruhnya. Tapi tetep aja ternyata
Bapak tergolong Susis (Suami Sieun (Takut) Istri.
Tapi sayangnya ketakutan Bapak
terhadap ibu Gede tak menjadikannya laki-laki setia, masih tetep saja tergoda
perempuan-perempuan di luaran sana. Apalagi yang menjadi istri-istrinya yang
baru cantik-cantik dan merekapun bisa mapan hingga Bapak tak perlu repot-repot
menafkahi mereka. Cukup meniduri dan meninggalkan darah dagingnya.
***
Teringat dongeng nenek dari Bapak,
dulu kakekpun sama seperti Bapak. Beristrikan duabelas orang dan kesemuanya
nggak ada yang minta cerai atau diceraikan semuanya berpisah karena ajal.
“Apa Aki punya jimat khusus buat
menaklukkan perempuan, nek? Terus ilmunya diturunkan ke Bapak?”
Nenek hanya mesem, tak banyak bicara.
Tapi yang aku lihat di diri Aa,
laki-laki yang sangat setia sama istri. Sepertinya darah ibu yang mengalir pada
diri kami semua. Sesekali rasa khawatir menghinggapi memikirkan Kang Maman,
dari segi fisik sama seperti Bapak, berparas cakep berperawakan ganteng jika
sekali melewati kumpulan ibu-ibu muda tak pelak seribu mata memndang berusaha
menggoda. Tapi dasar Kang Maman suami sholeh, tak sedikitpun bergeming, malah
seringkali menenangkan pikirku.
“Masa akang tega menyakiti Neneng,
jangan samakan akang dengan Bapak. Biarkan saja Bapak begitu memang kebutuhan
dan kemauannya begitu. Jangan terlalu mikirin Bapak.”
“Tapi sepuluh tahun kita berumah
tangga, tak juga diberikan keturunan. Neneng khawatir Kang. Kali aja akang
penasaran atau kesepian ingin memiliki anak.”
“Cukup mendengarkan suara Neneng yang
cerewet saja akang sudah bahagia dan tenang. Atau gimana kalau kita ambil
anaknya Rini, istrinya Bapak yang masih mahasiswi kasian katanya belum
membereskan skripsi?”
“Lah, nanti malah akang cinta Rini
gimana?”
“ih! Ya nggak dong. Masa suka sama
istri mertua! Takut neeng.”
Tawa kamipun lepas, sejenak
vertigopun menghilang entah kemana.
Pajajaran, 26 Januari 2019
