Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, 26 January 2019

BAPAKKU


BAPAK

Oleh : Lia Kurniawati

Nyut-nyut ... kepala rasanya pusing tujuh keliling makin lama makin berasa, hasil pemeriksaan dokter dari klinik semalam terkena vertigo katanya. Tapi yang pastinya karena banyak pikiran, terutama mikirin Bapak, orangtua satu-satunya yang masih hidup setelah lama ditinggal ibu.

Bukan lagi menjadi pikiran kami berempat anak-anaknya. Aku, Aa, teteh, dan Neni si bungsu sangat sayang pada bapak. Bapak yang ganteng, berparas enak dipandang para perempuan kalau bahasa anak-anak sekarang “good looking” katanya. Kelakuan Bapak, seringkali membuatku jengkel sekaligus buatku tertawa kecil jika mengingat kelakuan-kelakuannya yang sesekali terlihat konyol.
Satu hal kekurang ajaran sekaligus kelebihan bapak yaitu selalu “laku” aja ke perempuan manapun. SETIA, Setiap Tikungan Ada! Bukan setia dalam arti sesungguhnya.  

Teringat almarhumah ibu, saat itu hidupku dan kakak adikku terlantar gara-gara Bapak nikah lagi ke Ibu Gede, wanita karir yang punya kedudukan di militer. Saat itu pangkat ibu di militer bukan pangkat ecek-ecek. Sudah sampai pangkat Letnan Kolonel. Sedangkan bapak? Hanya seorang tenaga keamanan di beberapa pabrik tekstil. Bisa disebut juga jeger barangkali, karena punya pengaruh yang besar jika berada di lingkungan pekerjaannya. Jeger terhormat lebihnya, karena dari gaya bapak berkomunikasi dengan lingkungannya terlihat bijak dan elegant. Mungkin itu salah satu daya tarik bapak.

Ibu Gede ngga tahu kalau bapak meninggalkan anak-anaknya kami berempat, dan istri yang mendadak pesakitan.  Kami panggil ibu gede karena ibu terlihat penggede, berharta dan punya wibawa yang luar biasa. Katanya saat menikahi ibu Gede pun hajatnya luar biasa rame, sebab ibu Gede yang membiayai. Kayaknya ibu gede sangat mencintai bapak. Pastinya ibu gede tidak mendapatkan apapun dari bapak, atau sekedar diberikan hadiah mas kawin. Semuanya di tanggung dari Ibu Gede.

Aku yakin, bapak “MoKonDo” alias Modal Kon**l Doang! Yang buatku tidak habis pikir, pelet bapak bener-bener jitu!  Mendapatkan perempuan manapun kaya dan mapan sangat piawai bapak lakukan.

Teringat Wali kelasku saat SD kelas empat, Ibu Irus namanya, suka ngedadak kecentilan jika sesekali bapak mengantarkanku ke sekolah. Selanjutnya aku seringkali melihatnya di bonceng bapak, selanjutnya lagi aku sering mendapatkan hadiah tas, sepatu atau baju dari Bu Irus. Namun tragis waktu aku menginjak kelas enam, ibu Irus meninggal karena penyakit liver.
Kalau saja saat itu aku sudah berpikir dewasa, sudah bisa menduga ada peran bapak disana, peran bapak yang menyebabkan Bu Irus punya penyakit berat. Liver, tentunya hati bu Irus terlalu menanggung sesuatu dari bapak yang menyebabkan ia tak bisa bertahan. Bisa jadi rasa yang ia miliki pada Bapak hanya bertepuk sebelah tangan, atau mungkin terlalu banyak di bodoh-bodohi bapak yang menyebabkan tumbuhkan penyakit hati yang sedang  lara. Entahlah aku tak tahu.

Ibuku pun sepertinya begitu, akhirnya meninggalkan kami lebih dulu. Tinggal berempat, memperjuangkan nasib  kami sendiri-sendiri tanpa hadirnya bapak. Tinggal di rumah nenek yang sangat besar masih satu keberuntungan buat kami, setidaknya kami punya tempat untuk berteduh. Aa yang saat itu baru menginjak kelas tiga STM nyambi jadi tukang ojeg, sedangkan teteh keluar dari sekolah lebih memilih bekerja di pabrik. Dan aku baru menginjak kelas tiga SMP mengatur keuangan yang diberikan oleh Aa hasil dari ngojeg dipakai modal membuat bala-bala dan es teh manis, dibawa ke sekolah. Jual paksa ke teman-teman supaya mereka membeli daganganku. Sedangkan Neni,  ia ku tugaskan membawa dagangan untuk dititipkan di warung Bi Onah. Kantin kecil di sekolah.

Rupanya saat itu bapak sudah melupakan kami, empat jiwa yang akan dijadikan pertanyaan dan tanggung jawabnya di akhirat kelak. Bertemupun hanya sesekali dan itupun hanya sebentar. Boro-boro menafkahi, sekedar memberikan kami uang jajan sekalipun sepertinya tak terpikirkan, sesekali keliatan aku lewat  depan rumah Bu Gede pun langsung kena damprat.

“Jangan pernah liat-liat apalagi dekat-dekat rumah bapak, nanti ibu Gede marah!” hardiknya
Oh, jadi aku baru tahu kalau bapak takluk juga sama bu Gede, kayaknya karena Ibu Gede punya pangkat dan temperamental. Semenjak itu, aku sama sekali nggak pernah iseng-iseng mengunjungi rumah bapak. Biarin dianggap nggak ada juga!

Hubungan persaudaraan kami semakin erat, kami saling membantu satu dengan lainnya. Manis pahit bersama sangat berasa dan berarti untuk kami.

Aa kerja keras mencari tambahan penghasilan kesan kemari, bantu-bantu di bengkel si Uda, jadi sopir tembak si Abang. Begitu keluar sekolah sempat menganggur satu tahun lamanya kehidupan kami sedikit oleng karena Aa belum berpenghasilan tetap.

Dasarnya Allah Maha Penyayang, dan mungkin faktor keberuntungan memayungi kami melalui Aa. Kakak terbaik sedunia ku ini lulus diterima di akademi militer. Saat mendengar kabar gembira tangis haru tak lagi bisa kami bendung. Aa merangkul kami erat seraya bercucuran air mata tanda bahagia setelah perjuangan kami membuahkan hasil.

Allah maha membolak-balikkan hati umatnya. Sejak kejadian itu Bapak mulai sadar, memperhatikan kami. Mulai sering mampir ke rumah nenek. Ibu Gede sekarang tahu bahwa lalaki gagah perkasa dambaannya dunia akhirat, punya anak empat yang mulai beranjak dewasa.
Ibu Gede tak terlihat marah saat mengetahui bapak sudah punya kami, tidakpun merasa dibohongi oleh bapak .. yaa mungkin karena sudah dinikahi bapak, laki-laki ganteng yang selalu beruntung mendapatkan wanita manapun!.

Roman mukanya terlihat sumringah kala hari lebaran kami mengunjungi rumah Ibu Gede, kami bertiga sebenarnya enggan mengunjungi mereka mengingat perlakuan mereka yang jelas-jelas menelantarkan kami sedari kecil. Tapi hatiku dan adik-kakakku selain Aa luluh juga berkat rayuan Aa,

“Buruk buruk papan jati, meskipun busuk tetap Bapak tangkal derajat buat kita anak-anaknya, yang patut dihormat dan diminta doanya buat kesejahteraan kita” begitu kata Aa.

***

Pendek cerita, ibu Gede tahu mengenai Aa yang lolos di Akademi militer dan Ibu gede sangat mendukung kemajuan Aa. Bukan hal yang sulit baginya untuk menempatkan Aa pada posisi yang aman dan nyaman karena memang ibu berpangkat dan disegani di kantornya.

Tahun berganti tahun Aa lewati hanya untuk memperhatikan dan mengurusi kami, mengurusi sekolah-sekolah kami adik-adiknya sampai kami lulus dan masing-masing berumah tangga, namun tidak dengan Aa dan Teteh. Aa terlihat enggan menjalin hubungan dengan perempuan.

Aku dinikahi kang Maman, laki-laki sholeh terbaik se alam dunia yang Allah kirim, sikapnya penuh perhatian, tanggungjawab, sangat mengayomi, baik dan tak pernah macam-macam, kelakuannya sangat jauh dari mertuanya. Begitupun Neni, sikap suaminya tak beda jauh dengan Kang Maman. Hanya sayang, Teteh seperti yang trauma, dua kali dipinang, dua kali itu pula Teteh menolak. Dua kali berencana menikah, dua kalipun digagalkan. Hatiku sedikit peri mengingat umur teteh menjelang tua. Tetanggapun melabeli teteh perawan tua. Oleh karenanya teteh lebih memilih karier daripada mengurusi dan memperhatikan kehidupan pribadinya.  Bahkan sudah menempati jabatan tertinggi di perusahaannya.

Dan Aa, beberapa bulan terakhir terlihat menggandeng perempuan namun sayang terlihat ragu-ragu untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
“Aa, ayo cepet nikah!, Kan adik-adik Aa semuanya sudah ada yang tanggung jawab, perkara teteh biarkan saja ngga usah terlalu dipikirkan. Teteh bisa jaga dirinya sendiri.”
“Masa terus-terusan membujang! Nggak baik.”
“Takut nggak sayang ke adik-adik Aa”
“Ih. Enggak dong A! Nggak mungkin Alloh memberikan jodoh yang tidak sekufu dengan Aa. Kan Aa juga baik, pasti Alloh menghadiahi Aa istri yang baik juga buat mendampingi Aa.”

Selang setahun sejak saat itu, Aa memutuskan menikah. Hanya saja Aa terlalu mengkhawatirkan kami, sampai menitipkan pada istrinya untuk tetap mau berbagi, memberikan perhatian, rejeki dan asupan materi lainnya dari Aa sebagai bentuk kasih sayang. Syukur tiada terkira ternyata istri Aa pun perempuan sholehah, begitu tahu bahwa suaminya menjadi tulang punggung dan sandaran adik-adiknya, tidak pernah susah untuk membantu kami. Alhamdulillah, kami berempat diberikan nikmat rejeki berlimpah tak kekurangan suatu apapun.

Menyoal Bapak, selalu saja ada cerita. Awal tahun kemarin, ada perempuan umur sembilan belas tahun datang ke rumah. Gendong bayi, sambil menangis menyampaikan bahwa dia istri bapak dari Kota Surabaya. Padahal dua bulan sebelumnya tukang warung nasi di terminal, sengaja menemui Aa di kantor, ngaku sudah dikawin siri Bapak.

Ya Alloh Bapak! Bapak! Bentar-bentar nikah  dan parahnya lagi sembari ninggalin anak. Yang anehnya koq bisa-bisanya nyembunyiin itu semua dari kami.

Tukang warung nasi bercerita ke Aa, sudah lima tahun jadi istri bapak, dan anaknya sudah masuk TK sekarang. Dan yang datang ke rumah tempo hari mahasiswi semester dua! Katanya tergila-gila oleh Bapak makanya mau dinikahi juga.

Anehnya, diantara kami nggak ada yang berani menasihati Bapak, Punya kekuatan apa ya sampai Bapak begitu? Sampai kehabisan kata-kata jika aku terus memikirkan kelakuan Bapak. Terkadang melihat ekspresinyapun tatkala kami pergoki perempuan demi perempuan yang bapak nikahi, tak ada roman-roman penyesalan apalagi merasa berdosa. Sampai kamipun menyerah nggak ada sisa rasa kesal ataupun benci untuk Bapak. Hanya sebatas gemes dan geregetan. Selebihnya hanya rasa sayang yang ada di hati kami.

Aa hanya mampu menghela nafas,
“biarin Aa yang ngurus adik-adik anak-anak bapak dari istri-istrinya, kasian! daripada Bapak nggak tanggungjawab. Kita semestinya bisa berpikir lebih dewasa lebih mampu memberikan kasih sayang pada mereka. Kan darah yang ada di tubuh merekapun sama dengan darah yang mengalir di badan kita.”

“jangan sampai mereka merasakan kepedihan yang sama saat kita ditinggalkan Bapak dulu”
Sejak hari itu, Aa rajin mentrasnfer biaya untuk adik-adik dari istri-istri baru Bapak.
Kelakuan Bapak yang begitu rupa, membuat migren dan sakit kepalaku tak kunjung sembuh.
Bagaimana tidak! Aku juga perempuan, ikut merasakan pula apa yang terjadi pada perempuan-perempuan itu. Perempuan yang takluk dalam pelukan Bapak.

Tapi malah Bapak sendirinyapun cuek, berewek nyengled! Nggak peduli apa yang telah ia lakukan. Malahan akhir-akhir ini seringkali ikut menginap di rumahku. Iya, rumah nenek yang aku cicil perbulannya untuk menjadi milikku dan Kang Maman dengan membayar melalui ahli warisnya yang lain.

Pagi itu, memberanikan diri sambil menyodorkan kopi bertanya pada Bapak,
“Bapak, kenapa nikahin perempuan terus?!, ibu Gede tau nggak soal ini?”
“bukan salah Bapak koq! Perempuan iu yang maksa pengen dinikahi Bapak, Bapak suka nggak tegaan.”

“ibu Gede nggak tahu soal ini, kalau saja sampai tahu pasti marahnya luar biasa. Makanya jangan sampai ada yang berani ngomong sama ibu, nanti Bapak kena marah! Biarin aja ga tau ini koq!”
Ringan banget jawabnya bapak, sampai gemes aku dibuatnya.
“Bapak cinta sama Teh Elas yang di terminal?”

“Nggak lah!, Cuma kasian suka di gangguin para sopir-sopir dan para jeger terminal, kan kalau sudah hafal Teh Elas istri Bapak mereka nggak bakalan berani kurang ajar lagi.”
“Kalau sama Rini? Mahasiswi yang pantesnya jadi adik Nani?”
“Rini nggak punya ayah dari bayi, katanya nyaman kalau ketemu dan ngobrol bareng Bapak. pernah sekali nganter ibunya ke rumah sakit, tadinya suka sama ibunya tapi anaknya malah lebih lengket ke Bapak. Yaudah kepaksa di kawin aja, sayang juga ... cantik anaknya.”
“Bentar! Jadi selama ini ibu gede nggak tau kalau Bapak beristri lagi?”

“Ya nggak dong! Kan Bapak tiap malem jaga paberik, tentunya sangkaan ibu ya Bapak lagi dines . makanya kalau kalian semua sayang Bapak, udaaaah diem aja nggak usah banyak omong!”

Hhhmmm... jadi Bapak takut juga sama ibu Gede. Pantesan dulu saat sedang rumah tangga dengan ibu tega meninggalkan, tega juga meninggalkan kami yang kecil-kecil dan masih butuh biaya demi ibu Gede. Perempuan yang sangat besar sekali pengaruhnya. Tapi tetep aja ternyata Bapak tergolong Susis (Suami Sieun (Takut) Istri.

Tapi sayangnya ketakutan Bapak terhadap ibu Gede tak menjadikannya laki-laki setia, masih tetep saja tergoda perempuan-perempuan di luaran sana. Apalagi yang menjadi istri-istrinya yang baru cantik-cantik dan merekapun bisa mapan hingga Bapak tak perlu repot-repot menafkahi mereka. Cukup meniduri dan meninggalkan darah dagingnya.

***
Teringat dongeng nenek dari Bapak, dulu kakekpun sama seperti Bapak. Beristrikan duabelas orang dan kesemuanya nggak ada yang minta cerai atau diceraikan semuanya berpisah karena ajal.
“Apa Aki punya jimat khusus buat menaklukkan perempuan, nek? Terus ilmunya diturunkan ke Bapak?”

Nenek hanya mesem, tak banyak bicara.   

Tapi yang aku lihat di diri Aa, laki-laki yang sangat setia sama istri. Sepertinya darah ibu yang mengalir pada diri kami semua. Sesekali rasa khawatir menghinggapi memikirkan Kang Maman, dari segi fisik sama seperti Bapak, berparas cakep berperawakan ganteng jika sekali melewati kumpulan ibu-ibu muda tak pelak seribu mata memndang berusaha menggoda. Tapi dasar Kang Maman suami sholeh, tak sedikitpun bergeming, malah seringkali menenangkan pikirku.

“Masa akang tega menyakiti Neneng, jangan samakan akang dengan Bapak. Biarkan saja Bapak begitu memang kebutuhan dan kemauannya begitu. Jangan terlalu mikirin Bapak.”
“Tapi sepuluh tahun kita berumah tangga, tak juga diberikan keturunan. Neneng khawatir Kang. Kali aja akang penasaran atau kesepian ingin memiliki anak.”

“Cukup mendengarkan suara Neneng yang cerewet saja akang sudah bahagia dan tenang. Atau gimana kalau kita ambil anaknya Rini, istrinya Bapak yang masih mahasiswi kasian katanya belum membereskan skripsi?”

“Lah, nanti malah akang cinta Rini gimana?”
“ih! Ya nggak dong. Masa suka sama istri mertua! Takut neeng.”
Tawa kamipun lepas, sejenak vertigopun menghilang entah kemana.

Pajajaran, 26 Januari 2019




Friday, 13 May 2016

TRADISI CORET MORET



Makan siang di sebuah cafe dengan label mirip-mirip search engine "mbah google" di sebuah kawasan Bandung Selatan. Merchant yang baru dibuka beberapa hari yang lalu,  hari ini sarat pengunjung. Wara wiri anak baru gede berseragam putih abu berganti batik sibuk mondar mandir keluar masuk toilet untuk sekedar berbenah dengan teman sebayanya mencuri perhatian.  sekilas teramati anak-anak tersebut saling setor lembaran uang satu sama lain,  hingga memunculkan prasangka jika pengunjung-pengunjung ini adalah pengunjung bayaran, guna menarik pengunjung lain berdatangan.

Tiba-tiba pandangan mata beberapa waitress, diiringi dengan senyum kecil saling berbisik kala melihat salah satu anak perempuan berseragam putih abu melintas dengan cuex namun dia sadar menjadi pusat perhatian karena kemeja putihnya berubah warna layaknya dinding toko,  rolling-rolling door pertokoan penuh dengan tanda tangan dan grafiti tak jelas. Ikutan mengamati sambil senyum kecil dan pandangan mengikuti gerak langkah si gadis ABG hingga tiba di abitrase tangga.

Sedikit mendongakkan kepala melongo ke lantai bawah yang terlihat dari tangga turun, deretan frame terpajang di sana sini, oohh ... ternyata ada foto studio toh!. Jadi salah yeee udah nyangka jadi pengunjung bayaran ... hehe .Sebuah studio foto yang sudah eksis semenjak jaman SMK dulu. rupa-rupanya seragam bergrafiti nggak jelas itu jadi tema kostumnya hari ini toh. Sontak jadi bahan obrolan membahas kilas balik perjalanan kala seusia mereka, saat kelulusan diumumkan sebenarnya tidak ada larangan resmi dari sekolah untuk tidak mencoret coret seragam, hanya sebatas dari mulut ke mulut antar sesama teman. bukan suatu kebetulan saat SMK dulu teman-teman sebaya didominasi perempuan hingga lebih "patuh" terhadap aturan, "larangan" mencoret baju selepas kelulusan dari guru di cap "JELEK" dan "MEMBANGKANG" hingga penulis tak sempat mencicipi sensasi perayaan itu.

Sudut pandang ABG merayakan kelulusan dengan semprotan warna-warni cat acrylic yang terhujam di kain seragam putih terlihat keren. Hasrat hati "kabita" alias ngiler kala melihat serunya sebaya dari sekolah lain dengan bebasnya mencoret baju mereka sedangkan penulis sendiri hanya jadi penonton dan selanjutnya baju tersebut teronggok mengusang begitu saja bahkan raib entah kemana.

Kala itu, larangan dari guru sebagian masih didengar, pemberian anjuran untuk disumbangkan pada orang yang lebih membutuhkan terdengar logis dan dapat diterima dengan akal sehat. Sayangnya sampai saat ini terkesan hanya menjadi sebuah "monolog" tanpa klimaks. Dimana selama ini penulis amati, distribusi seragam-seragam layak pakai dari setiap sekolah yang meluluskan siswanya di kelas XII belum ada yang terekspose hingga menjadi satu gerakan masal yang memberikan kontribusi positif bagi generasi penerus. Justru yang tertanam di benak adik-adik kelas nya yakni keseruan bermain semburat warna warni cat acrylic yang tertuang di kemeja putih seragam sekolah, selepas mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas.

Sejenak menelisik "mengapa dilarang ya?", sejatinya setiap manusia suka akan warna kan?!. Bahkan saat ini banyak hal-hal kreatif yang tercipta dari banyak bidang-bidang polos agar tak terlihat monoton dan kurang daya tarik. Munculkan ide-ide kreatif dari tradisi perayaan kelulusan nyok! agar kebermanfaatannya bisa dirasakan lebih aplikatif dan membumi.

Friday, 1 January 2016

Blog "Lia_Kurniawati"

Postingan ini hanya untuk penambahan label pada blog "Lia_Kurniawati". untuk hal seperti "Ekstetika" atau yang sering sebut dengan keindahan, label memang penting untuk estetika pada blog.

untuk itu, label selalu dipergunakan oleh para blogger untuk mempercantik blog yang ia urus. termasuk blog saya ini. blog yang saya bangun dengan hati saya sendiri. dan saya juga ingin blog ini enak untuk sekedar di pandang.
Terima Kasih :v

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...