Saturday, 30 December 2017

SEBUAH MUHASABAH : Refleksi Doa yang Terbaca Semesta

Segala sesuatu memang Allah takdirkan sesuai dengan keinginan hamba Nya, masih nggak percaya? Banyak ayat yang menyatakan tentang ini meskipun memang semua orang meyakini sudah tercatat dalam Lauh Mahfudz .. Tidah dapat di ubah kembali! Saya agak kurang setuju mengenai hal yang terakhir ini.

Biasa, kalau kita udah berbicara banyak tentang ranah kehidupan maka tidak heran selalu diminta mana dalilnya, mana ayatnya?! Saya kutip sedikit saja yang sering saya gunakan, pertama : "Berdoalah kepada Ku niscaya aku perkenankan permintaanmu"

Ah rasanya jika memakai ayat ini terus2 an sebagai dalih entar dibilang bosan, tapi yaa mesti gimana lagi .. Saya sangat meyakini itu koq!.  Kedua : " Aku sesuai prasangka hambaKu"

Tuh udah kurang baik gimana lagi coba Allah memberikan kesempatan pada kita untuk singkron step 1, 2 dan selanjutnya ketiga : "Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum (manusia) hingga kaum (manusia) itu sendiri yang mengubahnya".

Kewenangan yang hakiki, absolut sepenuhnya diserahkan pada kita? Lalu apa fungsi takdir yang sudah tercatat di Lauh Mahfudz tadi? Itu perjalanan takdir yang sudah tercatat terutama takdir buruk maka Allah pun memberikan kewenangannya lagi pada kita untuk menolaknya dengan cara beramal baik, perbanyak istighfar, bershodaqoh dengan berbagai macam cara yang Allah tunjukkan.

Seperti menafkahi orangtua, menyenangkan hati anak, memberi salam pada orang lewat, menyingkirkan batu/rintangan di jalanan yang dilalui oleh orang lain. Dan masih banyak lagi.

Sampai dengan hari ini, saya mencoba menyingkronkan setiap kejadian yang saya alami dikaitkan dengan "request" terselubung saya yang dulu2 mencoba diingat kembali. Ah ternyata banyak kejadian yang sesuai dengan permintaan saya. Alhamdulillah ..

Request terselubung itu terkadang dalam gumaman kita, yang terbersit dalam benak, yang tertulis dalam status, yang tergores dalam diary, yang terucap kala marah, sedih dan bahagia. Daaan banyak lagi.

Contoh kasus yang saya alami di antara tahun 2013-2015 saya membeli 1 buah buku berjudul "Pokoknya Menulis" karangan Prof. DR. Alwasilah almarhum, kala itu sang Prof. belum meninggal.
Saya ingat dalam salah satu catatan buku itu beliau menuliskan tentang  meminta pendapat pada anaknya yang bernama Susan Seni Alwasilah.

Dalam buku itu beliau cerita anaknya ini masih kuliah alias berstatus mahasiswa. Selintas dalam benak saya bergumam "pengen ketemu dengan Susan Seny Alwasilah deh!" karena dalam buku tsb. Beliau digambarkan sebagai sosok penulis yang hebat.

Sudah!! Begitu saja, berlalu tanpa ada ikhtiar apapun untuk bertemu atau apalah karena hanya sebatas gumaman belaka. Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun.

Dalam satu kesempatan membaca poster lomba penulisan karya setingkat ASEAN, tertarik untuk mengirimkannya dan lolos kurasi! Selanjutnya mendapatkan pemberitahuan melalui email dan ketika membuka, membacanya sampai ujung kalimat terakhir sedikit mengernyitkan dahi dimana pada bagian bawah surat berkop AWWA (Asean Woman Writers) tsb tertera nama DR. Susan Seny Alwasilah sebagai President of AWWA. 

Selang beberapa bulan di tanggal 26 Oktober 2017 takdir Allah saya dipertemukan dengan perempuan cantik ini dalam satu kesempatan peluncuran buku "short stories from arround the world".

Subhanalloh!! Saya sangat meyakini betapa satu kalimat saja yang terlontar maka respon semesta akan berusaha dengan segala cara membuatnya menjadi nyata!

Banyak kasus lah, baik yang dialami sendiri maupun teman sekitar. Saya sajikan satu case yang menarik, pengalaman dari seorang teman ketika ia berada di jalan tol tepatnya kemarin maghrib tetiba ia merasa linglung semua pandangannya terasa berputar, mobil yang berada di depannya berasa berkumpul menjadi satu arah dan berada di tengah.

Dapat anda bayangkan ketika pergerakkan kendaraan dalam kondisi cepat dan gempa tak terelakkan mau dalam posisi apapun kita hanya bisa berdoa dan berpasrah diri.

Lantas ia beristighfar sekuat tenaga, dan lalu apa yang terjadi dalam hitungan menit jalanan kembali normal pandangannyapun kembali terarah dan mobil2 yang menumpuk di satu area kembali terurai.

Salah satu bukti bahwa ketika suatu takdir buruk sudah digariskan jika saja manusianya mau merubah dengan ikhtiar, istighfar maka Allah menjamin akan menjadikannya baik.

Case yang lain, saya ingat2 kembali, ketika satu pertemuan dengan seorang teman baru dari tetangga provinsi sempat menggumamkan sesuatu .. Dan sepertinya akan terjadi karena tanda2 nya sudah dalam pandangan mata.

Wallohu alam .. Semua kejadian, semua arah penjuru angin, semua alam semesta ini ada dalam genggaman Nya.

DAHSYATNYA CATATAN DIARY

Akhir tahun 2017 ni, ngga berasa ya nambah umur, nambah angka usia juga esok lusa sudah berganti lembaran kalender pula! Meski dalam tataran fisik kita berganti lembaran demi lembaran almanak, bukan berarti kalender akhir tahun kita sebagai muslim tertinggal dan teronggok begitu saja.

Tetap niatkan untuk menjadi lebih baik, sehat, bahagia, mendapatkan segala sesuatu yang didambakan dengan perasaan serba berkecukupan.

Moga lembaran kalender yang baru, hari baru di tahun yang angkanya nambah satu. Kita dimampukan untuk menjadi pribadi baru yang mampu beramal demi kehidupan dunia dan akhirat. Membawa mashlahat untuk semua umat terbawa sampai kelak di akhirat. Aamiin. 

Saya baca sebuah artikel di instagram, ada perempuan yang bisa keliling 12 negara selama setaun penuh! asyiknya dibayar pula! Kereen kan?

Awal mulanya dia hanya menuliskan sebuah keinginan/resolusi yang ingin dicapai di tahun yang akan datang, dan taunya kejadian! Apa yang bisa menyebabkan itu terjadi?

Dari sisi teologi sih, terutama agama yang saya anut "perlu diingat bahwa di kiri kanan kita ada yang sedang mengamati dan lalu mencatat apa yang menjadi keinginan kita". Kemudian meneruskannya pada sang Maha Kuasa.
Setelah itu ia yang akan meng Acc apakah kita layak mendapatkan segala kemudahan Nya ataukah menunggu waktu yang tepat disaat kita siap menerimanya.

Dari kacamata quantum fisika, getaran yang terhantar ketika kita memikirkan, melafalkan sebuah keinginan baik itu terlisan dalam bentuk lisan dan tulisan maka bukan tidak mungkin itu yang akan terjadi.

Siapkan buku baru, diary yang membuat mata kita nyaman menuliskan segala hal. Tuliskan apa yang terlintas dalam benak apapun itu .. Maka yakini Allah akan mengabulkannya.

Saya lagi nyari diary setaun ke belakang ni, mulai kasih tanda apa2 saja yang sudah terjadi dan yang akan terjadi ..
Resolusi saya tahun 2018 yaitu :
1. Dapet Jodoh 🙀😴😍
2. Bisa Umroh 😍😍😍
3. ... Oh
4. ... Oh
5. ... Oh
6. ... Oh
7. ... Oh
8. ... Oh
9. ... Oh
10. ... Oh

Waaah banyak banget yaaa .. Point 3 sampai terakhir saya keep untuk diary saya sendiri yaaa .. ra ha si a .. hahaha

Selamat menuliskan resolusi anda dan bercengkrama dengan diary anda iringi dengan happy becouse its gonna be!  Selamat membuat resolusi. 😊

Luruskan Niat

Segala sesuatu pekerjaan yg terealisasi awalnya pasti niat! Termasuk apa yg sedang anda kerjakan saat ini. Sekalipun sedang rehat, ngopi2 atau leyeh2.

Dalam al quran sudah Allah sampaikan .. "Inna a'malu bi niyat"

Saya ada contoh kasus, beberapa hari lalu saya ke Jakarta dengan menggunakan Kereta Api, planning awal saya menuju stasiun menggunakan motor setelah ngedrop dulu anak ngaji subuh karena menggunakan kereta pagi pukul 05.00 .. Lalu seorang teman, dia driver taxol menawarkan biar dia aja yg anter jemput dan lalu terjadilah .. Pagi itu lancar jaya tanpa kendala.

Obrolan kami berlanjut, beliau menanyakan jam kepulangan.  Saya share e-ticket nya tertera dijadwalkan saya kembali berada di Bandung pukul 22. 45 wib. Malem banget ya!

Lalu teman saya ini bilang, "Kalo gitu aku sudah harus selesai tutup point taxol nya sebelum kamu pulang, biar bisa jemput kamu"

Dan tahukah anda?
Dalam perjalanan pulang masih dalam kereta api malam, temen saya ini ngeshare capture screen shoot capaian pekerjaan taxolnya hari itu .. Seperti yg anda lihat, amati jam yg tertera diatas screen shootnya. SEBELUM pukul 21 an kurang! Persis sebelum saya nyampe ke Bandung!

Great kan!
Betapa alam mendengar apa yg kita inginkan, sesuai rencana dan keinginan pula! So,, saran saya "berkatalah" baik karena atom2 dan molekul semesta sedang bersiap merekam, membuat perubahan sesuai dengan niat!!

Semesta raya ini saya ibaratkan luasnya lautan padang pasir lembut dan halus, dimana setiap pergerakan kita melalui "niat" yg terlisan tulus baik melalui mulut dan hati maka itulah yg terjadi.

Sekali anda lubangi hamparan pasir, maka pasir lain akan berebut mengisi kekosongan itu, mengisi dengan hal2 yg baru dan dibutuhkan.

Berlaku general!! Alias umum! Hal ini berlaku pada semua orang di dunia ini. Termasuk anda yg sedang menggunakan kendaraan apapun itu pada hari, jam, menit dan detik inipun .. Itu adalah berdasarkan NIAT BESAR anda yg direspon oleh semesta.

PASTIKAN SADARI bahwa segala sesuatu yg menimpa diri adalah tercetus dari dalam hati yg bernama NIAT! dan pastikan pula niat itu BAIK! karena jika niat anda tidak baik, otomatis menjadikan rentetan perilaku dan realita yang terjadi menjadi tidak baik!

Contoh kasus "perilaku/realita" yang tidak baik sangat banyak, meskipun seringkali dalam lisan menyangkal "gak ada niat" kalo gak ada kesempatan!! Ah itu rasanya mustahil.

Penciptaan ruang dan waktu yg bernama kesempatan itu tidak selamanya beriringan seringkali malah dimulai dengan penciptaan NIAT terlebih dahulu,  maka respon lainnya adalah mestakung alias semesta mendukung,  disertai rasa yg dominan terhantar dan  meliputi maka niat yg lebih dominan itu terciptalah dalam wadah yg bernama kesempatan (ruang dan waktu).

Niat untuk memperbaiki diri, pasti diri menjadi baik. Sudah besarkah niat anda?

Korelasi Harga Diri dan Pencitraan

Mungkin anda, atau saya pernah melakukan hal ini .. Kalau saya, saya akui dulu saya pernah melakukannya. Begini ..

Ini saya sebut ketika jaman jahiliyyah, jaman saya SMP mungkin, masuk dalam satu lingkungan baru disambut dengan baik, setiap acara saya dilibatkan dan salah satu moment lalu ada perasaan dalam diri saya "menganggap" ajakan orang lain itu tidak penting. Saya abaikan, dengan berbagai macam jurus alasan agar tidak eksis.

Ajakan lainnya berlanjut, demikian terus mengeluarkan jurus. Dan lalu, saat itu saya tidak menyadari bahwa saya sedang mempertaruhkan eksistensi diri saya di lingkungan sekitar .. Sampai suatu kali, saat satu undangan teman nama saya terlewat dan lalu ada semacam perasaan tidak nyaman di dalam dada.

Kemudian saya coba bertanya pada teman yg mendapat undangan, kenapa saya tidak diundang pernyataan yg didapatkan cukup mengagetkan "abis kamu, tiap kali diajakin suka nggak mau, jadi yaa buat apa di undang, pasti nggak bakalan dateng! Ya kan?"

Mendengar itu sepertinya untuk ukuran anak SMP cukup menohok seperti pukulan telak,  dan terjerembab dalam masa galau!
Perubahan apa yg terjadi setelah itu?
Lama untuk mendapatkan kembali satu kepercayaan teman jika saja mendapatkan undangan saya pasti menghadirinya. Dan benar saja, setelah itu undangan dalam bentuk lisan pun  saya usahakan untuk memenuhinya.

Sampai hari ini, sekuat tenaga jikapun memang tidak bisa menghadirinya saya akan permit by phone atau sekedar menyelipkan sesuatu ketika bertemu tanda permintaan maaf.  Lain halnya kalau memang tidak di undang walau saya kenal pun mungkin bukan ketidak sengajaan jika diabaikan.

Satu kasus yg sama ketika sudah beranjak dewasa, beberapa tahun yang lalu tepatnya, masuk dalam lingkungan baru dan ketika saya diminta untuk ikut serta menghadiri berbagai macam undangan relasi, atasan dan rekan sejawat saya selalu ada.

Wacana2 yang muncul ketika ada rekan sejawat yang lebih senior daripada saya berlaku sama ketika jaman jahiliyahnya ala saya. Diundang serba banyak alasannya, ketika ada undangan berkumpul selalu lebih dulu pulang dan itu berlangsung selama bertahun-tahun selama ia bergabung disana.

Dan sudah bisa anda tebak, label yang diberikan pada seorang kawan tersebut ialah seorang yang tak pernah datang jika diundang, selalu sibuk dengan urusannya pribadi. Dan lain sebagainya.

Sejatinya jikapun mau berburuk sangka penilaian tentu sejatinya bukan milik kita pribadi. Namun sudut pandang saya dalam hal ini adalah bagaimana  mengcounter sebuah kontinyuitas, eksistensi berbuah label citra diri.

Label, harga diri dari sebuah eksistensi dibutuhkan konsekuensi. Maka jika saja beberapa langkah kita mundur untuk mengenalkan diri pada lingkungan, sudah dapat dipastikan labelitas akan melekat entah itu baik ataupun buruk.

Oiya, dalam pandangan islam pun jika mendapatkan undangan semestinya kita penuhi bukan?

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Pencetus pribahasa lama yg satu ini keren bener ya. Pandangan pendahulu2 kita punya perspektif yang luas ternyata. Pribahasa lahir dari sebuah realita terhadap fenomena yg sedang dan akan terjadi.

Dari pribahasa tsb, jika kita lihat dari sudut pandang positif, ngga usah dilihat dari sudut pandang nehatip .. 😉 jika dilihat dari sudut pandang nehatip mah gampang, udah fitrah manusia lihat satu kesalahan pasti akan nampak diantara ribuan kebaikan.

Positifnya begini, awalnya persepsi saya si pencetus pribahasa ini ibu guru bukan pak guru .. Tapi pak gurupun dalam adab islam semestinya kencing pun disunahkan untuk tidak berdiri toh! Hehee 😬 Namanya juga pribahasa bukan makna sebenarnya hanya sekedar kiasan.

Sedikit flashback, ajaran sopan santun jaman baheula mampu mendidik manusia2 jaman old, etika dan attitude benar2 dipake, Ketemu guru pun rasa malunya setengah mati, tapi jaman now murid ketemu guru bukan lagi dach! , malah terkesan kepalang ajar. Becandain guru udah bukan hal tabu.

Dimana letak benarnya?
Semua benar dalam persepsinya, dalam masanya, dalam zamannya tapi bukan berarti membenarkan kebiasaan yang tidak benar. Soal etika, attitude adalah sesuatu yang membudaya. Ketika suatu kebiasaan dilakukan secara terus menerus lama kelamaan budaya lama yang dalam sudut pandang baik dan agung akan tergeser dan berlari seperti kencing yang terbirit-birit.

Baikkah itu?
Jawabannya ada pada nurani setiap kita. Anak-anak jaman now yang "kekinian" mungkinkah hasil didikan Guru yang "kencing berdiri"?.

Ah rasanya kalau menyudutkan "guru" rasanya hati nurani saya ngga terima juga, hiks!!  rupanya terlalu kompleks banyak faktor pendukung disana sini.

Balik, kita bahas pribahasa ini dari perspektif positif ya .. posisi guru baik ibu atau bapak guru jaman old mampu menempatkan diri bahwa manusia hasil didikannya akan mampu mengembangkan diri jauh melampaui apa yg ia contohkan. Berbagai peran guru bisa jadi sebagai pendamping, pendorong, dan peran informan.

Beliau2 sudah mampu meramalkan masa depan akan seperti apa murid2 nya kelak, perkembangan teknologi yg kita nikmati saat inipun hasil dari "guru kencing berdiri" bukan .. Makanya muridnya bisa "kencing berlari".

Gurunya keliling Indonesia aja belom, nah muridnya udah keliling dunia .. 😅😄 tapi ngga usah diragukan lah kalo soal pengetahuan, bisa didapat dari jejak jejak lisan dan tulisan (bukan ngeleees ... 😬)

"Tut wuri handayani, mendorong dari belakang".. Hhmm, posisi guru yg ada di belakang? Sepertinya mesti ada yg dirubah ni jangan sampai posisi guru yg selalu ada di belakang, ngedorooong terus, dibelakang! terus kapan di depan nya? Hehee .. Terbelakang secara materil maupun non materil.

Ah semoga mindsett tut wuri handayani, dimaknai luas dalam segala hal.

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...