Friday, 30 October 2020

MENGAPA SAYA BERCERAI

 Bismillah, 

Sebenarnya ini hal yang paling tabu yang sangat saya tutupi selama 8 tahun terakhir, namun menginjak usia 8 tahun perceraian saya rasanya sudah siap menuliskan apa yang terjadi pada kami, yang dulu sebagai pasangan suami istri. Tuntutan menjadi istri sungguh menjadi hal baru buat saya kala itu di usia menginjak 22 tahun, saya pikir sebagai perempuan di masa gadis menikah dan memiliki pendamping itu layaknya film drama korea indah selamanya, suka duka dilalui bersama. Dan sepertinya angan-angan setiap para single tujuan dalam pernikahan itu secara umumnya seperti itu, dan tidak salah juga sih jiiikaa, frekuensi, visi dan misi dalam memasuki jenjang pernikahan setiap individu sama atau minimal mirip!

Saya tipe orang yang punya mindset bahwa laki-laki itu seperti ayah saya, kreatif, solutif, percaya diri, selalu punya cara apapun untuk dilakukan, dan berani menerima tantangan apapun, pokoknya laki banget! tanpa bermaksud mendiskreditkan mantan dimasa lalu, kadar semua yang saya harapkan ternyata tak sesuai harapan, saya yang seharusnya berdiri di balik punggungnya, malah berbalik saya yang selalu menjadi tameng dan lama kelamaan lelah juga.

kejelasan awal pernikahanpun terkesan abu-abu namun dipaksakan karena keadaan usia yang memasuki usia 22 tahun dalam hitungan orangtua saya sudah terlalu tua untuk menikah! Ya Alloh, jika di pikir lagi usia segitu penyempurnaan sel-sel otakpun belum tumbuh dengan sempurna dan akan sempurna di usia 40, tapi nggak harus nikah di usia 40 juga kan hahah ... 

Satu hal lagi idamaan para joblowers kala mendapat pasangan, hidup bersama mereka mindset suka dan duka dijalani bersama itu harapan terlalu tinggi sepertinya untuk saya kala itu, setiap kali saya sakit ia memilih pergi meninggalkan saya, dan menetap bersama keluarganya atau terkesan sibuk dengan pekerjaannya.  Giliran ayah dan  ibu yang mengurus saya, bahkan saat melahirkan sekalipun, ia hilang bak ditelan bumi dengan alasan ada pekerjaan yang tak bisa menggantikan. Ya Allah, rasanya bukan prioritas untuk seorang suami itu syediiih banget. 

12 tahun pernikahan dan menimbang dengan kondisi seperti itu, saya berpikir ulang, bagaimana jika saya menua dan renta, saya khawatir tak bisa menitipkan diri ini kala orangtua sudah lebih dulu meninggalkan saya. 

ah sudahlan jika mengingat hal itu, sepertinya hidup di masa lalu itu terlalu muluk-muluk, banyak harapan yang tak sesuai harapan. Saya sering bertanya malah sama Allah, ya Allah engkau menjanjikan kehidupan lebih baik setelah diantara manusia menikah, namun kala itu kehidupanku masih lebih baik sendiri daripada membentuk rumah tangga yang tidak jelas arahnya, hanya menikah, punya anak, tinggal bersama orangtuaku dan tak ada progress serta keinginan apapun darinya hanya sebagai pindah status dari lajang menjadi menikah. HEY kata Allah, inna amalu biniyat, so bagi para pembaca, samakan dulu niatnya dengan pasanganmu, baru kamu bisa melangkah ke step selanjutnya. Jangan kebalik-balik!

Maka bagi para single, pikirkan lebih dalam lagi kehidupan apa yang akan kalian jalani setelah memasuki jenjang pernikahan nanti, apakah sama visi misinya, pertimbangkan kembali frekuensi yang kalian miliki, jangan sampai terkecoh dengan mindset agamanya baik, tapi lihat amalan yang dia kerjakan apakah sudah sesuai dengan agama yang diperintahkan. 

oiya satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, BE YOUR SELF! jadilah diri sendiri, dan terbuka akan lebih bisa dihargai daripada berubah seperti bunglon hanya karena ingin dihargai dan terlalu banyak topeng akan lebih menyulitkanmu dalam situasi apapun, perbedaan sikap yang dirasa dan dialami ketika di lingkungan kerjanya yang pecicilan, sangat berbanding terbalik dengan situasi di rumah yang sok kejaiman itu gap yang terlalu kentara untuk menjalani sebuah hubungan. saya paham sekaligus heran dia berlaku demikian mungkin karena ia ingin diperlakukan berbeda, namun saya berpikir malah ia berkeperibadian ganda. dan saya lelah menghadapinya, ketika orang terheran-heran dengan tingkahnya, saya yang dengan rela menutupi dan mengalihkannya, owh saat itu saya berpikir, sampai kapan saya harus menjalani drama itu. dan ternyata cukup 12 tahun saja, lama ya? lamaa karena saya berpikir demi kebaikan bersama, namun ternyata tidak baik untuk kesehatan mental saya.

Bibir dower! hati-hati para lelaki, kalian itu dimata perempuan asyiknya dipandang cool, calm, gak pecicilan dan pandai menjaga mulut ini yang paling berbahaya jika laki-laki tak memiliki ini semua, oiay satu lagi konsistensi, jangan sampai di lingkungan kerjamu bilang A setelah pulang ke rumah dihadapan mertua bilang B! dan itu dilakukan depan istrimu, ketika dikonfirmasi dengan wajah datar bilang "ah itu kan sudah biasa, gak apa-apa" heeeii .. hal-hal sepele seperti itu bisa jadi duri dalam pernikahan jika berlangsung terus menerus tanpa saling menyadari. 

Ah banyak sekali uraian "kesalahan" sebagai laki-laki dimata wanita, tapi itulah fakta

Mulai saat ini, sedikit advice buat para pembaca, kenali pasanganmu sebelum kamu memutuskan melangkah lebih jauh hidup dengan dia, terus terang saya tak cukup mengenalnya dengan baik, hingga satu teman almarhumah Inna dalam satu kesempatan, pernah bertanya pada saya, "Banyak kagetnya ya hidup dengan dia?" oalaah, aku kala itu dalam hati mengiyakan, namun demi menjaga gengsi aku berpura-pura lebih mengenalnya daripada dia, ternyata aku salah hahahha .. 

Pengalaman hidup, cukup sekali kamu putuskan untuk memilih pasangan yang tepat, jangan sampai terlambat, jangan sampai khianat, apalagi tak maslahat dunia akhirat. Kali ini berniat berbagi agar kesalahan yang saya buat, terutama salah memilih laki-laki yang tepat untuk dunia akhirat berhenti hanya saya saja yang mengalami. 

Naluri perempuan, apalagi sebagai pendidik selalu melihat dan mencari kesalahan, 

Ubah suai, solusi apa yang bisa saya tawarkan jika saya melakukan kesalahan. 

Terima kasih, saya tak berhenti bersyukur pada Allah sudah pada posisi sekarang, saya selalu berdoa agar dijauhkan dari kesewenang-wenangan manusia, diberikan keluasan hati untuk selalu berbahagia dan penuh syukur. Hanya dengan saya mampu bersyukur Allah akan pertemukan saya dengan keajaiban-keajaiban hidup yang Allah hantarkan melalui manusia mulia lainnya.

Terima kasih ya Rabb, saya diberikan akal sehat, pikiran yang cerdas dan kemampuan saya untuk menuliskan hal ini meski dala hati belum percaya diri untuk berbagi kisah dengan dunia dimanapun anda berada. 

Salam hangat, karena hari ini udara sangat dingin sekali hingga balutan syal menghiasi leherku

dari aku yang selalu penuh syukur. Alhamdulillah

Saturday, 24 October 2020

BELAJAR DARI ANAK MUDA TENTANG SYUKUR

Banyak orang bilang meski raga hadir dalam berbagai kesempatan tapi hati dan pikiran seolah tak menyatu, dan baru 2 bulan terakhir aku menyadari bahwa rupanya hidupku terseok-seok oleh visi misi orang lain, jiwa sebetulnya ingin melakukan A namun raga tergusur keinginan orang lain dan sayangnya berlangsung sepuluh tahun lamanya. 

Ya Allah selama itu kah aku tak pernah berdoa padamu agar aku dihindarkan dari bingung dan kesewenang-wenangan manusia?! Ampuuun rabb, hamba mohon ampunan telah memyia-nyiakan waktu dan keluarga sepuluh tahun lamanya. 

Tepatnya sebulan yang lalu, September 2020 disaat hati bimbang.  Teman sejawat bilang saya ga fokus, dipikir dan diresapi kembali dan mulai kulihat lagi postingan2an di fb dan IG ternyata iyaa, aku sudah kehilangan identitas diri selama ini. 

Menginjak usia yang ke 42, kusadari banyak sekali jalan hidup yang kubuat tak selesai, hari ini disadarkan oleh postingan seorang teman baru, Ridha namanya, aku lihat profilnya yg konsisten di jalurnya, ia bilang siap keliling Indonesia,  takjub! Pertama kali aku tersontak betapa hal sederhana kata "syukur" begitu menjadi doa yang makbul. 

Ia bilang, pertama kalinya menginjakan kaki di Bali ia sangat bersyukur, lalu Allah injakan kakinya lagi di Korea, lalu ia bersyukur lagi, lalu Allah injakan kakinya lagi di Beijing lalu sepulangnya dari Beijing ia sangat bersyukur dan lagi Allah injakan kakinya lagi ke setiap penjuru Indonesia. Ya Alloh, sesederhana itukah titahmu yang selalu aku abaikan padahal sangat banyak perintahmu yang belum aku penuhi hanya karena dulu aku bukan termasuk orang yang pandai bersyukur! 

Ya rabb ampunilah hamba, hamba janji setiap hal apapun yang hamba dapatkan bahkan tarikan nafas inipun sangat hamba syukuri. 
Alhamdulillah Engkau kirimkan anak muda yang  mencubit hati dan pikirku.

ALHAMDULILLAH darinya aku banyak belajar ketulusan, keikhlasan, kesederhanaan tanpa drama dan kata-kata kiasan! Terima kasih mba Ridha Syahputri. 
Disaat aku merasa orang yang paling terdzolimi, setiap usaha yang dirintis tak membuahkan hasil selalu dalam posisi yang serba salah, maju kena mundurpun kena hingga harus mengubah haluan usaha apa yang sekiranya  mampu membuat kami bertahan hidup, menghidupi anak-anakku bingung menentukan arah usaha, dengan sedikit melihat peluang dan penawaran semampuku akhirnya Allah kirimkan anak muda yang inspiratif

Terima kasih ya Allah, terima kasih yang tak terhingga hamba diberikan dan dipertemukan dengan satu event Gcinc2 Kemenparekraf - sbm ITB yang tak pernah terpikirkan sedikitpun dan Allah langkahkan lagi ke event gcinc3 sebulan kemudian di beberapa hari yang lalu, ajaibnya janjimu setelah syukur yang ke 2 Engkau dekatkan lagi dengan kabar baik, 11-12 Nov mendatang diminta kembali untuk acara dengan Menteri seluruh dunia. 

Ya Allah selalu tuntun hamba menjadi orang yang bersyukur, menikmati setiap pemberianmu, ingatkan hamba ya Allah, tetapkan hati hamba untuk hijrah dan dipertemukan dengan orang-orang yang akan membantu hamba dan keluarga untuk melihat betapa keajaiban syukur yang Kau janjikan itu memang ada dan nyata. Jadika setiap langkah hamba jadi ibadah yang kau perintahkan, hamba siap menjelajahi bumi yang kau isyaratkan dengan bahagia. Dan menjadikan hamba bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dan dunia. 

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...