Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Monday, 20 April 2020

MENGEJAR SUKSES

Tulisan ini hadir kala seseorang membaca tanda tangan saya, yg menurutnya saya seorang yang gigih mengapai kesuksesan .. Coba kita renungkan .. Tak perlu analisa, just read, feel, imagine and do it! 

MENGEJAR SUKSES

Seorang pria berumur 30 tahun. Dia ingin sekali bisa belajar menari ( dancing ).
Di jaman itu, bisa menari itu keren. Anak anak muda menunjukkan skill menari nya di club, aliran disco. Gerakan nya keren, dan menarik lawan jenis tentu nya.
 
Setiap kali pergi ke club, laki laki ini hanya bisa duduk diam di meja, tidak berani show off ke atas panggung. 
Tidak bisa menari membuat diri nya menjadi mudah mendapatkan jodoh.
Dia ingin sekali bisa menari dan tampil penuh percaya diri seperti teman teman nya, tapi sayang dia tidak bisa menari. 
Saat itu dia singgle, tidak punya jodoh ya mungkin karena tidak bisa menari itu. 

Karena itu dia pergi ke konsultan jodoh, lalu si konsultan menyarankan agar dia ikut kursus menari. 
" Hmm bener juga, good idea nih. " .
Begitu kata dia dalam hati

Maka dia pun ikut kursus menari. Dengan semangat menggebu gebu untuk mendapatkan skill menari itu, maka dia ikut kelas 3 kali seminggu.
Pokok nya semangat dan harus bisa. Take action dan pasti bisa. Joss ...!!! POSITIF Sinting..Eh ..Posotif thinking.😁

2 tahun berlalu, keadaan tidak berubah. Puluhan kelas udah dia coba, ratusan teknik dia pelajari, tapi hasil nya tetap NIHIL. 
Kaki, tangan dan tubuh nya tetap tidak bisa sinkron setiap kali dia menari. Dia seperti kikuk, kaku dan tidak bisa lepas. 

Setiap kali menari, dia terlihat aneh, sehingga dia selalu jadi bahan lelucon dan tertawaan. 
Dia pun down, putus asa, kecewa dan menyerah. 
" Aku memang ga bisa menari. Memang ga bakat. Bukan aku ga berusaha, tapi aku memang bukan jodoh nya disini." Begitu kata nya pada diri nya sendiri. 

Suatu saat dia lagi duduk di club sendirian. Biasa lah.
Dia tidak ada teman, karena semua orang di desa itu tau siapa si pria ini. Orang aneh, freak, gaya menari nya kaku dan jelek. 
Dia sendiri tidak punya rasa percaya diri, maka orang lain pun malas mendekati nya. Apa yang kau pancarkan di dalam, akan terpancar keluar juga. Masok akal ?? 
Ya nasib lah. Mau bagaimana lagi ? 

Ketika dia lagi merenungi nasib nya, tiba tiba ada seorang wanita datang menyapa. Tampak nya wanita ini orang baru di desa itu. Setelah ngobrol panjang lebar, bener, ternyata si wanita ini bukan warga desa situ. 
Dia cuma turis yang kebetulan mampir ke club. 

Nah kemudian si wanita ini mengajak si pria ini untuk menari. Tentu saja pria ini langsung menolak dengan mengatakan bahwa dia tidak bisa menari. 
Si wanita ini tersenyum lalu berkata : " Kamu bisa kok. Saya akan ajarkan kamu bagaimana cara menari. Yuk ikut saya aja keatas panggung. Percaya deh sama saya.." 

Si pria ini pun tak berdaya, tangan nya di gandeng dan dia ikut aja keatas panggung. Sampai diatas panggung, penonton pun langsung bersorak sorai seolah hendak membully dia. 

Si wanita ini pun berkata : " Jangan pedulikan penonton. Lihat mata saya. Fokus kan perhatian mu ke mata saya. Jangan fokus ke kaki atau tangan mu. Gerak aja, lihat mata saya.
Gerakkan tubuh mu seolah tidak ada siapa pun di ruangan ini. Hanya ada saya dan kamu. Lepaskan tubuh dan pikiran mu sesaat, percaya pada saya, dan fokus hanya melihat saya. " 

Si pria ini pun sempat bingung. Tetapi karena pegangan tangan si wanita ini kuat sekali, maka mau tidak mau dia mengikuti gerakan nya. 
Sejenak dia menjadi lupa sama pikiran nya yang selalu bilang bahwa dia tidak bisa menari. 
Sejenak dia lupa, bahwa kaki dan tangan nya sulit sinkron. Tiap kali pikiran nya mau mengambil alih, dia ikuti kata kata si wanita itu, fokus pada mata si wanita ini. 

Pelan pelan sesuatu yang aneh terjadi. Tubuh nya seperti mengalir mengikuti alunan musik. Kaki dan tangan nya bergerak sendiri. Effortlessly. Otomatis. Ga pake mikir teknik ini dan itu. Mengalir aja. Ga pakai usaha apa apa. Spontan aja. 

Tiba tiba tubuh nya seperti dialiri energy dari dalam. Semakin lama dia menari, semakin energy itu keluar dari dalam, meledak ledak seolah tidak ada batas nya.
Badan nya terasa ringan, pikiran menjadi bahagia, dia tertawa lepas, berteriak sejadi jadi nya dan...WUZ ... 
selanjut nya sudah tidak bisa lagi di lukiskan dalam kata kata yang pas.

40 menit berlalu. Musik pun berhenti sejenak untuk break. Pria ini tubuh nya basah penuh keringat. Penonton pun bertepuk tangan memuji tarian yang luar biasa dari kedua pasangan ini. 

Ini pengalaman pertama dia mendapat sambutan seperti ini. Woww. Ini luar biasa. Diri nya seperti baru masuk zona yang baru. Tiba tiba rasa percaya diri itu muncul dari dalam ,entah dari mana dan bagaimana.

Wanita ini pun tertawa dan berkata : " Wow.. itu tadi sangat luar biasa. Terima kasih. Kamu partner yang hebat sekali. Dari awal saya udah tau kamu itu luar biasa. " 

Si pria ini pun masih bingung dengan state baru dalam diri nya. Sejak kejadian itu, si pria ini pun makin joss dalam menari. Setiap malam dia tampil percaya diri dan menjadi pusat perhatian di club. 
Cerita nya the end. Happy ending kan ?? 

Apa pelajaran nya ?? 
Cerita yang baru aja anda baca tadi, itu mungkin gambaran tentang Sufi Dancing. 

Ketika anda menari dengan hati, tanpa berpikir, tanpa usaha, mengalir aja, maka anda akan masuk suatu state dimana luapan energy dari dalam itu keluar. 

Energy dari dalam yang tiada batas nya. Itu bercampur dalam rasa antusias yang positif, yang menurut Bruce Lipton, ini rasa nya sama ketika anda pacaran pertama kali. 
Ketika orang yang anda suka, menerima cinta anda dengan tulus, maka mendadak ada satu energy yang meluap dari dalam tubuh ini. Energy ini begitu besar nya, sampai kalau pun anda kurang tidur, kena badai sekali pun, badan anda tetap fit dan joss. 
Kira kira seperti itu rasa yang bisa di lukiskan. 
Berususan dengan Rasa tentu tidak bisa di ungkapkan dengan benar. Kalau mau tau kebenaran nya ya harus merasakan sendiri. 

Pelajaran kedua yang bisa saya tangkap adalah kata Effortlessly. Wow ini powerful sekali. 
Ini tentang  bagaimana kita mengejar kesuksesan kita. 

Di cerita itu sukses nya adalah MENARI. Anda boleh ganti ini dengan apa saja, UANG, Ketenaran, Kekuasaan, apa saja boleh dan sama aja. 

Coba perhatikan pola nya, ketika anda NGOTOT mengejar sukses, maka yes benar anda akan punya ILMU soal sukses tapi tetap tidak bisa BOOM. 
Ada yang pernah alami seperti ini ?? Ilmu udah banyak tapi kok belum bisa mencapai sukses juga ?? Apa yang salah ?? 

Pria diatas saking kepingin nya bisa menari, ikut semua kursus menari, tau banyak teknik menari, tetapi itu belum cukup. 

Harus ada " AHA " momen, yaitu momen ketika anda bisa meluapkan energy dari dalam diri, sehingga energy ini lah yang memungkinkan anda mencapai apa yang anda inginkan. 

Pahami pola nya ya. Mencari skill itu harus, belajar ini dan itu harus. Itu modal. Ini adalah langkah dasar nya. Ini harus dilalui dulu loh ya.
Barulah setelah tahap pertama dilalui, 
maka anda harus belajar cara untuk mencari " AHA " moment, meluapkan energy besar dari dalam tubuh. 

Begitu energy itu terluapkan, maka semua nya akan berjalan effortlessly, sama seperti tarian sufi itu tadi. 

Anda akan masuk suatu state baru, state dengan penuh kelimpahan. 
Di state itu, bukan anda yang mengejar sukses, tapi sukses lah yang datang mengejar anda.
Ini lah zona power, bukan zona force.

Cara nya bagaimana dalam mencapai " AHA " momen itu ?? 
Ga perlu ikut seminar mahal mahal, nih saya kasih tau gratis : 
Cara nya dengan cara melepas..letting go..relax dan berpasrah. 

Loh..kok ?? 

Thank you and i love you.

Thursday, 9 April 2020

CORONA

Catatan dibawah ini sangat make sense, saya amati setiap aplikasi medsos, bahkan marketplace sekalipun menyediakan info tentang ini seolah sedang mem brainwash semua orang di dunia untuk beramai ramai menggetarkan vibrasi kecemasan melalui "satu kendali perintah" entah siapa .. Dan si hey itu sudah berhasil membuat manusia di seantero dunia menjadi cemas .. Ayoo move on .. Dan yang sempat membaca post ini silahkan tunjukkan dengan kesetujuannya cukup dg anggukan dan kesediaan untuk melupakan si #Corona ... Selamat membaca 

Rabu 08 April 2020
Oleh : Dahlan Iskan

Masih ada lagikah yang perlu Anda ketahui tentang Covid-19? 

Rasanya tidak ada lagi. Anda sudah menjadi ahli Covid-19 sekarang ini --lebih ahli dari dokter. Dokter hanya mau membaca yang masuk-masuk akal saja. Kita membaca apa pun yang ada di medsos --asal dikait-kaitkan dengan Covid-19.

Enough is enough.

Sudah waktunya berhenti mengikuti medsos --bahkan jangan lagi membaca DI’s Way. Tidak ada lagi yang perlu Anda ketahui lebih jauh tentang Covid-19. 

Saya bisa menduga --terhitung mulai hari ini-- siapa pun yang masih gila medsos berarti memang ingin gila beneran. Setidaknya ingin agar dirinya terkena penyakit depresi yang lebih dalam. Dan kalau depresi itu terjadi, Covid-19 lah yang horeee --termasuk cebonger dan kampreter.

Cukup.
Cukuplah.
Sudah waktunya move on. Banting stir.

Yang jualan sayur berhentilah ragu-ragu. Mulailah jualan sayur dengan cara baru. Yang lebih cocok dengan zaman virus. Ibu-ibu kan tidak mau lagi ke pasar. Waktunya Anda yang jadi pasar keliling.

Tukang-tukang cukur, belilah APD. Promosikan gaya cukur baru Anda dengan pakaian APD. Minggu depan ini rambut bapak-bapak sudah pada panjang serentak. 

Bikinlah kios cukur terbuka. Di bawah pohon. Dengan pakaian APD Anda, Anda memang kepanasan. Berpeluhan. Tapi bapak-bapak akan lebih senang cukur di bawah pohon. Dari pada di ruang salon yang ber-AC yang mencurigakan. Saya mau jadi yang orang yang pertama cukur di bawah pohon itu. Begitu rambut saya lebih panjang terasa lebih banyak putihnya.

Para pemilik hotel, berubahlah. Jadikan hotel Anda yang sepi sebagai tempat isolasi mandiri. Anda berikan jaminan kesterilannya. Anda latih karyawan hotel dengan prosedur baru --menjadi seperti perawat. Belilah APD untuk semua karyawan hotel.

Tawarkan ke orang-orang yang ingin isolasi mandiri. Terutama ketika para pembantu mereka pulang lebaran. Mereka akan merasa lebih aman di tempat isolasi. Kalau perlu Satpam hotel ikut patroli ke rumah orang yang pindah ke hotel. Dan mereka itu takut lagi ketika pembantu mereka kembali nanti. Para pembantu itu juga perlu diisolasi 14 hari. Sebelum kembali bekerja setelah lebaran nanti. 

Berundinglah sesama pengusaha hotel. Dengan moderator PHRI. Mana hotel yang ingin berubah sementara. Mungkin perlu juga berkoordinasi dengan pemda setempat. Siapa tahu ingin menunjuk beberapa hotel sebagai asrama sementara para juru rawat dan tenaga medis.

Para petani, mulailah menanam buah dan sayur. Tomat, cabai --cabai itu vitamin C-nya tinggi sekali, tapi jangan sampai ada yang bikin jus cabai --terong dan apa pun.

Yang hidup di kota, mulailah tanam sayur di pot-pot. Atau tanam sirih. Atau apa pun. Jangan tanam bunga. Pesta pengantin banyak yang ditunda. Salaman akad nikah pun sudah pakai perantara tali.

Pedagang asongan, kelilinglah membawa barang yang diperlukan saat ini: odol, sikat gigi, sabit, sanitasi, dan sebangsanya. Anda bisa menggantikan Indomaret dan Alfamart.

Pelayan-pelayan restoran bersatulah. Bikinlah usaha layanan kirim makanan, sayur, menu-menu makan lainnya. Buatlah paguyuban di setiap sektor hunian. Saatnya kini kalian jadi pengusaha: ada tim yang masak, ada tim yang posting di instagram, ada tim yang antar makanan.

Di Tiongkok selama Covid-19 terjadi perubahan besar-besaran. Konsumen berubah. Penuhilah keperluan perubahan itu.

Berhentilah bikin TikTok --kecuali memang kocak sekali. 

Tinggalkan HP di bawah ranjang selama 6 jam sehari --dengan pura-pura lupa.

Pokoknya move on.

Percayalah tidak ada lagi info tentang Covid yang baru. Atau yang lebih luas dari yang sudah Anda ketahui.

Menunggu angka baru berapa yang mati? 

Untuk apa? Apakah Anda menyamakan naiknya angka kematian dengan bertambahnya gol ke gawang Liverpool oleh Atletico Madrid?

Apakah Anda menganggap Covid-19 sama dengan Liga Champions yang skornya harus diikuti?

Mulailah tinggalkan depresi. Mulailah hidup gembira. Tung Desem Waringin saja terus bergembira di kamar perawatan Covid-19. 

Saya kutipkan prinsip hidup sehatnya. Termasuk di saat sakit hari-hati ini. ”Orang gembira tidak bisa khawatir. Orang khawatir tidak bisa gembira,” tulisnya di WA yang dikirim ke saya dari kamarnya di rumah sakit.

Sambil diopname itu Tung Desem --yang sering nyebar uang dari udara itu-- terus bernyanyi. Untuk dokter, untuk perawat, dan direkam juga di HP-nya untuk dikirim ke saya.

Dari pada lama menunggu lockdown --yang tidak datang itu --lebih baik move on.

Move on-lah dengan aman, cerdik, dan kreatif. Sedang untuk mengetahui berapakah skor yang mati ikuti saja sehari sekali.

Berhentilah depresi. Mulailah hidup baru yang lebih cerdas. (Dahlan Iskan)

#copas #indonesiabisa

Monday, 20 January 2020

BAGAIMANA PSYCHO HACKING MENINGKATKAN OMZET PENJUALAN

Bagaimana “Psycho-Hacking” Meningkatkan Ommzet Restoran Anda?

Apa kesamaan dari resto yang saya sebut berikut ini?

McD

Richeese Factory

Rocket Chicken

Chicken Crush

SS

Olive Chicken

Ayam Gobyos

Anda benar. Semuanya pake warna merah dan/atau kuning. Kenapa? Karena warna merah dan kuning itu bikin laper. Ga cuma itu..

Warna merah juga membuat kita merasa terburu-buru. Makanya, pelanggan ga pengen lama-lama di restoran. Pengennya langsung ngabisin makanan terus pergi. Ini bagus bagi pemilik resto. Artinya? Kursinya bisa gantian dipake pelanggan berikutnya.

Salah satu kunci meningkatkan omzet resto Anda adalah dengan membuat pengunjung cepet makan dan cepet pergi. Memilih warna merah dan kuning hanyalah salah satunya. Apalagi cara lainnya?

Dengan menciptakan tata ruang yang bikin orang males duduk lama di situ. Misalnya…

Jangan pake kursi yang ada sandarannya. Sehingga orang fokus untuk makan. Begitu makan selesai, dia males ngobrol-ngobrol. Inilah yang membedakan kursi di fast food dengan kursi di kafe atau restoran fine dining.

Tentu sah-sah saja sediakan kursi bersandar di resto Anda. Tapi jangan banyak-banyak. Kecuali Anda mendesain rumah makan Anda untuk keluarga yang ingin spend waktu lama di resto. Misalnya, terintegrasi dengan pemancingan.

Bagaimana dengan pencahayaan?

Di gerai McD, lampu dibikin terang. Di kafe dan resto fine dining, dibikin remang-remang. Lalu, suaranya?

Resto untuk relaksasi, biasanya nyetel musik santai. Mungkin alunan jawa, sunda, atau malah musik klasik. Sedangkan di McD, apa yang Anda dengar di sana?

Keriuhan petugas melayani pembeli. Suara dapur. Sreng..sreng...sreng! Apa artinya bagi bawah sadar Anda?

McD rame. Laris manis. Suara orang masak membuat perut Anda keroncongan. Apalagi aroma bumbunya. Jadi, secara ringkas…

1) Pilih warna merah dan kuning

2) Pastikan lampu terang

3) Perdengarkan keriuhan melayani pembeli, keriuhan dapur

4) Aroma masakan tercium terus menerus

5) Pilih kursi tanpa sandaran

Adalah 5 tips psyco-hacking yang cocok bila Anda ingin membuat warung makan yang “cepat”. Pesan, makan, pulang. No ngobrol-ngobrol. No nongkrong-nongkrong. No numpang wifi.

Bila yang Anda jual justru aura santai, tempat ngopi-ngopi, nongki-nongki, tinggal lakukan sebaliknya. Berikan suasana temaram, suasana syahdu, waitres berjalan elegan, dan kursi yang nyaman.

Contoh nyata:

Roti O dan Rotiboy. Bila Anda seperti saya, Anda sering terjebak pengen beli roti mereka cuma karena nyium baunya yang enak. Kadang baru lewat aja udah nyium baunya, terus pengen mampir. Dari baunya, saya udah terbayang kelezatannya. Bukan begitu?

Waroeng SS. Warung legendaris ini memaksimalkan sisi audio hacking nya. Silakan ke sana siang hari. Lalu, besok ke sana lagi untuk malam hari. Anda akan dengerin playlist lagu yang berbeda-beda.

Oya, satu lagi.

Kalau Anda main di kuliner, jangan lupakan aspek pendengaran. Kalau makanan Anda crispy tentu ga masalah.

Kalo belum? Sediakan KRUPUK. Ada pembeli tertentu yang merasa kurang kalo ga ada kriuk-kriuk. Pastikan Krupuk yang Anda sediakan selalu renyah. Jangan melempem.

Ga suka krupuk? Sediakan camilan crunchy lainnya. Entah batagor kriuk, basreng, dan lainnya.

Sudah ya silahkan kunjungi www.balakocha.com

Wednesday, 15 January 2020

BUN, MAAFKAN IBU YAH, KAYAKNYA DIA UDAH GILA!

#reshare 

Kebayang kan ...sudah stress..ga bisa merawat diri...dikatain GILA lagi sampai-sampai ada istri yg rambutnya penuh ketombe dan kutu dengan tega dan sumringah di botakin suaminya di depan ayahnya, dan sang suami tak peka melihat sang ayah mertua memalingkan muka mengusap dada dan air mata melihat putri tercinta tak berdaya atas nama "cinta" 

(DOK SAYA RASA ISTRI SAYA GILA!!)

Pasien saya pernah berkonsultasi seperti ini

"Dok saya rasa saya perlu membawa istri saya ke dokter jiwa"

Saya kaget ...dan saya bertanya 
"Kenapa bapak berpikir demikian"

Suami menjawab:
"Anak saya dok habis dicubit istri saya .
Belum lagi dipukul dengan rotan 
Saya tidak tega melihatnya
Itu termasuk yang berusia 1 tahun dok 

Istri saya bagaikan macan..padahal dulu istri saya sangat lembut hatinya...marah pun tak tega  "

Saya terdiam ...lalu bertanya 
Pak mohon maaf sebelumnya ...saya bertanya dulu ya soal kondisi ibu 

Singkat cerita ...saya mendapat informasi bahwa si ibu ini memiliki 4 anak 
Pembantu hanya satu
Dan si ibu ini bekerja 
Jam kerja dari jam 7 pagi hingga jam 6 malam
Anak ibu ini usianya mepet mepet 
Terbesar usianya 10 tahun..lalu 8...5 dan 2 tahun 

(Saya dengan saja sudah  melotot πŸ™„)

Biasanya pagi ibu akan bangun jam 4 untuk masak dan bersih bersih 
Lalu lanjut dengan menyiapkan anak anak sekolah 
Dan bahkan ibu ini harus mengantarkan anak anak sekolah pagi 
Dan siklus itu berlanjut sampai hari   Sabtu 
Hari Sabtu si ibu akan bekerja sampai jam 3 sore 

Pada saat anak pertama ibu ini baik baik saja 
Semakin anak bertambah ..keganasannya pun bertambah
Bahkan kalau marah bisa menjerit jerit dan membanting barang 

Saya melanjutkan pertanyaan saya ;

 " Bapak kalau boleh tahu...aktivitas bapak kalau pagi dan sore bagaimana pak?"

Bapak ; 
Oh saya bangun jam 6 dok ...mandi ...makan pagi lalu berangkat kerja 

Sampai rumah saya jam 6...mandi ...makan
Buka kerjaan kantor sebentar lalu istirahat 

Capek dok sudah bekerja seharian "

Saya ga mengurus anak anak dok..mereka kan urusan ibunya

(Ih pengen deh nyubit si bapak πŸ™„πŸ˜…...nyubit pakai capit kepiting raksasa!)

Saya : ya mohon maaf ya pak sebelumnya 
Sebelum saya merujuk istri bapak ke dokter jiwa sebaiknya Bapak bisa melakukan beberapa hal ini ya pak 

Kita tunggu 1 bulan ...
Jika tidak membaik boleh kita bawa ke psikiater 

Tolong lakukan ini setiap hari dan tolong jangan ditanya kenapa..just do it( maksa mode on πŸ˜…πŸ™†)

1. Bapak bangun jam 5 pagi ..bantuin ibu mandikan anak anak dan bagi tugas mengantar anak

2. Gantian pak tiap Sabtu.
sesekali bapak  yang " me" time
Sesekali ibu yang " me time"

Kasih ibu waktu untuk rehat
Biarkan sesekali ke salon
Nonton
Pergi dengan teman
Apapun itu yang bisa membuat beliau segar kembali 

3. Kalau memang bapak ada dana lebih...sebaiknya ditambahkan pembantu satu lagi pak ...

4.diajak kencan berdua pak sesekali
Anak anak dititipkan 

Begitu ya pak
Nanti sebulan lagi kita cek ulang ",

Selang sebulan si bapak kembali ..
Sudah lebih sumringah 

Saya : gimana pak?

Bapak : betul dokter ...
Istri saya sekarang lebih sabar dok..
Anak anak sudah sangat jarang dipukul
Saya lihat anak anak saya juga lebih bahagia

Saya rasa tidak perlu ke psikiater ya dok
Saya sadar saya salah
Saya kurang berikan waktu istirahat buat istri saya

Saya belum bisa sewa pembantu lagi dok ..
Tapi kata istri saya tidak usah..
Sanggup kok katanya merawat anak anak selama saya membantu 

Saya : 

"Alhamdulillah pak
Ya selama komunikasi dengan ibu baik...
bapak mau bantu istri bapak...
saya rasa  memang bisa kok pak merawat anak anak"

Sebenarnya para suami perlu tau bahwa membahagiakan istri artinya juga menyelamatkan anak anaknya  

Apa hubungannya?

Seringkali Anak menjadi korban ketika Ibunya banyak pikiran dan tertekan. 

peran Ibu sangat besar dalam mendidik anak² agar mereka tumbuh dengan baik, bertanggung jawab dan cerdas.

Bersyukurlah para suami, ketika punya istri yang bisa tetap menjaga kewarasannya ketika beban hidup begitu berat.. 

Selalu dengar istri anda ..
Selalu ringankan tangan untuk membantu  pekerjaannnya
Dan  selalu berikan pelukan untuk menenangkannyaπŸ’™πŸ’™πŸ’™

Seringkali depresi dan stres istri berasal justru dari orang terdekatnya Lo 
Beban istri tak hanya cuma dari anak-anak aja ya pak 

anak rewel, anak sakit, anak dengan kondisi khusus, anak lebih dari satu....banyak 

ini makin parah ni  dengan beban sikap buruk dari suami, keadaan ekonomi yang sulit, belum lagi jika mendapat mertua, ipar, orangtua yang jahat alias julid!!!
( Kayak di sinetron tuhπŸ™„ suka banding2 in menantu satu dengan menantu tetangga yg kaya raya) 

Akhirnya karena tak berdaya, tak ada pembelaan dari suami, gak bisa bales, ujungnya hanya bisa melampiaskan pada sosok yang lemah, yaitu Anak.. 😭

Apalagi kalau beban ekonomi ibu tergantung total dari suami 
Apa apa minta suami 
Mau beli make up minta suami πŸ˜…

(Mau yang model perawatan kulit dengan BSKIN  kayak saya  ini ya susah..)

Kebayang kan ...sudah stress..ga bisa merawat diri...dikatain GILA lagi sampai-sampai ada istri yg rambutnya penuh ketombe dan kutu dengan tega dan sumringah di botakin suaminya di depan ayahnya, dan sang suami tak peka melihat sang ayah mertua memalingkan muka mengusap dada dan air mata melihat putri tercinta tak berdaya 

Berapa banyak kasus penganiyaan bahkan hingga pembunuhan anak yang berawal dari sini?

Dan ketika itu terjadi para Ibu seringkali dicap tak punya iman, Ibu gila, Ibu jahat
Semua menghakimi, tanpa memikirkan bagaimana kondisi mental si ibu

Dan yang mengerikan, orang ga sadar bahwa dari ucapan dan tindakan   itulah yang menjadi pembuka pintu untuk menjadikan seorang ibu menjadi pembunuh anak²nya.. 

Baik pembunuhan karakter, maupun pembunuhan yang menghilangkan nyawa. 

semua bisa kok dilewati ketika Suami berbuat baik pada Istrinya, berada di garda terdepan untuk melindungi dan menyayangi istrinya. Menjadi pendamping dan pembimbing.. 

Karena dengan begitu, sesungguhnya seorang Suami sedang melindungi semua anak anaknya 

Dan buat kita semua wanita..!!

Please deh jangan Julid 
Kalau ada teman yang stress banyak anak jangan dihakimin

Terus dibandingkan begini

Ih anak 4 ...tidak bisa merawat diri 
Makin lama makin jelek

( Yang komentar lupa ingatan kalau dia sendiri hanya memiliki dua anak dengan dua  baby sitter dengan sopir dan pembantu dua πŸ˜…πŸ™„)

Monggo di woco!

Sunday, 10 November 2019

KATALISATOR, TEKNIK BUANG SAMPAH EMOSI

Sebenarnya sampai saat ini saya masih banyak mendapat wapri (whatsapp pribadi) yang bersengaja "buang sampah emosi" alias curhat colongan ke saya. Dan saya bukan psikolog ataupun psikiater saya hanya praktisi pikiran dan komunikasi. Rasanya semua orang bisa menjadi ahli soal 2 bidang ini, namun saya lebih mendalaminya karena punya latar belakang tertentu di masa lalu dan keinginan untuk memahami diri sendiri dan alam raya lebih besar agar setiap langkah hidup lebih bermakna.

Maka menjelmalah bidang kajian saya di dua bidang diatas. Saat berperan sebagai komunikan bahasa lainnya "konsultan" seringkali saya menyarankan pada mereka  mengikuti terapi menulis. Menulis bukan satu hal yang aneh dan baru, sepertinya setiap kita bisa menulis gak usah merangkai kata nan indah, cukup tuangkan apa yang dirasakan sampai benar-benar pensil anda terhenti karena kehabisan kata-kata untuk dituliskan, selanjutnya tunggu hingga hitungan 3-7 hari setelah itu apakah anda masih mengingat permasalahan anda?

Kalau masih, silahkan lanjutkan episode lembar demi lembar rangkaian pikiran anda tuangkan dalam bentuk kalimat, saya yakin setelah anda tuliskan perasaan anda akan lapang seluas lapangan sepak bola. Ah bagian ini saya bcanda! Yang pasti .. Dalam dada anda ada sesuatu yang membludak keluar serta merta berpindah menjadi lembaran new episode "drama" yang siap tayang di layar lebaar .. Ups! 

Part lainnya, menjadi pendengar yang baik salah satu penentu keberhasilan berkomunikasi serta penghargaan buat diri kita, namun saya ingatkan tidak setiap orang bersedia mendengar keluh kesah anda, bersedia menampung "sampah" emosi anda. Nah maka dari itu ada gunanya juga kan anda mempelajari baca tulis semenjak dari sekolah dasar. Skill ini jangan anda sia-siakan begitu saja, atau hanya anda gunakan ketika menulis rangkaian hutang di warung tetangga aiihh ..  Hehe

Jikapun anda merasa kurang pandai menulis kan perasaan anda. Baca buku motivasi dan jalan-jalan menghirup udara segar kayaknya patut di coba daripada anda bergelut dengan pemikiran anda sendiri yang belum tentu separah yang anda pikirkan.
Soo .. Woleesss aja brew! Santuuuyyy kalo kata milenial mah!

Sepakati kalau "Hidup itu indah" dan jadikan ladang ibadah. Ladang loh ya .. Artinya tempat bercocok tanam yang suatu saat bisa dipanen hasilnya.
Mungkin pernah membaca tulisan saya tentang 4 santri kiai yang diminta menyebrang sungai besar dengan berjalan kaki, yang diberikan pesan oleh sang kiai selama menyeberangi sungai ambil apapun yang terinjak hingga sampai di ujung seberangan.

Ke-4 santri tersebut ada yang mengambil hanya memenuhi dua genggaman, ada yang mengambil sesuatu yang terinjak cukup memenuhi saku-saku bajunya, ada pula yang terkesan rakus dan tamak hingga baju dan sarungnya dijadikan tas untuk mengambil apapun yang ia temukan karena teringat pesan dan titah sang kiai.

Begitu sampai di ujung seberang sungai, pak kiaipun meminta membuka barang bawaan yang santri dapatkan. Dan ternyata seluruhnya emas berlian!!
Lalu anda bisa menebak mana santri yang paling menyesal?

Itulah gambaran hidup kita, ambil apapun yang terbaik olah pikir segala sesuatu dengan baik maka yang akan menghampiri kita adalah hal-hal yang baik. Jika anda merasa sial, kurang beruntung dan selalu disakiti? Silahkan interospeksi diri jika sudah dan anda tidak menemukan kesalahan pada diri anda, maafkan mereka!

Tidak semua hal dapat anda kendalikan, yang mampu anda kendalikan hanyalah hati, emosi dan pikiran anda sendiri.

Selamat pagi ...




Saturday, 8 June 2019

KEHIDUPAN BANKIR DI MASA PENSIUN

Penelitian ini memang sudah lama dilakukan, tetapi tetap menarik untuk dibahas,
Studi yang dilakukan UNI Global Union yang berbasis di Swiss berjudul "The “Banking: The Human Crisis” international survey published on Wednesday by UNI Global Union, menemukan lebih dari 80 persen perusahaan perbankan dan asuransi di 26 negara melaporkan memburuknya kesehatan sebagai masalah yang dialami pegawainya selama dua tahun terakhir. Mereka kini disebut bekerja dalam iklim ketakutan.

Lebih dari setengah serikat pekerja di 16 negara di Eropa, empat di Asia, dan tiga di Afrika serta Amerika Latin, mengatakan anggotanya mengeluhkan kehidupan pribadi mereka yang berada di bawah tekanan cukup besar karena mereka memerangi krisis keuangan. Menurut Lynn Mackenzie, penulis laporan 'Banking: The Human Crisis' mengatakan bahwa bankir sering disalahkan atas krisis keuangan global. Hal ini juga berdampak pada pegawai bank lain yang jabatannya lebih rendah.

"Hampir setiap hari karyawan bank harus menghadapi nasabah yang marah yang hidupnya berantakan dan mereka menyalahkan bank. Studi ini merupakan salah satu penelitian yang melihat secara luas kesehatan bankir," kata Mackenzie, seperti dilansir laman Reuters, Jumat (25/10).

Note: Jangan sampai setelah usia pensiun justru berbagai penyakit datang bagai tamu tak diundang, diluar takdir yg maha kuasa, bahwa tingkat kelangsungan hidup pensiunan pegawai bank rata2 tidak seperti pensiunan guru, dosen, dokter, TNI atau pekerjaan dg tingkat stres nya rendah...banyak dijumpai seorang profesor usia 65th - 70th masih segar bugar mengajar, seorang pensiunan TNI masih segar bugar beraktivitas, seorang pensiunan guru masih sehat mengayuh sepedanya, pensiunan dokter masih diminta untuk mengajar, seorang pengusaha yg menurunkan ilmunya kepada anaknya, masih sehat dan sama2 membesarkan bisnisnya, lalu bagaimana dg pensiunan pegawai bank?? Banyak dijumpai di rumah sakit atau aktivitas lain?

Masih minat jadi pegawai bank??

Sumber : xbanksyariahofficial_banksyariah

Saturday, 2 March 2019

DAHSYATNYA SENTUHAN (HAPTIC)

Pengalaman ini didapat dari ruangan praktek Prof.Dr. Djauhar Ismail,SpA, MPH, PhD. di klinik tumbuh kembang RS Sardjito, dari  Ummu Nugtha.

Tidak lama saya berada di ruangan ini hanya sekitar 20 menit, namun luar biasa tamparan besar buat saya, karena kekurangsyukurnya saya, karena kesombongan saya, karena keterlenaan saya.

Ruangan klinik tumbuh kembang masih sepi hanya ada 3 pasien..

Sudut pandangan yang pertama, duduklah saya disamping seorang ibu yang sangat muda menggendong babynya yang sepertinya microchepaly (ukuran kepala kecil) yang artinya membuat perkembangan motorik anak menjadi terganggu, di usianya yang sudah 9 bulan, dia belum sanggup mengangkat kepalanya. Yang membuat saya kagum si ibu ini hanya datang sendiri tanpa suami dan keluarganya. Padahal dalam keadaan demikian saya yakin perempuan butuh laki-laki.

Di sudut pandangan sebelah timur, tampak seorang ibu yang sudah kelihatan agak sepuh sedang menitah anaknya. Ya, anak itu sudah berusia 5 tahun tapi belum bisa berjalan, menurut sang ibu (sebelumnya saya kira neneknya) anaknya terdiagnosa down syndrome. Dan lagi-lagi ibu itu hanya ditemani oleh anak perempuannya yang masih SMA.

Di sudut pandangan depan saya, seorang anak sedang di terapi speech delayed. Dia masih kesulitan dan malas bicara padahal usianya sudah 4 tahun. Hanya ada 2 kata yang selalu diucap yaitu mamah dan maem. Dan sekali lagi tidak tampak sosok laki-laki di dekatnya, hanya ada mamah dan neneknya.

Tidak berapa lama, beliau datang dan meminta saya ke ruangan dan tidak sampai 3 menit urusan acc ujian beres, selebihnya kami banyak berbincang. Penasaran saya tanyakan makna dan maksud beliau memajang gambar "FATHER'S TOUCH".

Penjelasan beliau panjang lebar yang intinya saat ayah memeluk, menyentuh sesungguhnya ia sedang mentransfer kemampuan dan kemandirian pada diri anak. Selain itu aspek yang sifatnya berani berinteraksi dengan figur otoritas yang dimiliki ayah.
Hmmmm....dalem sekali maknanya.

Beliau mengatakan,
" Coba, njenengan lihat di ruangan ini mana anak yang diantar ayah, kakek atau om atau pakdhenya?.." hehee iya juga ya.

Tak heran jika banyak anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh sebagai pribadi yang tangguh. Tentu tak heran pula jika banyak para gadis kemudian berusaha mencari dan menikahi laki-laki pujaannya kelak yang memiliki sifat dan sikap seperti ayah yang dikaguminya.

Sedangkan pelukan dari ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak. Ibu itu figur afeksi, yang ketika anak sakit, ia akan memeluk anak maupun mengambilkan obat untuk anak. Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.

Ditilik dalam kehidupan nyata, ayah memang tak selalu intens dalam memberikan pelukan kepada anak.

Bisa jadi, ayah yang sulit memeluk dulunya juga mungkin jarang dipeluk....(ehmmmm.....)

Karena si ayah tumbuh dan berkembang jarang dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya. Tetapi kalau ia biasa dipeluk, ia akan memeluk anaknya. Dalam penelitian yang dirilis dalam buku The Miracle of Hug, mengungkap bahwa pelukan orangtua kepada anaknya dapat membangun konsep diri yang positif, mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas atau frustasi, serta meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak.

Dengan pelukan pula, anak akan merasa dicintai dan dihargai. Anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan, pelukan saat inisiasi dini, sesaat setelah bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme yang membuat daya tahan tubuh bayi semakin kuat.

Tak perlu khawatir dengan mitos yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat pelukan akan menjadi cengeng. Lupakan paradigma kalau anak saya laki-laki harus bermental kuat, kalau dipeluk-peluk nanti melempem.

Enyahkan pikiran kalau anak saya cuman perempuan satu-satunya ini, dengan didikan "kenceng" supaya dia mandiri tidak manja. Tegas, mandiri, kuat tidak harus dibentuk dengan kekerasan (verbal atau fisik sekalipun).

Banyak pakar yang sudah ber-quotion bahwa sentuhan dan pelukan orangtua kepada anaknya sungguh memiliki kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki obat-obat ciptaan dokter di dunia.

Jadi, siapkan sentuhan dan pelukan terbaik untuk anak-anak tersayang. Minta maaflah dan istighfarlah sudah sering bertindak "kasar" kepada anak-anak.

Tuesday, 8 January 2019

SELERA YANG TAK BERSELERA

Terkadang atau bahkan seringkali dosa yang ngga kerasa itu salah satu diantaranya memaksakan selera kita untuk dapat diterima oleh orang lain. Penentuan selera pun bisa jadi bahan cemooh. Selera digabungkan dengan ego akan melambungkan sesuatu kebenaran mutlak, mutlak yang hanya ada dalam sudut pandang pribadi.

Semisal, menurut saya standard kendaraan on the road keluaran pabriknya sudah cukup untuk menunjang aktifitas saya, namun lain halnya dengan selera teman, adik atau kakak saya. Bisa jadi jika mereka memiliki kendaraan dengan type sama mereka akan mengubahnya dari sisi mesin, ataupun accesories lainnya. Dan ini kembali pada selera dan standard diri.

Namun selera dan standard diri ini akan bermasalah jika di bumbui ego memaksakan selera kita terhadap orang lain yang justru akan mengakibatkan hilangnya jati diri seseorang. Namun sudut pandang lain berbicara bahwa Selera dan standard diri bisa jadi berubah seketika oleh berbagai faktor, faktor dari dalam hati (internal) atau faktor rujukan (eksternal).

Kalau faktor internal ini didapatkan dari rangsangan audio (pendengaran), visual (penglihatan) atau keduanya (audio visual) melalui pengalaman dan hal ini menimbulkan sensasi senang yang bisa jadi akan mengubah satu standard utama ke standard yang lain atau mengubah selera.

Contohnya ketika saya melihat dan mengalami naik kendaraan wangi, bersih dan lega dalam imaginasi akan menimbulkan sensasi tersendiri yang nantinya akan teraplikasi jika saya punya kendaraan type A saya akan memilih perngharumnya merk ini, modifikasi bagian bodynya akan begini dan begitu.

Faktor kedua, penggabungan selera dan ego yang akan merusak/mengubah standard seseorang. Dan seringkali faktor ego ini dibumbui dengan "memantaskan" selera pribadi untuk diterapkan pada orang lain. Padahal tidak pantas dan tidak sesuai dengan citra pemilik ataupun standard seseorang tsb.

Lalu bagaimana hal tsb bisa terjadi?
Berikut beberapa faktor yang jadi "pendukung" perubahan keterpaksaan, diantaranya :
1. Keengganan mengungkapkan keinginan
2. Pihak kedua lebih mendominasi
3. Ketidak mampuan pihak pertama untuk "menolak"

Menolak, justru akan lebih baik untuk mengukuhkan eksistensi diri kita namun untuk beberapa type orang kesulitan untuk berkata "tidak" karena faktor masa lalu yang tak mengajarkannya secara masif.

Kembali pada selera, ego dan kepatutan seseorang akan sangat berbeda satu orang dengan lainnya dan ini akan menentukan standard seseorang terhadap sesuatu. Hargai diri kita agar tidak selalu menerima selera orang lain yang dipaksakan dengan berkata "tidak".

Mendapati orang lain kecewa dengan keputusan yang kita ambil untuk mempertahankan jati dan prinsip diri bukanlah suatu dosa.

Monday, 7 January 2019

Hutang

Hutang, sesuatu hal yang mau tak mau harus segera terbayarkan. Beruntungnya jika hutang itu berbentuk uang, ada limit waktu yang bernama jatuh tempo penanda penyelesaian satu urusan jika sudah tertunai.

Lain halnya dengan hutang budi, hutang dimana ia tak kan pernah terselesaikan karena tak ada tempo tertentu sebagai tanda pelunasan akhir dan lalu selesai sebuah urusan. Salah satu sifat manusia ialah seringkali merasa menyimpan jasa tertentu jika ini menyangkut soal hutang budi lebih parah lagi jika hutang budi ini digabungkan dengan hutang uang. Lengkap sudah penerima manfaat seolah tergadai jalan hidupnya pada si penghutang.

Jika penggabungan kedua hal ini terjadi, maka bersiaplah jalan hidup anda direcoki, pendapat-pendapat anda menguap begitu saja tanpa realisasi, dan anda tak punya kuasa lagi terhadap diri anda sepenuhnya. Lantas bagaimana jika sudah terjadi hal yang demikian?

Disarankan segera berdoa, ikhtiarkan dan niatkan pada yang maha kuasa untuk dijauhkan dari orang-orang yang dapat merusak kepribadian dan kehidupan anda.

"Saya sudah berdoa agar dijauhkan dari yang begitu, tapi koq masih saja dipertemukan dengan yang demikian?"

Sadari juga bahwa ada doa-doa (niat) anda terdahulu yang meminta didekatkan dengan orang-orang yang menguntungkan! dan mungkin orang yang hadir saat ini "berselimutkan" hutang budi dan hutang uang itulah yang menjadi jawaban dari doa-doa anda yang di aminkan semesta.

Tetap bersemangat untuk merajut kehidupan yang lebih baik, mandiri dan tanpa jeratan hutang. Berdoalah agar dijauhkan dan dilindungi dari orang-orang keras hati yang dapat mengubah jalan hidup anda.

Sepertiga malam
Bandung, 7 Januari 2019

Sunday, 16 December 2018

SPIRITUALITAS & SEKSUALITAS

Ada yg mengatas namakan spiritualitas gonta ganti istri atau bahkan nambah istri, katanya sunnah rasul! Laah hati-hati itu namanya ada sesuatu yg dalam dirinya yg "belum selesai". Nafsu seksnya belum selesai, bilangan nafsu ini bisa jadi kehilangan figur kasih sayang semasa cilik yang terbawa sampai dewasa yg akhirnya gonta ganti mencari sana sini.

Kenali & Penuhi dulu hak jasmaniahmu lalu naikkan levelnya ke tingkat spiritual, jika masih berniat gonta ganti sana sini sekali lagi .. Allah ngasih tubuhmu itu bukan untuk jadi sumber kesusahan tapi sumber kebahagiaan, jadikan tubuhmu "kendaraan" untuk ciptakan kebahagiaan bukan untuk siksaan. Tubuhmu tak layak untuk disiksa aroma tubuh yg berbeda.

Tetapi jika dg bergonta ganti sana sini membuatmu merasa bahagia, wess ada sesuatu yang belum selesai dalam dirimu! Dan itu takkan pernah bisa menaikkan level spiritualitasmu.

Allah maha baik, kenali keinginan Nya.

Dari tulisan yg pertama, ada yg bertanya .. "Lalu apa yg belum selesai itu teh?"

Begini, saya teringat salah satu hadist ..
'Didiklah anak2 mu sesuai jamannya', kurang lebih begitu sabda rasul. Penjabaran yg boleh saya utarakan bahwa .. Pendidikan bukan hanya semata ilmu akademik akan tetapi pemberian hak dan kewajiban pada setiap anak sesuai masanya.

Misalnya pada 5 tahun pertama jika anak minta dibelikan mainan pluitan atau sekedar balon .. Mbok ya kasih jangan nunggu tar sok-tar sok .. Kburu abis masanya dan tau2 mereka udah gede. Begitupun tahapan usia anak selanjutnya apingan keberadaan ortu harus selalu sigap memberikan kasih sayang.

Jangan sampai kehadirannya ada tapi seolah kagak ada akibatnya pada masa remaja anak mudah jatuh cinta karena kurang bangunan cinta dari orangtua. Dan ini terus berlanjut sampai masa tua nyari2 terus pasangan yg "menurutnya" sesuai untuk pemenuhan hasrat kasih sayang yang hilang pada masanya karena belum kenyang dapet kasih sayang itu tadi .. So! Jika sudah terlanjur terjadi segera atasi, sadar diri & ngaji diri.🙏

Wednesday, 28 November 2018

DAHSYATNYA KEWAJIBAN BERNIAT dan DAHSYATNYA YAKIN!

Ini cerita panjang ... sangat besar manfaatnya untuk org yang sudah lama sakit dan belum sembuh juga.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit ...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus,

“Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa.

Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas :

‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’.

Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu.
Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa.

Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam.

Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore.

Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri.

Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun.

Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja.

Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku mengernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.” Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar.

Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.” Pak Paulus jeda sejenak.

Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..” Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini. Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku.

Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran.

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat! Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.” Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh, Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha.

Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ." Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?; kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Narasumber : Paulus,
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT

Tuesday, 30 October 2018

TITIK TUHAN (GOD SPOT) PADA OTAK MANUSIA

Otak merupakan organ yang sangat penting dan menakjubkan dalam tubuh manusia. Organ ini berfungsi untuk mengendalikan sistem syaraf  pusat agar tubuh bisa bekerja dengan normal. Otak menjadi kajian yang menarik bagi peneliti. Yang cukup menghebohkan adalah penemuan tentang adanya titik Tuhan (God Spot) dalam di otak manusia. Apakah yang dimaksud dengan God Spot atau titik Tuhan tersebut?

Sekelompok ilmuan pakar syaraf  dari Universitas California San Diego, yang diketuai oleh Dr Ramachandran pada tahun 1997 melakukan sebuah peneilitian yang disebut God Spot atau God Module. God Spot adalah salah satu titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan Tuhannya. Dengan kata lain, terdapat syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon dari aspek agama dan Ketuhanan.

Dikatakan pula bahwa syaraf tersebut akan menjadi lebih utuh  apabila dirangsang untuk mengingat Tuhan. Menurut ahli syaraf, sayaraf ini sangat unik karena tidak teraliri darah sepanjang hari namun tidak mati. Syaraf ini hanya butuh darah dua sampai empat detik saja sebanyak lima kali sehari.

Syaraf ini seperti chip atau module yang ditanam Tuhan dalam otak manusia untuk mendeteksi dengan hal-hal yang berhunbungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari sang pencipta. 

Sebaliknya Apabila syaraf ini tidak aktif maka akan sulit bagi orang-orang untuk menerima moral atau etika apalagi spriritual.

Maka jika seseorang melangkahkan kaki ke masjid dan ada perasaan menghambakan diri, serta perasaan ingin menjunjung Tuhannya mengisi hati mereka, maka ilmuan tersebut mengatakan bahwa itulah tindakan God Spot atau pusat spiritual yang terkandung dalam otak manusia yang mengarahkan mereka berbuat demikian. 

Para ilmuan mengatakan bahwa Tuhan meletakkan syaraf God Spot di dalam otak manusia, karena hal itu merupakan piilihan-Nya sebagai salah satu cara agar terhubung dengan hamba-Nya. Dengan kata lain, adanya titik Tuhan dalam otak manusia, membuat manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhannya. Dan Manusia sebagai hamba, dapat mengembangkan lagi syaraf ini, jika mengenal dan memahami  sang penciptanya. 

Terjadi perdebatan tentang penemuan ini. Perdebatan tidak saja terjadi di kalangan imuan, tetapi kelompok non muslim yang pada dasarnya menentang pendapat tersebut karena pada dasarnya menurut mereka, Tuhan adalah personal yang berada diluar diri mereka. Namun bagaimana menurut Islam? 

Dalam hal ini Islam memandang bahwa Allah SWT sang pencipta otak tidak mungkin berada di dalam otak ini sendiri. Karena jelas bahwa keberadaan Allah diatas Arsy , langit ke tujuh. Seperti dalam firman Allah yang artinya “Yaitu (Rabb) yang bersemayam menetap tinggi diatas Arasy”  (QS.Thoha: 5)

Serta dijelaskan pula dalam QS: Yunus Ayat: 3 yang artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa´at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: Yunus Ayat: 3)

Ayat-ayat dan hadist seputar keberadaan Allah sangat banyak sekali, meskipun begitu Allah memberitahukan bahwa Dia bersama hambanya dimana saja. Dan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Allah lah yang keempatnya.

Begitu juga tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang, kecuali Allah lah yang keenamnya. Bahkan Allah juga menyebutkan, akan ketinggiannya berada di atas Arsy, akan tetapi Allah tetap bersama hamba-hamba-Nya seperti dalam firman Allah yang artinya 

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid:4)

Namun kata Bersama Kami bukan berarti Allah menyatu dengan Makhluk tetapi bersama hambanya dengan ilmu-Nya. Dan Allah SWT yang berada di atas Arsy juga melihat segala sesuatu yang terjadi pada hambanya serta tidak akan ada yang tersembunyi sedikitpun dari dari pandangan Allah SWT. 

Maka telah jelas bahwa menurut pandangan Islam telah jelas bahwa Allah SWT berada dan bersemayam di Arsy-Nya di langit ke tujuh dan bukanlah di otak manusia. Dan dengan kuasanya Allah mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi serta tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah SWT

MEMBINA GENERASI AQIL BALIGH

Dalam Islam tidak mengenal istilah “REMAJA”, bahkan di negara Barat pun tidak mengenal istilah itu sampe abad 19, Remaja yang identik dengan masa galau, bingung, liar dan cenderung negatif ini tidak ada dalam Islam, Istilah Remaja lahir dari budaya dan kegagalan dalam proses pendidikan. Dalam Islam hanya mengenal istilah Pemuda / dewasa muda, Pemuda yang sudah produktif di usia 15 tahun.

Perhatikan proses pendidikan dalam islam :

Umur 0 - 7 tahun, anak tidak boleh diberi beban ( taklif ) syariat, biarkan mereka dengan ego nya, perlakukan mereka seperti Raja, tanamkan image yg positif ttg Allah dan rosulnya, ttg kebaikan, tth dunia yg indah dan kebahagiaan

Umur 7 - 10 , jadikan anak sebagai tawanan, diperintah untuk melaksanakan ibadah ibadah wajib, mulai diberi perintah dan tugas tugas, mulai dilatih tanggung jawab mengurusi diri sendiri dan lingkungan terdekat

Umur 10 - 12 Mulai dikenalkan dengan konsekwensi, apabila proses 0 - 10 dilaksanakan sesuai prosedur fitrah nya, maka di umur ini anak sudah terbiasa menjalankan kewajiban2 nya secara mandiri

Umur 15 sudah menjadi seorang Dewasa dan mukalaf (mampu menanggung beban syariat) dengan ikhlas

Dengan demikian Proses AQIL BALIGH tumbuh bersama.

Komparasi pertumbuhan Aqil Baligh :

AQIL :

Dewasa Mental
Dipengaruhi pendidikan
Berkembangnya akal
Fungsi tanggung jawab
Mandiri, tanggung jawab
Peran Ayah + Ibu

BALIGH :

Dewasa Fisik
Pengaruh nutrisi / asupan makanan
Berkembangnya nafsu
Fungsi reproduksi
Life and death instinc
Peran Ibu + Ayah

Adalah aneh jika saat ini kita bersemangat mengajarkan anak anak kita taklif syar’i tapi tidak membimbing mereka menjadi seorang mukalaf...dalam agama ibadah itu disebut taklif ( beban) mukalaf itu kemampuan untuk menanggung beban tsb, ibaratnya kita mengajarkan anak anak kita jadi atlit angkat besi, kita mengajarkan teknik mengangkat besi nya tapi kita tidak mengokohkan kaki nya, menguatkan otot tangannya, maka apa yang akan terjadi? Patahlah tangannya karena tidak sanggup mengangkat beban tsb.

Apa yang akan terjadi jika BALIGH tidak tumbuh bersama AQIL ? Anak anak kita akan hidup dikuasai nafsu / syahwat, misalnya anak kita sudah baligh di usia 13 tahun dan baru aqil di usia 27 tahun, selama 14 tahun anak kita dikendalikan oleh nafsunya.

Disinilah peran Ayah sangat dibutuhkan, kehadiran ayah sebagai Suplier ego untuk membentuk karakter anak, ayah dituntut jadi Raja Tega dan ibu berperan mengobati  akibat dari  ketegaan ayah tsb.Di dalam Alquran terdapat 17 ayat ttg mendidik anak, 14 ayat pelakunya adalah ayah, 2 ayat pelakunya adlah ibu, dan 1 ayat pelakunya ayah dan ibu, dan ayahlah yg akan dimintai pertanggung jawaban terbesar dlm mendidik anak oleh Allah SWT kelak di yaumul hisab.

Memberi nafkah hanyalah penunjang, hal yang paling utama yg harus dimiliki seorang ayah adalah Qowam ( jiwa kepemimpinan ) Qowamah akan berhasil jika ditunjang dengan kemampuan mencari nafkah dan potensi dirinya.

Indonesia termasuk Negeri Tanpa Ayah terbesar kedua setelah Amerika, hal ini terjadi karena tidak ada peran ayah dalam pengasuhan anak anak nya.

#semoga bermanfaat

Sunday, 30 September 2018

LAPAR, BOKEK? MENIKAH SAJA ...

Beberapa hari yang lalu, saya cukup terusik dengan sebuh gambar bertuliskan

"BOKEK, Nikah, biar ada yang nafkahin" dan "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi". Miris rasanya karena tulisan seperti ini diposting oleh akun-akun tausiyah. 

Menikah itu memang ibadah, namun apakah hal itu menjadi ibadah kalau kita menikah karena ingin dinafkahi? Apakah itu menjadi ibadah karena kita bekerja merasa lelah lalu mengeluh dan ingin menikah saja?

Menikah bagi saya bukanlah solusi hal-hal seperti itu. Butuh kesiapan secara lahir dan batin sebelum menikah.

Tak perlu lah dijelaskan urusan siap menikah secara lahir bagaimana. Sudah ada undang-undang yang mengatur usia yang dianjurkan menikah dan tentunya itu atas pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan organ reproduksi.

Kali ini saya ingin bahas siap batin untuk menikah. Jangan dikira nikah itu segalanya langsung enak apa-apa berdua, langsung dinafkahi total uang suami bakal jadi milik istri. 

Sebelum menikah, kamu harus tahu bagaimana suami memperlakukan keluarganya. Tentu tak etis kalau ia biasa memberi bagian dari gajinya pada keluarganya lalu kamu melarang. Hal ini harus masuk dalam pembahasan sebelum kamu menikah. Bahas bagaimana pengelolaan keuangan nantinya.

Jangan kira menikah langsung segalanya berdua. Kamu harus tau apakah memang nanti kamu akan tinggal berdua atau masih bersama keluarga. Siapkah kamu tinggal di pondok mertua indah? Sudahkah kamu menerima keluarganya. Kamu menikah dengan pasanganmu, tapi sebenarny kamu juga menikahi keluarganya.

Setelah menikah, kamu tentu berharap menjadi ibu. Jangan kira hamil itu mudah, tak semua ibu mengalami kemudahan saat hamil. Ada yang bisa mual hebat, tak mau makan, gatal-gatal, banyak ragamnya. Kamu juga harus tahu hal itu. 

Kamu lelah bekerja, lalu ingin menikah saja? Sudah siapkah kamu dengan segala pekerjaan rumah. Urusan yang rasanya tak selesai-selesai, apalagi setelah kamu punya anak. Mainan yang berserakan, rumah yang berantakan, setrikaan yang menumpuk. Bisa saja kamu akan merindukan dokumen yang menumpuk.

Tahukah kamu, setelah kamu menjadi ibu, mungkin kamu butuh me-time ingin ke salon, ke bioskop, atau sekedar fokus ibadah tapi mendadak suara anak menangis terdengar dan kamu membatalkan semuanya lalu berlari ke anak. Pernahkah itu terbayang dalam pikiranmu?

Dear akun-akun yang menganggap pernikahan itu solusi segalanya. Tolonglah berhenti. Menikah itu memang nikmat, ada kenikmatan tersendiri. Menikah itu memang ibadah. 

Namun, imbangilah anjuran menikah dengan info-info lain yang membuat para lelaki siap menjadi suami, imam, dan bapak. Imbangilah dengan info dan ajuran untuk para perempuan untuk menjadi istri yang patuh, ibu yang baik.

Kalau kalian hanya menyuruh menikah karena bokek, bisa bayangkan ketika suaminya tak bisa menafkahi istrinya menuntut cerai? 

Memang, pelajaran juga bisa diambil selama pernikahan. Tapi sekali lagi, menikah butuh kesiapan. Termasuk siap untuk belajar dalam pernikahan tersebut. Bukan hanya siap memberi nafkah dan menerima nafkah.

Dear akun-akun yang sering menyuruh menikah, lebih baik kalau kamu menyuruh followermu ikut dalam kajian sebelum menikah, kuliah online menjadi istri/ibu/suami/ayah yang baik sebelum menikah. Banyak kok. Jangan langsung menyuruh menikah karena bokek.

#kompasiana

Friday, 21 September 2018

TERABAIKAN, LUPUT DARI PERHATIAN, SIAP-SIAP MELEPASKAN

Sebenarnya ini skema semesta, artinya berlaku umum siapapun mengalaminya. Saya ambil contoh pengalaman saya beberapa waktu lalu ya ..

Saya memakai hp android dual sim, dan satu hp lagi sama dual sim tapi hp ke-2 ini minim aplikasi hanya sbg cadangan jika android lowbatt, hanya bisa sms & tlp saja. Sedangkan saya hanya memakai 2 nomor maka kedua nomor tsb saya bagi.

Karena berbagai aktifitas saya mayoritas menggunakan andoid otomatis yang seringkali digunakan, berinteraksi, dan pikiran saya ketika nyari hp yang dicari ya yang android. Adapun hp yang satu lagi saya cari kalo ingat.

Satu kali terbersit kepikiran rasanya kurang efektif bawa 2 hp  "gimana caranya supaya hp yang ono ga saya pake lagi?"

Selang beberapa hari kemudian hp putih samsung saya tergeletak diatas rak piring tak jauh dari pongahnya mesin cuci. Bercucuran air ketika saya ambil dan menggenggamnya.

Ya Alloh!
Ternyata dijawabnya dengan cara begini .. Saya tanya pada orang rumah, dan ibu yang jawab ..
"itu hpnya ke giling mesin cuci abis gak tau kalo di saku bajunya ada hp!" 

Udah! Gitu aja .. Abis riwayat ..

***

Skema semesta itu punya sistem yang seringkali tidak kita SADARI. Namun yang saya amati dan alami
*Ketika kita bingung, mencari jawaban,   bertanya sesuatu hal namun tak yakin bertanya pada siapa .. Jangan terlalu terlebih Galau atau khawatir karena cepat atau lambat SEMESTA akan menjawabnya dengan hal-hal yang tak terduga.*

Jadi saran saya .. Ketika kita membutuhkan jawaban akan hidup, Bertanyalah dengan bijak ..

Ada Interaksi => Perhatian => Dalam Genggaman

Tidak ada interaksi => luput dari perhatian => siap melepaskan

Dari kedua skema diatas, coba anda amati teman anda yang masih keep in touch berinteraksi dengan anda pastinya ia selalu ada meski just say hello.

Tapi ada juga yang masuk dalam skema kedua .. Tidak ada interaksi, kepikiranpun kagak otomatis luput dari perhatian anda maupun dia dan lalu siap-siap mengikuti seleksi alam .. Pergi dan menghilang!

Demikian, semoga menginspirasi ..
By LK 🤓

Tuesday, 6 March 2018

Manajemen Pikir

PIKIRAN

Ada yg mengatakan bahwa sesungguhnya medan peperangan terbesar berada di pikiran kita, karena pikiran Itu sangat Kuat & Dapat MEMPENGARUHI Kehidupan Seseorang.

Ada pepatah mengatakan: Menabur dalam PIKIRAN akan Menuai TINDAKAN,

*Menabur TINDAKAN akan menuai KEBIASAAN.

*Menabur KEBIASAAN akan Menuai KARAKTER(komitmen)

*PIKIRAN Kita seumpama tanah, tanah tdk pernah peduli terhadap jenis benih apa yg hendak kita tanam.

*Jika kita menabur benih jagung, tanah akan meresponsnya, lalu menumbuhkan Jagung.

*Apapun yg kita tanamkan dlm PIKIRAN, entah itu hal2 yg baik atau buruk, PIKIRAN Kita akan segera Menerima, Merespon & Menumbuhkannya.

*Sadar atau tidak, sering kali kita memperkatakan hal buruk ttg diri kita sendiri, Misalnya:

- Hidupku Penuh Masalah,
- Aku Tidak Akan Berhasil,
- Sakitku Tidak Akan Sembuh,
- Aku Bodoh dan Miskin,
- Masa Depanku Suram, dsb.

*Hal2 negatif yg kita ucapkan itu akan di respons Oleh PIKIRAN kita dlm bentuk sikap & tindakan, yg pada gilirannya akan menghasilkan sesuatu yg sama seperti yg kita *tanamkan dlm PIKIRAN kita.*

Oleh sebab itu, *TANAMKAN Hal Yg POSITIF di benak kita, maka kita akan menjadi luar biasa.
dan pelihara pikiran yg BAIK & BENAR.

PIKIRAN POSITIF YANG HARUS DENGAN KEARIFAN BISA MEMBEDAKAN MANA YANG BAIK & BENAR.

Mari BIASAKAN Utk selalu berpikir:
-Saya Sangat Beruntung.
-Hidupku Penuh Berkah.
-Saya PASTI Mampu Mengatasi Masalah Ini !
-Masa Depanku PASTI Cerah !
-Hari Ini Saya PASTI Penuh Semangat !
-Saya Sangat Bersyukur Pada Allah Atas Apa Yg Saya Miliki Saat ini.
-Saya akan Berjuang & Berjuang Terus !
-Allah *PASTI* Buka Jalan !

Hidup adalah permainan pikiran, kalau kita bisa mengelola pikiran kita, maka hidup Kita BAHAGIA.

Musuh paling kejam adalah pikiran kita.
Sahabat paling Setia juga adalah Pikiran kita.

Manage pikiran dengan baik. Hiduplah dengan ketenangan agar kita mampu mengelola Pikiran kita.

_HATI yang baik itu seperti KEBUN,
_PIKIRAN yg baik itu AKAR NYA,
_PERKATAAN yg baik itu Bunganya.
_PERBUATAN yg baik itu BUAHNYA.

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...