Tuesday, 30 October 2018

TITIK TUHAN (GOD SPOT) PADA OTAK MANUSIA

Otak merupakan organ yang sangat penting dan menakjubkan dalam tubuh manusia. Organ ini berfungsi untuk mengendalikan sistem syaraf  pusat agar tubuh bisa bekerja dengan normal. Otak menjadi kajian yang menarik bagi peneliti. Yang cukup menghebohkan adalah penemuan tentang adanya titik Tuhan (God Spot) dalam di otak manusia. Apakah yang dimaksud dengan God Spot atau titik Tuhan tersebut?

Sekelompok ilmuan pakar syaraf  dari Universitas California San Diego, yang diketuai oleh Dr Ramachandran pada tahun 1997 melakukan sebuah peneilitian yang disebut God Spot atau God Module. God Spot adalah salah satu titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan Tuhannya. Dengan kata lain, terdapat syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon dari aspek agama dan Ketuhanan.

Dikatakan pula bahwa syaraf tersebut akan menjadi lebih utuh  apabila dirangsang untuk mengingat Tuhan. Menurut ahli syaraf, sayaraf ini sangat unik karena tidak teraliri darah sepanjang hari namun tidak mati. Syaraf ini hanya butuh darah dua sampai empat detik saja sebanyak lima kali sehari.

Syaraf ini seperti chip atau module yang ditanam Tuhan dalam otak manusia untuk mendeteksi dengan hal-hal yang berhunbungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari sang pencipta. 

Sebaliknya Apabila syaraf ini tidak aktif maka akan sulit bagi orang-orang untuk menerima moral atau etika apalagi spriritual.

Maka jika seseorang melangkahkan kaki ke masjid dan ada perasaan menghambakan diri, serta perasaan ingin menjunjung Tuhannya mengisi hati mereka, maka ilmuan tersebut mengatakan bahwa itulah tindakan God Spot atau pusat spiritual yang terkandung dalam otak manusia yang mengarahkan mereka berbuat demikian. 

Para ilmuan mengatakan bahwa Tuhan meletakkan syaraf God Spot di dalam otak manusia, karena hal itu merupakan piilihan-Nya sebagai salah satu cara agar terhubung dengan hamba-Nya. Dengan kata lain, adanya titik Tuhan dalam otak manusia, membuat manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhannya. Dan Manusia sebagai hamba, dapat mengembangkan lagi syaraf ini, jika mengenal dan memahami  sang penciptanya. 

Terjadi perdebatan tentang penemuan ini. Perdebatan tidak saja terjadi di kalangan imuan, tetapi kelompok non muslim yang pada dasarnya menentang pendapat tersebut karena pada dasarnya menurut mereka, Tuhan adalah personal yang berada diluar diri mereka. Namun bagaimana menurut Islam? 

Dalam hal ini Islam memandang bahwa Allah SWT sang pencipta otak tidak mungkin berada di dalam otak ini sendiri. Karena jelas bahwa keberadaan Allah diatas Arsy , langit ke tujuh. Seperti dalam firman Allah yang artinya “Yaitu (Rabb) yang bersemayam menetap tinggi diatas Arasy”  (QS.Thoha: 5)

Serta dijelaskan pula dalam QS: Yunus Ayat: 3 yang artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa´at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: Yunus Ayat: 3)

Ayat-ayat dan hadist seputar keberadaan Allah sangat banyak sekali, meskipun begitu Allah memberitahukan bahwa Dia bersama hambanya dimana saja. Dan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Allah lah yang keempatnya.

Begitu juga tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang, kecuali Allah lah yang keenamnya. Bahkan Allah juga menyebutkan, akan ketinggiannya berada di atas Arsy, akan tetapi Allah tetap bersama hamba-hamba-Nya seperti dalam firman Allah yang artinya 

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid:4)

Namun kata Bersama Kami bukan berarti Allah menyatu dengan Makhluk tetapi bersama hambanya dengan ilmu-Nya. Dan Allah SWT yang berada di atas Arsy juga melihat segala sesuatu yang terjadi pada hambanya serta tidak akan ada yang tersembunyi sedikitpun dari dari pandangan Allah SWT. 

Maka telah jelas bahwa menurut pandangan Islam telah jelas bahwa Allah SWT berada dan bersemayam di Arsy-Nya di langit ke tujuh dan bukanlah di otak manusia. Dan dengan kuasanya Allah mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi serta tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah SWT

MEMBINA GENERASI AQIL BALIGH

Dalam Islam tidak mengenal istilah “REMAJA”, bahkan di negara Barat pun tidak mengenal istilah itu sampe abad 19, Remaja yang identik dengan masa galau, bingung, liar dan cenderung negatif ini tidak ada dalam Islam, Istilah Remaja lahir dari budaya dan kegagalan dalam proses pendidikan. Dalam Islam hanya mengenal istilah Pemuda / dewasa muda, Pemuda yang sudah produktif di usia 15 tahun.

Perhatikan proses pendidikan dalam islam :

Umur 0 - 7 tahun, anak tidak boleh diberi beban ( taklif ) syariat, biarkan mereka dengan ego nya, perlakukan mereka seperti Raja, tanamkan image yg positif ttg Allah dan rosulnya, ttg kebaikan, tth dunia yg indah dan kebahagiaan

Umur 7 - 10 , jadikan anak sebagai tawanan, diperintah untuk melaksanakan ibadah ibadah wajib, mulai diberi perintah dan tugas tugas, mulai dilatih tanggung jawab mengurusi diri sendiri dan lingkungan terdekat

Umur 10 - 12 Mulai dikenalkan dengan konsekwensi, apabila proses 0 - 10 dilaksanakan sesuai prosedur fitrah nya, maka di umur ini anak sudah terbiasa menjalankan kewajiban2 nya secara mandiri

Umur 15 sudah menjadi seorang Dewasa dan mukalaf (mampu menanggung beban syariat) dengan ikhlas

Dengan demikian Proses AQIL BALIGH tumbuh bersama.

Komparasi pertumbuhan Aqil Baligh :

AQIL :

Dewasa Mental
Dipengaruhi pendidikan
Berkembangnya akal
Fungsi tanggung jawab
Mandiri, tanggung jawab
Peran Ayah + Ibu

BALIGH :

Dewasa Fisik
Pengaruh nutrisi / asupan makanan
Berkembangnya nafsu
Fungsi reproduksi
Life and death instinc
Peran Ibu + Ayah

Adalah aneh jika saat ini kita bersemangat mengajarkan anak anak kita taklif syar’i tapi tidak membimbing mereka menjadi seorang mukalaf...dalam agama ibadah itu disebut taklif ( beban) mukalaf itu kemampuan untuk menanggung beban tsb, ibaratnya kita mengajarkan anak anak kita jadi atlit angkat besi, kita mengajarkan teknik mengangkat besi nya tapi kita tidak mengokohkan kaki nya, menguatkan otot tangannya, maka apa yang akan terjadi? Patahlah tangannya karena tidak sanggup mengangkat beban tsb.

Apa yang akan terjadi jika BALIGH tidak tumbuh bersama AQIL ? Anak anak kita akan hidup dikuasai nafsu / syahwat, misalnya anak kita sudah baligh di usia 13 tahun dan baru aqil di usia 27 tahun, selama 14 tahun anak kita dikendalikan oleh nafsunya.

Disinilah peran Ayah sangat dibutuhkan, kehadiran ayah sebagai Suplier ego untuk membentuk karakter anak, ayah dituntut jadi Raja Tega dan ibu berperan mengobati  akibat dari  ketegaan ayah tsb.Di dalam Alquran terdapat 17 ayat ttg mendidik anak, 14 ayat pelakunya adalah ayah, 2 ayat pelakunya adlah ibu, dan 1 ayat pelakunya ayah dan ibu, dan ayahlah yg akan dimintai pertanggung jawaban terbesar dlm mendidik anak oleh Allah SWT kelak di yaumul hisab.

Memberi nafkah hanyalah penunjang, hal yang paling utama yg harus dimiliki seorang ayah adalah Qowam ( jiwa kepemimpinan ) Qowamah akan berhasil jika ditunjang dengan kemampuan mencari nafkah dan potensi dirinya.

Indonesia termasuk Negeri Tanpa Ayah terbesar kedua setelah Amerika, hal ini terjadi karena tidak ada peran ayah dalam pengasuhan anak anak nya.

#semoga bermanfaat

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...