Showing posts with label Psikologi Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Komunikasi. Show all posts

Wednesday, 30 September 2020

PEMIKIRAN PICIK SEORANG PEREMPUAN

Berawal dari stigma masyarakat bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Perempuan di identikan dengan kebodohan. Identik dengan makhluk yang mudah di manipulasi, dimonopoli dan di kebiri. 

Dogma lain, bahwa nasib perempuan bergantung dari ridlonya laki-laki sebutlah suami, stigma lain tentang peralihan nasib dosanya yang ditanggung ayah jika anak perempuannya bermaksiat, tak menutup aurat sekalipun. Lalu dosa ini akan berpindah pada suami setelah ia menikah. 

Di sisi lain, firman Allah menyatakan bahwa apa yang setiap manusia lakukan akan kembali pada dirinya sendiri artinya tidak ada pelimpahan dosa seseorang pada manusia lainnya. Hanya saja kita diwajibkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.  Bukan untuk menerima "dosa" yang dilakukan istrinya. 

Lalu apa yang terjadi bahwa dogma, stigma "pelimpahan dosa" anak perempuan pada ayahnya, istri pada suaminya? 
Saya tidak akan membahas mengenai hubungan darah "pelimpahan dosa" anak-ayah tapi kita bayangkan apa yang akan terjadi pada hubungan seseorang yang sebelumnya tidak saling mengenal lantas seolah "disiapkan" untuk menerima dosa istri? 

Saya sangat yakin dalam proses rumah tangganya akan ada semacam orang yang disanjung dipuja dan berada di atas angin, siap untuk mencecar setiap perbuatan sang istri agar ia selalu "tau diri" karena dosanya sudah ditanggung sang suami. 

Di lain sisi bukankah ada potensi manusia lain yang dianggap selalu "berdosa" melekat, otomatis terhamba sahaya karena kedudukannya setiap tindak tanduknya dianggap sebagai pembawa petaka untuk manusia lainnya? 

Manusia lain bernama suami itupun akan dengan bangga, mudah mencemooh dan menganggap istrinya lebih rendah martabatnya daripada dirinya. Bahaya laten lainnya, gangguan psikologis, memicu toxifitas suami pada istri. Padahal dalam hubungan berumah tangga pemahaman ortodok ini seharusnya di clear kan, agar masing-masing mempunyai peran sebagai support system bagi kehidupan setiap orang. 

Dan ini salah satu pemicu perceraian terjadi. 

Friday, 24 April 2020

BAGAIMANA CARA MENUMBUHKAN PROFIT 20% DARI USAHA SAYA

Status Fb Pak Ary Ginanjar

Beberapa waktu lalu saya membaca postingan Pak Ary Ginanjar, salah satu guru saya, di facebooknya.

Sebuah foto sambil memegang secangkir kopi, melihat ke jendela. Tak ada yang istimewa dengan fotonya. Tapi yang istimewa itu komentarnya, pro dan kontra. Apa yang dipermasalahkan?

Rupanya tulisan statusnya,

Ngopi di lantai 24 Menara 165 sambil mikir kenapa ya Jakarta tetap ramai meskipun sudah ada PSBB?

Tapi saya tidak ingin memindahkan pro kontra status tersebut disini, bukan. Melainkan ingin menunjukkan kepada Anda semua bahwa kita memang sering terpola untuk bertanya diawali kalimat tanya "kenapa". 

Pertanyaan kenapa itu tidak salah, sebab memancing pikiran untuk menemukan "karena". Tapi ketika pertanyaan itu diajukan ke diri sendiri bermuatan negatif, pikiran tersugesti dengan jawaban negatifnya. 

Contoh, "kenapa hidup sekarang makin susah?"

Jawabnya adalah, "karena pandemi Covid 19 dimana-mana"

Lalu tak sadar jadi sugesti, "hidup semakin susah karena pandemi Covid 19 dimana-mana."_ Tak sadar, sepanjang hidup menuju masa depan, pikiran diarahkan untuk melihat "hidup susah" dan (akibat) "Covid 19". 

Apakah membuat Anda termotivasi? 

Saya yakin tidak. Anda yang hendak jualan kebutuhan puasa atau lebaran pun jadi khawatir tidak laku bukan? 

Sekarang bagaimana kalau pertanyaan kenapa diganti menjadi "bagaimana". 

Bagaimana caranya agar ekonomi saya tetap tumbuh 20% setiap bulan dengan mudah dan menyenangkan?

Caranya adalah 

Saya yakin pikiran Anda menghadirkan gambar yang sesuai untuk menjawab pertanyaan diatas. Kalau pikiran saya tergambar youtube, artinya saya membuat video youtube. 

Baiklah Anda merasa sangsi dengan jawaban pikiran sendiri. Artinya Anda butuh jawaban yang beragam agar punya pilihan. 

Tanya saja, "apa lagi?" 

"Apalagi yang bisa dilakukan agar ekonomi saya tumbuh 20% setiap bulan dengan mudah dan menyenangkan?"

Kalimat ini bisa diulang berkali-kali ke diri sendiri baik dengan membaca berulang maupun 
bertanya dengan suara keras berulang. 

Tulis jawabannya. 

Kemudian tanyakan, apa yang bisa saya lakukan *sekarang* dengan mudah dan menyenangkan agar income saya tumbuh 20% setiap bulan?

Pilihan jawaban Anda semakin spesifik sehingga memaksa pikiran untuk menemukan jawaban "bisa dilakukan sekarang". 

Pelajaran pentingnya adalah pikiran itu netral. Dia memiliki segala informasi yang kita butuhkan. Tapi salah mengajukan pertanyaan membuat salah menemukan jawaban. 

Saya membaca kembali postingan Pak Ary dan komentar pembacanya. Komentar kontra berkisar di "mestinya Pak Ary..."

Kenapa saya baca? Sebab menyadarkan saya, bahwa saya pun tak sadar sering menuntut orang lain untuk berfikir dengan cara saya berfikir atau bertindak sesuai dengan pilihan saya. 

Padahal, saya sendiri (dulunya) tak mampu mengarahkan pikiran sendiri untuk berfikir sebagaimana mestinya berfikir. 

Mungkin dulu saya fokus menuntut orang lain memperbaiki ucapannya, memperbaiki cara berfikirnya, tapi lupa menuntut diri memperbaiki pikiran sendiri. 

Wallahualam

Sunday, 10 November 2019

KATALISATOR, TEKNIK BUANG SAMPAH EMOSI

Sebenarnya sampai saat ini saya masih banyak mendapat wapri (whatsapp pribadi) yang bersengaja "buang sampah emosi" alias curhat colongan ke saya. Dan saya bukan psikolog ataupun psikiater saya hanya praktisi pikiran dan komunikasi. Rasanya semua orang bisa menjadi ahli soal 2 bidang ini, namun saya lebih mendalaminya karena punya latar belakang tertentu di masa lalu dan keinginan untuk memahami diri sendiri dan alam raya lebih besar agar setiap langkah hidup lebih bermakna.

Maka menjelmalah bidang kajian saya di dua bidang diatas. Saat berperan sebagai komunikan bahasa lainnya "konsultan" seringkali saya menyarankan pada mereka  mengikuti terapi menulis. Menulis bukan satu hal yang aneh dan baru, sepertinya setiap kita bisa menulis gak usah merangkai kata nan indah, cukup tuangkan apa yang dirasakan sampai benar-benar pensil anda terhenti karena kehabisan kata-kata untuk dituliskan, selanjutnya tunggu hingga hitungan 3-7 hari setelah itu apakah anda masih mengingat permasalahan anda?

Kalau masih, silahkan lanjutkan episode lembar demi lembar rangkaian pikiran anda tuangkan dalam bentuk kalimat, saya yakin setelah anda tuliskan perasaan anda akan lapang seluas lapangan sepak bola. Ah bagian ini saya bcanda! Yang pasti .. Dalam dada anda ada sesuatu yang membludak keluar serta merta berpindah menjadi lembaran new episode "drama" yang siap tayang di layar lebaar .. Ups! 

Part lainnya, menjadi pendengar yang baik salah satu penentu keberhasilan berkomunikasi serta penghargaan buat diri kita, namun saya ingatkan tidak setiap orang bersedia mendengar keluh kesah anda, bersedia menampung "sampah" emosi anda. Nah maka dari itu ada gunanya juga kan anda mempelajari baca tulis semenjak dari sekolah dasar. Skill ini jangan anda sia-siakan begitu saja, atau hanya anda gunakan ketika menulis rangkaian hutang di warung tetangga aiihh ..  Hehe

Jikapun anda merasa kurang pandai menulis kan perasaan anda. Baca buku motivasi dan jalan-jalan menghirup udara segar kayaknya patut di coba daripada anda bergelut dengan pemikiran anda sendiri yang belum tentu separah yang anda pikirkan.
Soo .. Woleesss aja brew! Santuuuyyy kalo kata milenial mah!

Sepakati kalau "Hidup itu indah" dan jadikan ladang ibadah. Ladang loh ya .. Artinya tempat bercocok tanam yang suatu saat bisa dipanen hasilnya.
Mungkin pernah membaca tulisan saya tentang 4 santri kiai yang diminta menyebrang sungai besar dengan berjalan kaki, yang diberikan pesan oleh sang kiai selama menyeberangi sungai ambil apapun yang terinjak hingga sampai di ujung seberangan.

Ke-4 santri tersebut ada yang mengambil hanya memenuhi dua genggaman, ada yang mengambil sesuatu yang terinjak cukup memenuhi saku-saku bajunya, ada pula yang terkesan rakus dan tamak hingga baju dan sarungnya dijadikan tas untuk mengambil apapun yang ia temukan karena teringat pesan dan titah sang kiai.

Begitu sampai di ujung seberang sungai, pak kiaipun meminta membuka barang bawaan yang santri dapatkan. Dan ternyata seluruhnya emas berlian!!
Lalu anda bisa menebak mana santri yang paling menyesal?

Itulah gambaran hidup kita, ambil apapun yang terbaik olah pikir segala sesuatu dengan baik maka yang akan menghampiri kita adalah hal-hal yang baik. Jika anda merasa sial, kurang beruntung dan selalu disakiti? Silahkan interospeksi diri jika sudah dan anda tidak menemukan kesalahan pada diri anda, maafkan mereka!

Tidak semua hal dapat anda kendalikan, yang mampu anda kendalikan hanyalah hati, emosi dan pikiran anda sendiri.

Selamat pagi ...




Friday, 17 May 2019

BERDOA, MEMINTA ATAUKAH BERSYUKUR?

Sejatinya, pada saat kita meminta kita hanya "melatih" rasa "kekurangan" pada diri kita. Dan akhirnya makin banyaklah "kekurangan" yang menghampiri hidup kita.
Namun, pada saat kita bersyukur, kita melatih rasa "kelimpahan" hadir pada diri kita. Yang tentu saja hal ini juga akan menarik serangkaian dan banyak "kelimpahan" untuk datang dan menghampiri kehidupan kita.

Hukum Metafisika mengajarkan, apa yang dominan dalam pikiran kita, maka itulah yang akan diwujudkan dalam realitas kehidupan kita. Jadi kalo doa kita hanya berisi permintaan belaka, tanpa sadar kita mencoba mewujudkan kekurangan untuk hadir dalam hidup kita supaya kita bisa terus meminta.

Hukum tarik menarik Metafisika Spiritual sebenarnya sesederhana itu. Meskipun telah banyak orang yang tahu, tapi tidak melakukannya.
Atau mereka melakukannya, tapi mereka kemudian 'menyerah' dan tidak 'menyelesaikannya'.

Sehingga kemudian muncul 'belief' baru dalam hidup mereka yang justru men'sabotase' segala kebaikan yang 'harusnya' mereka terima saat mengaplikasikan dan melakukan hukum metafisika spiritual ini.

Dan, akhirnya muncullah keluhan,
apakah gunanya berbuat baik?, apakah manfaatnya rajin sembahyang?, knapa harus jujur? jika nyatanya hidup tidak berubah membaik.

Sahabatku yang dikasihi Tuhan.
Jika kamu adalah salah satu dar mereka yang hoby mengeluh, maka ingatlah Hukum Persesuaian dalam metafisika yang mengatakan bahwa: "Segala sesuatu yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan (itu) kepada mereka" ; dan Hukum Persesuaian ini juga berlaku dan teraplikasi seperti berikut ini:
- Ketika engkau meminta sesuatu, maka sesuatu akan 'diminta' daripadamu.
- Ketika engkau menahan sesuatu, maka sesuatu akan 'ditahan' terhadapmu.
- dan Ketika engkau memberi sesuatu, maka sesuatu akan 'diberikan' kepadamu.

Maka tetap menjaga baikmu adalah jalan terbaikmu lalu pasrahkan segala hal terbaik yang kamu lakukan.
Pasrah itu maksudnya bagaimana browh..?

Pasrah adalah ketika kamu sangat meyakini bahwa Rencana Tuhan, rencana semesta adalah yang terbaik.
Jangan suka protes apalagi mengeluh ketika sudah melakukan sesuatu yang baik belum berhasil baik.
Karena dalam sejarah kehidupan manusia, Tuhan dan semesta merupakan pemilik kepintaran paling sempurna.

Jadi jangan ragu atas segala rencanaNya, pasrahkan saja segalanya padaNya agar semuanya baik - baik saja. @GN

Sunday, 3 February 2019

GAGAL FAHAM, FIKSI YANG BERURUSAN DENGAN POLISI




Oleh : Lia Kurniawati

Fiksi dan non fiksi akhir-akhir ini mencuat begitu pongah di permukaan jagad daring hingga banyak program berita gosip membanjiri kontennya dengan berita ini. Padahal kedua kata ini sejatinya akrab dengan para penulis, editor, penerbit dan yang berkecimpung dalam dunia penulisan. Dulu sekali dan mungkin saat ini anak-anak di sekolah SMP-SMA mengenal juga. Ini salah satu pengalaman saya jaman SMP kayaknya, salah satu guru Bahasa Indonesia saat itu bilang  bahwa FIKSI itu akar katanya FAKTA. Jadi karangan penulisan FIKSI itu berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

euh! entah karena sama-sama berawalan F sehingga pemahaman yang melekat di benak saya FIKSI itu sama dengan FAKTA. So, ketika seorang Rokky Gerung menyoal kitab suci itu Fiksi saya mengiyakan dengan asumsi di atas. Entah dia baca kitab suci yang mana? Quran, bibel, ataukah yang lainnya. Dan satu hal lagi awang-awang saya menyimpulkan kalau fiksi itu berkaitan dengan sastra dan sastra itu sudah pasti indah, dan tentunya Allah menyukai keindahan kan?! Contohnya banyak surat-surat yang Allah wahyukan dalam al Quran bernada indah seindah sastra. Ini saya kutip dari guru ngaji subuh saya KH. Uman Syahruman. Buktinya apa? Coba buka QS. Az-zalzalah pasti setiap akhir ayat akan berakhiran sama ... aha.

Idza zulzilatil ardu zilzaalaha, wa akhrojatil ardhu ashqoolaha .. kurang lebih saya simpulkan mirip pantun. Masih banyak keindahan sastra yang termaktub di dalam al quran.  Itu bukti bahwa Allahpun Maha epik dalam sastra. Dan fiksi-sastra dn keindahan sungguh suatu hal yang mengenyangkan, menyenangkan dan mengindahkan.

Ternyata kaget juga kenapa dari sebuah kata “Fiksi” lantas berurusan dengan polisi, bikin saya penasaran, lalu saya googling apa itu Fiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oalaaah ternyata saya sewaktu SMP gagal faham kah ataukah guru yang mengajar salah menyampaikan?!  Menurut KBBI, Fiksi itu ternyata fiktif alias cerita karangan (roman, novel dsb), rekaan, khayalan, tidak berdasarkan fakta, atau pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan dan pikiran.

Hmm .. menurut tokoh yang mendadak viral itu “Kitab suci itu fiksi ...” patut ditelaah atau dipertanyakan beliau itu sudah baca kitab suci apa, sehingga dapat menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi? Jangan-jangan dia nggak baca kitab suci al quran? Artinya mengapa dia bisa menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi, karena apa yang ada dalam benak kita sebagian besar merupakan hasil dari membaca. Dan bisa jadi dia berkesimpulan begitu jangan-jangan dia membaca kitab suci yang lain selain al quran atau persisnya tidak membaca kitab suci al quran. 

Ahli filsafat Indonesia menyampaikan bahwa pemahaman filsafat sebenarnya masih rancu untuk dikategorikan ke ranah yustisi (hukum), karena  filsafat berkaitan dengan penembangan pemikiran dan masing-masing orang berbeda sudut pandang, berbeda menafsirkan.  
Bahasan selanjutnya untuk kata non fiksi, ternyata tulisan bergenre ini adalah berkategori non fiktif artinya berdasarkan fakta contoh luaran sastranya cukup banyak dijumpai salah satunya artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau disertai. Selain itu banyak buku-buku non fiksi populer lainnya sepeti bibliografi seseorang, feature, buku pelajaran dll.

Jika kisah seseorang di tulis dalam bentuk novel lalu bergenre fiksi ataukah non fiksi?
Contoh novelnya Laskar Pelangi .. yang bisa jawb sila isi di kolom komentar ya.
Jadi simpulannya bahwa ketika kita bercelotehpun sudah seharusnya kita paham apa yang sedang dibicarakan, kemudian tidak salah menafsirkan. Sang penafsirpun sesungguhnya sedang mengemukakan data-data yang sudah terinput sebelumnya. dan intinya setiap individu bebas menafsirkan namun sepakati bersama simbol-simbol atau tanda-tanda yang dikomunikasikan agar potensi “berseberangan pendapat” mampu diminimalisir..

Wednesday, 28 November 2018

DAHSYATNYA KEWAJIBAN BERNIAT dan DAHSYATNYA YAKIN!

Ini cerita panjang ... sangat besar manfaatnya untuk org yang sudah lama sakit dan belum sembuh juga.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit ...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus,

“Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa.

Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas :

‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’.

Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu.
Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa.

Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam.

Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore.

Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri.

Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun.

Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja.

Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku mengernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.” Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar.

Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.” Pak Paulus jeda sejenak.

Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..” Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini. Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku.

Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran.

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat! Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.” Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh, Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha.

Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ." Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?; kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Narasumber : Paulus,
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT

Tuesday, 30 October 2018

MEMBINA GENERASI AQIL BALIGH

Dalam Islam tidak mengenal istilah “REMAJA”, bahkan di negara Barat pun tidak mengenal istilah itu sampe abad 19, Remaja yang identik dengan masa galau, bingung, liar dan cenderung negatif ini tidak ada dalam Islam, Istilah Remaja lahir dari budaya dan kegagalan dalam proses pendidikan. Dalam Islam hanya mengenal istilah Pemuda / dewasa muda, Pemuda yang sudah produktif di usia 15 tahun.

Perhatikan proses pendidikan dalam islam :

Umur 0 - 7 tahun, anak tidak boleh diberi beban ( taklif ) syariat, biarkan mereka dengan ego nya, perlakukan mereka seperti Raja, tanamkan image yg positif ttg Allah dan rosulnya, ttg kebaikan, tth dunia yg indah dan kebahagiaan

Umur 7 - 10 , jadikan anak sebagai tawanan, diperintah untuk melaksanakan ibadah ibadah wajib, mulai diberi perintah dan tugas tugas, mulai dilatih tanggung jawab mengurusi diri sendiri dan lingkungan terdekat

Umur 10 - 12 Mulai dikenalkan dengan konsekwensi, apabila proses 0 - 10 dilaksanakan sesuai prosedur fitrah nya, maka di umur ini anak sudah terbiasa menjalankan kewajiban2 nya secara mandiri

Umur 15 sudah menjadi seorang Dewasa dan mukalaf (mampu menanggung beban syariat) dengan ikhlas

Dengan demikian Proses AQIL BALIGH tumbuh bersama.

Komparasi pertumbuhan Aqil Baligh :

AQIL :

Dewasa Mental
Dipengaruhi pendidikan
Berkembangnya akal
Fungsi tanggung jawab
Mandiri, tanggung jawab
Peran Ayah + Ibu

BALIGH :

Dewasa Fisik
Pengaruh nutrisi / asupan makanan
Berkembangnya nafsu
Fungsi reproduksi
Life and death instinc
Peran Ibu + Ayah

Adalah aneh jika saat ini kita bersemangat mengajarkan anak anak kita taklif syar’i tapi tidak membimbing mereka menjadi seorang mukalaf...dalam agama ibadah itu disebut taklif ( beban) mukalaf itu kemampuan untuk menanggung beban tsb, ibaratnya kita mengajarkan anak anak kita jadi atlit angkat besi, kita mengajarkan teknik mengangkat besi nya tapi kita tidak mengokohkan kaki nya, menguatkan otot tangannya, maka apa yang akan terjadi? Patahlah tangannya karena tidak sanggup mengangkat beban tsb.

Apa yang akan terjadi jika BALIGH tidak tumbuh bersama AQIL ? Anak anak kita akan hidup dikuasai nafsu / syahwat, misalnya anak kita sudah baligh di usia 13 tahun dan baru aqil di usia 27 tahun, selama 14 tahun anak kita dikendalikan oleh nafsunya.

Disinilah peran Ayah sangat dibutuhkan, kehadiran ayah sebagai Suplier ego untuk membentuk karakter anak, ayah dituntut jadi Raja Tega dan ibu berperan mengobati  akibat dari  ketegaan ayah tsb.Di dalam Alquran terdapat 17 ayat ttg mendidik anak, 14 ayat pelakunya adalah ayah, 2 ayat pelakunya adlah ibu, dan 1 ayat pelakunya ayah dan ibu, dan ayahlah yg akan dimintai pertanggung jawaban terbesar dlm mendidik anak oleh Allah SWT kelak di yaumul hisab.

Memberi nafkah hanyalah penunjang, hal yang paling utama yg harus dimiliki seorang ayah adalah Qowam ( jiwa kepemimpinan ) Qowamah akan berhasil jika ditunjang dengan kemampuan mencari nafkah dan potensi dirinya.

Indonesia termasuk Negeri Tanpa Ayah terbesar kedua setelah Amerika, hal ini terjadi karena tidak ada peran ayah dalam pengasuhan anak anak nya.

#semoga bermanfaat

Sunday, 30 September 2018

LAPAR, BOKEK? MENIKAH SAJA ...

Beberapa hari yang lalu, saya cukup terusik dengan sebuh gambar bertuliskan

"BOKEK, Nikah, biar ada yang nafkahin" dan "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi". Miris rasanya karena tulisan seperti ini diposting oleh akun-akun tausiyah. 

Menikah itu memang ibadah, namun apakah hal itu menjadi ibadah kalau kita menikah karena ingin dinafkahi? Apakah itu menjadi ibadah karena kita bekerja merasa lelah lalu mengeluh dan ingin menikah saja?

Menikah bagi saya bukanlah solusi hal-hal seperti itu. Butuh kesiapan secara lahir dan batin sebelum menikah.

Tak perlu lah dijelaskan urusan siap menikah secara lahir bagaimana. Sudah ada undang-undang yang mengatur usia yang dianjurkan menikah dan tentunya itu atas pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan organ reproduksi.

Kali ini saya ingin bahas siap batin untuk menikah. Jangan dikira nikah itu segalanya langsung enak apa-apa berdua, langsung dinafkahi total uang suami bakal jadi milik istri. 

Sebelum menikah, kamu harus tahu bagaimana suami memperlakukan keluarganya. Tentu tak etis kalau ia biasa memberi bagian dari gajinya pada keluarganya lalu kamu melarang. Hal ini harus masuk dalam pembahasan sebelum kamu menikah. Bahas bagaimana pengelolaan keuangan nantinya.

Jangan kira menikah langsung segalanya berdua. Kamu harus tau apakah memang nanti kamu akan tinggal berdua atau masih bersama keluarga. Siapkah kamu tinggal di pondok mertua indah? Sudahkah kamu menerima keluarganya. Kamu menikah dengan pasanganmu, tapi sebenarny kamu juga menikahi keluarganya.

Setelah menikah, kamu tentu berharap menjadi ibu. Jangan kira hamil itu mudah, tak semua ibu mengalami kemudahan saat hamil. Ada yang bisa mual hebat, tak mau makan, gatal-gatal, banyak ragamnya. Kamu juga harus tahu hal itu. 

Kamu lelah bekerja, lalu ingin menikah saja? Sudah siapkah kamu dengan segala pekerjaan rumah. Urusan yang rasanya tak selesai-selesai, apalagi setelah kamu punya anak. Mainan yang berserakan, rumah yang berantakan, setrikaan yang menumpuk. Bisa saja kamu akan merindukan dokumen yang menumpuk.

Tahukah kamu, setelah kamu menjadi ibu, mungkin kamu butuh me-time ingin ke salon, ke bioskop, atau sekedar fokus ibadah tapi mendadak suara anak menangis terdengar dan kamu membatalkan semuanya lalu berlari ke anak. Pernahkah itu terbayang dalam pikiranmu?

Dear akun-akun yang menganggap pernikahan itu solusi segalanya. Tolonglah berhenti. Menikah itu memang nikmat, ada kenikmatan tersendiri. Menikah itu memang ibadah. 

Namun, imbangilah anjuran menikah dengan info-info lain yang membuat para lelaki siap menjadi suami, imam, dan bapak. Imbangilah dengan info dan ajuran untuk para perempuan untuk menjadi istri yang patuh, ibu yang baik.

Kalau kalian hanya menyuruh menikah karena bokek, bisa bayangkan ketika suaminya tak bisa menafkahi istrinya menuntut cerai? 

Memang, pelajaran juga bisa diambil selama pernikahan. Tapi sekali lagi, menikah butuh kesiapan. Termasuk siap untuk belajar dalam pernikahan tersebut. Bukan hanya siap memberi nafkah dan menerima nafkah.

Dear akun-akun yang sering menyuruh menikah, lebih baik kalau kamu menyuruh followermu ikut dalam kajian sebelum menikah, kuliah online menjadi istri/ibu/suami/ayah yang baik sebelum menikah. Banyak kok. Jangan langsung menyuruh menikah karena bokek.

#kompasiana

Friday, 21 September 2018

TERABAIKAN, LUPUT DARI PERHATIAN, SIAP-SIAP MELEPASKAN

Sebenarnya ini skema semesta, artinya berlaku umum siapapun mengalaminya. Saya ambil contoh pengalaman saya beberapa waktu lalu ya ..

Saya memakai hp android dual sim, dan satu hp lagi sama dual sim tapi hp ke-2 ini minim aplikasi hanya sbg cadangan jika android lowbatt, hanya bisa sms & tlp saja. Sedangkan saya hanya memakai 2 nomor maka kedua nomor tsb saya bagi.

Karena berbagai aktifitas saya mayoritas menggunakan andoid otomatis yang seringkali digunakan, berinteraksi, dan pikiran saya ketika nyari hp yang dicari ya yang android. Adapun hp yang satu lagi saya cari kalo ingat.

Satu kali terbersit kepikiran rasanya kurang efektif bawa 2 hp  "gimana caranya supaya hp yang ono ga saya pake lagi?"

Selang beberapa hari kemudian hp putih samsung saya tergeletak diatas rak piring tak jauh dari pongahnya mesin cuci. Bercucuran air ketika saya ambil dan menggenggamnya.

Ya Alloh!
Ternyata dijawabnya dengan cara begini .. Saya tanya pada orang rumah, dan ibu yang jawab ..
"itu hpnya ke giling mesin cuci abis gak tau kalo di saku bajunya ada hp!" 

Udah! Gitu aja .. Abis riwayat ..

***

Skema semesta itu punya sistem yang seringkali tidak kita SADARI. Namun yang saya amati dan alami
*Ketika kita bingung, mencari jawaban,   bertanya sesuatu hal namun tak yakin bertanya pada siapa .. Jangan terlalu terlebih Galau atau khawatir karena cepat atau lambat SEMESTA akan menjawabnya dengan hal-hal yang tak terduga.*

Jadi saran saya .. Ketika kita membutuhkan jawaban akan hidup, Bertanyalah dengan bijak ..

Ada Interaksi => Perhatian => Dalam Genggaman

Tidak ada interaksi => luput dari perhatian => siap melepaskan

Dari kedua skema diatas, coba anda amati teman anda yang masih keep in touch berinteraksi dengan anda pastinya ia selalu ada meski just say hello.

Tapi ada juga yang masuk dalam skema kedua .. Tidak ada interaksi, kepikiranpun kagak otomatis luput dari perhatian anda maupun dia dan lalu siap-siap mengikuti seleksi alam .. Pergi dan menghilang!

Demikian, semoga menginspirasi ..
By LK 🤓

Monday, 16 July 2018

Memahami Tinggi Rendahnya Vibrasi Diri Sendiri

Kita pasti pernah merasakan getaran energi seperti, “orang ini memiliki aura negatif,” “tempat ini memiliki suasana yang damai dan nyaman,” atau “dia sangat enerjik.” Namun, sedikit dari kita belum mampu memahami kedalaman ekspresi yang ditunjukkan dalam peristiwa sehari-hari.

Secara naluriah, pada tingkat primal dan intuitif, kita dapat merasakan bahwa segalanya tidak hanya terdiri dari energi, tetapi energi ini bervariasi dalam kuantitas dan kualitas secara drastis dalam kehidupan kita sehari-hari. Yuk, kita pelajari bersama-sama.

Pernahkah Anda berada di sebuah terminal bus yang sibuk dan ramai, dan merasakan perasaan “berat” atau “pengap”? Atau apakah Anda pernah pergi ke alam bebas dan merasakan rasa batin “ringan” atau tenang?

Ini adalah contoh sederhana dan cukup umum dari kemampuan kita untuk “mengakses” frekuensi yang berbeda dari energi dalam kehidupan kita.

Jadi, apa maksudnya vibrasi (getaran) “lemah” atau “kuat”? Dan apa keterkaitannya ke dalam peristiwa sehari-hari? Jika Anda belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, atau jika Anda penasaran untuk mempelajari lebih lanjut tentang apa yang dimaksud tinggi atau rendahnya tingkat vibrasi, teruskan membaca!

Cara sederhana mengetahui tinggi dan rendahnya vibrasi
Getaran tinggi/kuat, umumnya terkait dengan sifat-sifat dan perasaan positif, seperti cinta kasih, memaafkan, welas asih, dan perdamaian dsb. Di sisi lain, getaran rendah/lemah, berhubungan dengan kualitas yang lebih gelap seperti kebencian, ketakutan, keserakahan, dan depresi, dll. Saya akan mengeksplorasi lebih jauh tentang getaran rendah dan tinggi di bawah ini.

Pada dasarnya, semakin tinggi getaran Anda, maka akan semakin terhubung dengan diri Anda yang lebih tinggi, batin, keilahian, kesadaran, jiwa tercerahkan, atau banyak kata lain untuk menggambarkan sifat sejati Anda. Ini juga berarti bahwa semakin rendah getaran Anda, maka semakin tidak sinkron dengan semesta yang lebih tinggi, dan akan menghadapi lebih banyak konflik dalam hidup.

Tanda-tanda memiliki getaran rendah atau tinggi

Sebelum membaca daftar di bawah ini, Anda harus ingat 2 hal.

Pertama, setiap orang jarang pernah bisa mencapai 100% vibrasi positif. Pasti ada kemungkinan mengalami naik-turun frekuensi getaran 25% tinggi dan 75% rendah, 55% tinggi dan 45% rendah – dan sebagainya. Jadi, jangan terburu-buru memberi label hitam/putih.

Kedua, temukan apakah Anda memiliki getaran rendah atau tinggi yang benar-benar bisa membantu. Tapi, berhati-hatilah menggunakan label ini terhadap orang lain (misalnya “dia memiliki getaran rendah, malas dekat dengannya!”).

Ironisnya, hal ini justru akan menurunkan getaran Anda sendiri akibat menilai negatif terhadap orang lain. Itulah sebabnya, metode ini paling baik digunakan sebagai alat untuk lebih mengenali diri sendiri. Jadi mulai sekarang belajarlah mengenali apa jenis getaran yang Anda miliki, dan bagaimana dampaknya terhadap hidup Anda?

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi rendah
Anda merasa seperti “tersesat” atau kehilangan arah dalam mengarungi samudera kehidupan, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anda berjuang dengan sikap apatis, mengembangkan sikap acuh terhadap diri sendiri dan orang lain.

|Anda secara spiritual jauh dari Sang Pencipta.
|Anda secara emosional reaktif. Mudah terpancing dengan isu-isu yang berkembang.
|Anda merasa lelah dan lesu. Tak bersemangat mengejar cita-cita.
|Anda memiliki pandangan sempit terhadap dunia.
|Anda sering merasa putus asa.Anda merasa pesimis untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk.
|Anda memiliki bayangan diri yang menonjol.
|Anda bergelut dengan penyakit kronis.
|Anda secara fisik merasa tidak mampu dan tidak sehat.
|Anda memendam perasaan seperti kebencian dan kecemburuan.
|Anda merasa sulit untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain.
|Anda menderita rasa bersalah (yaitu Anda terus-menerus merasa bersalah tentang sesuatu atau mencari-cari kesalahan).
|Anda benar-benar tidak tahu apa yang Anda inginkan dalam hidup.
|Anda terus membuat pilihan yang salah.
|Anda punya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, atau depresi.
|Anda merasa sulit untuk melihat keindahan dalam hidup walau kecil.
|Anda selalu merasa tidak puas.Hubungan Anda dengan orang lain terus-menerus memburuk, bukan membaik.
|Anda terlalu sinis dan skeptis.
|Anda argumentatif.
|Anda banyak mengeluh.
|Anda memiliki masalah penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras, tindakan asusila.
|Anda menyabotase diri sendiri.
|Anda lebih berfokus pada hal yang negatif dalam hidup.
|Anda kesulitan merasa bersyukur.

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi tinggi
|Anda sadar diri (yaitu Anda sadar apa yang Anda katakan, lakukan, pikirkan dan rasakan, serta memiliki pengaruh pada orang lain).

|Anda mudah berempati terhadap orang lain, dan Anda membuat kebiasaan melihat melalui mata orang lain.
|Anda sangat kreatif dan sering dipenuhi ide-ide dan inspirasi.
|Anda seimbang secara emosional.Anda merasa terhubung dengan kesatuan (misalnya kehidupan, ketuhanan, cinta).
|Anda memiliki rasa humor terhadap kehidupan.
|Anda tidak mengambil beban kehidupan terlalu serius.
|Anda secara teratur merasa bersyukur terhadap apa yang sudah Anda miliki.
|Anda mudah tersenyum dan tertawa.
|Anda tidak mengalami banyak kekecewaan karena Anda tidak melekat pada hal-hal (kenyamanan duniawi misalnya materi, jabatan, indulgensi dsb).
|Anda disiplin. Menghargai waktu.
|Anda tahu pasti dan mengenali apa yang membuat anda senang namun tanpa mengabaikan melakukan kebaikan untuk orang lain.
|Anda tidak perlu banyak usaha untuk merasa bahagia dimanapun dan kapanpun.
|Anda selaras dengan tubuh Anda dan kebutuhannya.
|Anda sering merawat diri sendiri.Anda sering mengasihi orang lain.
|Anda sering mengalami sinkronitas dengan diri anda, orang terdekat dan lingkungan.
|Anda tinggal di masa sekarang daripada masa lalu atau masa depan.
|Tubuh terasa bugar dan sehat.
|Keseimbangan dalam memilih makanan nabati, buah dan hewani.
|Anda mudah membebaskan diri dari kekacauan hidup.
|Anda memaafkan diri sendiri dan orang lain dengan mudah.
|Anda merasa seolah-olah Anda telah menemukan panggilan hati dalam hidup Anda.
|Peluang dan pintu baru secara spontan selalu terbuka lebar dalam hidup Anda.
|Kesabaran datang dengan mudah untuk Anda.

Tujuan kita dalam mengenali lebih jauh tingkat “vibrasi rendah” dan “vibrasi tinggi,” adalah untuk menjadi sadar apa yang bisa Anda perbuat dan apa yang bisa diperbaiki dalam perjalanan evolusi batin atau involusi Anda. Selamat mencoba.

#rewrite

Thursday, 12 July 2018

Sincronize Doa

Saya pernah nulis artikel isinya kurang lebih begini "Allah sesuai prasangka hambanya, maka berprasangka baik lah pada Nya". Ketika kita sudah melakukan ikhtiar terbaik namun tak dikabulkannya, prasangka lain muncul mungkin tempat itu bukan terbaik untuk kita ... Bisa jadi.

Kemungkinan kedua nya, jika sudah berprasangka baik, bisa jadi prasangka baik dari orang terdekat kita malah yang didengarkan-Nya .. Misal ibu kita? telaah lagi dan telusuri lagi .. Pedekate lagi terhadap orang-orang terdekat kita lalu sincronize!

Sinkron kan, doa mereka dengan doa kita apakah klik, klop atau tidak?! Nah ini yang saya alami .. Menyoal "sincronizing doa!"

Flash back dulu ..
Bukan kebetulan seminggu ini asam lambung saya naik, ulu hati terasa panas, sempet eungap ga bisa nafas. Enam hari yang lalu selepas pulang dari kantor pengawas pemilu jalanan sudah sepi lengang, berbaur dengan dinginnya angin malam, langit pekat nyaris tak terlihat awan berarak. Artinya saya pulang larut malam ..

Turun dari mobil  ibu yang membukakan pintu, melihat saya cemas mendengar laporan dari teman yang nganterin saya pulang saya gak bisa nafas dan terhuyung kesakitan.

Anak-anak .. Waktu itu sedang bersama ayahnya, jadinya kita hanya bertiga para perempuan .. Setelah rebahan, Saya coba setting kesadaran saya, tarik nafas dalam-dalam, bantal yang nyaman, kaki selonjor sempurna meski ulu hati terasa diatas bara, nafas tersengal-sengal pendek dan rupanya dada kiri sudah gak mau berkompromi turut teriak-teriak kesakitan.

Ibu langsung pijit-pijit bagian betis, saya minta beliau mijitin telapak kaki yang mulai seperti es .. Entah karena cuaca kemarin sampai 16 derajat ataukah memang kondisi badan saya yang menurun.

Mereka berdua bergiliran mengurusi badan saya yang tergolek. Saya merasakan bagian tubuh mana letak sakitnya dan bagian mana yang ingin saya koreksi berharap jalur urat-urat syaraf yang terpijit dapat memperbaiki kondisi yang dirasa.

Sekira 30 menit berlalu, setelah perjuangan mereka menyediakan air panas di botol beling karena waterzax yang robek karena kualitas karet mentahan yang tak tahan lama dan pijitan-pijitan sekujur tubuh akhirnya hirupan nafas mulai memanjang, ulu hati tak lagi membara, teriak dada kiripun mulai sedikit sayup ..

***
Barusan ngobrol sama momsky!
Ternyata doa saya dan doa nya beliau selama ini ngga SINCRON! dan Allah lebih berpihak padanya ..

Otak yang sedang memanas, mendidih penuh dengan strategi ini dan itu seketika nyeesss! Byaaar .. Reset strategi! Reset tujuan hidup

Yaaa sudah lah ..
Ternyata jawaban dari pertanyaan2 saya sebelumnya

"mengapa hasilnya begini, tapi harapan, doa dan ikhtiar saya begono jadi hasilnya mesti begono ... Dan sebagainyaaa ..
Terlalu ngikuti teori relatifitas ..

A+B=C

Dan hasilnya ga semua sesuai rumus matematis itu .. Ada hal lain yang jadi penentu keberhasilanmu yaitu doa ibumu!

Camkan itu nak! 😶

Sunday, 8 April 2018

Saat Kehidupan Orang Lain Selalu Indah

"Enak ya hidup lo… Kerjaannya jalan-jalan melulu. Pokoknya nggak pernah susah, deh!”

Komentar selentingan macam itu makin sering terdengar, baik dalam percakapan langsung maupun melalui media sosial. Sering kali kita cuma bisa angkat alis menanggapinya. Sering kali yang berkomentar cuma melihat ujungnya—sisi paling luar dari kehidupan seseorang saja. The tip of the iceberg.

Hampir feed dari beberapa akun media sosial saya isinya foto traveling teman-teman maupun orang yang saya follow. Sebagian besar menampilkan gambar yang menakjubkan, bikin saya mampu membayangkan betapa serunya momen liburan tersebut.

Sayangnya, reaksi orang bisa saja jauh berbeda. Bahkan cenderung kasar dan tidak simpatik. Ada yang menyerang IG post selebgram karena dianggap doyan pamer dan, alasan paling terkenal, hidupnya terlihat nggak pernah susah. Ada yang galau berkepanjangan gara-gara nggak bisa mengikuti gaya liburan para Instagram moms populer lantaran nafkah nggak cukup.

Dari semuanya, ada kejadian ekstrem yang bikin geleng-geleng kepala. Saya pernah mendengar kisah tragis dari seorang teman, bahwa ada perempuan yang nge-fans banget terhadap figur publik yang akrab seliweran di media sosial, sampai-sampai memilih metode melahirkan sama persis seperti idolanya tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh maupun janinnya. Tak lama setelah lahir, bayi itu meninggal. Jauh di lubuk hatinya, ibu ini menyalahkan sang idola yang dianggap “selalu berhasil dan memiliki kehidupan indah”(seperti foto-foto yang selalu terpajang pada feed-nya), sedangkan dirinya tidak.

Apa yang orang tampilkan di media sosial tidak selalu mewakili kehidupan sebenarnya. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bisa saja itu merupakan tip of the iceberg; kita hanya melihat bagian akhir, bukan keseluruhan proses.

Namun, yang lebih ironis lagi adalah ketika kita membiarkan kehidupan kita ini, sadar maupun tidak, didikte oleh pilihan dan prioritas orang lain.

Terus, bagaimana sih kehidupan sebenarnya orang-orang yang kelihatan serba enak itu? Tidak ada yang pernah tahu, kecuali dia sendiri. Menduga-duga cuma bikin kita capek sendiri, dan lebih parah lagi, judgemental. Lebih baik coba terapkan prinsip sederhana ini: terserah mereka mau ngapain, selama nggak melanggar hukum, selama nggak merugikan hidup gue.

Selain yang di atas, apa sih yang sebaiknya kita lakukan saat melihat kehidupan serba indah di jagat medsos? In my honest opinion, here are some tips:

Jadikan motivasi. Pencapaian orang lain sebaiknya jadi penyemangat untuk mampu mencapainya juga Lihat sisi baik kehidupan kita.Sehat, mampu bernapas tanpa bantuan alat, berdaya mencari nafkah, dan segala kebaikan lain yang kita miliki semestinya membuat kita urung untuk membanding-bandingkan kehidupan kita dengan yang lain ‘kan? Intinya, bersyukur.Buka mata terhadap mereka yang kurang beruntung. Atau yang sedang tertimpa musibah. Biasakan diri untuk berempati terhadap kondisi orang-orang ini dan mendoakan kehidupan yang lebih baik untuknya. Namun, jangan sampai kitanya malah jadi “bitter”melihat kehidupan, ya.Finding inner peace. Seseorang akan selalu merasa iri dan insecuresaat dirinya sendiri tidak tentram. Cari tahu apa yang menghalangi kita mencapai ketentraman itu: apakah itu hubungan kurang langgeng dengan keluarga, ambisi yang terlalu besar, atau masa kecil penuh trauma? Selesaikan ini dan cari bantuan jika terasa berat untuk dipikul seorang diri.

Hikmah dari beragam post di media sosial, mulai dari candid mesra bareng kesayangan sampai rentetan holiday snaps, adalah yang menjadi prioritas orang lain belum tentu  prioritas kita. Dan begitu juga sebaliknya.

Jadi, bisa saja yang menurut kita “nggak penting banget” buat di-post, bagi orang lain ternyata penting.

Salah?

Nope. 

Tidak ada yang benar maupun salah soal ini. Semua kembali ke pertimbangan masing-masing 

Selain itu, derasnya informasi di luar sana bisa jadi ajang latihan untuk berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, serta jangan iri terhadap kesuksesan-kesuksesan yang terlihat lebih menyilaukan dari milik kita. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memenuhinya.

Monday, 26 March 2018

TIDAK ADA YANG KEBETULAN

Assalamu'alaikum

Pernahkah...
Saat kamu duduk santai dan menikmati harimu, tiba2 kamu terpikirkan ingin berbuat sesuatu kebaikan utk seseorang?
-----> Itu adalah Allah...
Yg sedang berbicara dgn mu dan mengetuk hatimu. (QS 4:114 , 2:195 , 28:77)

Pernahkah...
Saat kamu sedang sedih, kecewa... tetapi tidak ada orang di sekitarmu yg dapat kamu jadikan tempat curahan hati?
-------> Itulah saatnya di mana Allah... Sedang rindu padamu dan ingin
agar kamu berbicara padaNYA... (QS 12:86)

Pernahkah...
Kamu tanpa sengaja memikirkan seseorang yg sudah lama tidak bertemu dan tiba2 orang tsb muncul atau kamu bertemu dgn nya atau menerima telepon darinya?
-------> Itu adalah Kuasa Allah yg sedang meng-hibur kamu. Tidak ada namanya kebetulan... (QS 3:190-191)

Pernahkah...
Kamu mengharapkan sesuatu yg tidak terduga, yg selama ini kamu inginkan... tapi rasanya sulit utk didapatkan?
------> Itu adalah Allah...
Yg mengetahui dan mendengar suara batinmu.. Dan hasil dari benih kebaikan yg kamu taburkan sebelumnya
(QS 65:2-3)

Pernahkah...
Kamu berada dlm situasi yg buntu... semua terasa begitu sulit... begitu tidak menyenangkan... hambar... kosong... bahkan menakutkan...?

Itu adalah saat di mana Allah mengijinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari Keberadaan NYA. Dan Allah ingin mendengar rintihan dan do'a mu. Karena DiA tahu kamu sudah mulai melupakanNYA dlm kesenangan
(QS 47:31 , 32:21)

Sering Allah mendemonstrasikan KASIH dan KUASANYA di dalam area, di mana saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Apakah kamu pikir tulisan ini hanya iseng terkirim padamu...?

TIDAK ! Sekali lagi TIDAK ada yg kebetulan...

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu...
Rasakan kehadiran-Nya...
Dengarkan suara-Nya yg berkata:

"Jangan Khawatir, AKU ada disini bersamamu"
(QS 2:214 , 2:186, 50:16)

Wassalamualaikum

Sunday, 25 March 2018

Antara Tenar ataukah Ngga Ada Kerjaan

Generasi milenial, jadi bidikan utama banyak pengusaha. Karena generasi ini yang mendominasi dunia saat ini. Mulai dari tumbuhnya start up (pebisnis pemula) sampai pada profesional .. Mulai melirik segmen yang ini.

Generasi yang bergantung pada layanan online di setiap sendi kehidupan. Mungkin kah nanti ada toilet online dan ngelahiran lewat online juga? Punya anak tinggal di download .. Hahahah .. #mikir keras!

Thursday, 22 March 2018

RASA TAKUT AKAN MENGUAT, SAAT DIJAUHI, AKAN MELEMAH, SAAT DIDEKATI ...

Apakah ada di antara anda, yang sangat takut dengan hantu? ... Amati baik-baik, saat anda sedang ketakutan hantu ... Area yang anda takuti, pasti adalah area yang tidak anda lihat ... Misalnya, saat anda melihat ke depan ... Anda takut hantunya ada di belakang ... Saat anda melihat kebelakang, anda takut hantunya ada di samping ... Begitu anda lihat ke samping ... Anda takut hantunya ada di atas ...

Dari contoh di atas, jelas bahwa untuk menghilangkan ketakutan hantu ada di belakang, adalah dengan melihat ke belakang khan? ... Kalau anda takut hantunya ada di samping, maka cara menghilangkannya adalah dengan melihat kesamping ... Dan seterusnya, dan seterusnya ... Di sini kita belajar bahwa, RASA TAKUT JUSTRU AKAN LENYAP, SAAT KITA MENGHADAPINYA ...

Kalau area pembahasan diperluas ... Misalnya, anda jualan sebuah produk ... Apa ketakutan anda? ... Takut ditolak ... Iya enggak sih? ... Nah, apa response umumnya orang? ... Mereka menghindari dan menjauhi ketakutan itu ... Padahal, dari contoh kasus hantu di paragraf atas, ketakutan hanya bisa dihilangkan, dengan dihadapi ... Maka, untuk mengatasi ketakutan ditolak saat menjual, adalah dengan melakukan penjualan ... Ya itu ... Dihadapi ... Bukan dihindari ... Takut ditolak saat menjual, solusinya adalah jualan ...

Bentuk ketakutan ini macam-macam ... Ada misalnya, ketakutan untuk menikah ... Mengapa takut menikah? ... Misalnya karena, takut nanti gak bisa menafkahi lah ... Takut jadi gak bebas / terkekang lah ... Takut ini, takut itu ... Dengan menghindari pernikahan, apakah hilang? ... Ya terus saja ada ... Karena lahan subur ketakutan, adalah penghindaran ... Ini berlaku dalam segala hal ... Dalam segala kasus ... Silahkan anda simpulkan sendiri ...

Orang yang berani, bukan orang yang tidak punya rasa takut ... Orang berani adalah, saat orang itu, melakukan dan menghadapi apa yang mereka takuti ... Tidak ada ketakutan, tidak ada kesempatan untuk menjadi berani ... Ketakutan akan menguat, saat kita berlari menjauhi ... Keberanian hadir, saat ketakutan kita hampiri ...

Saya pun, masih banyak perihal yang saya takuti ... Artinya, saya punya banyak kesempatan, untuk menjadi berani ... Karena itu tadi, syarat untuk menjadi berani adalah, harus ada sesuatu yang kita takuti ...

*rh

Tuesday, 20 March 2018

CELANA DALAM, MINORITAS & SUPERIOR

Kalau ada teman anda, yang menggunakan celana dalam di luar celana panjangnya, anda olok-olok tidak? ... Kemungkinan, dia akan menjadi bahan bully-an wkkkk ... Atau mungkin, anda labeli dia sebagai orang stress xixixixi ...

Tapi tunggu dulu, kalau ternyata teman anda yang pake celana dalam di luar itu, bisa terbang, matanya bisa memancarkan sinar laser ... Dan dia juga, bisa mengangkat benda berat, dengan bobot puluhan ton, apakah anda masih membully teman anda? ...

Saya kira tidak, anda tidak berfocus untuk membully atau mengolok-olok ... Why? ... Karena anda terlalu terpukau, dengan kemampuan terbang, sinar laser dan kekuatan teman anda itu ... Ada mengabaikan perihal celana dalam yang di gunakan di luar itu ... Iya tho? ... Hahahahaha ...

Jika fenomena celana dalam di luar itu, anda tempatkan sebagai kekurangan teman anda ... Maka kekurangan teman anda, akan anda toleransi, anda abaikan, jika anda melihat sesuatu kelebihan, yang takarannya menang telak, dari takaran sesuatu yang anda anggap sebagai kekurangan ...

Seperti itulah, dalam keseharian, saat kita menilai seseorang ... Sebenarnya, kita sadar betul kok, tidak ada orang yang tidak ada kekurangannya ... Namun kekurangan itu kita abaikan, karena ada banyak hal lain yang menarik perhatian kita ... Jika rumusnya begitu, maka saya andaikan begini ...

Saat anda diolok-olok karena menggunakan celana dalam di luar, apa yang anda lakukan? ... Kemungkinan, anda akan bergegas, mengubah cara anda menggunakan celana dalam ... Anda masukkan celana dalam anda, sehingga celana panjang anda ada di luar, sebagaimana kebanyakan orang ...

Sangat jarang yang memilih opsi, untuk melatih matanya agar memancarkan sinar laser, melatih kemampuan terbang, dan menguatkan otot baja anda ... Banyak di antara kita, yang takut berbeda ... Dan ketika, perbedaan kita itu dikritisi, kita berusaha menjadi sama, berupaya menjadi rata-rata, sehingga kita bebas dari olok-olok dan bully-an orang ...

Menjadi ahli dalam sebuah bidang, di awali dengan berani berbeda ... Berbeda, artinya tidak menjadi rata-rata ... Tidak menjadi rata-rata, artinya menjadi yang jumlahnya sedikit (minoritas) ... Menjadi minoritas itu keren, dan justru minoritas lah yang berkuasa ... Kalau anda lihat permainan sepakbola, siapa yang menurut anda sangat berkuasa? ...

Anda mungkin menjawab, yang berkuasa adalah para pemainnya, dengan kehebatan skill-nya ... Tidak ... Yang berkuasa itu bola nya ... Dia cuman satu, tapi diperebutkan banyak orang ... Haha

Banyak juga yang lupa, Tuhan itu minoritas, tapi justru DIA Maha Superior ... So ... Jadilah minoritas ... Berani berbeda ... Berani menjadi yang sedikit ...

#be_different
#PDOD_percaya diri over dosis

Sunday, 18 March 2018

Lakukan Apa yang Kamu Takuti Sekarang, agar Tak Menyesal Kemudian

Begitu buka mata, yang dilakukan semua orang milenial sepertinya bukan langsung beranjak mengunjungi toilet untuk sekedar berwudlu atau buang air kecil, tetapi tangan tergopoh-gopoh dalam gelap menyusuri letak handphone bekas semalam! Hayooh ngaku!? Hiihiii .. Itu sayaaah .. Ups!

Maksudnya mau matiin alarm di pukul 03.00 yang sengaja di bikin brisik biar bangun dan ambil air wudlu.  Ahaha .. Bukan ngeleeess

Kali ini saya membahas mengenai getaran yang kuat bagaimana sebuah rasa takut, menjadi kenyataan .. Ada hubungannya dengan alinea pertama yang saya tulis .. Begitu terbangun, menggapai handphone dan setelah mematikan alarm, pop up sebuah media sosial bilang begini :

"Jika Anda ingin menaklukan rasa takut, jangan hanya duduk dan memikirkannya. Pergilah dan lakukan apa yang Anda takuti". – Dale Carnegie

Tahukah anda, sebenarnya hal ini seringkali kejadian dalam keseharian kita .. Ketakutan merupakan getaran rasa yang kuat setelah getaran rasa bahagia. Hal yang sangat mudah di akses dan banyak dari kita apa yang kita takuti justru terjadi.

Nah, guna meminimalisir kejadian yang ditakuti terjadi lalu mengapa tidak kita sekalian mencoba dan lakukan hal-hal tsb. Saya high phobia, takut akan ketinggian terutama ketika melewati jembatan, jembatan apapun itu entah berair dangkal ataukah jauh mendalam.

Rasanya seperti berakhir hidup jika melewati sebuah jembatan, seandainya menjerit-jerit tidak membuat muka saya merah, saya akan melakukannya namun gengsi saya masih terlalu kuat jika harus jerit-jerit mau dikemanakan muka saya jika saya berlaku layaknya anak cilik ahahha ..

Jadi mending, lutut aja yang noroktok sembari mulut komat kamit tanpa suara jika memang diharuskan melewati sebuah jembatan.
Yang saya lakukan sudah hebat benar lho! Sering-sering lewat jembatan tinggi dan menaklukannya. Satu kali, dua kali dan tiga kali dalam rentang waktu berdekatan misalnya dalam jangka waktu satu minggu memang menguras pikir yang sangat melelahkan.

Yang saya takuti itu hal-hal berbau ketinggian namun ketika saya menyadari hal itu justru akan menggiring saya untuk bertemu lalu mengalami hal-hal yang berkaitan dengan ketinggian .. Sering ketemu jembatan malah?!

Lantas jika sudah begitu apa yang harus saya lakukan?

Mau tidak mau, suka ataupun tidak saya harus melewatinya. Bukan begitu? Bagusnyaa .. Saya tantang diri saya untuk menaklukkan ketakutan tersebut dan hasilnya ketika ketemu jembatan tak lagi berkeringat dingin heee .. Subhanalloh ... sekarang begitu ketemu jembatan rasanya sudah flaaaattt .. Alias B aja tu ahaha senangnya 😁

Lalu, contoh lain tadi saat bertemu teman lama dalam satu momen reuni. Teman saya sempat cerita anaknya terkena hypnotis, sang penghypno mengincar sepeda yang ia pakai. Singkat cerita sebelumnya sang ibu (teman saya) ini sempat ngasih warning  begini :
"awas nak, hati-hati sepedanya hilang"

Ditegaskan lagi sampai 2 x ..

Memang kata si ibu ini takut kalau sepedanya hilang. Ehh taunya anaknya kena hypnotis dan sepedanya raib. Pulang ke rumah di antar teman dan syukurnya anaknya sehat wal afiat.
Maaf ya saya tuliskan ceritanya.

Disini saya berkesimpulan bahwa, ketika kita sudah mengakses rasa takut apalagi berlebih maka sepertinya semesta membaca .. "okay, itu yang kamu harapkan terjadi" dan lalu di eksekusi ...

So, kurangi kadar ketakutan yang bersifat negatif karena dengan sadar semesta akan bahu membahu menciptakan itu terjadi.

Semoga menginspirasi 😉

Saturday, 17 March 2018

Jati Diri - Take and Give

Pukul 00.21 Wib, sebenarnya waktunya lelap tidur tapi apa daya mata lelahpun tak bisa sekedar mengernyap sekejap saja. Hasilnya layar datar 5 inc jadi sasaran.

Ditemani detik jam dinding berteriak terlalu nyaring, selembar kain pantai melekat membalut belikat ditutup uraian rambut ikal tak terikat. Dingin, untuk melangkah ke ruang tengahpun cuaca terlalu menyerbu sesekali suhu kamar terlalu panas hingga kipas terpaksa berputar keras. Bukan serba salah .. Ah manusia penuh keluh dan kesah.

Prolognya saya senang menganalisa bermain kata untuk memaknai bahkan hanya 2 suku kata sekalipun ..
Jati diri, Take and Give : ke-4 suku kata ini yang akan saya bahas malam ini .. Untuk anda baca esok pagi, saat saya share link nya dan anda klik .. Nikmati dialog dengan saya meski anda berada di ujung dunia sana. 😁

Back to the note , jati diri .. Kata awalnya jati! Apa yang muncul pertama kali dalam benak anda ketika saya menyebutkan kata ini? Yups! Mudah-mudahan memiliki pemikiran yang sama dengan saya .. Sebongkah kayu yang diburu, berharga Fantastis dan sangat diinginkan oleh semua orang.

Setuju?

Lanjut dengan kata yang kedua D i r i, kata ini sesungguhnya penjabarannya sangat luas sekali namun kita rangkum bagaimana diri ini ada, bermakna dan untuk apa hadirnya diri.
Jati, sebuah image jaminan kualitas terbaik sampai saat inipun rasanya belum ada yang menyaingi kualitas jenis ini.

Sedang diri, adalah sesosok yang tercipta dengan sengaja hasil dari sebuah perjuangan, persaingan dan berakhir sebagai pemenang. Lantas ... Jika dimaknai lebih dalam bahwa penciptaan diri hakikatnya merupakan penghargaan sang pencipta pada sesuatu hal yang sangat berharga dan patut dihargai dan diperjuangkan.

Namuuuun .. Sayangnya tidak semua "diri" menyadari hal ini .. Banyak contoh yang bisa kita ambil di lingkungan sekitar .. Saya ambil contoh kematin saat mobil berhenti di trafic light Tegallega kota Bandung, sekira pukul 11.00 siang seorang anak baru gede melintas dihadapan dengan kondisi teler. Nabrak beberapa body mobil.

Benak saya meracau, dan hanya mampu bergumam "kasihan .. "
Apa yang dia sadari tentang dirinya, apa yang dihargai dari dirinya .. Jangankan orang lain akan menghargai dirinya .. Dirinya sendiripun tak menghargai lalu apaa yang diharapkan dalam hidup?

Sebuah pengakuan! Sebagai buah penghargaan .. Jika ini sudah tak menjadi prioritas bersiaplah harga diri terkoyak .. Maka tidak heran jika ini bisa jadi sumber awal dari depresi. Krisis percaya diri dan degradasi moral yang berujung pada baik buruknya akhlaq atau perilaku.

Saya kasih contoh lagi, terlalu mainstreem lah .. Disebut Idealis juga boleh .. Allah sangat melarang laki2 dan perempuan berkhalwat (berdua2an) dengan maksud yang sangat mulia agar menjaga sebuah jati diri agar tidak terkoyak. Untuk penghargaan diri orang bijak bilang, pacaran itu sesungguhnya proses mencacati masing-masing diri"

Astaghfirullah ..

Jika hakikatnya manusia tercipta sudah mulia, sebagai pemenang hasil dari persaingan dan menjadi manusia pilihan namun faktanya masih banyak manusia2 dimuka bumi tak menyadari sepenuhnya bahwa dirinya sangat berharga.  Maka pantas saja malaikat menanyakan penciptaan manusia sebagai makhluk perusak di muka bumi .. Rupanya sudah terprediksi demikian.

Tak pelak, seorang manusia di belahan bumi sana ia mencari jati diri hingga di usia lanjut. Moga kita tak demikian .. Banyak faktor penentu untuk mendapatkan makna jati diri dalam persepsi yang pas dalam benak dan itu yang akan di terapkan dalam diri kita sebagai acuan siapa diri kita.

Namun sejatinya menemukan jati diri tak perlu serepot itu .... Cukup maknai dan sadari. Bahwa kita adalah berharga! ..  SADARI .. intinya ini sadar akan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita .. Eits bukan SADARI singkatan PerikSA payuDAra sendiRI ya .. 😁😁

Next saya bahas dua suku kata yang lain .. Take and give tentunya dalam sudut pandang seorang Lia Kurniawati ..

Tengkyuh, assalamualaikum .. 😉

Tuesday, 13 March 2018

"Kebenaran" dalam Setiap Sudut Pandang

Kebenaran hanya ada pada versi masing2, itu mengapa manusia saling bertumbuh dan berkembang. Jika saja satu orang memaksakan versi kebenarannya berpatokan hanya pada satu "kebenaran" versi manusia ..

Maka lihatlah diluar sana mulut mengumbar lisan yang mubazir, tangan mengepal sempurna dan urat leher yang berunjuk gigi.

Kebenaran yang absolute, hanyalah kembali menyadari bahwa kebebasan berekspresi, mengutarakan pendapat, melihat sudut pandang sesuatu bisa jadi sewaktu-waktu sama, dan bisa jadi di lain kesempatan berbeda. Semua menyesuaikan dengan "latar belakang" baik itu latar belakang pendidikan ataukah pengalaman yang dahulu pernah didapatkan oleh setiap orang.

Dan lalu, menganalisa menjadi satu ranah yang tak bisa dilepaskan oleh setiap orang berdasar darimana? Dari "latar belakang" seseorang itu tadi. Untuk menerjemahkan, membaca tanda yang ada dimuka bumi, termasuk tanda yang terhampar sejauh mata memandang.

Maka ada istilah, pandailah membaca, menginterpretasikan lalu menjelaskan dan berujung evaluasi. Evaluasi ini mengajarkan manusia untuk menyadari setiap hasil pemikiran, hasil membaca dan hasil interpretasi.

Lalu untuk apa ada evaluasi, bisa jadi untuk disebarkan dengan berbagi melalui berbagai cara. Tujuannya untuk apa? Yakinkan dan 
lakukan setiap langkah adalah bertujuan ibadah.
Dengan begitu duniamu dan dunia saya sepertinya akan damai.

Ngga usah nyinyirin postingan orang yg sekarang "sok religius". Karena critical thinking area yang kita miliki sudah dipersepsikan sama yaitu bertujuan jelas untuk ibadah,  jadi melihat postingan orang yang tadinya B aja lalu bergeser menjadi religius kacamata kita sdh berada dalam ranah yang sama.

I B A D A H!

"Tidak aku jadikan jin dan manusia di dunia ini melainkan untuk ber - i b a d a h, kepada Ku".

Selanjutnya, ada aturan dalam diri yang memberlakukan bahwa itu berlaku untuk dirinya ataukah untuk orang lain. Hal ini berlaku fleksible karena latar belakang itu tadi. Namun sayangnya hal ini seringkali tidak disadari oleh setiap orang, maka yang terjadi adalah "memaksakan kehendak" bahasa lainnya, "mesti nurut apa kata gua", dan bahasa2 lainnya.
Dalam ranah komunikasi ini dinamakan standard nilai atau super ego.

Ketika standard nilai yang diterapkan pada diri sendiri tidak sesuai dengan realita maka, terdapat dua opsi (pilihan). Yang pertama memaksakan hasil pemikiran anda harus sama dengan saya ataukah memilih opsi yang kedua yaitu berdamai dengan situasi yang sedang terjadi.

Saya menuliskan inipun, berdasar pada persepsi nilai "kebenaran" yang saya anut. Mungkin belum tentu sama dalam sudut pandang anda. Its all yours. Hidup adalah milikmu, nikmatilah selagi Dia memilihmu untuk hidup. Lakukan yang terbaik menurut sudut pandangmu dan pastikan itu bernilai dimata Nya.

Kembalikan dan merdekakan semua faktor yang mengikat id-ego dan superego. Agar semua id (harapan) tidak terlalu ngawang-ngawang. Be realistic bro ..

Saturday, 10 March 2018

Pasukan Sakit Hati - Rugiii ..

Tak dipungkiri perkembangan media sosial saat ini terutama whatsapp sudah mampu menggantikan peran Short Messaging Service (SMS) nya jaman old!

Grup-grup menjamur merebak bak jamur di musim hujan, dan melalui ini pula bisa terjadi pertikaian dan perseteruan sengit. Padahal jika di amati kopi daratpun belom pernah, dahsyat banget ya seolah sudah saling tau dan mengenal secara karakter dan personalnya.

Lalu, karakter yang mudah ditebak selanjutnya ketika mendapat broadcast message, tak sedikit yang respon positif ataupun main langsung blokir alias blok! Bukan blog paak .. Buu hahaha ..

Satu orang teman pernah curhat dia sakit hati ketika orang yang dia chat langsung ngeblokir, memang merespon tapi responnya begini "maaf ya, anda saya blog"

Sempet geli bacanya, block kali pak!
Bukan blog .. Hahah .. Jadi saat saya baca chat nya teman itu yang kebayang bapak itu mukanya kotak penuh dengan deretan kalimat ber paragrafh-paragrafh ahihihii

Balik lagi bahas soal sakit hati, ah koq ya via whatsapp terus di blokir pake acara sakit hati. Life must go on broo .. Masih banyak orang di luar sana yang mau nerima broadcast messagenya loe .. Nyantaai .. Kalo terus2 an dipikirin ntar jangan-jangan malah bikin grup whatsapp "pasukan sakit hati".

Hadeuh .. Ngga banget ya
Hati, pikiran dan fisik udah cape lanjut mikirin hati yang tersakiti .. Hhhmm bisa2 cepet ketemu Tuhan 😊

Sabar dan cuekin aja broo .. 😉

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...