Wednesday, 28 November 2018

DAHSYATNYA KEWAJIBAN BERNIAT dan DAHSYATNYA YAKIN!

Ini cerita panjang ... sangat besar manfaatnya untuk org yang sudah lama sakit dan belum sembuh juga.

Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit ...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus,

“Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa.

Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas :

‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’.

Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu.
Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa.

Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatlah sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam.

Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore.

Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri.

Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun.

Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja.

Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku mengernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.

Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu. Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring. Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri. Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.” Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar.

Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha. Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika. Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun. Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika. Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika. Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah. Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker. Nah dia pun kaget, tambah penasaran.” Pak Paulus jeda sejenak.

Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan? Orang-orang di sana makannya sangat sehat. Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita. Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.

Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita. Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan. Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.

Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.

Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..” Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini. Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya. Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.

Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau bacin, mirip bangkai tikus, kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku.

Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati. Pihak rumah sakit pun heran.

Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat! Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik. Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.” Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda. Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal. Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan. Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh, Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha.

Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.

Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ." Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?; kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Narasumber : Paulus,
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT

Tuesday, 30 October 2018

TITIK TUHAN (GOD SPOT) PADA OTAK MANUSIA

Otak merupakan organ yang sangat penting dan menakjubkan dalam tubuh manusia. Organ ini berfungsi untuk mengendalikan sistem syaraf  pusat agar tubuh bisa bekerja dengan normal. Otak menjadi kajian yang menarik bagi peneliti. Yang cukup menghebohkan adalah penemuan tentang adanya titik Tuhan (God Spot) dalam di otak manusia. Apakah yang dimaksud dengan God Spot atau titik Tuhan tersebut?

Sekelompok ilmuan pakar syaraf  dari Universitas California San Diego, yang diketuai oleh Dr Ramachandran pada tahun 1997 melakukan sebuah peneilitian yang disebut God Spot atau God Module. God Spot adalah salah satu titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan Tuhannya. Dengan kata lain, terdapat syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon dari aspek agama dan Ketuhanan.

Dikatakan pula bahwa syaraf tersebut akan menjadi lebih utuh  apabila dirangsang untuk mengingat Tuhan. Menurut ahli syaraf, sayaraf ini sangat unik karena tidak teraliri darah sepanjang hari namun tidak mati. Syaraf ini hanya butuh darah dua sampai empat detik saja sebanyak lima kali sehari.

Syaraf ini seperti chip atau module yang ditanam Tuhan dalam otak manusia untuk mendeteksi dengan hal-hal yang berhunbungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari sang pencipta. 

Sebaliknya Apabila syaraf ini tidak aktif maka akan sulit bagi orang-orang untuk menerima moral atau etika apalagi spriritual.

Maka jika seseorang melangkahkan kaki ke masjid dan ada perasaan menghambakan diri, serta perasaan ingin menjunjung Tuhannya mengisi hati mereka, maka ilmuan tersebut mengatakan bahwa itulah tindakan God Spot atau pusat spiritual yang terkandung dalam otak manusia yang mengarahkan mereka berbuat demikian. 

Para ilmuan mengatakan bahwa Tuhan meletakkan syaraf God Spot di dalam otak manusia, karena hal itu merupakan piilihan-Nya sebagai salah satu cara agar terhubung dengan hamba-Nya. Dengan kata lain, adanya titik Tuhan dalam otak manusia, membuat manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhannya. Dan Manusia sebagai hamba, dapat mengembangkan lagi syaraf ini, jika mengenal dan memahami  sang penciptanya. 

Terjadi perdebatan tentang penemuan ini. Perdebatan tidak saja terjadi di kalangan imuan, tetapi kelompok non muslim yang pada dasarnya menentang pendapat tersebut karena pada dasarnya menurut mereka, Tuhan adalah personal yang berada diluar diri mereka. Namun bagaimana menurut Islam? 

Dalam hal ini Islam memandang bahwa Allah SWT sang pencipta otak tidak mungkin berada di dalam otak ini sendiri. Karena jelas bahwa keberadaan Allah diatas Arsy , langit ke tujuh. Seperti dalam firman Allah yang artinya “Yaitu (Rabb) yang bersemayam menetap tinggi diatas Arasy”  (QS.Thoha: 5)

Serta dijelaskan pula dalam QS: Yunus Ayat: 3 yang artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa´at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS: Yunus Ayat: 3)

Ayat-ayat dan hadist seputar keberadaan Allah sangat banyak sekali, meskipun begitu Allah memberitahukan bahwa Dia bersama hambanya dimana saja. Dan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Allah lah yang keempatnya.

Begitu juga tidak ada pembicaraan rahasia antara lima orang, kecuali Allah lah yang keenamnya. Bahkan Allah juga menyebutkan, akan ketinggiannya berada di atas Arsy, akan tetapi Allah tetap bersama hamba-hamba-Nya seperti dalam firman Allah yang artinya 

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (Al Hadid:4)

Namun kata Bersama Kami bukan berarti Allah menyatu dengan Makhluk tetapi bersama hambanya dengan ilmu-Nya. Dan Allah SWT yang berada di atas Arsy juga melihat segala sesuatu yang terjadi pada hambanya serta tidak akan ada yang tersembunyi sedikitpun dari dari pandangan Allah SWT. 

Maka telah jelas bahwa menurut pandangan Islam telah jelas bahwa Allah SWT berada dan bersemayam di Arsy-Nya di langit ke tujuh dan bukanlah di otak manusia. Dan dengan kuasanya Allah mengetahui apa yang terjadi di langit dan di bumi serta tidak ada satupun yang luput dari pandangan Allah SWT

MEMBINA GENERASI AQIL BALIGH

Dalam Islam tidak mengenal istilah “REMAJA”, bahkan di negara Barat pun tidak mengenal istilah itu sampe abad 19, Remaja yang identik dengan masa galau, bingung, liar dan cenderung negatif ini tidak ada dalam Islam, Istilah Remaja lahir dari budaya dan kegagalan dalam proses pendidikan. Dalam Islam hanya mengenal istilah Pemuda / dewasa muda, Pemuda yang sudah produktif di usia 15 tahun.

Perhatikan proses pendidikan dalam islam :

Umur 0 - 7 tahun, anak tidak boleh diberi beban ( taklif ) syariat, biarkan mereka dengan ego nya, perlakukan mereka seperti Raja, tanamkan image yg positif ttg Allah dan rosulnya, ttg kebaikan, tth dunia yg indah dan kebahagiaan

Umur 7 - 10 , jadikan anak sebagai tawanan, diperintah untuk melaksanakan ibadah ibadah wajib, mulai diberi perintah dan tugas tugas, mulai dilatih tanggung jawab mengurusi diri sendiri dan lingkungan terdekat

Umur 10 - 12 Mulai dikenalkan dengan konsekwensi, apabila proses 0 - 10 dilaksanakan sesuai prosedur fitrah nya, maka di umur ini anak sudah terbiasa menjalankan kewajiban2 nya secara mandiri

Umur 15 sudah menjadi seorang Dewasa dan mukalaf (mampu menanggung beban syariat) dengan ikhlas

Dengan demikian Proses AQIL BALIGH tumbuh bersama.

Komparasi pertumbuhan Aqil Baligh :

AQIL :

Dewasa Mental
Dipengaruhi pendidikan
Berkembangnya akal
Fungsi tanggung jawab
Mandiri, tanggung jawab
Peran Ayah + Ibu

BALIGH :

Dewasa Fisik
Pengaruh nutrisi / asupan makanan
Berkembangnya nafsu
Fungsi reproduksi
Life and death instinc
Peran Ibu + Ayah

Adalah aneh jika saat ini kita bersemangat mengajarkan anak anak kita taklif syar’i tapi tidak membimbing mereka menjadi seorang mukalaf...dalam agama ibadah itu disebut taklif ( beban) mukalaf itu kemampuan untuk menanggung beban tsb, ibaratnya kita mengajarkan anak anak kita jadi atlit angkat besi, kita mengajarkan teknik mengangkat besi nya tapi kita tidak mengokohkan kaki nya, menguatkan otot tangannya, maka apa yang akan terjadi? Patahlah tangannya karena tidak sanggup mengangkat beban tsb.

Apa yang akan terjadi jika BALIGH tidak tumbuh bersama AQIL ? Anak anak kita akan hidup dikuasai nafsu / syahwat, misalnya anak kita sudah baligh di usia 13 tahun dan baru aqil di usia 27 tahun, selama 14 tahun anak kita dikendalikan oleh nafsunya.

Disinilah peran Ayah sangat dibutuhkan, kehadiran ayah sebagai Suplier ego untuk membentuk karakter anak, ayah dituntut jadi Raja Tega dan ibu berperan mengobati  akibat dari  ketegaan ayah tsb.Di dalam Alquran terdapat 17 ayat ttg mendidik anak, 14 ayat pelakunya adalah ayah, 2 ayat pelakunya adlah ibu, dan 1 ayat pelakunya ayah dan ibu, dan ayahlah yg akan dimintai pertanggung jawaban terbesar dlm mendidik anak oleh Allah SWT kelak di yaumul hisab.

Memberi nafkah hanyalah penunjang, hal yang paling utama yg harus dimiliki seorang ayah adalah Qowam ( jiwa kepemimpinan ) Qowamah akan berhasil jika ditunjang dengan kemampuan mencari nafkah dan potensi dirinya.

Indonesia termasuk Negeri Tanpa Ayah terbesar kedua setelah Amerika, hal ini terjadi karena tidak ada peran ayah dalam pengasuhan anak anak nya.

#semoga bermanfaat

Sunday, 30 September 2018

LAPAR, BOKEK? MENIKAH SAJA ...

Beberapa hari yang lalu, saya cukup terusik dengan sebuh gambar bertuliskan

"BOKEK, Nikah, biar ada yang nafkahin" dan "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi". Miris rasanya karena tulisan seperti ini diposting oleh akun-akun tausiyah. 

Menikah itu memang ibadah, namun apakah hal itu menjadi ibadah kalau kita menikah karena ingin dinafkahi? Apakah itu menjadi ibadah karena kita bekerja merasa lelah lalu mengeluh dan ingin menikah saja?

Menikah bagi saya bukanlah solusi hal-hal seperti itu. Butuh kesiapan secara lahir dan batin sebelum menikah.

Tak perlu lah dijelaskan urusan siap menikah secara lahir bagaimana. Sudah ada undang-undang yang mengatur usia yang dianjurkan menikah dan tentunya itu atas pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan organ reproduksi.

Kali ini saya ingin bahas siap batin untuk menikah. Jangan dikira nikah itu segalanya langsung enak apa-apa berdua, langsung dinafkahi total uang suami bakal jadi milik istri. 

Sebelum menikah, kamu harus tahu bagaimana suami memperlakukan keluarganya. Tentu tak etis kalau ia biasa memberi bagian dari gajinya pada keluarganya lalu kamu melarang. Hal ini harus masuk dalam pembahasan sebelum kamu menikah. Bahas bagaimana pengelolaan keuangan nantinya.

Jangan kira menikah langsung segalanya berdua. Kamu harus tau apakah memang nanti kamu akan tinggal berdua atau masih bersama keluarga. Siapkah kamu tinggal di pondok mertua indah? Sudahkah kamu menerima keluarganya. Kamu menikah dengan pasanganmu, tapi sebenarny kamu juga menikahi keluarganya.

Setelah menikah, kamu tentu berharap menjadi ibu. Jangan kira hamil itu mudah, tak semua ibu mengalami kemudahan saat hamil. Ada yang bisa mual hebat, tak mau makan, gatal-gatal, banyak ragamnya. Kamu juga harus tahu hal itu. 

Kamu lelah bekerja, lalu ingin menikah saja? Sudah siapkah kamu dengan segala pekerjaan rumah. Urusan yang rasanya tak selesai-selesai, apalagi setelah kamu punya anak. Mainan yang berserakan, rumah yang berantakan, setrikaan yang menumpuk. Bisa saja kamu akan merindukan dokumen yang menumpuk.

Tahukah kamu, setelah kamu menjadi ibu, mungkin kamu butuh me-time ingin ke salon, ke bioskop, atau sekedar fokus ibadah tapi mendadak suara anak menangis terdengar dan kamu membatalkan semuanya lalu berlari ke anak. Pernahkah itu terbayang dalam pikiranmu?

Dear akun-akun yang menganggap pernikahan itu solusi segalanya. Tolonglah berhenti. Menikah itu memang nikmat, ada kenikmatan tersendiri. Menikah itu memang ibadah. 

Namun, imbangilah anjuran menikah dengan info-info lain yang membuat para lelaki siap menjadi suami, imam, dan bapak. Imbangilah dengan info dan ajuran untuk para perempuan untuk menjadi istri yang patuh, ibu yang baik.

Kalau kalian hanya menyuruh menikah karena bokek, bisa bayangkan ketika suaminya tak bisa menafkahi istrinya menuntut cerai? 

Memang, pelajaran juga bisa diambil selama pernikahan. Tapi sekali lagi, menikah butuh kesiapan. Termasuk siap untuk belajar dalam pernikahan tersebut. Bukan hanya siap memberi nafkah dan menerima nafkah.

Dear akun-akun yang sering menyuruh menikah, lebih baik kalau kamu menyuruh followermu ikut dalam kajian sebelum menikah, kuliah online menjadi istri/ibu/suami/ayah yang baik sebelum menikah. Banyak kok. Jangan langsung menyuruh menikah karena bokek.

#kompasiana

Friday, 21 September 2018

TERABAIKAN, LUPUT DARI PERHATIAN, SIAP-SIAP MELEPASKAN

Sebenarnya ini skema semesta, artinya berlaku umum siapapun mengalaminya. Saya ambil contoh pengalaman saya beberapa waktu lalu ya ..

Saya memakai hp android dual sim, dan satu hp lagi sama dual sim tapi hp ke-2 ini minim aplikasi hanya sbg cadangan jika android lowbatt, hanya bisa sms & tlp saja. Sedangkan saya hanya memakai 2 nomor maka kedua nomor tsb saya bagi.

Karena berbagai aktifitas saya mayoritas menggunakan andoid otomatis yang seringkali digunakan, berinteraksi, dan pikiran saya ketika nyari hp yang dicari ya yang android. Adapun hp yang satu lagi saya cari kalo ingat.

Satu kali terbersit kepikiran rasanya kurang efektif bawa 2 hp  "gimana caranya supaya hp yang ono ga saya pake lagi?"

Selang beberapa hari kemudian hp putih samsung saya tergeletak diatas rak piring tak jauh dari pongahnya mesin cuci. Bercucuran air ketika saya ambil dan menggenggamnya.

Ya Alloh!
Ternyata dijawabnya dengan cara begini .. Saya tanya pada orang rumah, dan ibu yang jawab ..
"itu hpnya ke giling mesin cuci abis gak tau kalo di saku bajunya ada hp!" 

Udah! Gitu aja .. Abis riwayat ..

***

Skema semesta itu punya sistem yang seringkali tidak kita SADARI. Namun yang saya amati dan alami
*Ketika kita bingung, mencari jawaban,   bertanya sesuatu hal namun tak yakin bertanya pada siapa .. Jangan terlalu terlebih Galau atau khawatir karena cepat atau lambat SEMESTA akan menjawabnya dengan hal-hal yang tak terduga.*

Jadi saran saya .. Ketika kita membutuhkan jawaban akan hidup, Bertanyalah dengan bijak ..

Ada Interaksi => Perhatian => Dalam Genggaman

Tidak ada interaksi => luput dari perhatian => siap melepaskan

Dari kedua skema diatas, coba anda amati teman anda yang masih keep in touch berinteraksi dengan anda pastinya ia selalu ada meski just say hello.

Tapi ada juga yang masuk dalam skema kedua .. Tidak ada interaksi, kepikiranpun kagak otomatis luput dari perhatian anda maupun dia dan lalu siap-siap mengikuti seleksi alam .. Pergi dan menghilang!

Demikian, semoga menginspirasi ..
By LK 🤓

Tuesday, 17 July 2018

MENIKAHLAH BUKAN KARENA KAMU JONES!


Sebelum menikah kamu wajib mengetahui persis apa saja kekurangannya, “Loh Koq begitu?” kesannya mau cari pasangan yang sempurna .. mana ada orang sempurna?”
Kekurangan si A aman bila ia menikah dengan di H, Si H punya kelebihan yang sanggup menangani atau melengkapi kekurangan si A. Jodoh si A maka jangan modal nekat menikah dengan dia. Kita nggak nyari orang “sempurna”, namun apakah kamu yakin kamu adalah jodohnya? yang sanggup “menangani” dia?

“Tapi aku sangat percaya bahwa orang bisa berubah, yang namanya manusia bisa berubah koq! Aku percaya setelah menikah dia akan berubah koq.”

Boleh nggak dia berubah aja dulu sebelum menikah? Karena kalau kalian sudah punya anak dan kalian cekcok terus itu bisa melukai jiwa anak loh. Hati-hati ya di masa kehamilanpun jiwa janin sudah bisa “merekam” emosi negatif dari kejadian-kejadian cekcok orangtuanya. Kasian ntar tu janin .. Kalau kamu yakin dia bisa berubah mohon beri dia kesempatan berubah dulu sebelum menikah.
“kan berubah nggak gampang, masa aku maksa dia berubah secepat itu?!”

Kalau dia emang cinta sama kamu masa diminta berubah sebelum menikah aja dia nggak bisa? Katanya menyeberangi lautan  aja dia mau? Ya kan? Begitu hujan badai datang, dia tetap mau ketemu kamu, Ya kan?

Ada satu hal yang dikuatirkan dan ini harus kamu ketahui,
Jangan-jangan dia emang enggak perlu berubah, kekurangan dia itu memang harus orang lain yang melengkapi. Jangan-jangan dia bukan jodohmu, dia harus menikah dengan seseorang yang bisa menghadapinya dengan bahagia.
Makanya sebelum menikah, minimal banget 3 bulan harus sudah cukup mengenal semua kekurangannya dan mengukur dirimu. Ukur kemampuan jiwamu apa sanggup hidup bersama dia selamanya dengan segala kekurangannya atau mungkin hanya sanggup bertahan hanya 1 tahun, 2 tahun atau bahkan hanya 12 tahun saja .. kan nanggung tu, diterusin babak belur nggak diterusin bikin banyak korban jiwa yang terluka .. hmmm  DIA JODOHNYA ORANG! JANGAN MAKSAIN!
Menikah urusannya bukan hanya kalian berdua, tetapi meneruskan garis keturunan dan menikahkan dua keluarga .. INGAT itu ...
Ini hanya sedikit contoh ya ..
1.       Dia orangnya pemarah banget dan kamu orang yang paling nggak bisa dimarahin, wah ini jangan maksain buat nikah panjang urusannya. “Tapi aku cinta ...”,  maaf ya pada kenyataannya cinta bisa pudar, bila kepribadian kalian tidak cocok, sangat bahaya.
2.       Dia orangnya sok perfect, ngga boleh terlihat berantakan sedangkan kamu slengean naro barang dimana aja kadang lupa .. hhmm pikirkan kembali ini Jangan maksain nikah! Meski orangtuamu udah gerah pengen bikin kenduri nikahin kamu!
3.       Dia orangnya plin plan sementara kamu orangnya nggak bisa banget lihat orang nggak tegas .. SEGERA TINGGALKAN!
4.       Dia sama teman kerjanya bisa sangat heboh, berbicara banyak hal dan hangat banget sementara perlakuan dia ke kamu berbanding terbalik! Dingin, sok jaim, dan kamu yang harus berjuang menghubungi lebih dulu! ..  INGAT NIKAH ITU UNTUK SEUMUR HIDUP bukan untuk 1 hari ..
5.       Bagi dia berbohong itu biasa sementara bagi kamu perbuatan bohong itu adalah kecurangan terbesar.
6.       Bagi dia berkata kasar dan blak-blakan itu gak papa .. sementara kamu sangat suka kesantunan.
7.       Bagi dia hidup dari “kencleng masjid” itu hal yang wajar, sementara bagi kamu merupakan dosa dan aib terbesar .. AMBIL LANGKAH SERIBU, NGGAK USAH NUNGGU DIA BA-BI-BU!
8.       Dia orangnya selalu pengen dikasih alias P E L I T!  apa-apa ngandelin kamu yang maju. Cuma buat bayarin dua mangkuk bakso aja pura-pura ngerokok buru-buru meninggalkan kamu .. TINGGALKAN COY! Faktanya setiap kita ngga suka dipelitin, buat hidupnya aja pelit apalagi buat orang lain yang baru dikenal.

Masih banyak contoh kasus lainnya dimana KAMU HARUS MENGUKUR DIRIMU .. sanggup nggak bakal hidup dengan dia SELAMANYA.

Tapi aku percaya koq Tuhan sanggup mengubah seseorang. Aamiin .. saya juga percaya koq, namun harus PEKA dan TANYA Tuhan ya apakah dia emang jodohmu atau bukan? Ini INTINYA.
Kita sering dengar bahwa jodoh di tangan Tuhan, Setuju banget. Namun anehnya banyak orang yang ngomong begitu mau nikah nggak pake nanya Tuhan. Nikah main nikah aja ..

Nikah adalah ibadah apabila sebelu nikah tanya Tuhan dulu, karena banyak orang nikah BONEK! Bondo Nekat! Alias modal nekat padahal sudah dikasih petunjuk oleh Tuhan melalui apa saja kalau dia bukan jodohnya. Akhirnya setelah menikah malah cerai, apa itu jodohnya?

Seringkali Tuhan menjawab kita melalui petunjuk-petunjuk khusus loh. Misalkan belum menikah aja sudah banyak yang menyangsikan keyakinan kepantasan kita dengan dia “KAGAK COCOK”,  “DOMPLANG!”, “Yang bener! Itu calon suami kamu?” yakin mau dilanjutin?

JANGAN NGGAK PEKA YA PADA PETUNJUK DIA ..

Mari realistis lah .. seringkali keputusan dan petunjuk Tuhan pada kita itu tidak datang berupa SUARA LANGSUNG dari Tuhan, namun berupa petunjuk yang lain. Misalnya orangtua tidak merestui, dimasa perkenalan sudah sangat sering salah paham, secara kepribadian nggak cocok banget, direcokin calon adik ipar dan sebagainya dan sebagainyaaa ..

Jika begitu, Ingat dia mungkin calon istri atau calon suami orang lain.
Cinta aja nggak cukup ngebangun pigura rumah tangga kamu perlu mendapat restu dari Tuhan.

Monday, 16 July 2018

Memahami Tinggi Rendahnya Vibrasi Diri Sendiri

Kita pasti pernah merasakan getaran energi seperti, “orang ini memiliki aura negatif,” “tempat ini memiliki suasana yang damai dan nyaman,” atau “dia sangat enerjik.” Namun, sedikit dari kita belum mampu memahami kedalaman ekspresi yang ditunjukkan dalam peristiwa sehari-hari.

Secara naluriah, pada tingkat primal dan intuitif, kita dapat merasakan bahwa segalanya tidak hanya terdiri dari energi, tetapi energi ini bervariasi dalam kuantitas dan kualitas secara drastis dalam kehidupan kita sehari-hari. Yuk, kita pelajari bersama-sama.

Pernahkah Anda berada di sebuah terminal bus yang sibuk dan ramai, dan merasakan perasaan “berat” atau “pengap”? Atau apakah Anda pernah pergi ke alam bebas dan merasakan rasa batin “ringan” atau tenang?

Ini adalah contoh sederhana dan cukup umum dari kemampuan kita untuk “mengakses” frekuensi yang berbeda dari energi dalam kehidupan kita.

Jadi, apa maksudnya vibrasi (getaran) “lemah” atau “kuat”? Dan apa keterkaitannya ke dalam peristiwa sehari-hari? Jika Anda belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, atau jika Anda penasaran untuk mempelajari lebih lanjut tentang apa yang dimaksud tinggi atau rendahnya tingkat vibrasi, teruskan membaca!

Cara sederhana mengetahui tinggi dan rendahnya vibrasi
Getaran tinggi/kuat, umumnya terkait dengan sifat-sifat dan perasaan positif, seperti cinta kasih, memaafkan, welas asih, dan perdamaian dsb. Di sisi lain, getaran rendah/lemah, berhubungan dengan kualitas yang lebih gelap seperti kebencian, ketakutan, keserakahan, dan depresi, dll. Saya akan mengeksplorasi lebih jauh tentang getaran rendah dan tinggi di bawah ini.

Pada dasarnya, semakin tinggi getaran Anda, maka akan semakin terhubung dengan diri Anda yang lebih tinggi, batin, keilahian, kesadaran, jiwa tercerahkan, atau banyak kata lain untuk menggambarkan sifat sejati Anda. Ini juga berarti bahwa semakin rendah getaran Anda, maka semakin tidak sinkron dengan semesta yang lebih tinggi, dan akan menghadapi lebih banyak konflik dalam hidup.

Tanda-tanda memiliki getaran rendah atau tinggi

Sebelum membaca daftar di bawah ini, Anda harus ingat 2 hal.

Pertama, setiap orang jarang pernah bisa mencapai 100% vibrasi positif. Pasti ada kemungkinan mengalami naik-turun frekuensi getaran 25% tinggi dan 75% rendah, 55% tinggi dan 45% rendah – dan sebagainya. Jadi, jangan terburu-buru memberi label hitam/putih.

Kedua, temukan apakah Anda memiliki getaran rendah atau tinggi yang benar-benar bisa membantu. Tapi, berhati-hatilah menggunakan label ini terhadap orang lain (misalnya “dia memiliki getaran rendah, malas dekat dengannya!”).

Ironisnya, hal ini justru akan menurunkan getaran Anda sendiri akibat menilai negatif terhadap orang lain. Itulah sebabnya, metode ini paling baik digunakan sebagai alat untuk lebih mengenali diri sendiri. Jadi mulai sekarang belajarlah mengenali apa jenis getaran yang Anda miliki, dan bagaimana dampaknya terhadap hidup Anda?

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi rendah
Anda merasa seperti “tersesat” atau kehilangan arah dalam mengarungi samudera kehidupan, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anda berjuang dengan sikap apatis, mengembangkan sikap acuh terhadap diri sendiri dan orang lain.

|Anda secara spiritual jauh dari Sang Pencipta.
|Anda secara emosional reaktif. Mudah terpancing dengan isu-isu yang berkembang.
|Anda merasa lelah dan lesu. Tak bersemangat mengejar cita-cita.
|Anda memiliki pandangan sempit terhadap dunia.
|Anda sering merasa putus asa.Anda merasa pesimis untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk.
|Anda memiliki bayangan diri yang menonjol.
|Anda bergelut dengan penyakit kronis.
|Anda secara fisik merasa tidak mampu dan tidak sehat.
|Anda memendam perasaan seperti kebencian dan kecemburuan.
|Anda merasa sulit untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain.
|Anda menderita rasa bersalah (yaitu Anda terus-menerus merasa bersalah tentang sesuatu atau mencari-cari kesalahan).
|Anda benar-benar tidak tahu apa yang Anda inginkan dalam hidup.
|Anda terus membuat pilihan yang salah.
|Anda punya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, atau depresi.
|Anda merasa sulit untuk melihat keindahan dalam hidup walau kecil.
|Anda selalu merasa tidak puas.Hubungan Anda dengan orang lain terus-menerus memburuk, bukan membaik.
|Anda terlalu sinis dan skeptis.
|Anda argumentatif.
|Anda banyak mengeluh.
|Anda memiliki masalah penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras, tindakan asusila.
|Anda menyabotase diri sendiri.
|Anda lebih berfokus pada hal yang negatif dalam hidup.
|Anda kesulitan merasa bersyukur.

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi tinggi
|Anda sadar diri (yaitu Anda sadar apa yang Anda katakan, lakukan, pikirkan dan rasakan, serta memiliki pengaruh pada orang lain).

|Anda mudah berempati terhadap orang lain, dan Anda membuat kebiasaan melihat melalui mata orang lain.
|Anda sangat kreatif dan sering dipenuhi ide-ide dan inspirasi.
|Anda seimbang secara emosional.Anda merasa terhubung dengan kesatuan (misalnya kehidupan, ketuhanan, cinta).
|Anda memiliki rasa humor terhadap kehidupan.
|Anda tidak mengambil beban kehidupan terlalu serius.
|Anda secara teratur merasa bersyukur terhadap apa yang sudah Anda miliki.
|Anda mudah tersenyum dan tertawa.
|Anda tidak mengalami banyak kekecewaan karena Anda tidak melekat pada hal-hal (kenyamanan duniawi misalnya materi, jabatan, indulgensi dsb).
|Anda disiplin. Menghargai waktu.
|Anda tahu pasti dan mengenali apa yang membuat anda senang namun tanpa mengabaikan melakukan kebaikan untuk orang lain.
|Anda tidak perlu banyak usaha untuk merasa bahagia dimanapun dan kapanpun.
|Anda selaras dengan tubuh Anda dan kebutuhannya.
|Anda sering merawat diri sendiri.Anda sering mengasihi orang lain.
|Anda sering mengalami sinkronitas dengan diri anda, orang terdekat dan lingkungan.
|Anda tinggal di masa sekarang daripada masa lalu atau masa depan.
|Tubuh terasa bugar dan sehat.
|Keseimbangan dalam memilih makanan nabati, buah dan hewani.
|Anda mudah membebaskan diri dari kekacauan hidup.
|Anda memaafkan diri sendiri dan orang lain dengan mudah.
|Anda merasa seolah-olah Anda telah menemukan panggilan hati dalam hidup Anda.
|Peluang dan pintu baru secara spontan selalu terbuka lebar dalam hidup Anda.
|Kesabaran datang dengan mudah untuk Anda.

Tujuan kita dalam mengenali lebih jauh tingkat “vibrasi rendah” dan “vibrasi tinggi,” adalah untuk menjadi sadar apa yang bisa Anda perbuat dan apa yang bisa diperbaiki dalam perjalanan evolusi batin atau involusi Anda. Selamat mencoba.

#rewrite

Thursday, 12 July 2018

Sincronize Doa

Saya pernah nulis artikel isinya kurang lebih begini "Allah sesuai prasangka hambanya, maka berprasangka baik lah pada Nya". Ketika kita sudah melakukan ikhtiar terbaik namun tak dikabulkannya, prasangka lain muncul mungkin tempat itu bukan terbaik untuk kita ... Bisa jadi.

Kemungkinan kedua nya, jika sudah berprasangka baik, bisa jadi prasangka baik dari orang terdekat kita malah yang didengarkan-Nya .. Misal ibu kita? telaah lagi dan telusuri lagi .. Pedekate lagi terhadap orang-orang terdekat kita lalu sincronize!

Sinkron kan, doa mereka dengan doa kita apakah klik, klop atau tidak?! Nah ini yang saya alami .. Menyoal "sincronizing doa!"

Flash back dulu ..
Bukan kebetulan seminggu ini asam lambung saya naik, ulu hati terasa panas, sempet eungap ga bisa nafas. Enam hari yang lalu selepas pulang dari kantor pengawas pemilu jalanan sudah sepi lengang, berbaur dengan dinginnya angin malam, langit pekat nyaris tak terlihat awan berarak. Artinya saya pulang larut malam ..

Turun dari mobil  ibu yang membukakan pintu, melihat saya cemas mendengar laporan dari teman yang nganterin saya pulang saya gak bisa nafas dan terhuyung kesakitan.

Anak-anak .. Waktu itu sedang bersama ayahnya, jadinya kita hanya bertiga para perempuan .. Setelah rebahan, Saya coba setting kesadaran saya, tarik nafas dalam-dalam, bantal yang nyaman, kaki selonjor sempurna meski ulu hati terasa diatas bara, nafas tersengal-sengal pendek dan rupanya dada kiri sudah gak mau berkompromi turut teriak-teriak kesakitan.

Ibu langsung pijit-pijit bagian betis, saya minta beliau mijitin telapak kaki yang mulai seperti es .. Entah karena cuaca kemarin sampai 16 derajat ataukah memang kondisi badan saya yang menurun.

Mereka berdua bergiliran mengurusi badan saya yang tergolek. Saya merasakan bagian tubuh mana letak sakitnya dan bagian mana yang ingin saya koreksi berharap jalur urat-urat syaraf yang terpijit dapat memperbaiki kondisi yang dirasa.

Sekira 30 menit berlalu, setelah perjuangan mereka menyediakan air panas di botol beling karena waterzax yang robek karena kualitas karet mentahan yang tak tahan lama dan pijitan-pijitan sekujur tubuh akhirnya hirupan nafas mulai memanjang, ulu hati tak lagi membara, teriak dada kiripun mulai sedikit sayup ..

***
Barusan ngobrol sama momsky!
Ternyata doa saya dan doa nya beliau selama ini ngga SINCRON! dan Allah lebih berpihak padanya ..

Otak yang sedang memanas, mendidih penuh dengan strategi ini dan itu seketika nyeesss! Byaaar .. Reset strategi! Reset tujuan hidup

Yaaa sudah lah ..
Ternyata jawaban dari pertanyaan2 saya sebelumnya

"mengapa hasilnya begini, tapi harapan, doa dan ikhtiar saya begono jadi hasilnya mesti begono ... Dan sebagainyaaa ..
Terlalu ngikuti teori relatifitas ..

A+B=C

Dan hasilnya ga semua sesuai rumus matematis itu .. Ada hal lain yang jadi penentu keberhasilanmu yaitu doa ibumu!

Camkan itu nak! 😶

Thursday, 14 June 2018

Makhluk Visual, Kualitas dan Kebermanfaatan :::

Seringkali bahkan saya beberapa kali menemukan para pria bermulut "ember". Lalu apa hubungannya dengan judul diatas. Makhluk visual, dari pandangan akan menstimulus otak untuk mengambil data yang sudah ada, kemudian diinterpretasikan kemudian dikomentari.

Letak komentar inilah yang menjadi cikal bakal penentu seorang pria berkualitas atau tidak. Pilihannya hanya ada 2, bermanfaat untuk dirinyakah atau membawa manfaat untuk orang lain.

Jika ia memilih opsi yang pertama tentunya action selanjutnya setelah apa yang ia lihat kemudian dihembuskan sedemikian rupa menjadi satu berita hoax yang merugikan orang lain. Tanpa memikirkan konsekuensi akhir. Dan agaknya para kaum pria bersumbu pendek ini belum memahami makna "kebermanfaatan" dirinya untuk khalayak banyak.

Opsi yang kedua, mempertimbangkan kebermanfaatan untuk dirinya pun untuk orang lain. Dengan melakukan tambahan informasi dari berbagai sumber, croscek dan lalu berpikir ulang apakah hal tsb membawa manfaat ataukah tidak.

Dulu saya sangat memercayai bahwa "pemikiran 1 orang pria berbanding lurus dengan pemikiran 3 orang wanita" artinya tingkat validasi atau keakuratan hasil pemikiran mereka hanya membutuhkn satu orang pria untuk menyeimbangkan ide serta pemikiran kaum hawa.

Tetapi nyatanya ini TIDAK BISA di GENERALISIR. Bahkan terkadang kaum adam ini nyinyirnya melebihi emak-emak rempong. Mengapa? Karena TERNYATA bahan pemikiran terletak dari input yang berdasarkan Latar Belakang pendidikan (field of education) dan Latar Belakang Pengalaman (field of experience).

Eksistensi kaum pria yang berpikir dengan logika sejatinya menjadi penyeimbang kaum ibu, namun pembentukan kedewasaan berpikir agaknya tidak bisa dibentuk dengan sendirinya melainkan berdasar pada PENGALAMAN yang didapatkan dari jam terbang ia bersosialisasi dan interaksi dengan lingkungan dan secara otomatis pula mendapat tempaan PENDIDIKAN yang tidak hanya didapatkan secara formal.

Dan hal ini otomatis akan membentuk pria berkualitas, baik secara pemikiran yang tercermin dari apa yang ia bicarakan. 

Lahir jargon seperti ini :
"pemikiran orang hebat, membicarakan ide - pemikiran orang menengah, membicarakan pengalaman - pemikiran orang pendek akal, lemah dan otak sumbu pendek membicarakan orang (senang berghibah dan memfitnah)".

Dari kedua hal tsb akan membentuk manajemen pola pikir, pengambilan keputusan terhadap apa yang ia lihat, dengar dan rasakan.

Ketika seorang pria mendapatkan salah satu stimulus (lihat, dengar dan rasa) jika dibarengi dengan kekuatan iman maka keputusan untuk menyebarkan informasi yang ia dapatkan akan diseimbangkan dengan kebermanfaatan yang akan ia peroleh, apakah bermanfaat hanya untuk dirinya sendiri ataukah bermanfaat untuk orang lain pula.

Dan jika hal ini dipertimbangkan, maka bukan tidak mungkin hukum pantul akan berlaku yakni "segala sesuatu yang dilemparkan akan kembali pada diri masing-masing".

Dalam beberapa jurnal psikologi menyampaikan bahwa, sisi lain bagian korteks otak kaum pria per-tujuh menit sekali kaum ini selalu berpikiran hal-hal yang berkaitan dengan "seks" maka tidak heran jika label "cengos, cunihin, fiktor (fikiran kotor)" seringkali menghampiri mereka.

Gegara ini pula pacuan otak dalam sumbu korteks tsb akan mengimajinasikan berbagai gambaran "berandai-andai" atau ekspektasi terlampau tinggi JIKA TIDAK diimbangi dengan pengetahuan dan pengamalan agama yang baik.

Alhasil, akan mencetuskan kata-kata kotor, tidak senonoh bahkan seronok dan kurang ajar serta tidak layak dan patut dalam pandangan sosial masyarakat. Sisi lain hasil imajinasi ini adalah fitnah dan ghibah.

Anda berada pada posisi yang mana?
Penuh dengan ide dan action ataukah tergolong dalam kategori sumbu pendek? Oiya ide dan action yang bermanfaat untuk orang banyak tentunya, bukan ide dan action murahan.

Semoga kita dapat mendidik anak-anak pria kita menjadi anak-anak yang berkualitas, tegas, lugas dan pantas menjadi imam dalam menghadapi berbagai racikan emosi yang semesta hadirkan dalam berbagai suguhan. Aamiin YRA.



Tuesday, 22 May 2018

ISLAM JAWA

Uwwooow .. Simak tulisan ini ngga boleh sambil nyengir ...



ISLAM JAWA
Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.
Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet.Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .
Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.
Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.
Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.
Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.
Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.
Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.
Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.
Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.
Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.
Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.
Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”
Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.
Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.
Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?
Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.
Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.
Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.
Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.
Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.
Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.
Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.
Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.
Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.
Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.
Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).
Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?

Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.
Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”
Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!
Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.
Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.
Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.
Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.
Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.
Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.
Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.
Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.
Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.
Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.
Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:
Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x
Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.
Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.
Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.
Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.
Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.
Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.
Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.
Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.
Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.
Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.
Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.
Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.
Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.
Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.
Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.
Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.
Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.
Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.
Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. 

Maka diadakan semaan Alquran.
Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.
Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.
Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.
Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

oleh gus Muwaffiq..

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...