Sunday, 30 September 2018

LAPAR, BOKEK? MENIKAH SAJA ...

Beberapa hari yang lalu, saya cukup terusik dengan sebuh gambar bertuliskan

"BOKEK, Nikah, biar ada yang nafkahin" dan "Saat wanita lelah bekerja, maka ia hanya ingin dinikahi". Miris rasanya karena tulisan seperti ini diposting oleh akun-akun tausiyah. 

Menikah itu memang ibadah, namun apakah hal itu menjadi ibadah kalau kita menikah karena ingin dinafkahi? Apakah itu menjadi ibadah karena kita bekerja merasa lelah lalu mengeluh dan ingin menikah saja?

Menikah bagi saya bukanlah solusi hal-hal seperti itu. Butuh kesiapan secara lahir dan batin sebelum menikah.

Tak perlu lah dijelaskan urusan siap menikah secara lahir bagaimana. Sudah ada undang-undang yang mengatur usia yang dianjurkan menikah dan tentunya itu atas pertimbangan yang matang, termasuk kesiapan organ reproduksi.

Kali ini saya ingin bahas siap batin untuk menikah. Jangan dikira nikah itu segalanya langsung enak apa-apa berdua, langsung dinafkahi total uang suami bakal jadi milik istri. 

Sebelum menikah, kamu harus tahu bagaimana suami memperlakukan keluarganya. Tentu tak etis kalau ia biasa memberi bagian dari gajinya pada keluarganya lalu kamu melarang. Hal ini harus masuk dalam pembahasan sebelum kamu menikah. Bahas bagaimana pengelolaan keuangan nantinya.

Jangan kira menikah langsung segalanya berdua. Kamu harus tau apakah memang nanti kamu akan tinggal berdua atau masih bersama keluarga. Siapkah kamu tinggal di pondok mertua indah? Sudahkah kamu menerima keluarganya. Kamu menikah dengan pasanganmu, tapi sebenarny kamu juga menikahi keluarganya.

Setelah menikah, kamu tentu berharap menjadi ibu. Jangan kira hamil itu mudah, tak semua ibu mengalami kemudahan saat hamil. Ada yang bisa mual hebat, tak mau makan, gatal-gatal, banyak ragamnya. Kamu juga harus tahu hal itu. 

Kamu lelah bekerja, lalu ingin menikah saja? Sudah siapkah kamu dengan segala pekerjaan rumah. Urusan yang rasanya tak selesai-selesai, apalagi setelah kamu punya anak. Mainan yang berserakan, rumah yang berantakan, setrikaan yang menumpuk. Bisa saja kamu akan merindukan dokumen yang menumpuk.

Tahukah kamu, setelah kamu menjadi ibu, mungkin kamu butuh me-time ingin ke salon, ke bioskop, atau sekedar fokus ibadah tapi mendadak suara anak menangis terdengar dan kamu membatalkan semuanya lalu berlari ke anak. Pernahkah itu terbayang dalam pikiranmu?

Dear akun-akun yang menganggap pernikahan itu solusi segalanya. Tolonglah berhenti. Menikah itu memang nikmat, ada kenikmatan tersendiri. Menikah itu memang ibadah. 

Namun, imbangilah anjuran menikah dengan info-info lain yang membuat para lelaki siap menjadi suami, imam, dan bapak. Imbangilah dengan info dan ajuran untuk para perempuan untuk menjadi istri yang patuh, ibu yang baik.

Kalau kalian hanya menyuruh menikah karena bokek, bisa bayangkan ketika suaminya tak bisa menafkahi istrinya menuntut cerai? 

Memang, pelajaran juga bisa diambil selama pernikahan. Tapi sekali lagi, menikah butuh kesiapan. Termasuk siap untuk belajar dalam pernikahan tersebut. Bukan hanya siap memberi nafkah dan menerima nafkah.

Dear akun-akun yang sering menyuruh menikah, lebih baik kalau kamu menyuruh followermu ikut dalam kajian sebelum menikah, kuliah online menjadi istri/ibu/suami/ayah yang baik sebelum menikah. Banyak kok. Jangan langsung menyuruh menikah karena bokek.

#kompasiana

Friday, 21 September 2018

TERABAIKAN, LUPUT DARI PERHATIAN, SIAP-SIAP MELEPASKAN

Sebenarnya ini skema semesta, artinya berlaku umum siapapun mengalaminya. Saya ambil contoh pengalaman saya beberapa waktu lalu ya ..

Saya memakai hp android dual sim, dan satu hp lagi sama dual sim tapi hp ke-2 ini minim aplikasi hanya sbg cadangan jika android lowbatt, hanya bisa sms & tlp saja. Sedangkan saya hanya memakai 2 nomor maka kedua nomor tsb saya bagi.

Karena berbagai aktifitas saya mayoritas menggunakan andoid otomatis yang seringkali digunakan, berinteraksi, dan pikiran saya ketika nyari hp yang dicari ya yang android. Adapun hp yang satu lagi saya cari kalo ingat.

Satu kali terbersit kepikiran rasanya kurang efektif bawa 2 hp  "gimana caranya supaya hp yang ono ga saya pake lagi?"

Selang beberapa hari kemudian hp putih samsung saya tergeletak diatas rak piring tak jauh dari pongahnya mesin cuci. Bercucuran air ketika saya ambil dan menggenggamnya.

Ya Alloh!
Ternyata dijawabnya dengan cara begini .. Saya tanya pada orang rumah, dan ibu yang jawab ..
"itu hpnya ke giling mesin cuci abis gak tau kalo di saku bajunya ada hp!" 

Udah! Gitu aja .. Abis riwayat ..

***

Skema semesta itu punya sistem yang seringkali tidak kita SADARI. Namun yang saya amati dan alami
*Ketika kita bingung, mencari jawaban,   bertanya sesuatu hal namun tak yakin bertanya pada siapa .. Jangan terlalu terlebih Galau atau khawatir karena cepat atau lambat SEMESTA akan menjawabnya dengan hal-hal yang tak terduga.*

Jadi saran saya .. Ketika kita membutuhkan jawaban akan hidup, Bertanyalah dengan bijak ..

Ada Interaksi => Perhatian => Dalam Genggaman

Tidak ada interaksi => luput dari perhatian => siap melepaskan

Dari kedua skema diatas, coba anda amati teman anda yang masih keep in touch berinteraksi dengan anda pastinya ia selalu ada meski just say hello.

Tapi ada juga yang masuk dalam skema kedua .. Tidak ada interaksi, kepikiranpun kagak otomatis luput dari perhatian anda maupun dia dan lalu siap-siap mengikuti seleksi alam .. Pergi dan menghilang!

Demikian, semoga menginspirasi ..
By LK 🤓

Tuesday, 17 July 2018

MENIKAHLAH BUKAN KARENA KAMU JONES!


Sebelum menikah kamu wajib mengetahui persis apa saja kekurangannya, “Loh Koq begitu?” kesannya mau cari pasangan yang sempurna .. mana ada orang sempurna?”
Kekurangan si A aman bila ia menikah dengan di H, Si H punya kelebihan yang sanggup menangani atau melengkapi kekurangan si A. Jodoh si A maka jangan modal nekat menikah dengan dia. Kita nggak nyari orang “sempurna”, namun apakah kamu yakin kamu adalah jodohnya? yang sanggup “menangani” dia?

“Tapi aku sangat percaya bahwa orang bisa berubah, yang namanya manusia bisa berubah koq! Aku percaya setelah menikah dia akan berubah koq.”

Boleh nggak dia berubah aja dulu sebelum menikah? Karena kalau kalian sudah punya anak dan kalian cekcok terus itu bisa melukai jiwa anak loh. Hati-hati ya di masa kehamilanpun jiwa janin sudah bisa “merekam” emosi negatif dari kejadian-kejadian cekcok orangtuanya. Kasian ntar tu janin .. Kalau kamu yakin dia bisa berubah mohon beri dia kesempatan berubah dulu sebelum menikah.
“kan berubah nggak gampang, masa aku maksa dia berubah secepat itu?!”

Kalau dia emang cinta sama kamu masa diminta berubah sebelum menikah aja dia nggak bisa? Katanya menyeberangi lautan  aja dia mau? Ya kan? Begitu hujan badai datang, dia tetap mau ketemu kamu, Ya kan?

Ada satu hal yang dikuatirkan dan ini harus kamu ketahui,
Jangan-jangan dia emang enggak perlu berubah, kekurangan dia itu memang harus orang lain yang melengkapi. Jangan-jangan dia bukan jodohmu, dia harus menikah dengan seseorang yang bisa menghadapinya dengan bahagia.
Makanya sebelum menikah, minimal banget 3 bulan harus sudah cukup mengenal semua kekurangannya dan mengukur dirimu. Ukur kemampuan jiwamu apa sanggup hidup bersama dia selamanya dengan segala kekurangannya atau mungkin hanya sanggup bertahan hanya 1 tahun, 2 tahun atau bahkan hanya 12 tahun saja .. kan nanggung tu, diterusin babak belur nggak diterusin bikin banyak korban jiwa yang terluka .. hmmm  DIA JODOHNYA ORANG! JANGAN MAKSAIN!
Menikah urusannya bukan hanya kalian berdua, tetapi meneruskan garis keturunan dan menikahkan dua keluarga .. INGAT itu ...
Ini hanya sedikit contoh ya ..
1.       Dia orangnya pemarah banget dan kamu orang yang paling nggak bisa dimarahin, wah ini jangan maksain buat nikah panjang urusannya. “Tapi aku cinta ...”,  maaf ya pada kenyataannya cinta bisa pudar, bila kepribadian kalian tidak cocok, sangat bahaya.
2.       Dia orangnya sok perfect, ngga boleh terlihat berantakan sedangkan kamu slengean naro barang dimana aja kadang lupa .. hhmm pikirkan kembali ini Jangan maksain nikah! Meski orangtuamu udah gerah pengen bikin kenduri nikahin kamu!
3.       Dia orangnya plin plan sementara kamu orangnya nggak bisa banget lihat orang nggak tegas .. SEGERA TINGGALKAN!
4.       Dia sama teman kerjanya bisa sangat heboh, berbicara banyak hal dan hangat banget sementara perlakuan dia ke kamu berbanding terbalik! Dingin, sok jaim, dan kamu yang harus berjuang menghubungi lebih dulu! ..  INGAT NIKAH ITU UNTUK SEUMUR HIDUP bukan untuk 1 hari ..
5.       Bagi dia berbohong itu biasa sementara bagi kamu perbuatan bohong itu adalah kecurangan terbesar.
6.       Bagi dia berkata kasar dan blak-blakan itu gak papa .. sementara kamu sangat suka kesantunan.
7.       Bagi dia hidup dari “kencleng masjid” itu hal yang wajar, sementara bagi kamu merupakan dosa dan aib terbesar .. AMBIL LANGKAH SERIBU, NGGAK USAH NUNGGU DIA BA-BI-BU!
8.       Dia orangnya selalu pengen dikasih alias P E L I T!  apa-apa ngandelin kamu yang maju. Cuma buat bayarin dua mangkuk bakso aja pura-pura ngerokok buru-buru meninggalkan kamu .. TINGGALKAN COY! Faktanya setiap kita ngga suka dipelitin, buat hidupnya aja pelit apalagi buat orang lain yang baru dikenal.

Masih banyak contoh kasus lainnya dimana KAMU HARUS MENGUKUR DIRIMU .. sanggup nggak bakal hidup dengan dia SELAMANYA.

Tapi aku percaya koq Tuhan sanggup mengubah seseorang. Aamiin .. saya juga percaya koq, namun harus PEKA dan TANYA Tuhan ya apakah dia emang jodohmu atau bukan? Ini INTINYA.
Kita sering dengar bahwa jodoh di tangan Tuhan, Setuju banget. Namun anehnya banyak orang yang ngomong begitu mau nikah nggak pake nanya Tuhan. Nikah main nikah aja ..

Nikah adalah ibadah apabila sebelu nikah tanya Tuhan dulu, karena banyak orang nikah BONEK! Bondo Nekat! Alias modal nekat padahal sudah dikasih petunjuk oleh Tuhan melalui apa saja kalau dia bukan jodohnya. Akhirnya setelah menikah malah cerai, apa itu jodohnya?

Seringkali Tuhan menjawab kita melalui petunjuk-petunjuk khusus loh. Misalkan belum menikah aja sudah banyak yang menyangsikan keyakinan kepantasan kita dengan dia “KAGAK COCOK”,  “DOMPLANG!”, “Yang bener! Itu calon suami kamu?” yakin mau dilanjutin?

JANGAN NGGAK PEKA YA PADA PETUNJUK DIA ..

Mari realistis lah .. seringkali keputusan dan petunjuk Tuhan pada kita itu tidak datang berupa SUARA LANGSUNG dari Tuhan, namun berupa petunjuk yang lain. Misalnya orangtua tidak merestui, dimasa perkenalan sudah sangat sering salah paham, secara kepribadian nggak cocok banget, direcokin calon adik ipar dan sebagainya dan sebagainyaaa ..

Jika begitu, Ingat dia mungkin calon istri atau calon suami orang lain.
Cinta aja nggak cukup ngebangun pigura rumah tangga kamu perlu mendapat restu dari Tuhan.

Monday, 16 July 2018

Memahami Tinggi Rendahnya Vibrasi Diri Sendiri

Kita pasti pernah merasakan getaran energi seperti, “orang ini memiliki aura negatif,” “tempat ini memiliki suasana yang damai dan nyaman,” atau “dia sangat enerjik.” Namun, sedikit dari kita belum mampu memahami kedalaman ekspresi yang ditunjukkan dalam peristiwa sehari-hari.

Secara naluriah, pada tingkat primal dan intuitif, kita dapat merasakan bahwa segalanya tidak hanya terdiri dari energi, tetapi energi ini bervariasi dalam kuantitas dan kualitas secara drastis dalam kehidupan kita sehari-hari. Yuk, kita pelajari bersama-sama.

Pernahkah Anda berada di sebuah terminal bus yang sibuk dan ramai, dan merasakan perasaan “berat” atau “pengap”? Atau apakah Anda pernah pergi ke alam bebas dan merasakan rasa batin “ringan” atau tenang?

Ini adalah contoh sederhana dan cukup umum dari kemampuan kita untuk “mengakses” frekuensi yang berbeda dari energi dalam kehidupan kita.

Jadi, apa maksudnya vibrasi (getaran) “lemah” atau “kuat”? Dan apa keterkaitannya ke dalam peristiwa sehari-hari? Jika Anda belum pernah mendengar hal ini sebelumnya, atau jika Anda penasaran untuk mempelajari lebih lanjut tentang apa yang dimaksud tinggi atau rendahnya tingkat vibrasi, teruskan membaca!

Cara sederhana mengetahui tinggi dan rendahnya vibrasi
Getaran tinggi/kuat, umumnya terkait dengan sifat-sifat dan perasaan positif, seperti cinta kasih, memaafkan, welas asih, dan perdamaian dsb. Di sisi lain, getaran rendah/lemah, berhubungan dengan kualitas yang lebih gelap seperti kebencian, ketakutan, keserakahan, dan depresi, dll. Saya akan mengeksplorasi lebih jauh tentang getaran rendah dan tinggi di bawah ini.

Pada dasarnya, semakin tinggi getaran Anda, maka akan semakin terhubung dengan diri Anda yang lebih tinggi, batin, keilahian, kesadaran, jiwa tercerahkan, atau banyak kata lain untuk menggambarkan sifat sejati Anda. Ini juga berarti bahwa semakin rendah getaran Anda, maka semakin tidak sinkron dengan semesta yang lebih tinggi, dan akan menghadapi lebih banyak konflik dalam hidup.

Tanda-tanda memiliki getaran rendah atau tinggi

Sebelum membaca daftar di bawah ini, Anda harus ingat 2 hal.

Pertama, setiap orang jarang pernah bisa mencapai 100% vibrasi positif. Pasti ada kemungkinan mengalami naik-turun frekuensi getaran 25% tinggi dan 75% rendah, 55% tinggi dan 45% rendah – dan sebagainya. Jadi, jangan terburu-buru memberi label hitam/putih.

Kedua, temukan apakah Anda memiliki getaran rendah atau tinggi yang benar-benar bisa membantu. Tapi, berhati-hatilah menggunakan label ini terhadap orang lain (misalnya “dia memiliki getaran rendah, malas dekat dengannya!”).

Ironisnya, hal ini justru akan menurunkan getaran Anda sendiri akibat menilai negatif terhadap orang lain. Itulah sebabnya, metode ini paling baik digunakan sebagai alat untuk lebih mengenali diri sendiri. Jadi mulai sekarang belajarlah mengenali apa jenis getaran yang Anda miliki, dan bagaimana dampaknya terhadap hidup Anda?

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi rendah
Anda merasa seperti “tersesat” atau kehilangan arah dalam mengarungi samudera kehidupan, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anda berjuang dengan sikap apatis, mengembangkan sikap acuh terhadap diri sendiri dan orang lain.

|Anda secara spiritual jauh dari Sang Pencipta.
|Anda secara emosional reaktif. Mudah terpancing dengan isu-isu yang berkembang.
|Anda merasa lelah dan lesu. Tak bersemangat mengejar cita-cita.
|Anda memiliki pandangan sempit terhadap dunia.
|Anda sering merasa putus asa.Anda merasa pesimis untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk.
|Anda memiliki bayangan diri yang menonjol.
|Anda bergelut dengan penyakit kronis.
|Anda secara fisik merasa tidak mampu dan tidak sehat.
|Anda memendam perasaan seperti kebencian dan kecemburuan.
|Anda merasa sulit untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain.
|Anda menderita rasa bersalah (yaitu Anda terus-menerus merasa bersalah tentang sesuatu atau mencari-cari kesalahan).
|Anda benar-benar tidak tahu apa yang Anda inginkan dalam hidup.
|Anda terus membuat pilihan yang salah.
|Anda punya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, atau depresi.
|Anda merasa sulit untuk melihat keindahan dalam hidup walau kecil.
|Anda selalu merasa tidak puas.Hubungan Anda dengan orang lain terus-menerus memburuk, bukan membaik.
|Anda terlalu sinis dan skeptis.
|Anda argumentatif.
|Anda banyak mengeluh.
|Anda memiliki masalah penyalahgunaan obat-obatan dan minuman keras, tindakan asusila.
|Anda menyabotase diri sendiri.
|Anda lebih berfokus pada hal yang negatif dalam hidup.
|Anda kesulitan merasa bersyukur.

Tanda-tanda jika Anda memiliki vibrasi tinggi
|Anda sadar diri (yaitu Anda sadar apa yang Anda katakan, lakukan, pikirkan dan rasakan, serta memiliki pengaruh pada orang lain).

|Anda mudah berempati terhadap orang lain, dan Anda membuat kebiasaan melihat melalui mata orang lain.
|Anda sangat kreatif dan sering dipenuhi ide-ide dan inspirasi.
|Anda seimbang secara emosional.Anda merasa terhubung dengan kesatuan (misalnya kehidupan, ketuhanan, cinta).
|Anda memiliki rasa humor terhadap kehidupan.
|Anda tidak mengambil beban kehidupan terlalu serius.
|Anda secara teratur merasa bersyukur terhadap apa yang sudah Anda miliki.
|Anda mudah tersenyum dan tertawa.
|Anda tidak mengalami banyak kekecewaan karena Anda tidak melekat pada hal-hal (kenyamanan duniawi misalnya materi, jabatan, indulgensi dsb).
|Anda disiplin. Menghargai waktu.
|Anda tahu pasti dan mengenali apa yang membuat anda senang namun tanpa mengabaikan melakukan kebaikan untuk orang lain.
|Anda tidak perlu banyak usaha untuk merasa bahagia dimanapun dan kapanpun.
|Anda selaras dengan tubuh Anda dan kebutuhannya.
|Anda sering merawat diri sendiri.Anda sering mengasihi orang lain.
|Anda sering mengalami sinkronitas dengan diri anda, orang terdekat dan lingkungan.
|Anda tinggal di masa sekarang daripada masa lalu atau masa depan.
|Tubuh terasa bugar dan sehat.
|Keseimbangan dalam memilih makanan nabati, buah dan hewani.
|Anda mudah membebaskan diri dari kekacauan hidup.
|Anda memaafkan diri sendiri dan orang lain dengan mudah.
|Anda merasa seolah-olah Anda telah menemukan panggilan hati dalam hidup Anda.
|Peluang dan pintu baru secara spontan selalu terbuka lebar dalam hidup Anda.
|Kesabaran datang dengan mudah untuk Anda.

Tujuan kita dalam mengenali lebih jauh tingkat “vibrasi rendah” dan “vibrasi tinggi,” adalah untuk menjadi sadar apa yang bisa Anda perbuat dan apa yang bisa diperbaiki dalam perjalanan evolusi batin atau involusi Anda. Selamat mencoba.

#rewrite

Thursday, 12 July 2018

Sincronize Doa

Saya pernah nulis artikel isinya kurang lebih begini "Allah sesuai prasangka hambanya, maka berprasangka baik lah pada Nya". Ketika kita sudah melakukan ikhtiar terbaik namun tak dikabulkannya, prasangka lain muncul mungkin tempat itu bukan terbaik untuk kita ... Bisa jadi.

Kemungkinan kedua nya, jika sudah berprasangka baik, bisa jadi prasangka baik dari orang terdekat kita malah yang didengarkan-Nya .. Misal ibu kita? telaah lagi dan telusuri lagi .. Pedekate lagi terhadap orang-orang terdekat kita lalu sincronize!

Sinkron kan, doa mereka dengan doa kita apakah klik, klop atau tidak?! Nah ini yang saya alami .. Menyoal "sincronizing doa!"

Flash back dulu ..
Bukan kebetulan seminggu ini asam lambung saya naik, ulu hati terasa panas, sempet eungap ga bisa nafas. Enam hari yang lalu selepas pulang dari kantor pengawas pemilu jalanan sudah sepi lengang, berbaur dengan dinginnya angin malam, langit pekat nyaris tak terlihat awan berarak. Artinya saya pulang larut malam ..

Turun dari mobil  ibu yang membukakan pintu, melihat saya cemas mendengar laporan dari teman yang nganterin saya pulang saya gak bisa nafas dan terhuyung kesakitan.

Anak-anak .. Waktu itu sedang bersama ayahnya, jadinya kita hanya bertiga para perempuan .. Setelah rebahan, Saya coba setting kesadaran saya, tarik nafas dalam-dalam, bantal yang nyaman, kaki selonjor sempurna meski ulu hati terasa diatas bara, nafas tersengal-sengal pendek dan rupanya dada kiri sudah gak mau berkompromi turut teriak-teriak kesakitan.

Ibu langsung pijit-pijit bagian betis, saya minta beliau mijitin telapak kaki yang mulai seperti es .. Entah karena cuaca kemarin sampai 16 derajat ataukah memang kondisi badan saya yang menurun.

Mereka berdua bergiliran mengurusi badan saya yang tergolek. Saya merasakan bagian tubuh mana letak sakitnya dan bagian mana yang ingin saya koreksi berharap jalur urat-urat syaraf yang terpijit dapat memperbaiki kondisi yang dirasa.

Sekira 30 menit berlalu, setelah perjuangan mereka menyediakan air panas di botol beling karena waterzax yang robek karena kualitas karet mentahan yang tak tahan lama dan pijitan-pijitan sekujur tubuh akhirnya hirupan nafas mulai memanjang, ulu hati tak lagi membara, teriak dada kiripun mulai sedikit sayup ..

***
Barusan ngobrol sama momsky!
Ternyata doa saya dan doa nya beliau selama ini ngga SINCRON! dan Allah lebih berpihak padanya ..

Otak yang sedang memanas, mendidih penuh dengan strategi ini dan itu seketika nyeesss! Byaaar .. Reset strategi! Reset tujuan hidup

Yaaa sudah lah ..
Ternyata jawaban dari pertanyaan2 saya sebelumnya

"mengapa hasilnya begini, tapi harapan, doa dan ikhtiar saya begono jadi hasilnya mesti begono ... Dan sebagainyaaa ..
Terlalu ngikuti teori relatifitas ..

A+B=C

Dan hasilnya ga semua sesuai rumus matematis itu .. Ada hal lain yang jadi penentu keberhasilanmu yaitu doa ibumu!

Camkan itu nak! 😶

Thursday, 14 June 2018

Makhluk Visual, Kualitas dan Kebermanfaatan :::

Seringkali bahkan saya beberapa kali menemukan para pria bermulut "ember". Lalu apa hubungannya dengan judul diatas. Makhluk visual, dari pandangan akan menstimulus otak untuk mengambil data yang sudah ada, kemudian diinterpretasikan kemudian dikomentari.

Letak komentar inilah yang menjadi cikal bakal penentu seorang pria berkualitas atau tidak. Pilihannya hanya ada 2, bermanfaat untuk dirinyakah atau membawa manfaat untuk orang lain.

Jika ia memilih opsi yang pertama tentunya action selanjutnya setelah apa yang ia lihat kemudian dihembuskan sedemikian rupa menjadi satu berita hoax yang merugikan orang lain. Tanpa memikirkan konsekuensi akhir. Dan agaknya para kaum pria bersumbu pendek ini belum memahami makna "kebermanfaatan" dirinya untuk khalayak banyak.

Opsi yang kedua, mempertimbangkan kebermanfaatan untuk dirinya pun untuk orang lain. Dengan melakukan tambahan informasi dari berbagai sumber, croscek dan lalu berpikir ulang apakah hal tsb membawa manfaat ataukah tidak.

Dulu saya sangat memercayai bahwa "pemikiran 1 orang pria berbanding lurus dengan pemikiran 3 orang wanita" artinya tingkat validasi atau keakuratan hasil pemikiran mereka hanya membutuhkn satu orang pria untuk menyeimbangkan ide serta pemikiran kaum hawa.

Tetapi nyatanya ini TIDAK BISA di GENERALISIR. Bahkan terkadang kaum adam ini nyinyirnya melebihi emak-emak rempong. Mengapa? Karena TERNYATA bahan pemikiran terletak dari input yang berdasarkan Latar Belakang pendidikan (field of education) dan Latar Belakang Pengalaman (field of experience).

Eksistensi kaum pria yang berpikir dengan logika sejatinya menjadi penyeimbang kaum ibu, namun pembentukan kedewasaan berpikir agaknya tidak bisa dibentuk dengan sendirinya melainkan berdasar pada PENGALAMAN yang didapatkan dari jam terbang ia bersosialisasi dan interaksi dengan lingkungan dan secara otomatis pula mendapat tempaan PENDIDIKAN yang tidak hanya didapatkan secara formal.

Dan hal ini otomatis akan membentuk pria berkualitas, baik secara pemikiran yang tercermin dari apa yang ia bicarakan. 

Lahir jargon seperti ini :
"pemikiran orang hebat, membicarakan ide - pemikiran orang menengah, membicarakan pengalaman - pemikiran orang pendek akal, lemah dan otak sumbu pendek membicarakan orang (senang berghibah dan memfitnah)".

Dari kedua hal tsb akan membentuk manajemen pola pikir, pengambilan keputusan terhadap apa yang ia lihat, dengar dan rasakan.

Ketika seorang pria mendapatkan salah satu stimulus (lihat, dengar dan rasa) jika dibarengi dengan kekuatan iman maka keputusan untuk menyebarkan informasi yang ia dapatkan akan diseimbangkan dengan kebermanfaatan yang akan ia peroleh, apakah bermanfaat hanya untuk dirinya sendiri ataukah bermanfaat untuk orang lain pula.

Dan jika hal ini dipertimbangkan, maka bukan tidak mungkin hukum pantul akan berlaku yakni "segala sesuatu yang dilemparkan akan kembali pada diri masing-masing".

Dalam beberapa jurnal psikologi menyampaikan bahwa, sisi lain bagian korteks otak kaum pria per-tujuh menit sekali kaum ini selalu berpikiran hal-hal yang berkaitan dengan "seks" maka tidak heran jika label "cengos, cunihin, fiktor (fikiran kotor)" seringkali menghampiri mereka.

Gegara ini pula pacuan otak dalam sumbu korteks tsb akan mengimajinasikan berbagai gambaran "berandai-andai" atau ekspektasi terlampau tinggi JIKA TIDAK diimbangi dengan pengetahuan dan pengamalan agama yang baik.

Alhasil, akan mencetuskan kata-kata kotor, tidak senonoh bahkan seronok dan kurang ajar serta tidak layak dan patut dalam pandangan sosial masyarakat. Sisi lain hasil imajinasi ini adalah fitnah dan ghibah.

Anda berada pada posisi yang mana?
Penuh dengan ide dan action ataukah tergolong dalam kategori sumbu pendek? Oiya ide dan action yang bermanfaat untuk orang banyak tentunya, bukan ide dan action murahan.

Semoga kita dapat mendidik anak-anak pria kita menjadi anak-anak yang berkualitas, tegas, lugas dan pantas menjadi imam dalam menghadapi berbagai racikan emosi yang semesta hadirkan dalam berbagai suguhan. Aamiin YRA.



Tuesday, 22 May 2018

ISLAM JAWA

Uwwooow .. Simak tulisan ini ngga boleh sambil nyengir ...



ISLAM JAWA
Ternyata, jaman dulu ada orang Belanda namanya Snouck Hurgronje. Dia ini hafal Alquran, Sahih Bukhori, Sahih Muslim, Alfiyyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in , tapi tidak islam, sebab tugasnya menghancurkan Islam Indonesia.

Mengapa? Karena Islam Indonesia selalu melawan Belanda. Sultan Hasanuddin, santri. Pangeran Diponegoro atau Mbah Abdul Hamid, santri. Sultan Agung, santri. Mbah Zaenal Mustofa, santri. Semua santri kok melawan Belanda.
Akhirnya ada orang belajar secara khusus tentang Islam, untuk mencari rahasia bagaimana caranya Islam Indonesia ini remuk. Snouck Hurgronje masuk ke Indonesia dengan menyamar namanya Syekh Abdul Ghaffar. Dia belajar Islam, menghafalkan Alquran dan Hadis di Arab. Maka akhirnya paham betul Islam.

Hanya saja begitu ke Indonesia, Snouck Hurgronje bingung: mencari Islam dengan wajah Islam, tidak ketemu. Ternyata Islam yang dibayangkan dan dipelajari Snouck Hurgronje itu tidak ada.
Mencari Allah disini tidak ketemu, ketemunya Pangeran. Ketemunya Gusti. Padahal ada pangeran namanya Pangeran Diponegoro. Ada Gusti namanya Gusti Kanjeng. Mencari istilah shalat tidak ketemu, ketemunya sembahyang. Mencari syaikhun, ustadzun , tidak ketemu, ketemunya kiai. Padahal ada nama kerbau namanya kiai slamet.Mencari mushalla tidak ketemu, ketemunya langgar.

Maka, ketika Snouck Hurgronje bingung, dia dibantu Van Der Plas. Ia menyamar dengan nama Syekh Abdurrahman. Mereka memulai dengan belajar bahasa Jawa. Karena ketika masuk Indonesia, mereka sudah bisa bahasa Indonesia, bahasa Melayu, tapi tidak bisa bahasa Jawa.
Begitu belajar bahasa Jawa, mereka bingung, strees. Orang disini makanannya nasi (sego).  Snouck Hurgronje dan Van Der Plas tahu bahasa beras itu, bahasa inggrisnya rice, bahasa arabnya ar-ruz .
Yang disebut ruz, ketika di sawah, namanya pari, padi. Disana masih ruz, rice. Begitu padi dipanen, namanya ulen-ulen, ulenan. Disana masih ruz, rice. Jadi ilmunya sudah mulai kucluk , korslet.
Begitu ditutu, ditumbuk, digiling, mereka masih mahami ruz, rice , padahal disini sudah dinamai gabah. Begitu dibuka, disini namanya beras, disana masih ruz, rice . Begitu bukanya cuil, disini namanya menir, disana masih ruz, rice. Begitu dimasak, disini sudah dinamai sego , nasi, disana masih ruz, rice.

Begitu diambil cicak satu, disini namanya
upa, disana namanya masih ruz, rice. Begitu dibungkus daun pisang, disini namanya lontong, sana masih ruz, rice. Begitu dibungkus janur kuning namanya ketupat, sana masih ruz, rice. Ketika diaduk dan hancur, lembut, disini namanya bubur, sana namanya masih ruz, rice.
Inilah bangsa aneh, yang membuat Snouck Hurgronje judeg, pusing.

Mempelajari Islam Indonesia tidak paham, akhirnya mencirikan Islam Indonesia dengan tiga hal. Pertama, kethune miring sarunge nglinting (berkopiah miring dan bersarung ngelinting). Kedua, mambu rokok (bau rokok). Ketiga, tangane gudigen (tangannya berpenyakit kulit).
Cuma tiga hal itu catatan (pencirian Islam Indonesia) Snouck Hurgronje di Perpustakaan Leiden, Belanda. Tidak pernah ada cerita apa-apa, yang lain sudah biasa. Maka, jangankan  Snouck Hurgronje, orang Indonesia saja kadang tidak paham dengan Islam Indonesia, karena kelamaan di tanah Arab.

Lihat tetangga pujian, karena tidak paham, bilang bid’ah . Melihat tetangga menyembelih ayam untuk tumpengan, dibilang bid’ah. Padahal itu produk Islam Indonesia. Kelamaan diluar Indonesia, jadi tidak paham. Masuk kesini sudah kemlinthi, sok-sokan, memanggil Nabi dengan sebutan “Muhammad” saja. Padahal, disini, tukang bakso saja dipanggil “Mas”. Padahal orang Jawa nyebutnya Kanjeng Nabi.

Lha , akhir-akhir ini semakin banyak yang tidak paham Islam Indonesia. Kenapa? Karena Islam Indonesia keluar dari rumus-rumus Islam dunia, Islam pada umumnya. Kenapa? Karena Islam Indonesia ini saripati (essensi) Islam yang paling baik yang ada di dunia.
Kenapa? Karena Islam tumbuhnya tidak disini, tetapi di Arab. Rasulullah orang Arab. Bahasanya bahasa Arab. Yang dimakan juga makanan Arab. Budayanya budaya Arab. Kemudian Islam datang kesini, ke Indonesia.

Kalau Islam masuk ke Afrika itu mudah, tidak sulit, karena waktu itu peradaban mereka masih belum maju, belum terdidik. Orang belum terdidik itu mudah dijajah. Seperti pilkada, misalnya, diberi Rp 20.000 atau mie instan sebungkus, beres. Kalau mengajak orang berpendidikan, sulit, dikasih uang Rp 10 juta belum tentu mau.

Islam datang ke Eropa juga dalam keadaan terpuruk. Tetapi Islam datang kesini, mikir-mikir dulu, karena bangsa di Nusantara ini sedang kuat-kuatnya. Bangsa anda sekalian ini bukan bangsa kecoak. Ini karena ketika itu sedang ada dalam kekuasaan negara terkuat yang menguasai 2/3 dunia, namanya Majapahit.

Majapahit ini bukan negara sembarangan. Universitas terbesar di dunia ada di Majapahit, namanya Nalanda. Hukum politik terbaik dunia yang menjadi rujukan adanya di Indonesia, waktu itu ada di Jawa, kitabnya bernama Negarakertagama. Hukum sosial terbaik ada di Jawa, namanya Sutasoma. Bangsa ini tidak bisa ditipu, karena orangnya pintar-pintar dan kaya-raya.

Cerita surga di Jawa itu tidak laku. Surga itu (dalam penggambaran Alquran): tajri min tahtihal anhaar (airnya mengalir), seperti kali. Kata orang disini: “mencari air kok sampai surga segala? Disini itu, sawah semua airnya mengalir.” Artinya, pasti bukan itu yang diceritakan para ulama penyebar Islam. Cerita surga tentang buahnya banyak juga tidak, karena disini juga banyak buah. Artinya dakwah disini tidak mudah.

Diceritain pangeran, orang Jawa sudah punya Sanghyang Widhi. Diceritain Ka’bah orang jawa juga sudah punya stupa: sama-sama batunya dan tengahnya sama berlubangnya. Dijelaskan menggunakan tugu Jabal Rahmah, orang Jawa punya Lingga Yoni.
Dijelaskan memakai hari raya kurban, orang Jawa punya peringatan hari raya kedri. Sudah lengkap. Islam datang membawa harta-benda, orang Jawa juga tidak doyan. Kenapa? Orang Jawa pada waktu itu beragama hindu. Hindu itu berprinsip yang boleh bicara agama adalah orang Brahmana, kasta yang sudah tidak membicarakan dunia.

Dibawah Brahmana ada kasta Ksatria, seperti kalau sekarang Gubernur atau Bupati. Ini juga tidak boleh bicara agama, karena masih ngurusin dunia. Dibawah itu ada kasta namanya Wesya (Waisya), kastanya pegawai negeri. Kasta ini tidak boleh bicara agama.
Di bawah itu ada petani, pedagang dan saudagar, ini kastanya Sudra . Kasta ini juga tidak boleh bicara agama. Jadi kalau ada cerita Islam dibawa oleh para saudagar, tidak bisa dterima akal. Secara teori ilmu pengetahuan ditolak, karena saudagar itu Sudra dan Sudra tidak boleh bicara soal agama.
Yang cerita Islam dibawa saudagar ini karena saking judeg-nya, bingungnya memahami Islam di Indonesia. Dibawahnya ada kasta paria, yang hidup dengan meminta-minta, mengemis. Dibawah Paria ada pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca ada maling, pencuri, namanya kasta Mlecca. Dibawahnya lagi ada begal, perampok, namanya kasta Candala.

Anak-anak muda NU harus tahu. Itu semua nantinya terkait dengan Nahdlatul Ulama. Akhirnya para ulama kepingin, ada tempat begitu bagusnya, mencoba diislamkan. Ulama-ulama dikirim ke sini.
Namun mereka menghadapi masalah, karena orang-orang disini mau memakan manusia. Namanya aliran Bhirawa. Munculnya dari Syiwa. Mengapa ganti Syiwa, karena Hindu Brahma bermasalah. Hindu Brahma, orang Jawa bisa melakukan tetapi matinya sulit. Sebab orang Brahma matinya harus moksa atau murco.

Untuk moksa harus melakukan upawasa. Upawasa itu tidak makan, tidak minum, tidak ngumpulin istri, kemudian badannya menyusut menjadi kecil dan menghilang. Kadang ada yang sudah menyusut menjadi kecil, tidak bisa hilang, gagal moksa, karena teringat kambingnya, hartanya. Lha ini terus menjadi jenglot atau batara karang.

Jika anda menemukan jenglot ini, jangan dijual mahal karena itu produk gagal moksa. Pada akhirnya, ada yang mencari ilmu yang lebih mudah, namanya ilmu ngrogoh sukmo . Supaya bisa mendapat ilmu ini, mencari ajar dari Kali. Kali itu dari Durga. Durga itu dari Syiwa, mengajarkan Pancamakara.
Supaya bisa ngrogoh sukmo, semua sahwat badan dikenyangi, laki-laki perempuan melingkar telanjang, menghadap arak dan ingkung daging manusia. Supaya syahwat bawah perut tenang, dikenyangi dengan seks bebas. Sisa-sisanya sekarang ada di Gunung Kemukus.

Supaya perut tenang, makan tumpeng. Supaya pikiran tenang, tidak banyak pikiran, minum arak. Agar ketika sukma keluar dari badan, badan tidak bergerak, makan daging manusia. Maka jangan heran kalau muncul orang-orang macam Sumanto.
Ketika sudah pada bisa ngrogoh sukmo, ketika sukmanya pergi di ajak mencuri namanya
ngepet . Sukmanya pergi diajak membunuh manusia namanya santet. Ketika sukmanya diajak pergi diajak mencintai wanita namanya pelet. Maka kemudian di Jawa tumbuh ilmu santet, pelet dan ngepet.

Ada 1.500 ulama yang dipimpin Sayyid Aliyudin habis di-ingkung oleh orang Jawa pengamal Ngrogoh Sukma. Untuk menghindari pembunuhan lagi, maka Khalifah Turki Utsmani mengirim kembali tentara ulama dari Iran, yang tidak bisa dimakan orang Jawa.
Nama ulama itu Sayyid Syamsuddin Albaqir Alfarsi. Karena lidah orang Jawa sulit menyebutnya, kemudian di Jawa terkenal dengan sebutan Syekh Subakir. Di Jawa ini di duduki bala tentara Syekh Subakir, kemudian mereka diusir.

Ada yang lari ke Pantai Selatan, Karang Bolong, Srandil Cicalap, Pelabuhan Ratu, dan Banten. Di namai Banten, di ambil dari bahasa Sansekerta, artinya Tumbal. Yang lari ke timur, naik Gunung Lawu, Gunung Kawi, Alas Purwo Banyuwangi (Blambangan). Disana mereka dipimpin Menak Sembuyu dan Bajul Sengoro.

Karena Syekh Subakir sepuh, maka pasukannya dilanjutkan kedua muridnya namanya Mbah Ishak (Maulana Ishak) dan Mbah Brahim (Ibrahim Asmoroqondi). Mereka melanjutkan pengejaran. Menak Sembuyu menyerah, anak perempuannya bernama Dewi Sekardadu dinikahi Mbah Ishak, melahirkan Raden Ainul Yaqin Sunan Giri yang dimakamkan di Gresik.

Sebagian lari ke Bali, sebagian lari ke Kediri, menyembah Patung Totok Kerot, diuber Sunan Bonang, akhirnya menyerah. Setelah menyerah, melingkarnya tetap dibiarkan tetapi jangan telanjang, arak diganti air biasa, ingkung manusia diganti ayam, matra ngrogoh sukmo diganti kalimat tauhid; laailaahaillallah. Maka kita punya adat tumpengan.

Kalau ada orang banyak komentar mem-bid’ah -kan, ceritakanlah ini. Kalau ngeyel, didatangi: tabok mulutnya. Ini perlu diruntutkan, karena NU termasuk yang masih mengurusi beginian.
Habis itu dikirim ulama yang khusus mengajar ngaji, namanya Sayyid Jamaluddin al-Husaini al-Kabir. Mendarat di Semarang dan menetap di daerah Merapi. Orang Jawa sulit mengucapkan, maka menyebutnya Syekh Jumadil Kubro.

Disana dia punya murid namanya Syamsuddin, pindah ke Jawa Barat, membuat pesantren puro di daerah Karawang. Punya murid bernama Datuk Kahfi, pindah ke Amparan Jati, Cirebon. Punya murid Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Inilah yang bertugas mengislamkan Padjajaran. Maka kemudian ada Rara Santang, Kian Santang dan Walangsungsang.

Nah , Syekh Jumadil Kubro punya putra punya anak bernama Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoroqondi, bapaknya Walisongo. Mbah Ishak melahirkan Sunan Giri. Mbah Ibrahim punya anak Sunan Ampel. Inilah yang bertugas mengislamkan Majapahit.
Mengislamkan Majapahit itu tidak mudah. Majapahit orangnya pinter-pinter. Majapahit Hindu, sedangkan Sunan Ampel Islam. Ibarat sawah ditanami padi, kok malah ditanami pisang. Kalau anda begitu, pohon pisang anda bisa ditebang.

Sunan Ampel berpikir bagaimana caranya? Akhirnya beliau mendapat petunjuk ayat Alquran. Dalam surat Al-Fath, 48:29 disebutkan : ".... masaluhum fit tawrat wa masaluhum fil injil ka zar’in ahraja sat’ahu fa azarahu fastagladza fastawa ‘ala sukıhi yu’jibuz zurraa, li yagidza bihimul kuffar………”
Artinya: “…………Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)……………”

Islam itu seperti tanaman yang memiliki anak-anaknya, kemudian hamil, kemudian berbuah, ibu dan anaknya bersama memenuhi pasar, menakuti orang kafir. Tanaman apa yang keluar anaknya dulu baru kemudian ibunya hamil? Jawabannya adalah padi.

Maka kemudian Sunan Ampel dalam menanam Islam seperti menanam padi. Kalau menanam padi tidak di atas tanah, tetapi dibawah tanah, kalau diatas tanah nanti dipatok ayam, dimakan tikus.
Mau menanam Allah, disini sudah ada istilah pangeran. Mau menanam shalat, disini sudah ada istilah sembahyang. Mau menanam syaikhun, ustadzun, disini sudah ada kiai. Menanam tilmidzun, muridun , disini sudah ada shastri, kemudian dinamani santri. Inilah ulama dulu, menanamnya tidak kelihatan.
Menanamnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit: kalimat syahadat, jadi kalimasada. Syahadatain, jadi sekaten. Mushalla, jadi langgar. Sampai itu jadi bahasa masyarakat. Yang paling sulit mememberi pengertian orang Jawa tentang mati.

Kalau Hindu kan ada reinkarnasi. Kalau dalam Islam, mati ya mati (tidak kembali ke dunia). Ini paling sulit, butuh strategi kebudayaan. Ini pekerjaan paling revolusioner waktu itu. Tidak main-main, karena ini prinsip. Prinsip inna lillahi wa inna ilaihi rajiun berhadapan dengan reinkarnasi. Bagaimana caranya?
Oleh Sunan Ampel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun kemudian di-Jawa-kan: Ojo Lali Sangkan Paraning Dumadi.

Setelah lama diamati oleh Sunan Ampel, ternyata orang Jawa suka tembang, nembang, nyanyi. Beliau kemudian mengambil pilihan: mengajarkan hal yang sulit itu dengan tembang. Orang Jawa memang begitu, mudah hafal dengan tembang.
Orang Jawa, kehilangan istri saja tidak lapor polisi, tapi nyanyi: ndang baliyo, Sri, ndang baliyo . Lihat lintang, nyanyi: yen ing tawang ono lintang, cah ayu. Lihat bebek, nyanyi: bebek adus kali nyucuki sabun wangi. Lihat enthok: menthok, menthok, tak kandhani, mung rupamu. Orang Jawa suka nyanyi, itulah yang jadi pelajaran. Bahkan, lihat silit (pantat) saja nyanyi: … ndemok silit, gudighen.

Maka akhirnya, sesuatu yang paling sulit, berat, itu ditembangkan. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun diwujudkan dalam bentuk tembang bernama Macapat . Apa artinya Macapat? Bahwa orang hidup harus bisa membaca perkara Empat.
Keempat perkara itu adalah teman nyawa yang berada dalam raga ketika turun di dunia. Nyawa itu produk akhirat. Kalau raga produk dunia. Produk dunia makanannya dunia, seperti makan. Yang dimakan, sampah padatnya keluar lewat pintu belakang, yang cair keluar lewat pintu depan.
Ada sari makanan yang disimpan, namanya mani (sperma). Kalau mani ini penuh, bapak akan mencari ibu, ibu mencari bapak, kemudian dicampur dan dititipkan di rahim ibu. Tiga bulan jadi segumpal darah, empat bulan jadi segumpal daging. Inilah produk dunia.

Begitu jadi segumpal daging, nyawa dipanggil. “Dul, turun ya,”. “Iya, Ya Allah”. “Alastu birabbikum?” (apakah kamu lupa kalau aku Tuhanmu?). “Qalu balaa sahidnya,” (Iya Ya Allah, saya jadi saksi-Mu), jawab sang nyawa,. ”fanfuhur ruuh” (maka ditiupkanlah ruh itu ke daging). Maka daging itu menjadi hidup. Kalau tidak ditiup nyawa, tidak hidup daging ini. (lihat, a.l.: Q.S. Al-A’raf, 7:172, As-Sajdah: 7 -10, Al-Mu’min: 67, ed. )

Kemudian, setelah sembilan bulan, ruh itu keluar dengan bungkusnya, yaitu jasad. Adapun jasadnya sesuai dengan orang tuanya: kalau orang tuanya pesek anaknya ya pesek; orang tuanya hidungnya mancung anaknya ya mancung; orang tuanya hitam anaknya ya hitam; kalau orang tuanya ganteng dan cantik, lahirnya ya cantik dan ganteng.
Itu disebut Tembang Mocopat: orang hidup harus membaca perkara empat. Keempat itu adalah teman nyawa yang menyertai manusia ke dunia, ada di dalam jasad. Nyawa itu ditemani empat: dua adalah Iblis yang bertugas menyesatkan, dan dua malaikat yang bertugas nggandoli, menahan. Jin qarin dan hafadzah.

Itu oleh Sunan Ampel disebut Dulur Papat Limo Pancer. Ini metode mengajar. Maka pancer ini kalau mau butuh apa-apa bisa memapakai dulur tengen (teman kanan) atau dulur kiwo (teman kiri). Kalau pancer kok ingin istri cantik, memakai jalan kanan, yang di baca Ya Rahmanu Ya Rahimu tujuh hari di masjid, yang wanita nantinya juga akan cinta.

Tidak mau dulur tengen, ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Jaran Goyang, ya si wanita jadinya cinta, sama saja. Kepingin perkasa, kalau memakai kanan yang dipakai kalimah La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim . Tak mau yang kanan ya memakai yang kiri, yang dibaca aji-aji Bondowoso, kemudian bisa perkasa.

Mau kaya kalau memakai jalan kanan ya shalat dhuha dan membaca Ya Fattaahu Ya Razzaaqu , kaya. Kalau tidak mau jalan kanan ya jalan kiri, membawa kambing kendhit naik ke gunung kawi, nanti pulang kaya.

Maka, kiai dengan dukun itu sama; sama hebatnya kalau tirakatnya kuat. Kiai yang ‘alim dengan dukun yang tak pernah mandi, jika sama tirakatnya, ya sama saktinya: sama-sama bisa mencari barang hilang. Sama terangnya. Bedanya: satu terangnya lampu dan satunya terang rumah terbakar.
Satu mencari ayam dengan lampu senter, ayamnya ketemu dan senternya utuh; sedangkan yang satu mencari dengan blarak (daun kelapa kering yang dibakar), ayamnya ketemu, hanya blarak-nya habis terbakar. Itu bedanya nur dengan nar.

Maka manusia ini jalannya dijalankan seperti tembang yang awalan, Maskumambang: kemambange nyowo medun ngalam ndunyo , sabut ngapati, mitoni , ini rohaninya, jasmaninya ketika dipasrahkan bidan untuk imunisasi.
Maka menurut NU ada ngapati, mitoni,
karena itu turunnya nyawa. Setelah Maskumambang, manusia mengalami tembang Mijil. Bakal Mijil : lahir laki-laki dan perempuan. Kalau lahir laki-laki aqiqahnya kambing dua, kalau lahir perempuan aqiqahnya kambing satu.

Setelah Mijil, tembangnya Kinanti. Anak-anak kecil itu, bekalilah dengan agama, dengan akhlak. Tidak mau ngaji, pukul. Masukkan ke TPQ, ke Raudlatul Athfal (RA). Waktunya ngaji kok tidak mau ngaji, malah main layangan, potong saja benangnya. Waktu ngaji kok malah mancing, potong saja kailnya.
Anak Kinanti ini waktunya sekolah dan ngaji. Dibekali dengan agama, akhlak. Kalau tidak, nanti keburu masuk tembang Sinom: bakal menjadi anak muda (cah enom), sudah mulai ndablek, bandel.
Apalagi, setelah Sinom, tembangnya asmorodono , mulai jatuh cinta. Tai kucing serasa coklat. Tidak bisa di nasehati. Setelah itu manusia disusul tembang Gambuh , laki-laki dan perempuan bakal membangun rumah tangga, rabi, menikah.

Setelah Gambuh, adalah tembang Dhandanggula. Merasakan manis dan pahitnya kehidupan. Setelah Dhandanggula , menurut Mbah Sunan Ampel, manusia mengalami tembang Dhurma.
Dhurma itu: darma bakti hidupmu itu apa? Kalau pohon mangga setelah berbuah bisa untuk makanan codot, kalau pisang berbuah bisa untuk makanan burung, lha buah-mu itu apa? Tenagamu mana? Hartamu mana? Ilmumu mana yang didarmabaktikan untuk orang lain?
Khairunnas anfa’uhum linnas , sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Sebab, kalau sudah di Dhurma tapi tidak darma bakti, kesusul tembang Pangkur.
Anak manusia yang sudah memunggungi dunia: gigi sudah copot, kaki sudah linu. Ini harus sudah masuk masjid. Kalau tidak segera masuk masjid kesusul tembang Megatruh : megat, memutus raga beserta sukmanya. Mati.

Terakhir sekali, tembangnya Pucung. Lha ini, kalau Hindu reinkarnasi, kalau Islam Pucung . Manusia di pocong. Sluku-sluku Bathok, dimasukkan pintu kecil. Makanya orang tua (dalam Jawa) dinamai buyut, maksudnya : siap-siap mlebu lawang ciut (siap-siap masuk pintu kecil).
Adakah yang mengajar sebaik itu di dunia?

Kalau sudah masuk pintu kecil, ditanya Malaikat Munkar dan Nankir. Akhirnya itu, yang satu reinkarnasi, yang satu buyut . Ditanya: “Man rabbuka?” , dijawab: “Awwloh,”. Ingin disaduk Malaikat Mungkar – Nakir apa karena tidak bisa mengucapkan Allah.
Ketika ingin disaduk, Malaikat Rakib buru-buru menghentikan: “Jangan disiksa, ini lidah Jawa”. Tidak punya alif, ba, ta, punyanya ha, na, ca, ra, ka . “Apa sudah mau ngaji?”kata Mungkar – Nakir. “Sudah, ini ada catatanya, NU juga ikut, namun belum bisa sudah meninggal”. “Yasudah, meninggalnya orang yang sedang belajar, mengaji, meninggal yang dimaafkan oleh Allah.”
Maka, seperti itu belajar. Kalau tidak mau belajar, ditanya, “Man rabbuka?” , menjawab, “Ha……..???”. langsung dipukul kepalanya: ”Plaakkk!!”. Di- canggah lehernya oleh malaikat. Kemudian jadi wareng , takut melihat akhirat, masukkan ke neraka, di- udek oleh malaikat, di-gantung seperti siwur, iwir-iwir, dipukuli modal-madil seperti tarangan bodhol , ajur mumur seperti gedhebok bosok.

Maka, pangkat manusia, menurut Sunan Ampel: anak – bapak – simbah – mbah buyut – canggah – wareng – udek-udek – gantung siwur – tarangan bodol – gedhebok bosok. Lho, dipikir ini ajaran Hindu. Kalau seperti ini ada yang bilang ajaran Hindu, kesini, saya tabok mulutnya!
Begitu tembang ini jadi, kata Mbah Bonang, masa nyanyian tidak ada musiknya. Maka dibuatkanlah gamelan, yang bunyinya Slendro Pelok : nang ning nang nong, nang ning nang nong, ndang ndang, ndang ndang, gung . Nang ning nang nong: yo nang kene yo nang kono (ya disini ya disana); ya disini ngaji, ya disana mencuri kayu.

Lho, lha ini orang-orang kok. Ya seperti disini ini: kelihatannya disini shalawatan, nanti pulang lihat pantat ya bilang: wow!. Sudah hafal saya, melihat usia-usia kalian. Ini kan kamu pas pakai baju putih. Kalau pas ganti, pakainya paling ya kaos Slank.
Nah, nang ning nang nong, hidup itu ya disini ya disana. Kalau pingin akhiran baik, naik ke ndang ndang, ndang ndang, gung. Ndang balik ke Sanghyang Agung. Fafirru illallaah , kembalilah kepada Allah. Pelan-pelan. Orang sini kadang tidak paham kalau itu buatan Sunan Bonang.
Maka, kemudian, oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dibuatkan tumpeng agar bisa makan. Begitu makan kotor semua, dibasuh dengan tiga air bunga: mawar, kenanga dan kanthil.
Maksudnya: uripmu mawarno-warno, keno ngono keno ngene, ning atimu kudhu kanthil nang Gusti Allah (Hidupmu berwarna-warni, boleh seperti ini seperti itu, tetapi hatimu harus tertaut kepada Allah). Lho , ini piwulang-piwulangnya, belum diajarkan apa-apa. Oleh Sunan Kalijaga, yang belum bisa mengaji, diajari Kidung Rumekso Ing Wengi. Oleh Syekh Siti Jenar, yang belum sembahyang, diajari syahadat saja.

Ketika tanaman ini sudah ditanam, Sunan Ampel kemudian ingin tahu: tanamanku itu sudah tumbuh apa belum? Maka di-cek dengan tembang Lir Ilir, tandurku iki wis sumilir durung? Nek wis sumilir, wis ijo royo-royo, ayo menek blimbing. Blimbing itu ayo shalat. Blimbing itu sanopo lambang shalat.
Disini itu, apa-apa dengan lambang, dengan simbol: kolo-kolo teko , janur gunung. Udan grimis panas-panas , caping gunung. Blimbing itu bergigir lima. Maka, cah angon, ayo menek blimbing . Tidak cah angon ayo memanjat mangga.

Akhirnya ini praktek, shalat. Tapi prakteknya beda. Begitu di ajak shalat, kita beda. Disana, shalat 'imaadudin, lha shalat disini, tanamannya mleyor-mleyor, berayun-ayun.
Disana dipanggil jam setengah duabelas kumpul. Kalau disini dipanggil jam segitu masih disawah, di kebun, angon bebek, masih nyuri kayu. Maka manggilnya pukul setengah dua. Adzanlah muadzin, orang yang adzan. Setelah ditunggu, tunggu, kok tidak datang-datang.
Padahal tugas Imam adalah menunggu makmum. Ditunggu dengan memakai pujian. Rabbana ya rabbaana, rabbana dholamna angfusana , – sambil tolah-toleh, mana ini makmumnya – wainlam taghfirlana, wa tarhamna lanakunanna minal khasirin.

Datang satu, dua, tapi malah merokok di depan masjid. Tidak masuk. Maka oleh Mbah Ampel: Tombo Ati, iku ono limang perkoro….. . Sampai pegal, ya mengobati hati sendiri saja. Sampai sudah lima kali kok tidak datang-datang, maka kemudian ada pujian yang agak galak: di urugi anjang-anjang……. , langsung deh, para ma'mum buruan masuk. Itu tumbuhnya dari situ.
Kemudian, setelah itu shalat. Shalatnya juga tidak sama. Shalat disana, dipanah kakinya tidak terasa, disini beda. Begitu Allahu Akbar , matanya bocor: itu mukenanya berlubang, kupingnya bocor, ting-ting-ting, ada penjual bakso. Hatinya bocor: protes imamnya membaca surat kepanjangan. Nah, ini ditambal oleh para wali, setelah shalat diajak dzikir, laailaahaillallah.

Hari ini, ada yang protes: dzikir kok kepalanya gedek-gedek, geleng-geleng? Padahal kalau sahabat kalau dzikir diam saja. Lho, sahabat kan muridnya nabi. Diam saja hatinya sudah ke Allah. Lha orang sini, di ajak dzikir diam saja, ya malah tidur. Bacaannya dilantunkan dengan keras, agar ma'mum tahu apa yang sedang dibaca imam.
Kemudian, dikenalkanlah nabi. Orang sini tidak kenal nabi, karena nabi ada jauh disana. Kenalnya Gatot Kaca. Maka pelan-pelan dikenalkan nabi. Orang Jawa yang tak bisa bahasa Arab, dikenalkan dengan syair: kanjeng Nabi Muhammad, lahir ono ing Mekkah, dinone senen, rolas mulud tahun gajah.

Inilah cara ulama-ulama dulu kala mengajarkan Islam, agar masyarakat disini kenal dan paham ajaran nabi. Ini karena nabi milik orang banyak (tidak hanya bangsa Arab saja). Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil ‘aalamiin ; Aku (Allah) tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
Maka, shalawat itu dikenalkan dengan cara berbeda-beda. Ada yang sukanya shalawat ala Habib Syekh, Habib Luthfi, dll. Jadi jangan heran kalau shalawat itu bermacam-macam. Ini beda dengan wayang yang hanya dimiliki orang Jawa.

Orang kalau tidak tahu Islam Indonesia, pasti bingung. Maka Gus Dur melantunkan shalawat memakai lagu dangdut. Astaghfirullah, rabbal baraaya, astaghfirullah, minal khataaya, ini lagunya Ida Laila: Tuhan pengasih lagi penyayang, tak pilih kasih, tak pandang sayang. Yang mengarang namanya Ahmadi dan Abdul Kadir.
Nama grupnya Awara. Ida Laila ini termasuk Qari’ terbaik dari Gresik. Maka lagunya bagus-bagus dan religius, beda dengan lagu sekarang yang mendengarnya malah bikin kepala pusing. Sistem pembelajaran yang seperti ini, yang dilakukan oleh para wali. Akhirnya orang Jawa mulai paham Islam.

Namun selanjutnya Sultan Trenggono tidak sabaran: menerapkan Islam dengan hukum, tidak dengan budaya. "Urusanmu kan bukan urusan agama, tetapi urusan negara,” kata Sunan Kalijaga. “Untuk urusan agama, mengaji, biarlah saya yang mengajari,” imbuhnya.
Namun Sultan Trenggono terlanjur tidak sabar. Semua yang tidak sesuai dan tidak menerima Islam di uber-uber. Kemudian Sunan Kalijaga memanggil anak-anak kecil dan diajari nyanyian:
Gundul-gundul pacul, gembelengan.
Nyunggi-nyunggi wangkul, petentengan.
Wangkul ngglimpang segane dadi sak latar 2x
Gundul itu kepala. Kepala itu ra’sun. Ra’sun itu pemimpin. Pemimpin itu ketempatan empat hal: mata, hidung, lidah dan telinga. Empat hal itu tidak boleh lepas. Kalau sampai empat ini lepas, bubar.
Mata kok lepas, sudah tidak bisa melihat rakyat. Hidung lepas sudah tidak bisa mencium rakyat. Telinga lepas sudah tidak mendengar rakyat. Lidah lepas sudah tidak bisa menasehati rakyat. Kalau kepala sudah tidak memiliki keempat hal ini, jadinya gembelengan.
Kalau kepala memangku amanah rakyat kok terus gembelengan, menjadikan wangkul ngglimpang, amanahnya kocar-kacir. Apapun jabatannya, jika nanti menyeleweng, tidak usah di demo, nyanyikan saja Gundul-gundul pacul. Inilah cara orang dulu, landai.

Akhirnya semua orang ingin tahu bagaimana cara orang Jawa dalam ber-Islam. Datuk Ribandang, orang Sulawesi, belajar ke Jawa, kepada Sunan Ampel. Pulang ke Sulawesi menyebarkan Islam di Gunung Bawakaraeng, menjadilah cikal bakal Islam di Sulawesi.
Berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di penjuru Sulawesi. Khatib Dayan belajar Islam kepada Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Ketika kembali ke Kalimantan, mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan.

Ario Damar atau Ario Abdillah ke semenanjung Sumatera bagian selatan, menyebarkan dan mendirikan kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Kemudian Londo (Belanda) datang. Mereka semua – seluruh kerajaan yang dulu dari Jawa – bersatu melawan Belanda.

Ketika Belanda pergi, bersepakat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka kawasan di Indonesia disebut wilayah, artinya tinggalan para wali. Jadi, jika anda meneruskan agamanya, jangan lupa kita ditinggali wilayah. Inilah Nahdlatul Ulama, baik agama maupun wilayah, adalah satu kesatuan: NKRI Harga Mati.
Maka di mana di dunia ini, yang menyebut daerahnya dengan nama wilayah? Di dunia tidak ada yang bisa mengambil istilah: kullukum raa’in wa kullukum mas uulun ‘an ra’iyatih ; bahwa Rasulullah mengajarkan hidup di dunia dalam kekuasaan ada sesuatu yaitu pertanggungjawaban.
Dan yang bertanggungjawab dan dipertanggung jawabkan disebut ra’iyyah. Hanya Indonesia yang menyebut penduduknya dengan sebutan ra’iyyah atau rakyat. Begini kok banyak yang bilang tidak Islam.

Nah, sistem perjuangan seperti ini diteruskan oleh para ulama Indonesia. Orang-orang yang meneruskan sistem para wali ini, dzaahiran wa baatinan, akhirnya mendirikan sebuah organisasi yang dikenal dengan nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Kenapa kok bernama Nahdlatul Ulama. Dan kenapa yang menyelamatkan Indonesia kok Nahdlatul Ulama? Karena diberi nama Nahdlatul Ulama. Nama inilah yang menyelamatkan. Sebab dengan nama Nahdlatul Ulama, orang tahu kedudukannya: bahwa kita hari ini, kedudukannya hanya muridnya ulama.

Meski, nama ini tidak gagah. KH Ahmad Dahlan menamai organisasinya Muhammadiyyah: pengikut Nabi Muhammad, gagah. Ada lagi organisasi, namanya Syarekat Islam, gagah. Yang baru ada Majelis Tafsir Alquran, gagah namanya. Lha ini “hanya” Nahdlatul Ulama. Padahal ulama kalau di desa juga ada yang hutang rokok.
Tapi Nahdlatul Ulama ini yang menyelamatkan, sebab kedudukan kita hari ini hanya muridnya ulama. Yang membawa Islam itu Kanjeng Nabi. Murid Nabi namanya Sahabat. Murid sahabat namanya tabi’in . Tabi’in bukan ashhabus-shahabat , tetapi tabi’in , maknanya pengikut.
Murid Tabi’in namanya tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikut. Muridnya tabi’it-tabi’in namanya tabi’it-tabi’it-tabi’in , pengikutnya pengikutnya pengikut. Lha kalau kita semua ini namanya apa? Kita muridnya KH Hasyim Asy’ari.

Lha KH Hasyim Asy’ari hanya muridnya Kiai Asyari. Kiai Asyari mengikuti gurunya, namanya Kiai Usman. Kiai Usman mengikuti gurunya namanya Kiai Khoiron, Purwodadi (Mbah Gareng). Kiai Khoiron murid Kiai Abdul Halim, Boyolali.
Mbah Abdul Halim murid Kiai Abdul Wahid. Mbah Abdul Wahid itu murid Mbah Sufyan. Mbah Sufyan murid Mbah Jabbar, Tuban. Mbah Jabbar murid Mbah Abdur Rahman, murid Pangeran Sambuh, murid Pangeran Benowo, murid Mbah Tjokrojoyo, Sunan Geseng.
Sunan Geseng hanya murid Sunan Kalijaga, murid Sunan Bonang, murid Sunan Ampel, murid Mbah Ibrahim Asmoroqondi, murid Syekh Jumadil Kubro, murid Sayyid Ahmad, murid Sayyid Ahmad Jalaludin, murid Sayyid Abdul Malik, murid Sayyid Alawi Ammil Faqih, murid Syekh Ahmad Shohib Mirbath.

Kemudian murid Sayyid Ali Kholiq Qosam, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Alwi, murid Sayyid Ahmad Al-Muhajir, murid Sayyid Isa An-Naquib, murid Sayyid Ubaidillah, murid Sayyid Muhammad, murid Sayyid Ali Uraidi, murid Sayyid Ja’far Shodiq, murid Sayyid Musa Kadzim, murid Sayyid Muhammad Baqir. Sayyid Muhammad Baqir hanya murid Sayyid Zaenal Abidin, murid Sayyidina Hasan – Husain, murid Sayiidina Ali karramallahu wajhah . Nah, ini yang baru muridnya Rasulullah saw.

Kalau begini nama kita apa? Namanya ya tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit-tabiit…, yang panjang sekali. Maka cara mengajarkannya juga tidak sama. Inilah yang harus difahami.
Rasulullah itu muridnya bernama sahabat, tidak diajari menulis Alquran. Maka tidak ada mushaf
Alquran di jaman Rasulullah dan para sahabat. Tetapi ketika sahabat ditinggal wafat Rasulullah, mereka menulis Alquran.

Untuk siapa? Untuk para tabi’in yang tidak bertemu Alquran. Maka ditulislah Alquran di jaman Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Tetapi begitu para sahabat wafat, tabi’in harus mengajari dibawahnya.
Mushaf Alquran yang ditulis sahabat terlalu tinggi, hurufnya rumit tidak bisa dibaca. Maka pada tahun 65 hijriyyah diberi tanda “titik” oleh Imam Abu al-Aswad ad-Duali, agar supaya bisa dibaca.
Tabiin wafat, tabi’it tabi’in mengajarkan yang dibawahnya. Titik tidak cukup, kemudian diberi “harakat” oleh Syekh Kholil bin Ahmad al-Farahidi, guru dari Imam Sibawaih, pada tahun 150 hijriyyah.

Kemudian Islam semakin menyebar ke penjuru negeri, sehingga Alquran semakin dibaca oleh banyak orang dari berbagai suku dan ras. Orang Andalusia diajari “ Waddluha” keluarnya “ Waddluhe”.
Orang Turki diajari “ Mustaqiim” keluarnya “ Mustaqiin”. Orang Padang, Sumatera Barat, diajari “ Lakanuud ” keluarnya “ Lekenuuik ”. Orang Sunda diajari “ Alladziina ” keluarnya “ Alat Zina ”.
Di Jawa diajari “ Alhamdu” jadinya “ Alkamdu ”, karena punyanya ha na ca ra ka . Diajari “ Ya Hayyu Ya Qayyum ” keluarnya “ Yo Kayuku Yo Kayumu ”. Diajari “ Rabbil ‘Aalamin ” keluarnya “ Robbil Ngaalamin” karena punyanya ma ga ba tha nga.

Orang Jawa tidak punya huruf “ Dlot ” punyanya “ La ”, maka “ Ramadlan ” jadi “ Ramelan ”. Orang Bali disuruh membunyikan “ Shiraathal…” bunyinya “ Sirotholladzina an’amtha ‘alaihim ghairil magedu bi’alaihim waladthoilliin ”. Di Sulawesi, “’ Alaihim” keluarnya “’ Alaihing ”.
Karena perbedaan logat lidah ini, maka pada tahun 250 hijriyyah, seorang ulama berinisiatif menyusun Ilmu Tajwid fi Qiraatil Quran , namanya Abu Ubaid bin Qasim bin Salam. Ini yang kadang orang tidak paham pangkat dan tingkatan kita. Makanya tidak usah pada ribut.
Murid ulama itu beda dengan murid Rasulullah. Murid Rasulullah, ketika dzikir dan diam, hatinya “online” langsung kepada Allah SWT. Kalau kita semua dzikir dan diam, malah jadinya tidur.
Maka disini, di Nusantara ini, jangan heran.

Ibadah Haji, kalau orang Arab langsung lari ke Ka’bah. Muridnya ulama dibangunkan Ka’bah palsu di alun-alun, dari triplek atau kardus, namanya manasik haji. Nanti ketika hendak berangkat haji diantar orang se-kampung.

Yang mau haji diantar ke asrama haji, yang mengantar pulangnya belok ke kebun binatang. Ini cara pembelajaran. Ini sudah murid ulama. Inilah yang orang belajar sekarang: kenapa Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama selamat, sebab mengajari manusia sesuai dengan hukum pelajarannya ulama.
Anda sekalian disuruh dzikir di rumah, takkan mau dzikir, karena muridnya ulama. Lha wong dikumpulkan saja lama kelamaan tidur. Ini makanya murid ulama dikumpulkan, di ajak berdzikir.
Begitu tidur, matanya tidak dzikir, mulutnya tidak dzikir, tetapi, pantat yang duduk di majelis dzikir, tetap dzikir. Nantinya, di akhirat ketika “wa tasyhadu arjuluhum ,” ada saksinya. Orang disini, ketika disuruh membaca Alquran, tidak semua dapat membaca Alquran. 

Maka diadakan semaan Alquran.
Mulut tidak bisa membaca, mata tidak bisa membaca, tetapi telinga bisa mendengarkan lantunan Alquran. Begitu dihisab mulutnya kosong, matanya kosong, di telinga ada Alqurannya.
Maka, jika bukan orang Indonesia, takkan mengerti Islam Indonesia. Mereka tidak paham, oleh karena, seakan-akan, para ulama dulu tidak serius dalam menanam. Sahadatain jadi sekaten. Kalimah sahadat jadi kalimosodo. Ya Hayyu Ya Qayyum jadi Yo Kayuku Yo Kayumu.

Ini terkesan ulama dahulu tidak ‘alim. Ibarat pedagang, seperti pengecer. Tetapi, lima ratus tahun kemudian tumbuh subur menjadi Islam Indonesia. Jamaah haji terbanyak dari Indonesia. Orang shalat terbanyak dari Indonesia. Orang membaca Alquran terbanyak dari Indonesia.
Dan Islam yang datang belakangan ini gayanya seperti grosir: islam kaaffah, begitu diikuti, mencuri sapi. Dilihat dari sini, saya meminta, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, jangan sekali-kali mencurigai Nahdlatul Ulama menanamkan benih teroris.

Teroris tidak mungkin tumbuh dari Nahdlatul Ulama, karena Nahdlatul Ulama lahir dari Bangsa Indonesia. Tidak ada ceritanya Banser kok ngebom disini, sungkan dengan makam gurunya. Mau ngebom di Tuban, tidak enak dengan Mbah Sunan Bonang.
Saya yang menjamin. Ini pernah saya katakan kepada Panglima TNI. Maka, anda lihat teroris di seluruh Indonesia, tidak ada satupun anak warga jamiyyah Nahdlatul Ulama. Maka, Nahdlatul Ulama hari ini menjadi organisasi terbesar di dunia.

Dari Muktamar Makassar jamaahnya sekitar 80 juta, sekarang di kisaran 120 juta. Yang lain dari 20 juta turun menjadi 15 juta. Kita santai saja. Lama-lama mereka tidak kuat, seluruh tubuh kok ditutup kecuali matanya. Ya kalau pas jualan tahu, lha kalau pas nderep di sawah bagaimana. Jadi kita santai saja. Kita tidak pernah melupakan sanad, urut-urutan, karena itu cara Nahdlatul Ulama agar tidak keliru dalam mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW.

oleh gus Muwaffiq..

Sunday, 8 April 2018

Saat Kehidupan Orang Lain Selalu Indah

"Enak ya hidup lo… Kerjaannya jalan-jalan melulu. Pokoknya nggak pernah susah, deh!”

Komentar selentingan macam itu makin sering terdengar, baik dalam percakapan langsung maupun melalui media sosial. Sering kali kita cuma bisa angkat alis menanggapinya. Sering kali yang berkomentar cuma melihat ujungnya—sisi paling luar dari kehidupan seseorang saja. The tip of the iceberg.

Hampir feed dari beberapa akun media sosial saya isinya foto traveling teman-teman maupun orang yang saya follow. Sebagian besar menampilkan gambar yang menakjubkan, bikin saya mampu membayangkan betapa serunya momen liburan tersebut.

Sayangnya, reaksi orang bisa saja jauh berbeda. Bahkan cenderung kasar dan tidak simpatik. Ada yang menyerang IG post selebgram karena dianggap doyan pamer dan, alasan paling terkenal, hidupnya terlihat nggak pernah susah. Ada yang galau berkepanjangan gara-gara nggak bisa mengikuti gaya liburan para Instagram moms populer lantaran nafkah nggak cukup.

Dari semuanya, ada kejadian ekstrem yang bikin geleng-geleng kepala. Saya pernah mendengar kisah tragis dari seorang teman, bahwa ada perempuan yang nge-fans banget terhadap figur publik yang akrab seliweran di media sosial, sampai-sampai memilih metode melahirkan sama persis seperti idolanya tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh maupun janinnya. Tak lama setelah lahir, bayi itu meninggal. Jauh di lubuk hatinya, ibu ini menyalahkan sang idola yang dianggap “selalu berhasil dan memiliki kehidupan indah”(seperti foto-foto yang selalu terpajang pada feed-nya), sedangkan dirinya tidak.

Apa yang orang tampilkan di media sosial tidak selalu mewakili kehidupan sebenarnya. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bisa saja itu merupakan tip of the iceberg; kita hanya melihat bagian akhir, bukan keseluruhan proses.

Namun, yang lebih ironis lagi adalah ketika kita membiarkan kehidupan kita ini, sadar maupun tidak, didikte oleh pilihan dan prioritas orang lain.

Terus, bagaimana sih kehidupan sebenarnya orang-orang yang kelihatan serba enak itu? Tidak ada yang pernah tahu, kecuali dia sendiri. Menduga-duga cuma bikin kita capek sendiri, dan lebih parah lagi, judgemental. Lebih baik coba terapkan prinsip sederhana ini: terserah mereka mau ngapain, selama nggak melanggar hukum, selama nggak merugikan hidup gue.

Selain yang di atas, apa sih yang sebaiknya kita lakukan saat melihat kehidupan serba indah di jagat medsos? In my honest opinion, here are some tips:

Jadikan motivasi. Pencapaian orang lain sebaiknya jadi penyemangat untuk mampu mencapainya juga Lihat sisi baik kehidupan kita.Sehat, mampu bernapas tanpa bantuan alat, berdaya mencari nafkah, dan segala kebaikan lain yang kita miliki semestinya membuat kita urung untuk membanding-bandingkan kehidupan kita dengan yang lain ‘kan? Intinya, bersyukur.Buka mata terhadap mereka yang kurang beruntung. Atau yang sedang tertimpa musibah. Biasakan diri untuk berempati terhadap kondisi orang-orang ini dan mendoakan kehidupan yang lebih baik untuknya. Namun, jangan sampai kitanya malah jadi “bitter”melihat kehidupan, ya.Finding inner peace. Seseorang akan selalu merasa iri dan insecuresaat dirinya sendiri tidak tentram. Cari tahu apa yang menghalangi kita mencapai ketentraman itu: apakah itu hubungan kurang langgeng dengan keluarga, ambisi yang terlalu besar, atau masa kecil penuh trauma? Selesaikan ini dan cari bantuan jika terasa berat untuk dipikul seorang diri.

Hikmah dari beragam post di media sosial, mulai dari candid mesra bareng kesayangan sampai rentetan holiday snaps, adalah yang menjadi prioritas orang lain belum tentu  prioritas kita. Dan begitu juga sebaliknya.

Jadi, bisa saja yang menurut kita “nggak penting banget” buat di-post, bagi orang lain ternyata penting.

Salah?

Nope. 

Tidak ada yang benar maupun salah soal ini. Semua kembali ke pertimbangan masing-masing 

Selain itu, derasnya informasi di luar sana bisa jadi ajang latihan untuk berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, serta jangan iri terhadap kesuksesan-kesuksesan yang terlihat lebih menyilaukan dari milik kita. Yakinlah bahwa Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan Ia selalu memenuhinya.

Monday, 26 March 2018

SELEKSI ALAM

"Pada akhirnya orang-orang yang tidak kita inginkan" akan dengan sendirinya berguguran dengan cara, pamit undur diri, tak pernah ketemu lagi atau bahkan hanya sekali saja ketemu.

Tagline bertuliskan tebal sesungguhnya hanya permainan pikiran yang kita pancarkan melalui signal yang tertangkap oleh satelite yang bernama "semesta"

Seringkali dalam acara perkuliahan atau ngobrol santai, ketika membahas soal pengamatan "seleksi alam" cukup menarik minat mahasiswa untuk berdiskusi lebih dari 3 SKS .. Hhhmm tak apalah inilah seni andragogik satu topik bisa berkembang kemana-kemana sampai gak ingat waktu bahkan topik bertambah seru jika dibumbui sharing pengalaman.

"Seleksi alam", pasti semua orang pernah, sedang dan akan mengalami sepertinya. Realnya dalam kehidupan kita ada istilah cash flow, datang dan pergi.

Ada orang yang masih berada bersama kita walaupun kita tidak ingat kapan berkenalan dengan dia. Hingga berteman, bersahabat bertahun tahun lamanya? Tentu ada ..

Atau bahkan bisa jadi kita ingat betul pertemuan pertama kali dengan teman ini. Dan lalu kita menyukainya namun sekarang entah ia berada dimana.

Atau kasus yang lain pertemuan tak sengaja, perkenalan yang tak terencana dan lalu bersama hingga kini. Adakah yang seperti itu? Sepertinya banyak pengalaman pertemuan dan perpisahan yang unpredictable dan terprediksi ya ..

Semua datang dan pergi atau bahkan sedang mengiringi disini, saat ini berada di samping anda. Lalu kemanakah orang-orang yang kita sukai lalu pergi?

Itulah seleksi alam yang saya maksud ..
"sesuatu yang kita sukai belum tentu baik untuk kita, bisa jadi sesuatu yang menurut kita buruk itu baik bagi kita".

Orang-orang yang datang menghampiri dan lalu pergi adalah 'orang-orang yang tidak kita butuhkan' ini dilihat dari sudut pandang tak kasat mata alias kacamata metafisik. Dan jika ditelaah lebih dalam bisa kita ambil hikmah dan pelajaran apapun itu.

Pun berlaku sekuat apapun keinginan kita untuk bersama, bertemu dengan seseorang tapi tak kunjung bersua .. Karena terbaca oleh "semesta" anda 'tidak membutuhkan' orang itu hadir dalam kehidupan anda.

Karena 'semesta' akan saling menyokong memenuhi yang anda butuhkan. 

TIDAK ADA YANG KEBETULAN

Assalamu'alaikum

Pernahkah...
Saat kamu duduk santai dan menikmati harimu, tiba2 kamu terpikirkan ingin berbuat sesuatu kebaikan utk seseorang?
-----> Itu adalah Allah...
Yg sedang berbicara dgn mu dan mengetuk hatimu. (QS 4:114 , 2:195 , 28:77)

Pernahkah...
Saat kamu sedang sedih, kecewa... tetapi tidak ada orang di sekitarmu yg dapat kamu jadikan tempat curahan hati?
-------> Itulah saatnya di mana Allah... Sedang rindu padamu dan ingin
agar kamu berbicara padaNYA... (QS 12:86)

Pernahkah...
Kamu tanpa sengaja memikirkan seseorang yg sudah lama tidak bertemu dan tiba2 orang tsb muncul atau kamu bertemu dgn nya atau menerima telepon darinya?
-------> Itu adalah Kuasa Allah yg sedang meng-hibur kamu. Tidak ada namanya kebetulan... (QS 3:190-191)

Pernahkah...
Kamu mengharapkan sesuatu yg tidak terduga, yg selama ini kamu inginkan... tapi rasanya sulit utk didapatkan?
------> Itu adalah Allah...
Yg mengetahui dan mendengar suara batinmu.. Dan hasil dari benih kebaikan yg kamu taburkan sebelumnya
(QS 65:2-3)

Pernahkah...
Kamu berada dlm situasi yg buntu... semua terasa begitu sulit... begitu tidak menyenangkan... hambar... kosong... bahkan menakutkan...?

Itu adalah saat di mana Allah mengijinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari Keberadaan NYA. Dan Allah ingin mendengar rintihan dan do'a mu. Karena DiA tahu kamu sudah mulai melupakanNYA dlm kesenangan
(QS 47:31 , 32:21)

Sering Allah mendemonstrasikan KASIH dan KUASANYA di dalam area, di mana saat manusia merasa dirinya tak mampu.

Apakah kamu pikir tulisan ini hanya iseng terkirim padamu...?

TIDAK ! Sekali lagi TIDAK ada yg kebetulan...

Beberapa menit ini tenangkanlah dirimu...
Rasakan kehadiran-Nya...
Dengarkan suara-Nya yg berkata:

"Jangan Khawatir, AKU ada disini bersamamu"
(QS 2:214 , 2:186, 50:16)

Wassalamualaikum

Sunday, 25 March 2018

Antara Tenar ataukah Ngga Ada Kerjaan

Generasi milenial, jadi bidikan utama banyak pengusaha. Karena generasi ini yang mendominasi dunia saat ini. Mulai dari tumbuhnya start up (pebisnis pemula) sampai pada profesional .. Mulai melirik segmen yang ini.

Generasi yang bergantung pada layanan online di setiap sendi kehidupan. Mungkin kah nanti ada toilet online dan ngelahiran lewat online juga? Punya anak tinggal di download .. Hahahah .. #mikir keras!

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...