“Ucang ucang angge mulung muncang
ka parangge di gogog ku gogog gede, gogog na nu mang lebe ari gog gog
cungungung…..”
Sebuah nyanyian manja,
untuk anak-anak batita dan balita. Di tanah pasundan sepertinya sudah tak asing
lagi. Batita atau balita ditempatkan mengayun di kedua kaki ayah atau bunda dengan
posisi terlentang dengan lutut di tekuk hingga anak bisa di ayunkan berulang. Posisi
favorit penulis sewaktu kecil saat lagu berakhir yaitu saat badan terangkat
penuh layaknya kapal terbang melambung ke atas. Sensasinya membuat deg-degan
sekaligus membuat bahagia dan tertawa lepas hingga ketagihan minta di ulang
hingga Ayah atau bunda menyerah karena kakinya pegal dan saat itu berakhir siap
cemberut.
Nyanyian ini begitu akrab di telinga meskipun
penulis sudah menginjak usia puncak pemuda. Mengapa bisa begitu ya? jawabannya karena rasa bahagia yang membuncah
memproduksi hormon endhorphine lebih
banyak. Moment-moment bahagia bisa melekat kuat karena perasaan bahagia luar
biasa dan otak merekam hal itu sebagai moment istimewa inilah yang membuat
tersimpan dalam benak dalam kurun waktu yang lama.
Begitupun dengan rasa
sakit hati yang teramat sangat, akan melekat dan terekam persis waktu dan
moment nya. Contoh lain kejadian yang paling menyakitkan di maki-maki orangtua
depan teman dan di tempat umum pula?
Penulis yakin kapanpun dan dimanapun hal itu akan teringat terus. (eheum!
pengalaman pribadi :P). Hal ini karena
rasa sakit itu ditempatkan sangat istimewa dalam benak hingga kembali seperti
rasa bahagia yang teramat sangat mampu melekat dalam ingatan dalam waktu yang
lama pula bahkan sepanjang hayat.
Bagaimana dengan
kegiatan seperti sekolah, kuliah dan kegiatan lainnya yang bersifat rutinitas?.
Sepertinya banyak moment yang terlupakan dan hanya sedikit saja moment-moment
yang diingat. Apalagi hal tersebut sudah berlangsung beberapa belas tahun lalu
masa-masa setiap jenjang pendidikan dari mulai SD, SMP, SMA atau kuliah, yakin
tidak banyak yang diingat kecuali jika rajin menuliskannya di diary dan hal
itupun terkadang memory dipaksa mengingat kembali momentnya saat membacanya
kembali. Mengapa bisa begitu ya? karena rutinitas ditempatkan tidak istimewa
so, jangan heran jika banyak dari kumpulan hari-hari kita yang telah dilalui
terlupakan kecuali moment-moment penting, membahagiakan dan menyakitkan, kurang
lebih begitu.
Kejutan ulang tahun di
masa SMA, taburan terigu, telor dan guyuran air sangat terekam jelas dan
sepertinya diingat seumur hidup, sama
halnya dengan moment pernikahan, kelahiran anak, ngetrip ke luar kota, ke luar
negeri, nonton konser anak tercinta pun begitu.
Intinya, setiap moment yang kita anggap biasa akan berlalu begitu saja,
namun lain halnya dengan moment yang sangat membahagiakan dan sangat
menyakitkan akan terekam sempurna dalam benak. Sesekali melupakan moment
penting di tempat kerja, lupa mengerjakan PR dan lupa janji dengan teman itu
karena pikiran sudah menolak menjadikan moment itu bukan moment special dan
meletakkannya sebagai hal yang biasa saja hingga hasil akhirnya terlupakan.
Manfaat panjang ingatan
sepertinya tidak perlu di ulas karena sudah banyak dilansir di berbagai laman
dan artikel-artikel kesehatan, semua
orang pun sudah faham benar manfaatnya. Intinya semua terletak dalam kekuatan
pikiran kita, karena kekuatan pikiran mampu menentukan setiap moment apakah
biasa saja atau istmewa. Jadi jika ingin setiap moment rutinitas yang dijalani,
tersimpan apik dalam benak dan sewaktu-waktu dapat di recall (di ingat kembali)
jadikan setiap hari, setiap kegiatan menjadi moment istimewa.
Demikian, semoga
bermanfaat.









