Higher Order Thingking Skills atau sebut saja (HOTS)
merupakan salah satu bagian dari kecerdasan intelektual, dimana kecerdasan
merupakan kemampuan memecahkan masalah dan beradaptasi secara efektif terhadap
lingkungan. Atas dasar kemampuan tersebut dapat memahami hubungan antar unsur,
membedakannya dan menarik kesimpulan. Dua ayat Al Quran yang menggambarkan
hubungan-hubungan antar unsur terdapat dalam Q. S. Al Baqoroh ayat 1-5, kelima
ayat tersebut merupakan kesatuan yang berinterrelasi antara satu dengan
lainnya. Pemahaman unsur-unsur ayat tersebut dan interrelasinya memerlukan Higher
Order Thingking Skills (HOTS). Kelima ayat tersebut menyangkut kepercayaan
kepada yang ghaib yang memerlukan “breaking
down” apa saja hal ghaib menyangkut kehidupan dunia dan akhirat.
Maknawi kelima ayat tersebut diatas, manusia
dituntut mengobservasi jagat raya, yaitu langit sebagai atap, bumi sebagai
hamparan luas, dari langit turun hujan dan dengan hujan itu Allah produksikan bermacam
buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia. HOTS jika diaplikasikan dalam
pembelajaran sains secara tematik tentunya tidak akan terkotak-kotak antara
pembelajaran Pendidikan Agama dan bidang
keilmuan lainnya. Salah satu contoh pembelajaran benda-benda langit dengan
menggunakan pendekatan scientific dimana
secara logic mathematic secara
sederhana peserta didik di ajak untuk mengenal berbagai macam bentuk bidang
datar benda-benda langit seperti matahari yang berbentuk lingkaran, kemudian siswa
digiring untuk berpikir tingkat tinggi lainnya yaitu cara mencari keliling dari
lingkaran tersebut dengan menggunakan rumus matematis. Pendekatan pembelajaran pada bidang studi
sains dengan menemukan cara mengukur massa panasnya matahari dan mengkaji zat-zat
lainnya yang terkandung tentunya dengan menggunakan berbagai sumber referensi
dari hasil penelitian para ilmuwan.
Pembelajaran belum berakhir pada dua bidang studi
tersebut saja, pada kajian ilmu sosial dimana pemanfaatan sumber daya alam
terutama energi bagi kehidupan manusia bisa dikembangkan, jika peserta didik
mampu memahami sehingga mampu memberikan dan menyebutkan contoh-contoh
pemanfaatan dari energy matahari tersebut. selain itu di lihat dari sudut
pandang kecerdasan linguistic berbahasa pemanfaatan energi matahari peserta
didik di ajak untuk mendeskripsikan baik secara verbal maupun nonverbal, pada kajian bidang studi Pendidikan keagamaan
bahwa matahari merupakan sumber daya alam yang patut di syukuri sebagai
anugerah Tuhan YME. Seperti dalam salah
satu firman Allah yaitu Allah menjamin setiap manusia apabila bersyukur niscaya
Allah akan menambah nikmatnya. Pembelajaran bisa terjadi dimana saja tidak saja
dalam institusi pendidikan formal namun pula setiap langkah dan setiap
perjalanan waktu sejatinya merupakan pembelajaran untuk anak. Orangtua dan guru
dapat memberikan stimulus pada putra-putrinya untuk berpikir tingkat tinggi
dengan cara mengamati, menanya, menalar, mencoba dan hingga anak mengenal dan memahami diri beserta lingkungannya selain itu
mampu memaknai setiap fenomena kehidupan yang terjadi hingga anak siap
menghadapi dunia.
Dalam salah satu firman Allah kurang lebih berbunyi
“jika air laut sebagai tinta dan pepohonan sebagai pena nya niscaya manusia
takkan mampu menuliskan semua ilmu Allah”. Ternyata memang benar jika ditelisik
hanya dari satu zat saja begitu banyak ilmu serta manfaat yang dapat ditorehkan
bahkan tak dapat terlukiskan. Oleh karena itu memang semua penciptaan Nya tidak
pernah ada yang sia-sia.
Sumber
Referensi :
Ahmad Surjadi Sumadiredja,
MA., Ph. D., (2014), Kecerdasan dan Lingkungan Pendidikan,
Bandung : Penerbit Mandar Maju.
Al Qur’anul Karim, (2007), The Miracle 15 in 1, Bandung : Sygma
Examedia Arkanleema.
Dede, Drs., (2015), Pembinaan Kompetensi Guru, Bandung : KKG
Gugus VII Cangkuang Kulon.
