Monday, 28 September 2015

Higher Order Thingking Skills dalam Pembelajaran



Higher Order Thingking Skills atau sebut saja (HOTS) merupakan salah satu bagian dari kecerdasan intelektual, dimana kecerdasan merupakan kemampuan memecahkan masalah dan beradaptasi secara efektif terhadap lingkungan. Atas dasar kemampuan tersebut dapat memahami hubungan antar unsur, membedakannya dan menarik kesimpulan. Dua ayat Al Quran yang menggambarkan hubungan-hubungan antar unsur terdapat dalam Q. S. Al Baqoroh ayat 1-5, kelima ayat tersebut merupakan kesatuan yang berinterrelasi antara satu dengan lainnya. Pemahaman unsur-unsur ayat tersebut dan interrelasinya memerlukan Higher Order Thingking Skills (HOTS). Kelima ayat tersebut menyangkut kepercayaan kepada yang ghaib yang memerlukan “breaking down” apa saja hal ghaib menyangkut kehidupan dunia dan akhirat.
Maknawi kelima ayat tersebut diatas, manusia dituntut mengobservasi jagat raya, yaitu langit sebagai atap, bumi sebagai hamparan luas, dari langit turun hujan dan dengan hujan itu Allah produksikan bermacam buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia. HOTS jika diaplikasikan dalam pembelajaran sains secara tematik tentunya tidak akan terkotak-kotak antara pembelajaran Pendidikan Agama dan  bidang keilmuan lainnya. Salah satu contoh pembelajaran benda-benda langit dengan menggunakan  pendekatan scientific dimana secara logic mathematic secara sederhana peserta didik di ajak untuk mengenal berbagai macam bentuk bidang datar benda-benda langit seperti matahari yang berbentuk lingkaran, kemudian siswa digiring untuk berpikir tingkat tinggi lainnya yaitu cara mencari keliling dari lingkaran tersebut dengan menggunakan rumus matematis.  Pendekatan pembelajaran pada bidang studi sains dengan menemukan cara mengukur massa panasnya matahari dan mengkaji zat-zat lainnya yang terkandung tentunya dengan menggunakan berbagai sumber referensi dari hasil penelitian para ilmuwan.
Pembelajaran belum berakhir pada dua bidang studi tersebut saja, pada kajian ilmu sosial dimana pemanfaatan sumber daya alam terutama energi bagi kehidupan manusia bisa dikembangkan, jika peserta didik mampu memahami sehingga mampu memberikan dan menyebutkan contoh-contoh pemanfaatan dari energy matahari tersebut. selain itu di lihat dari sudut pandang kecerdasan linguistic berbahasa pemanfaatan energi matahari peserta didik di ajak untuk mendeskripsikan baik secara verbal maupun nonverbal,  pada kajian bidang studi Pendidikan keagamaan bahwa matahari merupakan sumber daya alam yang patut di syukuri sebagai anugerah Tuhan YME.  Seperti dalam salah satu firman Allah yaitu Allah menjamin setiap manusia apabila bersyukur niscaya Allah akan menambah nikmatnya. Pembelajaran bisa terjadi dimana saja tidak saja dalam institusi pendidikan formal namun pula setiap langkah dan setiap perjalanan waktu sejatinya merupakan pembelajaran untuk anak. Orangtua dan guru dapat memberikan stimulus pada putra-putrinya untuk berpikir tingkat tinggi dengan cara mengamati, menanya, menalar, mencoba dan hingga anak mengenal dan  memahami diri beserta lingkungannya selain itu mampu memaknai setiap fenomena kehidupan yang terjadi hingga anak siap menghadapi dunia.
Dalam salah satu firman Allah kurang lebih berbunyi “jika air laut sebagai tinta dan pepohonan sebagai pena nya niscaya manusia takkan mampu menuliskan semua ilmu Allah”. Ternyata memang benar jika ditelisik hanya dari satu zat saja begitu banyak ilmu serta manfaat yang dapat ditorehkan bahkan tak dapat terlukiskan. Oleh karena itu memang semua penciptaan Nya tidak pernah ada yang sia-sia. 

Sumber Referensi :

Ahmad Surjadi Sumadiredja, MA.,  Ph. D., (2014), Kecerdasan dan Lingkungan Pendidikan, Bandung : Penerbit Mandar Maju.

Al Qur’anul Karim, (2007), The Miracle 15 in 1, Bandung : Sygma Examedia Arkanleema.

Dede, Drs., (2015), Pembinaan Kompetensi Guru, Bandung : KKG Gugus VII Cangkuang Kulon.




Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...