Sunday, 2 June 2019

IBLIS ITU SANGAT ALIM

Jika engkau bertanya tentang Al-Qur'an kpd iblis, maka iblis akan bisa menerangkan dengan sangat jelas, karena iblis tahu persis kapan ayat itu turun dari langit... Jk engkau bertanya tentang ilmu hadist kepada iblis, maka iblis akan sangat pandai menjelaskannya,
karena iblis tahu asbabul wurud dari hadist tsb.... Jk engkau bertanya tentang kisah para nabi, iblis akan dengan tepat menceritakannya karena iblis sudah ada sejak nabi adam masih berada dlam surga... iblis ahli alqur'an...
iblis ahli hadist....
iblis ahli riwayat.
iblis alim/pandai dalam segala ilmu.. Tapi iblis tidak menjadi kekasih Allah, karena dalam diri iblis ada kalimat.. AKU LEBIH BAIK DARI KAMU

Semoga sedikit ilmu yg dititipkan Allah Subhana Wa Ta'alla dihati kita tdak menjadikan kita sombong dalam segala urusan...
Juga paham bahwa ilmu tak menjamin org pasti ta'at dan sholeh.

Yang aku takut.
Hatiku kian mengeras dan sulit menerima nasehat, namun sangat pandai menasehati

Yg aku takut.
Aku merasa paling benar, sehingga merendahkan yang lain.

Yg aku tkut.
Egoku terlalu tinggi, hingga merasa paling baik di antara yang lain.

Yg aku tkut.
Aku lupa bercermin, namun sibuk berprasangka buruk kepada yang lain.

Yg aku tkut.
Ilmuku akan membuatku menjadi sombong, memandang yang lain berbeda denganku.

Yg aku tkut.
Lidahku makin lincah membicarakan aib orang lain, namun lupa dengan aibku yang menggunung dan tak sanggup kubenahi.

Yg aku tkut.
Aku hanya hebat dalam berkata namun buruk dalam berbuat.

Yg aku tkut.
Aku hanya cerdas dalam mengkritik, namun lemah dalam mengkoreksi diri sendiri.

Yg aku tkut.
Aku membenci dosa orang lain, namun saat aku sendiri buat dosa aku enggan membencinya.

Kiranya Allah Subhana Wa Ta'alla
senantiasa menyadarkanku sehingga lebih rajin instrospeksi diri daripada mengurusi orang lain yang belum tentu perilaku dan tutur katanya lebih baik dari diriku. Aamiin.. SELALULAH MELIHAT KE DALAM HATI

Wallahu a'lam Bishowab

Friday, 17 May 2019

BERDOA, MEMINTA ATAUKAH BERSYUKUR?

Sejatinya, pada saat kita meminta kita hanya "melatih" rasa "kekurangan" pada diri kita. Dan akhirnya makin banyaklah "kekurangan" yang menghampiri hidup kita.
Namun, pada saat kita bersyukur, kita melatih rasa "kelimpahan" hadir pada diri kita. Yang tentu saja hal ini juga akan menarik serangkaian dan banyak "kelimpahan" untuk datang dan menghampiri kehidupan kita.

Hukum Metafisika mengajarkan, apa yang dominan dalam pikiran kita, maka itulah yang akan diwujudkan dalam realitas kehidupan kita. Jadi kalo doa kita hanya berisi permintaan belaka, tanpa sadar kita mencoba mewujudkan kekurangan untuk hadir dalam hidup kita supaya kita bisa terus meminta.

Hukum tarik menarik Metafisika Spiritual sebenarnya sesederhana itu. Meskipun telah banyak orang yang tahu, tapi tidak melakukannya.
Atau mereka melakukannya, tapi mereka kemudian 'menyerah' dan tidak 'menyelesaikannya'.

Sehingga kemudian muncul 'belief' baru dalam hidup mereka yang justru men'sabotase' segala kebaikan yang 'harusnya' mereka terima saat mengaplikasikan dan melakukan hukum metafisika spiritual ini.

Dan, akhirnya muncullah keluhan,
apakah gunanya berbuat baik?, apakah manfaatnya rajin sembahyang?, knapa harus jujur? jika nyatanya hidup tidak berubah membaik.

Sahabatku yang dikasihi Tuhan.
Jika kamu adalah salah satu dar mereka yang hoby mengeluh, maka ingatlah Hukum Persesuaian dalam metafisika yang mengatakan bahwa: "Segala sesuatu yang kamu ingin orang lain lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan (itu) kepada mereka" ; dan Hukum Persesuaian ini juga berlaku dan teraplikasi seperti berikut ini:
- Ketika engkau meminta sesuatu, maka sesuatu akan 'diminta' daripadamu.
- Ketika engkau menahan sesuatu, maka sesuatu akan 'ditahan' terhadapmu.
- dan Ketika engkau memberi sesuatu, maka sesuatu akan 'diberikan' kepadamu.

Maka tetap menjaga baikmu adalah jalan terbaikmu lalu pasrahkan segala hal terbaik yang kamu lakukan.
Pasrah itu maksudnya bagaimana browh..?

Pasrah adalah ketika kamu sangat meyakini bahwa Rencana Tuhan, rencana semesta adalah yang terbaik.
Jangan suka protes apalagi mengeluh ketika sudah melakukan sesuatu yang baik belum berhasil baik.
Karena dalam sejarah kehidupan manusia, Tuhan dan semesta merupakan pemilik kepintaran paling sempurna.

Jadi jangan ragu atas segala rencanaNya, pasrahkan saja segalanya padaNya agar semuanya baik - baik saja. @GN

Friday, 19 April 2019

LEGOWO ATAUKAH TAKUT?

Ada tulisan bagus dari warga negara kita di Jepang  ibu Jumiarti Agus, ketua International ACKITA  (www.acita.org), semoga tulisan ini sampai ke Istana .. Lelah rasanya beberapa bulan ini terlibat penat dalam blundernya Pemilu Pilpres kali ini.

Mata, hati, emosi dan pikiran terkuras untuk sekedar membuka medsos ataupun menonton tivi .. malu rasanya kita harus sampai minta tolong pada pemantau pemilu dari negara asing 😒

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK JOKOWI DAN BAPAK PRABOWO

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Bapak Jokowi, dan Bapak Prabowo semoga Bapak-Bapak sehat selalu. Saya Jumiarti Agus, warganegara Indonesia yang tinggal di Jepang, yang serius bekerja di Jepang untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia.

Saya warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang sejak masih single, kemudian menikah, hamil, melahirkan, membesarkan anak dan menyekolahkan mereka mulai dari tingkat hoikuen, SD, SMP dan SMA. Sekarang anak saya yang paling besar bersekolah di sekolah khusus perempuan. Sangat komplit masa yang saya lalui di Jepang, ketimbang di Indonesia. Tidak hanya saya, semua orang asing yang tinggal dan pernah datang ke Jepang, merasakan kenyamanan, tinggal dan hidup di negeri Sakura.

Kami merindukan semua kenyamanan itu bisa dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Selama tinggal di Jepang hak hidup dan berekspresi kami sama dengan mereka warga Jepang, anak-anak kami semuanya dapat subsidi dari pemerintah Jepang setiap bulan sejak lahir hingga mereka berusia 16 tahun. Anak anak bersekolah di SD dan SMP gratis, hanya untuk biaya ekstrakurikuler yang membayar. Biaya kesehatan, bahan makan, dan biaya hidup semuanya terjangkau. Suasana di lingkungan sungguh aman dan nyaman. Anak-anak hingga berusia 16 tahun mendapatkan tunjangan hidup 10-000 – 15,000 yen perbulan. Dan semua hal yang kami rasakan ini dirasakan sama oleh masyarakat di Jepang. Padahal negara Jepang tidak punya sumber daya alam apa pun, kecuali ikan di laut. Sementara kita negara kaya raya, semuanya kita punya, tapi rakyat yang miskin masih banyak. Sungguh sangat memilukan! Namun kalua kita bergiat tentu kita bisa membaik, InsyaAllah. (Tentang hal ini bisa dibaca di buku Menagapa Bertahan di Negeri Orang? ACIKITA Publising 2007).

Pak Jokowi dan Pak Prabowo Yth,
Saya ingin berbagi info tentang pemilu dan sikap pemimpin di Jepang. Pemilu di Jepang, berlangsung aman dan damai. Tanpa ada hiruk pikuk kampanye, apalagi bagi bagi sembako, uang, baju kaus dari pemimpinnya. Semua itu tidak pernah ada. Rakyat mereka juga tidak mau dibohongi oleh pemimpinnya. Mereka melihat kenyataan dan berfikir dengan logis, apakah seorang pemimpin bagus atau tidak. Mereka semua akan memilih sesuai dengan hati nuraninya. Biasanya pemilihan umum menggunakan lokasi sekolah milik pemerintah, rakyat disekitar pemukiman akan datang dan antrian tertib pada hari H, kemudian memilih calon yang disukai.

Pemilu di Jepang, tidak menghabiskan dana negara yang sangat besar, efisien, tertib, aman dan jujur. Semua pihak berlaku jujur, pemimpinnya jujur, penyelenggara pemilu jujur, dan rakyat juga jujur memilih pemimpin yang dia sukai. Sehingga pemimpin yang terpilih adalah pemimpin yang memang memenangkan suara rakyatnya, bukan pemimpin yang menang karena data yang dimanipulasi.

“Kenapa semua mereka bisa berlaku jujur?”

Jawabannya adalah sistem pendidikan mereka yang dikonsep dan dilaksanakan dengan baik, dimana moral dan karakter anak sangat fokus ditanamkan sejak dini. Sehingga saat dewasa mereka secara umum bersikap jujur.

Bila sikap jujur sudah dipunyai semua rakyat, maka semua program yang dicanangkan dapat berjalan dengan baik. Akhirnya semua rakyat dapat hidup, bersekolah, berkarya dan berprestasi yang membanggakan dunia. Mereka bahkan setiap tahun meraih hadiah Nobel, Pendidikan dan riset betul-betul sangat dahsyat majunya. Kita sangat jauuuuh ketinggalan. Kapan kita mau menorehkan sejarah di tingkat dunia di bidang pendidiakn dan riset, sementara masalah pokok saja, masalah pangan saja masih belum selesai?

“Sungguh teramat banyak PR kita Pak! Jangankan untuk meraih hadiah Nobel, untuk satu kata jujur saja, kurikulum nasional Indonesia kita belum mampu mencapainya. Buktinya korupsi dan KKN tumbuh subur, ini semuanya adalah musuh kemajuan bagi bangsa besar ini.!”

Pak Jokowi Yth, Legowolah, Pemilu 2019 Pak Prabowo Pemenangnya!

Saya tidak ikut dalam panitia pemilu apapun, tapi tetap dengan intensif memantau kondisi. Jujur, saya merasa capek, waktu saya sangat tersita. Saya yakin semua rakyat Indonesia mengalami hal yang sama. Mari kita sudahi dengan dewasa proses pemilu tahun ini, karena sudah jelas nyata bahwa Pak Prabowo adalah pemenangnya.

Buktinya apa?

1. Kampanye Bapak Prabowo dan pasangannya, selalu ramai di mana-mana. Rakyat datang dari keinginan pribadi, tanpa ada paksaan, tanpa nasi bungkus dan uang, dan tanpa mobilisasi dari pihak mana pun. Ada banyak rakyat yang menyumbangkan uang, padahal mereka hanya orang biasa. Suara yang datang dari hati rakyat, adalah murni dari Allah. Allah yang menggerakkan pribadi masing-masing mereka untuk memilih Bapak Prabowo. Untuk itu mari kita hargai Pak. Sementara kampanye pak Jokowi hampir selalu sepi, dan kadang rakyat didatangkan dari daerah lain, diberi nasi bungkus, uang, baju kaus, dan lain lain, artinya mereka memilih bukan karena murni dari hati nuraninya.

2. Data C1 yang banyak dilaporkan dari teman teman dan kolega di tanah air di dunia maya, mayoritasrakyat memilh 02. Ini data yang tidak bisa dibohongi. Dan inilah sebenarnya yang dijadikan acuan untuk menentukan angka persentase pemenang. Katanya server KPU kena hantam, artinya data sudah bukan yang sebenarnya. Quick Count memenangkan Bapak Jokowi, ini akan menyebabkan malapetaka, karena dari mana angka itu? Sementara rakyat punya data asli, dimana-mana Bapak Prabowo mayoritas menang.

Pak Jokowi Yth, mari mengakui kemenangan Pak Prabowo. Sebaiknya Bapak berpidato di depan rakyat Indonesia, dan menyatakan dengan fair bahwa pemenangnya adalah Bapak Prabowo Subianto. Sikap ini akan lebih terhormat ketimbang Bapak terus membiarkan kondisi yang berkembang di mayarakat. Saat ini karena rakyat sudah melihat nyata bahwa KPU memihak salah satu calon, dan ada indikasi banyak kecurangan pemilu, (kotak suara yang ditemukan sudah tercoblos untuk 01, banyak pemilih 02 yang tidak bisa mencoblos, dan data yang muncul memenangkan Bapak Jokowi), tentu rakyat protes. 

Sebagai perjuangan berjamaah, rakyat pendukung 02, sibuk meminta bantuan tim luar negeri dalam menghadapi pemilu yang penuh kecurangan ini. Ini adalah aib negara kita Pak Jokowi. Negara luar akan tahu bahwa kita tidak mampu mengurus negeri sendiri. Dan tentu yang jelek adalah Pak Jokowi, karena pemilu kali ini terjadi pada masa kepemimpinan Bapak.”

Terkait ketidakjujuran selama proses pemilu, ini semuanya bukan salah Bapak, tapi yang salah adalah sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia. Kita perlu merubah sistem pendidikan kita, dimana pelajaran moral, akhlak dan karakter anak harus sejak dini ditanamkan kuat, sehingga saat dewasa semuanya tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang jujur. Dan untuk hal ini Jepang adalah pionirnya di dunia.

Hiruk pikuk pemilu dan ketidakjujuran penghitungan suara, adalah tamparan hebat untuk bangsa Indonesia. Dunia tahu aib bangsa kita. Untuk itu kepada Bapak Jokowi tampillah untuk berpidato, untuk menyatakan bahwa Bapak Prabowo adalah pemenangnya. Karena hanya dengan sikap kenegarawan Bapak yang bisa menyelamatkan kondisi saat ini. Kami tidak ingin terjadi pertumpahan darah, pertikaian dan perseteruan hebat.

Saya mengucapkan terimakasih selama Bapak menjadi Presiden, selanjutnya pekerjaan atau janji-janji kampanye Bapak pada tahun 2014 yang mayoritas tidak dilaksanakan, mari kita titipkan kepada Bapak Prabowo untuk membereskannya. Juga terkait pekerjaan yang belum beres kata Bapak pada saat debat presiden, maka insyaAllah akan dibereskan oleh Bapak Prabowo.

Mari Pak, kita tempatkan kepentingan bangsa dan keutuhan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Saya menunggu pidato resmi Pak Jokowi yang menyatakan legowo dan menerima kekalahan atas Pak Prabowo. Biasa saja Pak, dulu Bapak sudah dinyatakan menang, sekarang mari berikan kesempatan kepada Bapak Prabowo, karena mungkin KPU tampaknya sulit mengumumkan, karena servernya kena serangan. Sementara rakyat punya data original, dimana Bapak Prabowo unggul di banyak propinsi.

Untuk Bapak Prabowo Selamat, Bapak Sebagai Presiden RI 2019-2024
Selamat Pak, Bapak adalah pemenang pemilu tahun ini. Kami mohon Pak, bekerjalah untuk kemajuan dan kenyamanan hidup rakyat. Jangan berkuasa untuk kepentingan pribadi dan orang orang di sekitar Bapak. Ada banyak anak bangsa cemerlang di luar negeri yang Bapak berdayakan untuk mengejar ketertinggalan kita selama ini.

Saya mengusulkan kepada Bapak, poin pertama yang harus Bapak perbaiki adalah “Sistem pendidikan kita. Jepang bisa maju dan punya karakter yang baik secara nasional karena sistem pendidikan yang ia jalankan. Tanamkan moral dan kepribadian sejak dini dengan metode action, kedua;  mengggali potensi anak semaksimal mungkin sejak dini, potensi apa saja, di berbagai bidang. InsyaAllah bila kedua poin di atas diterapkan, maka kita bisa menjadi negara yang kuat kepribadiannya, dan mempunyai potensi diri yang baik di berbagai bidang. InsyaAllah akan ada peraih nobel dari Indonesia nantinya. Aamiin YRA

Karena kejujuran sangat mahal di Indonesia, maka untuk manusia dewasa yang sudah bekerja di berbagai bidang, saya menyarankan ada metode yang diterapkan untuk semuanya ditempa menjadi pribadi yang jujur. Tanpa kejujuran semuanya akan berantakan. Korupsi adalah berawal dari ketidakjujuran, korupsi adalah musuh negara, akan menghambat kemajuan negara. Tampaknya mayoritas kita bangsa Indonesia, wajib mengambil pelajaran moral setara dengan kurikulum di SD di Jepang, karena di negeri Oshin ini, pelajaran moral sudah khatam (tamat) di SD. Jadi sangat malu kita pada anak anak SD di Jepang, karena moral mereka lebih baik dari moral manusia dewasa Indonesia (mereka) yang tidak jujur.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Jumiarti Agus
Ketua Internasional ACIKITA (www.acikita.org)
Pejuang perubahan sistem pendidikan Indonesia
Pendidik, peneliti, penulis dan pemateri.
Anak bangsa yang ingn Indonesia maju.
Kobe, 19 April 2019

Sunday, 10 March 2019

Terapi Air Hujan

Ternyata ketika cuaca diluar hujan bawaannya ngantuk? Ini jawabannya, namun ada hikmah lain dari hujan .. Maka janganlah mencela hujan, Allah sudah firmankan dalam QS. Al anfal : 11,

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَا مَ ۗ 

"(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)."

Selain itu dari firman di atas, menjadi alasan  moms untuk tidak khawatir anaknya hujan2an, karena ada faedah di dalamnya.  Coba lakukan terapi air hujan dengan meminum air hujan dan mandi hujan, Caranya sederhana, 15-20 menit setelah hujan turun, tampung air hujan yang turun dari langit dengan wadah. Tidak boleh menampung air cucuran hujan dari atap, karena air tidak lagi suci dan bersih, bisa jadi air sudah bercampur dengan karatan yang ada di atap. Lalu, minum dan gunakan juga air hujan itu untuk mandi.

Berikut ada testimoni salah satu pasangan yang mengikuti terapi air hujan ini :
"Saya dan pasangan sudah dua tahun lebih menikah dan belum memperoleh keturunan. Kami sepakat mencoba terapi air hujan. Ketika hujan, saya dan istri tidak hanya menampung hujan, kami juga mandi hujan berduaan dengan cara menaiki motor, tanpa helm dan berkeliling komplek. Cukup romantis kan?😁 Saya amati awan yang sekiranya akan turun hujan agak besar dan berlangsung agak lama. Lalu kami bersiap naik motor dan byur menyatu dalam hujan .. Dan alhamdulillah setelah menjalani terapi ini selama beberapa bulan istri saya hamil.

Allah tau seberapa besar niat kita dan seberapa besar upaya kita meraih sesuatu.  Ok! Semangat mencoba ..

Saturday, 2 March 2019

DAHSYATNYA SENTUHAN (HAPTIC)

Pengalaman ini didapat dari ruangan praktek Prof.Dr. Djauhar Ismail,SpA, MPH, PhD. di klinik tumbuh kembang RS Sardjito, dari  Ummu Nugtha.

Tidak lama saya berada di ruangan ini hanya sekitar 20 menit, namun luar biasa tamparan besar buat saya, karena kekurangsyukurnya saya, karena kesombongan saya, karena keterlenaan saya.

Ruangan klinik tumbuh kembang masih sepi hanya ada 3 pasien..

Sudut pandangan yang pertama, duduklah saya disamping seorang ibu yang sangat muda menggendong babynya yang sepertinya microchepaly (ukuran kepala kecil) yang artinya membuat perkembangan motorik anak menjadi terganggu, di usianya yang sudah 9 bulan, dia belum sanggup mengangkat kepalanya. Yang membuat saya kagum si ibu ini hanya datang sendiri tanpa suami dan keluarganya. Padahal dalam keadaan demikian saya yakin perempuan butuh laki-laki.

Di sudut pandangan sebelah timur, tampak seorang ibu yang sudah kelihatan agak sepuh sedang menitah anaknya. Ya, anak itu sudah berusia 5 tahun tapi belum bisa berjalan, menurut sang ibu (sebelumnya saya kira neneknya) anaknya terdiagnosa down syndrome. Dan lagi-lagi ibu itu hanya ditemani oleh anak perempuannya yang masih SMA.

Di sudut pandangan depan saya, seorang anak sedang di terapi speech delayed. Dia masih kesulitan dan malas bicara padahal usianya sudah 4 tahun. Hanya ada 2 kata yang selalu diucap yaitu mamah dan maem. Dan sekali lagi tidak tampak sosok laki-laki di dekatnya, hanya ada mamah dan neneknya.

Tidak berapa lama, beliau datang dan meminta saya ke ruangan dan tidak sampai 3 menit urusan acc ujian beres, selebihnya kami banyak berbincang. Penasaran saya tanyakan makna dan maksud beliau memajang gambar "FATHER'S TOUCH".

Penjelasan beliau panjang lebar yang intinya saat ayah memeluk, menyentuh sesungguhnya ia sedang mentransfer kemampuan dan kemandirian pada diri anak. Selain itu aspek yang sifatnya berani berinteraksi dengan figur otoritas yang dimiliki ayah.
Hmmmm....dalem sekali maknanya.

Beliau mengatakan,
" Coba, njenengan lihat di ruangan ini mana anak yang diantar ayah, kakek atau om atau pakdhenya?.." hehee iya juga ya.

Tak heran jika banyak anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh sebagai pribadi yang tangguh. Tentu tak heran pula jika banyak para gadis kemudian berusaha mencari dan menikahi laki-laki pujaannya kelak yang memiliki sifat dan sikap seperti ayah yang dikaguminya.

Sedangkan pelukan dari ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak. Ibu itu figur afeksi, yang ketika anak sakit, ia akan memeluk anak maupun mengambilkan obat untuk anak. Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.

Ditilik dalam kehidupan nyata, ayah memang tak selalu intens dalam memberikan pelukan kepada anak.

Bisa jadi, ayah yang sulit memeluk dulunya juga mungkin jarang dipeluk....(ehmmmm.....)

Karena si ayah tumbuh dan berkembang jarang dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya. Tetapi kalau ia biasa dipeluk, ia akan memeluk anaknya. Dalam penelitian yang dirilis dalam buku The Miracle of Hug, mengungkap bahwa pelukan orangtua kepada anaknya dapat membangun konsep diri yang positif, mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas atau frustasi, serta meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak.

Dengan pelukan pula, anak akan merasa dicintai dan dihargai. Anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan, pelukan saat inisiasi dini, sesaat setelah bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme yang membuat daya tahan tubuh bayi semakin kuat.

Tak perlu khawatir dengan mitos yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat pelukan akan menjadi cengeng. Lupakan paradigma kalau anak saya laki-laki harus bermental kuat, kalau dipeluk-peluk nanti melempem.

Enyahkan pikiran kalau anak saya cuman perempuan satu-satunya ini, dengan didikan "kenceng" supaya dia mandiri tidak manja. Tegas, mandiri, kuat tidak harus dibentuk dengan kekerasan (verbal atau fisik sekalipun).

Banyak pakar yang sudah ber-quotion bahwa sentuhan dan pelukan orangtua kepada anaknya sungguh memiliki kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki obat-obat ciptaan dokter di dunia.

Jadi, siapkan sentuhan dan pelukan terbaik untuk anak-anak tersayang. Minta maaflah dan istighfarlah sudah sering bertindak "kasar" kepada anak-anak.

Monday, 4 February 2019

MANIFESTASI KEINGINAN BIAR CEPAT TER REALISASI DALAM KACAMATA VIBRASI RASA

Oleh Lia Kurniawati


Setiap kita pasti punya keinginan apapun bentuknya dan kadang keinginan ini diucapkan secara sadar melalui lisan, dalam ritual doa, atau terbersit dalam hati. Sesuai judul manifestasi keinginan agar cepat terealisasi. Kata manifestasi adalah perwujudan jadi keinginan mewujud itu menjadi kenyataan, keinginan itu sesuatu yang ada di dalam, sedang realita adalah seuatu yang terjadi  di luar sedangkan manifestasi adalah proses dari dalam menuju realisasi.

Banyak dari kita berpikiran bahwa mewujudkan keinginan jalur perwujudan dari keinginan,  dari doa2 kita hanya satu jalur, jalur yang mungkin kita anggap reguler atau pada umumnya. Misalnya anda lagi sakit pengen sembuh, kalau jalur reguler ya sakitnya berkurang-berkurang dan berkurang langsung sembuh atau sakitnya hilang. Kasus lain ketika banyak hutang, bayar, bayar tiba-tiba tau tau udah lunas aja. Atau perhatian anda ingin umroh, anda sudah buka rekening tapi tak jua bertambah eh tau-tau ada rejeki nomplok langsung bisa pergi umroh.

Padahal jika kita mengamati dengan baik, ada jalur yang tidak banyak disukai oleh kebanyakan orang padahal jalur ini sering terjadi dan ini merupakan satu pilihan yang tidak bisa dihindari apabila kita menginginkan sesuatu dimana kita belum pantas. Biasanya akan diarahkan pada jalur ini bukan ke jalur reguler atau sama dengan ketika anda menginginkan sesuatu dalam berdoa kayak minta baju, misalnya anda minta baju ukuran XL sementara Tuhan melihat badan anda kecil, lain  karena kita tidak mau mengganti doa atau keinginan kita tetap memilih XL maka tidak ada opsi lain untuk  Tuhan mau tidak mau membesarkan badan anda supaya ukuran baju XL yang anda minta muat dipakai oleh anda. Atau sebaliknya permintaan baju kita ukuran S sementara tubuh kita gede, maka tidak ada pilihan lain bagi tuhan mengecilkan tubuh kita biar pas dengan ukuran bajunya.  

Keinginan itu kudu pas, keinginan itu seperti baju jadi kita kebesaran atau kekecilan, na ini kudu pas! ketika permintaan ini pas dengan kepantasan kita itu seperti badannya sesuai dengan baju yang kita pakai.   Tapi ketika anda meminta baju yang tidak relevan ukurannya, maka yang sering terjadi anda akan dipantaskan melalui jalur manifestasi non reguler atau jalur ekstrimisasi.

Jalur ekstrimisasi itu satu mekanisme atau manifestasi doa yang sedang di alami oleh orang tersebut itu di pentokin sampai titik maksimal baru akan berbalik pada sebuah jalur yang anda harapkan. Contohnya ketika anda punya utang kemudian minta dilunasi, misalnya
Ada dua jalur manifestasi (proses) keinginan atau manifestasi doa,
  1.       .   Ketika meminta kudu siap apa yang pantas dengan kita
  2.        .  Ketika menginginkan sesuatu maka kita akan dipantaskan dengan ektremisme kejadian-kejadian yang anda hadapi.

Tidak ada keinginan yang tidak didengar, tidak ada keinginan yang tidak dikabulkan oleh Allah semuanya diproses, semuanya dimasukkan dalam manifestasi hanya saja jalurnya tidak  selalu kita harapkan tapi bisa juga melalui jalur kepantasan. Intinya sabar dan ikhlas.

Sunday, 3 February 2019

GAGAL FAHAM, FIKSI YANG BERURUSAN DENGAN POLISI




Oleh : Lia Kurniawati

Fiksi dan non fiksi akhir-akhir ini mencuat begitu pongah di permukaan jagad daring hingga banyak program berita gosip membanjiri kontennya dengan berita ini. Padahal kedua kata ini sejatinya akrab dengan para penulis, editor, penerbit dan yang berkecimpung dalam dunia penulisan. Dulu sekali dan mungkin saat ini anak-anak di sekolah SMP-SMA mengenal juga. Ini salah satu pengalaman saya jaman SMP kayaknya, salah satu guru Bahasa Indonesia saat itu bilang  bahwa FIKSI itu akar katanya FAKTA. Jadi karangan penulisan FIKSI itu berdasarkan fakta-fakta yang ada. 

euh! entah karena sama-sama berawalan F sehingga pemahaman yang melekat di benak saya FIKSI itu sama dengan FAKTA. So, ketika seorang Rokky Gerung menyoal kitab suci itu Fiksi saya mengiyakan dengan asumsi di atas. Entah dia baca kitab suci yang mana? Quran, bibel, ataukah yang lainnya. Dan satu hal lagi awang-awang saya menyimpulkan kalau fiksi itu berkaitan dengan sastra dan sastra itu sudah pasti indah, dan tentunya Allah menyukai keindahan kan?! Contohnya banyak surat-surat yang Allah wahyukan dalam al Quran bernada indah seindah sastra. Ini saya kutip dari guru ngaji subuh saya KH. Uman Syahruman. Buktinya apa? Coba buka QS. Az-zalzalah pasti setiap akhir ayat akan berakhiran sama ... aha.

Idza zulzilatil ardu zilzaalaha, wa akhrojatil ardhu ashqoolaha .. kurang lebih saya simpulkan mirip pantun. Masih banyak keindahan sastra yang termaktub di dalam al quran.  Itu bukti bahwa Allahpun Maha epik dalam sastra. Dan fiksi-sastra dn keindahan sungguh suatu hal yang mengenyangkan, menyenangkan dan mengindahkan.

Ternyata kaget juga kenapa dari sebuah kata “Fiksi” lantas berurusan dengan polisi, bikin saya penasaran, lalu saya googling apa itu Fiksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), oalaaah ternyata saya sewaktu SMP gagal faham kah ataukah guru yang mengajar salah menyampaikan?!  Menurut KBBI, Fiksi itu ternyata fiktif alias cerita karangan (roman, novel dsb), rekaan, khayalan, tidak berdasarkan fakta, atau pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan dan pikiran.

Hmm .. menurut tokoh yang mendadak viral itu “Kitab suci itu fiksi ...” patut ditelaah atau dipertanyakan beliau itu sudah baca kitab suci apa, sehingga dapat menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi? Jangan-jangan dia nggak baca kitab suci al quran? Artinya mengapa dia bisa menyimpulkan bahwa kitab suci itu fiksi, karena apa yang ada dalam benak kita sebagian besar merupakan hasil dari membaca. Dan bisa jadi dia berkesimpulan begitu jangan-jangan dia membaca kitab suci yang lain selain al quran atau persisnya tidak membaca kitab suci al quran. 

Ahli filsafat Indonesia menyampaikan bahwa pemahaman filsafat sebenarnya masih rancu untuk dikategorikan ke ranah yustisi (hukum), karena  filsafat berkaitan dengan penembangan pemikiran dan masing-masing orang berbeda sudut pandang, berbeda menafsirkan.  
Bahasan selanjutnya untuk kata non fiksi, ternyata tulisan bergenre ini adalah berkategori non fiktif artinya berdasarkan fakta contoh luaran sastranya cukup banyak dijumpai salah satunya artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, atau disertai. Selain itu banyak buku-buku non fiksi populer lainnya sepeti bibliografi seseorang, feature, buku pelajaran dll.

Jika kisah seseorang di tulis dalam bentuk novel lalu bergenre fiksi ataukah non fiksi?
Contoh novelnya Laskar Pelangi .. yang bisa jawb sila isi di kolom komentar ya.
Jadi simpulannya bahwa ketika kita bercelotehpun sudah seharusnya kita paham apa yang sedang dibicarakan, kemudian tidak salah menafsirkan. Sang penafsirpun sesungguhnya sedang mengemukakan data-data yang sudah terinput sebelumnya. dan intinya setiap individu bebas menafsirkan namun sepakati bersama simbol-simbol atau tanda-tanda yang dikomunikasikan agar potensi “berseberangan pendapat” mampu diminimalisir..

Saturday, 26 January 2019

BAPAKKU


BAPAK

Oleh : Lia Kurniawati

Nyut-nyut ... kepala rasanya pusing tujuh keliling makin lama makin berasa, hasil pemeriksaan dokter dari klinik semalam terkena vertigo katanya. Tapi yang pastinya karena banyak pikiran, terutama mikirin Bapak, orangtua satu-satunya yang masih hidup setelah lama ditinggal ibu.

Bukan lagi menjadi pikiran kami berempat anak-anaknya. Aku, Aa, teteh, dan Neni si bungsu sangat sayang pada bapak. Bapak yang ganteng, berparas enak dipandang para perempuan kalau bahasa anak-anak sekarang “good looking” katanya. Kelakuan Bapak, seringkali membuatku jengkel sekaligus buatku tertawa kecil jika mengingat kelakuan-kelakuannya yang sesekali terlihat konyol.
Satu hal kekurang ajaran sekaligus kelebihan bapak yaitu selalu “laku” aja ke perempuan manapun. SETIA, Setiap Tikungan Ada! Bukan setia dalam arti sesungguhnya.  

Teringat almarhumah ibu, saat itu hidupku dan kakak adikku terlantar gara-gara Bapak nikah lagi ke Ibu Gede, wanita karir yang punya kedudukan di militer. Saat itu pangkat ibu di militer bukan pangkat ecek-ecek. Sudah sampai pangkat Letnan Kolonel. Sedangkan bapak? Hanya seorang tenaga keamanan di beberapa pabrik tekstil. Bisa disebut juga jeger barangkali, karena punya pengaruh yang besar jika berada di lingkungan pekerjaannya. Jeger terhormat lebihnya, karena dari gaya bapak berkomunikasi dengan lingkungannya terlihat bijak dan elegant. Mungkin itu salah satu daya tarik bapak.

Ibu Gede ngga tahu kalau bapak meninggalkan anak-anaknya kami berempat, dan istri yang mendadak pesakitan.  Kami panggil ibu gede karena ibu terlihat penggede, berharta dan punya wibawa yang luar biasa. Katanya saat menikahi ibu Gede pun hajatnya luar biasa rame, sebab ibu Gede yang membiayai. Kayaknya ibu gede sangat mencintai bapak. Pastinya ibu gede tidak mendapatkan apapun dari bapak, atau sekedar diberikan hadiah mas kawin. Semuanya di tanggung dari Ibu Gede.

Aku yakin, bapak “MoKonDo” alias Modal Kon**l Doang! Yang buatku tidak habis pikir, pelet bapak bener-bener jitu!  Mendapatkan perempuan manapun kaya dan mapan sangat piawai bapak lakukan.

Teringat Wali kelasku saat SD kelas empat, Ibu Irus namanya, suka ngedadak kecentilan jika sesekali bapak mengantarkanku ke sekolah. Selanjutnya aku seringkali melihatnya di bonceng bapak, selanjutnya lagi aku sering mendapatkan hadiah tas, sepatu atau baju dari Bu Irus. Namun tragis waktu aku menginjak kelas enam, ibu Irus meninggal karena penyakit liver.
Kalau saja saat itu aku sudah berpikir dewasa, sudah bisa menduga ada peran bapak disana, peran bapak yang menyebabkan Bu Irus punya penyakit berat. Liver, tentunya hati bu Irus terlalu menanggung sesuatu dari bapak yang menyebabkan ia tak bisa bertahan. Bisa jadi rasa yang ia miliki pada Bapak hanya bertepuk sebelah tangan, atau mungkin terlalu banyak di bodoh-bodohi bapak yang menyebabkan tumbuhkan penyakit hati yang sedang  lara. Entahlah aku tak tahu.

Ibuku pun sepertinya begitu, akhirnya meninggalkan kami lebih dulu. Tinggal berempat, memperjuangkan nasib  kami sendiri-sendiri tanpa hadirnya bapak. Tinggal di rumah nenek yang sangat besar masih satu keberuntungan buat kami, setidaknya kami punya tempat untuk berteduh. Aa yang saat itu baru menginjak kelas tiga STM nyambi jadi tukang ojeg, sedangkan teteh keluar dari sekolah lebih memilih bekerja di pabrik. Dan aku baru menginjak kelas tiga SMP mengatur keuangan yang diberikan oleh Aa hasil dari ngojeg dipakai modal membuat bala-bala dan es teh manis, dibawa ke sekolah. Jual paksa ke teman-teman supaya mereka membeli daganganku. Sedangkan Neni,  ia ku tugaskan membawa dagangan untuk dititipkan di warung Bi Onah. Kantin kecil di sekolah.

Rupanya saat itu bapak sudah melupakan kami, empat jiwa yang akan dijadikan pertanyaan dan tanggung jawabnya di akhirat kelak. Bertemupun hanya sesekali dan itupun hanya sebentar. Boro-boro menafkahi, sekedar memberikan kami uang jajan sekalipun sepertinya tak terpikirkan, sesekali keliatan aku lewat  depan rumah Bu Gede pun langsung kena damprat.

“Jangan pernah liat-liat apalagi dekat-dekat rumah bapak, nanti ibu Gede marah!” hardiknya
Oh, jadi aku baru tahu kalau bapak takluk juga sama bu Gede, kayaknya karena Ibu Gede punya pangkat dan temperamental. Semenjak itu, aku sama sekali nggak pernah iseng-iseng mengunjungi rumah bapak. Biarin dianggap nggak ada juga!

Hubungan persaudaraan kami semakin erat, kami saling membantu satu dengan lainnya. Manis pahit bersama sangat berasa dan berarti untuk kami.

Aa kerja keras mencari tambahan penghasilan kesan kemari, bantu-bantu di bengkel si Uda, jadi sopir tembak si Abang. Begitu keluar sekolah sempat menganggur satu tahun lamanya kehidupan kami sedikit oleng karena Aa belum berpenghasilan tetap.

Dasarnya Allah Maha Penyayang, dan mungkin faktor keberuntungan memayungi kami melalui Aa. Kakak terbaik sedunia ku ini lulus diterima di akademi militer. Saat mendengar kabar gembira tangis haru tak lagi bisa kami bendung. Aa merangkul kami erat seraya bercucuran air mata tanda bahagia setelah perjuangan kami membuahkan hasil.

Allah maha membolak-balikkan hati umatnya. Sejak kejadian itu Bapak mulai sadar, memperhatikan kami. Mulai sering mampir ke rumah nenek. Ibu Gede sekarang tahu bahwa lalaki gagah perkasa dambaannya dunia akhirat, punya anak empat yang mulai beranjak dewasa.
Ibu Gede tak terlihat marah saat mengetahui bapak sudah punya kami, tidakpun merasa dibohongi oleh bapak .. yaa mungkin karena sudah dinikahi bapak, laki-laki ganteng yang selalu beruntung mendapatkan wanita manapun!.

Roman mukanya terlihat sumringah kala hari lebaran kami mengunjungi rumah Ibu Gede, kami bertiga sebenarnya enggan mengunjungi mereka mengingat perlakuan mereka yang jelas-jelas menelantarkan kami sedari kecil. Tapi hatiku dan adik-kakakku selain Aa luluh juga berkat rayuan Aa,

“Buruk buruk papan jati, meskipun busuk tetap Bapak tangkal derajat buat kita anak-anaknya, yang patut dihormat dan diminta doanya buat kesejahteraan kita” begitu kata Aa.

***

Pendek cerita, ibu Gede tahu mengenai Aa yang lolos di Akademi militer dan Ibu gede sangat mendukung kemajuan Aa. Bukan hal yang sulit baginya untuk menempatkan Aa pada posisi yang aman dan nyaman karena memang ibu berpangkat dan disegani di kantornya.

Tahun berganti tahun Aa lewati hanya untuk memperhatikan dan mengurusi kami, mengurusi sekolah-sekolah kami adik-adiknya sampai kami lulus dan masing-masing berumah tangga, namun tidak dengan Aa dan Teteh. Aa terlihat enggan menjalin hubungan dengan perempuan.

Aku dinikahi kang Maman, laki-laki sholeh terbaik se alam dunia yang Allah kirim, sikapnya penuh perhatian, tanggungjawab, sangat mengayomi, baik dan tak pernah macam-macam, kelakuannya sangat jauh dari mertuanya. Begitupun Neni, sikap suaminya tak beda jauh dengan Kang Maman. Hanya sayang, Teteh seperti yang trauma, dua kali dipinang, dua kali itu pula Teteh menolak. Dua kali berencana menikah, dua kalipun digagalkan. Hatiku sedikit peri mengingat umur teteh menjelang tua. Tetanggapun melabeli teteh perawan tua. Oleh karenanya teteh lebih memilih karier daripada mengurusi dan memperhatikan kehidupan pribadinya.  Bahkan sudah menempati jabatan tertinggi di perusahaannya.

Dan Aa, beberapa bulan terakhir terlihat menggandeng perempuan namun sayang terlihat ragu-ragu untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
“Aa, ayo cepet nikah!, Kan adik-adik Aa semuanya sudah ada yang tanggung jawab, perkara teteh biarkan saja ngga usah terlalu dipikirkan. Teteh bisa jaga dirinya sendiri.”
“Masa terus-terusan membujang! Nggak baik.”
“Takut nggak sayang ke adik-adik Aa”
“Ih. Enggak dong A! Nggak mungkin Alloh memberikan jodoh yang tidak sekufu dengan Aa. Kan Aa juga baik, pasti Alloh menghadiahi Aa istri yang baik juga buat mendampingi Aa.”

Selang setahun sejak saat itu, Aa memutuskan menikah. Hanya saja Aa terlalu mengkhawatirkan kami, sampai menitipkan pada istrinya untuk tetap mau berbagi, memberikan perhatian, rejeki dan asupan materi lainnya dari Aa sebagai bentuk kasih sayang. Syukur tiada terkira ternyata istri Aa pun perempuan sholehah, begitu tahu bahwa suaminya menjadi tulang punggung dan sandaran adik-adiknya, tidak pernah susah untuk membantu kami. Alhamdulillah, kami berempat diberikan nikmat rejeki berlimpah tak kekurangan suatu apapun.

Menyoal Bapak, selalu saja ada cerita. Awal tahun kemarin, ada perempuan umur sembilan belas tahun datang ke rumah. Gendong bayi, sambil menangis menyampaikan bahwa dia istri bapak dari Kota Surabaya. Padahal dua bulan sebelumnya tukang warung nasi di terminal, sengaja menemui Aa di kantor, ngaku sudah dikawin siri Bapak.

Ya Alloh Bapak! Bapak! Bentar-bentar nikah  dan parahnya lagi sembari ninggalin anak. Yang anehnya koq bisa-bisanya nyembunyiin itu semua dari kami.

Tukang warung nasi bercerita ke Aa, sudah lima tahun jadi istri bapak, dan anaknya sudah masuk TK sekarang. Dan yang datang ke rumah tempo hari mahasiswi semester dua! Katanya tergila-gila oleh Bapak makanya mau dinikahi juga.

Anehnya, diantara kami nggak ada yang berani menasihati Bapak, Punya kekuatan apa ya sampai Bapak begitu? Sampai kehabisan kata-kata jika aku terus memikirkan kelakuan Bapak. Terkadang melihat ekspresinyapun tatkala kami pergoki perempuan demi perempuan yang bapak nikahi, tak ada roman-roman penyesalan apalagi merasa berdosa. Sampai kamipun menyerah nggak ada sisa rasa kesal ataupun benci untuk Bapak. Hanya sebatas gemes dan geregetan. Selebihnya hanya rasa sayang yang ada di hati kami.

Aa hanya mampu menghela nafas,
“biarin Aa yang ngurus adik-adik anak-anak bapak dari istri-istrinya, kasian! daripada Bapak nggak tanggungjawab. Kita semestinya bisa berpikir lebih dewasa lebih mampu memberikan kasih sayang pada mereka. Kan darah yang ada di tubuh merekapun sama dengan darah yang mengalir di badan kita.”

“jangan sampai mereka merasakan kepedihan yang sama saat kita ditinggalkan Bapak dulu”
Sejak hari itu, Aa rajin mentrasnfer biaya untuk adik-adik dari istri-istri baru Bapak.
Kelakuan Bapak yang begitu rupa, membuat migren dan sakit kepalaku tak kunjung sembuh.
Bagaimana tidak! Aku juga perempuan, ikut merasakan pula apa yang terjadi pada perempuan-perempuan itu. Perempuan yang takluk dalam pelukan Bapak.

Tapi malah Bapak sendirinyapun cuek, berewek nyengled! Nggak peduli apa yang telah ia lakukan. Malahan akhir-akhir ini seringkali ikut menginap di rumahku. Iya, rumah nenek yang aku cicil perbulannya untuk menjadi milikku dan Kang Maman dengan membayar melalui ahli warisnya yang lain.

Pagi itu, memberanikan diri sambil menyodorkan kopi bertanya pada Bapak,
“Bapak, kenapa nikahin perempuan terus?!, ibu Gede tau nggak soal ini?”
“bukan salah Bapak koq! Perempuan iu yang maksa pengen dinikahi Bapak, Bapak suka nggak tegaan.”

“ibu Gede nggak tahu soal ini, kalau saja sampai tahu pasti marahnya luar biasa. Makanya jangan sampai ada yang berani ngomong sama ibu, nanti Bapak kena marah! Biarin aja ga tau ini koq!”
Ringan banget jawabnya bapak, sampai gemes aku dibuatnya.
“Bapak cinta sama Teh Elas yang di terminal?”

“Nggak lah!, Cuma kasian suka di gangguin para sopir-sopir dan para jeger terminal, kan kalau sudah hafal Teh Elas istri Bapak mereka nggak bakalan berani kurang ajar lagi.”
“Kalau sama Rini? Mahasiswi yang pantesnya jadi adik Nani?”
“Rini nggak punya ayah dari bayi, katanya nyaman kalau ketemu dan ngobrol bareng Bapak. pernah sekali nganter ibunya ke rumah sakit, tadinya suka sama ibunya tapi anaknya malah lebih lengket ke Bapak. Yaudah kepaksa di kawin aja, sayang juga ... cantik anaknya.”
“Bentar! Jadi selama ini ibu gede nggak tau kalau Bapak beristri lagi?”

“Ya nggak dong! Kan Bapak tiap malem jaga paberik, tentunya sangkaan ibu ya Bapak lagi dines . makanya kalau kalian semua sayang Bapak, udaaaah diem aja nggak usah banyak omong!”

Hhhmmm... jadi Bapak takut juga sama ibu Gede. Pantesan dulu saat sedang rumah tangga dengan ibu tega meninggalkan, tega juga meninggalkan kami yang kecil-kecil dan masih butuh biaya demi ibu Gede. Perempuan yang sangat besar sekali pengaruhnya. Tapi tetep aja ternyata Bapak tergolong Susis (Suami Sieun (Takut) Istri.

Tapi sayangnya ketakutan Bapak terhadap ibu Gede tak menjadikannya laki-laki setia, masih tetep saja tergoda perempuan-perempuan di luaran sana. Apalagi yang menjadi istri-istrinya yang baru cantik-cantik dan merekapun bisa mapan hingga Bapak tak perlu repot-repot menafkahi mereka. Cukup meniduri dan meninggalkan darah dagingnya.

***
Teringat dongeng nenek dari Bapak, dulu kakekpun sama seperti Bapak. Beristrikan duabelas orang dan kesemuanya nggak ada yang minta cerai atau diceraikan semuanya berpisah karena ajal.
“Apa Aki punya jimat khusus buat menaklukkan perempuan, nek? Terus ilmunya diturunkan ke Bapak?”

Nenek hanya mesem, tak banyak bicara.   

Tapi yang aku lihat di diri Aa, laki-laki yang sangat setia sama istri. Sepertinya darah ibu yang mengalir pada diri kami semua. Sesekali rasa khawatir menghinggapi memikirkan Kang Maman, dari segi fisik sama seperti Bapak, berparas cakep berperawakan ganteng jika sekali melewati kumpulan ibu-ibu muda tak pelak seribu mata memndang berusaha menggoda. Tapi dasar Kang Maman suami sholeh, tak sedikitpun bergeming, malah seringkali menenangkan pikirku.

“Masa akang tega menyakiti Neneng, jangan samakan akang dengan Bapak. Biarkan saja Bapak begitu memang kebutuhan dan kemauannya begitu. Jangan terlalu mikirin Bapak.”
“Tapi sepuluh tahun kita berumah tangga, tak juga diberikan keturunan. Neneng khawatir Kang. Kali aja akang penasaran atau kesepian ingin memiliki anak.”

“Cukup mendengarkan suara Neneng yang cerewet saja akang sudah bahagia dan tenang. Atau gimana kalau kita ambil anaknya Rini, istrinya Bapak yang masih mahasiswi kasian katanya belum membereskan skripsi?”

“Lah, nanti malah akang cinta Rini gimana?”
“ih! Ya nggak dong. Masa suka sama istri mertua! Takut neeng.”
Tawa kamipun lepas, sejenak vertigopun menghilang entah kemana.

Pajajaran, 26 Januari 2019




Tuesday, 8 January 2019

BABAK BARU

Dua kali adzan seolah mengharu biru menyambut datangnya malam.  Langit terlalu kelam kala lembayung lama sekali meninggalkan semburat bias awan. Sebuah teras balkon lantai dua sebuah apartment sewaan mulai akrab ditapaki kedua bilah kaki. Basah, bukan lagi becek! Aku terlalu berani menanggalkan sandal di lawang pintu sana demi sebuah penghormatan lantai yang mulai licin tersapu lap pel.

Bekas-bekas semburat air hujan memenuhi lantai balkon,  dua laki-laki dan satu perempuan selainku sibuk beradu argumen. Dari arah mana lancangnya air hujan masuk ke dalam kamar, bahkan ruang tengah menyapa setengah mata kaki kami. Perlahan tapak kaki mulai terkoyak, tulangnya seolah berontak tak ayal menahan dingin .. Linu bercampur ngilu, yaaa rhematiku kambuh!

Pandangku nanar, menatap langit kelam tak ada sesuatu diluar sana yang layak jadi bidikan tatapan mata. Satu laki-laki yang setia berkawan dengan kami karena berbayar, sedang pria jangkung terlihat selalu ikhlas kala aku dan istrinya meminta bantuan tanpa pamrih.
Tetiba dinginnya sepi menyelimuti hati, entah mengapa?! Haruskah bersedih ataukah berbahagia? Berada bersama mereka, meski hampir sebaya tapi mereka selalu bersedia ada.

"Terima kasih Tuhan .. Kau kirimkan orang-orang yang peduli"  gumam kecilku tak kuasa menahan gelegak liur terpaksa harus ku telan.

Babak baru,
Selalu ada alinea baru dalam setiap lembaran buku! Rengkuhan langit malam mulai menjadi, adzan terakhir tak terdengar lagi ... bergegas kusambar tali tas rami untuk menggelayuti bahu, sedang leher botol air mineral yang tersaji di atas meja segera ku sambar seraya mengikuti pria jangkung menuruni tangga meninggalkan dua orang yang sedang bergegas pula.



SELERA YANG TAK BERSELERA

Terkadang atau bahkan seringkali dosa yang ngga kerasa itu salah satu diantaranya memaksakan selera kita untuk dapat diterima oleh orang lain. Penentuan selera pun bisa jadi bahan cemooh. Selera digabungkan dengan ego akan melambungkan sesuatu kebenaran mutlak, mutlak yang hanya ada dalam sudut pandang pribadi.

Semisal, menurut saya standard kendaraan on the road keluaran pabriknya sudah cukup untuk menunjang aktifitas saya, namun lain halnya dengan selera teman, adik atau kakak saya. Bisa jadi jika mereka memiliki kendaraan dengan type sama mereka akan mengubahnya dari sisi mesin, ataupun accesories lainnya. Dan ini kembali pada selera dan standard diri.

Namun selera dan standard diri ini akan bermasalah jika di bumbui ego memaksakan selera kita terhadap orang lain yang justru akan mengakibatkan hilangnya jati diri seseorang. Namun sudut pandang lain berbicara bahwa Selera dan standard diri bisa jadi berubah seketika oleh berbagai faktor, faktor dari dalam hati (internal) atau faktor rujukan (eksternal).

Kalau faktor internal ini didapatkan dari rangsangan audio (pendengaran), visual (penglihatan) atau keduanya (audio visual) melalui pengalaman dan hal ini menimbulkan sensasi senang yang bisa jadi akan mengubah satu standard utama ke standard yang lain atau mengubah selera.

Contohnya ketika saya melihat dan mengalami naik kendaraan wangi, bersih dan lega dalam imaginasi akan menimbulkan sensasi tersendiri yang nantinya akan teraplikasi jika saya punya kendaraan type A saya akan memilih perngharumnya merk ini, modifikasi bagian bodynya akan begini dan begitu.

Faktor kedua, penggabungan selera dan ego yang akan merusak/mengubah standard seseorang. Dan seringkali faktor ego ini dibumbui dengan "memantaskan" selera pribadi untuk diterapkan pada orang lain. Padahal tidak pantas dan tidak sesuai dengan citra pemilik ataupun standard seseorang tsb.

Lalu bagaimana hal tsb bisa terjadi?
Berikut beberapa faktor yang jadi "pendukung" perubahan keterpaksaan, diantaranya :
1. Keengganan mengungkapkan keinginan
2. Pihak kedua lebih mendominasi
3. Ketidak mampuan pihak pertama untuk "menolak"

Menolak, justru akan lebih baik untuk mengukuhkan eksistensi diri kita namun untuk beberapa type orang kesulitan untuk berkata "tidak" karena faktor masa lalu yang tak mengajarkannya secara masif.

Kembali pada selera, ego dan kepatutan seseorang akan sangat berbeda satu orang dengan lainnya dan ini akan menentukan standard seseorang terhadap sesuatu. Hargai diri kita agar tidak selalu menerima selera orang lain yang dipaksakan dengan berkata "tidak".

Mendapati orang lain kecewa dengan keputusan yang kita ambil untuk mempertahankan jati dan prinsip diri bukanlah suatu dosa.

Monday, 7 January 2019

Hutang

Hutang, sesuatu hal yang mau tak mau harus segera terbayarkan. Beruntungnya jika hutang itu berbentuk uang, ada limit waktu yang bernama jatuh tempo penanda penyelesaian satu urusan jika sudah tertunai.

Lain halnya dengan hutang budi, hutang dimana ia tak kan pernah terselesaikan karena tak ada tempo tertentu sebagai tanda pelunasan akhir dan lalu selesai sebuah urusan. Salah satu sifat manusia ialah seringkali merasa menyimpan jasa tertentu jika ini menyangkut soal hutang budi lebih parah lagi jika hutang budi ini digabungkan dengan hutang uang. Lengkap sudah penerima manfaat seolah tergadai jalan hidupnya pada si penghutang.

Jika penggabungan kedua hal ini terjadi, maka bersiaplah jalan hidup anda direcoki, pendapat-pendapat anda menguap begitu saja tanpa realisasi, dan anda tak punya kuasa lagi terhadap diri anda sepenuhnya. Lantas bagaimana jika sudah terjadi hal yang demikian?

Disarankan segera berdoa, ikhtiarkan dan niatkan pada yang maha kuasa untuk dijauhkan dari orang-orang yang dapat merusak kepribadian dan kehidupan anda.

"Saya sudah berdoa agar dijauhkan dari yang begitu, tapi koq masih saja dipertemukan dengan yang demikian?"

Sadari juga bahwa ada doa-doa (niat) anda terdahulu yang meminta didekatkan dengan orang-orang yang menguntungkan! dan mungkin orang yang hadir saat ini "berselimutkan" hutang budi dan hutang uang itulah yang menjadi jawaban dari doa-doa anda yang di aminkan semesta.

Tetap bersemangat untuk merajut kehidupan yang lebih baik, mandiri dan tanpa jeratan hutang. Berdoalah agar dijauhkan dan dilindungi dari orang-orang keras hati yang dapat mengubah jalan hidup anda.

Sepertiga malam
Bandung, 7 Januari 2019

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...