Tuesday, 27 February 2018

ANTARA HP dan KEHIDUPAN NYATA

Kehadiran media sosial dipermudah dengan berbagai aplikasi live nya, mulai dari facebook, instagram dan media sosial lainnya semakin memudahkan orang untuk mengenal orang lain merasa dekat, kenal dan terkoneksi langsung.

Beberapa keuntungan bermedia sosial itu yang sudah saya sampaikan di atas. Namun jika dilihat dari sudut pandang "Self Development Management" semua yang nampak di media sosial sejatinya tidak sepenuhnya menampakkan kehidupan seseorang. Karena tidak mungkin kita akan berbagi setiap sekuen kehidupan kita mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Sekuen-sekuen kehidupan yang dibagi untuk dinikmati jagad maya bisa jadi merupakan letupan-letupan prestasi kecil maupun besar, ataukah hanya sekedar menampakkan suasana hati secara tentatif.

Sensasi perjalanan kehidupan manusia akan lebih dapat dinikmati secara real life, bukan dari layar hp anda. Saya malah pernah berwacana dengan teman apa-apa yang terjadi di media sosial yang sedang viral justru pada kenyataannya semua adem ayem tak nampak hujat-hujatan yang nampak di layar datar.

Jadi dampak layar hp anda, tak seperti yang orang-orang bayangkan, bahkan masih banyak orang yang menghargai kehidupan nyata daripada hanya memandangi  dan berinteraksi dengan layar datar. Laman survey mengatakan bahwa masih terdapat 49 % manusia di dunia yang enggan bercengkrama melalui media semu.

Berinteraksi, bersosialisasi dan terkoneksi dalam hidup adalah suatu pilihan .. Masih banyak hal-hal yang tak bisa terungkap jika hanya memandangi, baper dengan layar datar hp anda ataupun saya. Selamat memilih  .. #bukan sesi pilkada 🙏

Monday, 26 February 2018

Mau, dan Bisa

Haduh .. Saya nulis ini yang ke-3 kalinya, tadi prolognya tentang suasana kampus dan sekarang suasana malam jelang tidur tapi saya sempatkan untuk menulis menyoal yang sesuai judul "Mau dan Bisa".

Meskipun mata lelah, dan sepertinya kalo di ajak ngobrol akan menolak karena sudah tidak mood tapi karena saya niat menuliskan ini artinya saya "mau" melakukannya dan lalu akan berubah menjadi "bisa" terealisasi.

Ini menjadi satu contoh dimana
persepsi mau dan bisa melakukan sesuatu memang langkah awalnya dari kemauan disusul dengan kemampuan lain yang menunjang hingga terbentuklah kata bisa.

Jika saja saya mau menerima tawaran menjadi kepala biro media massa di salah satu provinsi Jawa Tengah tentu saya bisa melakukan apapun dengan jabatan tsb. Namun dikarenakan saya tidak mau .. Alhasil saya ngga bisa menduduki jabatan tersebut.

Yang saya amati, dan mahasiswa saya tadi dikampus memang nyata adanya, ketika seseorang mau melakukan sesuatu maka itu bisa terjadi. Seperti contoh lainnya, ketika kita mau traveling tentu bisa saja terjadi.

Karena, tanpa disadari bahwa semesta akan menghantarkan molekul2 keinginan anda menjadi bisa dilakukan. Contoh lain banyak ...silahkan anda explore dan lihat apakah kemauan yang kuat akan melahirkan sesuatu BISA terjadi?!

Saya tungu jawaban anda ...

Contoh kasus yang lain, ketika laki2 memutuskan untuk menikahi perempuan dasarnya ialah "Mau" untuk menikah lalu yg terjadi kemudian yaitu perempuan tsb bisa menjadi pilihan ..

Bagi yg jomblo part ini di skip aajaaaajhj

Monday, 1 January 2018

ANTARA BAU KETEK dan COVER BUKU

Saya ada pengalaman begini, dua moment ketemu orang baru. Keduanya sama2 orang komunitas cuman beda grup. Satu grup orat oret, satunya lagi teman bisnis.

Yang pengen saya ceritain bukan soal komunitasnya tapi menyoal "lirikan mata" nya yang "aduhai" bikin saya ngernyit dahi. Ceritanya kita kumpul, dalam satu kumpulan tsb terlibat dong obrolan ngalor ngidul entah mengapa setiap kali saya berceloteh ni orang kayak illfeel banget dengan menunjukkan lirikan mata yg menyiratkan "siapa sih loe". 😢

Ups! Ngga boleh suudzon yak'
Tapi ini berdasarkan pembacaan tanda2 dari gesture yg terkirim .. Cieee bukan mentang orang komunikasi yaa .. 😁

Case yang sama pula dengan teman bisnis, beda moment, beda ruang dan beda waktu pula tapi dengan case yg sama. Celakanya kedua moment berlangsung, mimik muka saya ngga bisa diajak kompromi ga bisa nyembunyiin rasa kecewa ketika mereka memperlakukan saya dg "lirikan sebelah matanya itu",

hadeeuuh .. Terkena jebakan juga, padahal semestinya netral aja brooo .. Woleeess woles! Karena ada di grup yang sama, otomatis mereka dengan bebas menyimpan no. Kontak saya. Selesai ...

Dalam kamus saya, salah satu prinsip yang saya pegang, ketika ketemu orang baru saya usahakan menghindari untuk menganggap mereka lebih dari saya titik. Entah itu lebih secara materi alias lebih kaya,  lebih terhormat atau apapun itu.

Dikarenakan jika saya melakukan itu bisa2 hal tsb yang menyebabkan rendah diri dan tak mampu menyeimbangkan posisi obrolan, bahasa dan tingkat kepercayaan diri berbaur dengan mereka. Back to the laptop!

Hari berganti, ketika balik ke rumah, seiring berjalannya waktu saya dapet japrian whatsapp dari mereka berdua ini, ya sudah saya save aja ..  Whatsapp, singkron dong dengan medsos saya .. Dan anda tau, ketika mereka "mengintip" medsos saya, perubahan drastis banyak mereka lakukan.

Sering menyapa saya via WA! Deuh bukan GeeR, say hallo pula. Hhmm .. Saya berpikir karena apa ya? Apakah karena postingan Fb saya yg amburasut itu kah? Ataukah karena hidayah Tuhan yg melembutkan hati keduanya?

Wallohualam .. Saya baca kembali postingan Fb saya .. Kayaknya nggak ada yang aneh, nggak ada yg bikin orang jadi baik thd saya, ngga ada janji saya ngasih utangan ke mereka atau traktiran makan?! Hihiii ..

Sudaah .. Mungkin Tuhan sedang melembutkan hati saya, dan mereka berdua .. Fix ! Cuma ada yang ingin saya sampaikan disini. "Dont judge a book by its cover" pepatah lama, mungkin dulu saat saya kumpul dengan mereka ngobrol penampilan saya kurang "selevel" dengan mereka jadinya saya dapet lirikan mata yang aduhai.

Atau mungkin saat itu badan saya lagi bau ketek! Ups! Aslinya saya ngga punya masalah dengan bau badan hahahah .. Suwerrr ..

Done! Thats all ..

Saturday, 30 December 2017

SEBUAH MUHASABAH : Refleksi Doa yang Terbaca Semesta

Segala sesuatu memang Allah takdirkan sesuai dengan keinginan hamba Nya, masih nggak percaya? Banyak ayat yang menyatakan tentang ini meskipun memang semua orang meyakini sudah tercatat dalam Lauh Mahfudz .. Tidah dapat di ubah kembali! Saya agak kurang setuju mengenai hal yang terakhir ini.

Biasa, kalau kita udah berbicara banyak tentang ranah kehidupan maka tidak heran selalu diminta mana dalilnya, mana ayatnya?! Saya kutip sedikit saja yang sering saya gunakan, pertama : "Berdoalah kepada Ku niscaya aku perkenankan permintaanmu"

Ah rasanya jika memakai ayat ini terus2 an sebagai dalih entar dibilang bosan, tapi yaa mesti gimana lagi .. Saya sangat meyakini itu koq!.  Kedua : " Aku sesuai prasangka hambaKu"

Tuh udah kurang baik gimana lagi coba Allah memberikan kesempatan pada kita untuk singkron step 1, 2 dan selanjutnya ketiga : "Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum (manusia) hingga kaum (manusia) itu sendiri yang mengubahnya".

Kewenangan yang hakiki, absolut sepenuhnya diserahkan pada kita? Lalu apa fungsi takdir yang sudah tercatat di Lauh Mahfudz tadi? Itu perjalanan takdir yang sudah tercatat terutama takdir buruk maka Allah pun memberikan kewenangannya lagi pada kita untuk menolaknya dengan cara beramal baik, perbanyak istighfar, bershodaqoh dengan berbagai macam cara yang Allah tunjukkan.

Seperti menafkahi orangtua, menyenangkan hati anak, memberi salam pada orang lewat, menyingkirkan batu/rintangan di jalanan yang dilalui oleh orang lain. Dan masih banyak lagi.

Sampai dengan hari ini, saya mencoba menyingkronkan setiap kejadian yang saya alami dikaitkan dengan "request" terselubung saya yang dulu2 mencoba diingat kembali. Ah ternyata banyak kejadian yang sesuai dengan permintaan saya. Alhamdulillah ..

Request terselubung itu terkadang dalam gumaman kita, yang terbersit dalam benak, yang tertulis dalam status, yang tergores dalam diary, yang terucap kala marah, sedih dan bahagia. Daaan banyak lagi.

Contoh kasus yang saya alami di antara tahun 2013-2015 saya membeli 1 buah buku berjudul "Pokoknya Menulis" karangan Prof. DR. Alwasilah almarhum, kala itu sang Prof. belum meninggal.
Saya ingat dalam salah satu catatan buku itu beliau menuliskan tentang  meminta pendapat pada anaknya yang bernama Susan Seni Alwasilah.

Dalam buku itu beliau cerita anaknya ini masih kuliah alias berstatus mahasiswa. Selintas dalam benak saya bergumam "pengen ketemu dengan Susan Seny Alwasilah deh!" karena dalam buku tsb. Beliau digambarkan sebagai sosok penulis yang hebat.

Sudah!! Begitu saja, berlalu tanpa ada ikhtiar apapun untuk bertemu atau apalah karena hanya sebatas gumaman belaka. Jam berganti hari, hari berganti bulan, bulanpun berganti tahun.

Dalam satu kesempatan membaca poster lomba penulisan karya setingkat ASEAN, tertarik untuk mengirimkannya dan lolos kurasi! Selanjutnya mendapatkan pemberitahuan melalui email dan ketika membuka, membacanya sampai ujung kalimat terakhir sedikit mengernyitkan dahi dimana pada bagian bawah surat berkop AWWA (Asean Woman Writers) tsb tertera nama DR. Susan Seny Alwasilah sebagai President of AWWA. 

Selang beberapa bulan di tanggal 26 Oktober 2017 takdir Allah saya dipertemukan dengan perempuan cantik ini dalam satu kesempatan peluncuran buku "short stories from arround the world".

Subhanalloh!! Saya sangat meyakini betapa satu kalimat saja yang terlontar maka respon semesta akan berusaha dengan segala cara membuatnya menjadi nyata!

Banyak kasus lah, baik yang dialami sendiri maupun teman sekitar. Saya sajikan satu case yang menarik, pengalaman dari seorang teman ketika ia berada di jalan tol tepatnya kemarin maghrib tetiba ia merasa linglung semua pandangannya terasa berputar, mobil yang berada di depannya berasa berkumpul menjadi satu arah dan berada di tengah.

Dapat anda bayangkan ketika pergerakkan kendaraan dalam kondisi cepat dan gempa tak terelakkan mau dalam posisi apapun kita hanya bisa berdoa dan berpasrah diri.

Lantas ia beristighfar sekuat tenaga, dan lalu apa yang terjadi dalam hitungan menit jalanan kembali normal pandangannyapun kembali terarah dan mobil2 yang menumpuk di satu area kembali terurai.

Salah satu bukti bahwa ketika suatu takdir buruk sudah digariskan jika saja manusianya mau merubah dengan ikhtiar, istighfar maka Allah menjamin akan menjadikannya baik.

Case yang lain, saya ingat2 kembali, ketika satu pertemuan dengan seorang teman baru dari tetangga provinsi sempat menggumamkan sesuatu .. Dan sepertinya akan terjadi karena tanda2 nya sudah dalam pandangan mata.

Wallohu alam .. Semua kejadian, semua arah penjuru angin, semua alam semesta ini ada dalam genggaman Nya.

DAHSYATNYA CATATAN DIARY

Akhir tahun 2017 ni, ngga berasa ya nambah umur, nambah angka usia juga esok lusa sudah berganti lembaran kalender pula! Meski dalam tataran fisik kita berganti lembaran demi lembaran almanak, bukan berarti kalender akhir tahun kita sebagai muslim tertinggal dan teronggok begitu saja.

Tetap niatkan untuk menjadi lebih baik, sehat, bahagia, mendapatkan segala sesuatu yang didambakan dengan perasaan serba berkecukupan.

Moga lembaran kalender yang baru, hari baru di tahun yang angkanya nambah satu. Kita dimampukan untuk menjadi pribadi baru yang mampu beramal demi kehidupan dunia dan akhirat. Membawa mashlahat untuk semua umat terbawa sampai kelak di akhirat. Aamiin. 

Saya baca sebuah artikel di instagram, ada perempuan yang bisa keliling 12 negara selama setaun penuh! asyiknya dibayar pula! Kereen kan?

Awal mulanya dia hanya menuliskan sebuah keinginan/resolusi yang ingin dicapai di tahun yang akan datang, dan taunya kejadian! Apa yang bisa menyebabkan itu terjadi?

Dari sisi teologi sih, terutama agama yang saya anut "perlu diingat bahwa di kiri kanan kita ada yang sedang mengamati dan lalu mencatat apa yang menjadi keinginan kita". Kemudian meneruskannya pada sang Maha Kuasa.
Setelah itu ia yang akan meng Acc apakah kita layak mendapatkan segala kemudahan Nya ataukah menunggu waktu yang tepat disaat kita siap menerimanya.

Dari kacamata quantum fisika, getaran yang terhantar ketika kita memikirkan, melafalkan sebuah keinginan baik itu terlisan dalam bentuk lisan dan tulisan maka bukan tidak mungkin itu yang akan terjadi.

Siapkan buku baru, diary yang membuat mata kita nyaman menuliskan segala hal. Tuliskan apa yang terlintas dalam benak apapun itu .. Maka yakini Allah akan mengabulkannya.

Saya lagi nyari diary setaun ke belakang ni, mulai kasih tanda apa2 saja yang sudah terjadi dan yang akan terjadi ..
Resolusi saya tahun 2018 yaitu :
1. Dapet Jodoh 🙀😴😍
2. Bisa Umroh 😍😍😍
3. ... Oh
4. ... Oh
5. ... Oh
6. ... Oh
7. ... Oh
8. ... Oh
9. ... Oh
10. ... Oh

Waaah banyak banget yaaa .. Point 3 sampai terakhir saya keep untuk diary saya sendiri yaaa .. ra ha si a .. hahaha

Selamat menuliskan resolusi anda dan bercengkrama dengan diary anda iringi dengan happy becouse its gonna be!  Selamat membuat resolusi. 😊

Luruskan Niat

Segala sesuatu pekerjaan yg terealisasi awalnya pasti niat! Termasuk apa yg sedang anda kerjakan saat ini. Sekalipun sedang rehat, ngopi2 atau leyeh2.

Dalam al quran sudah Allah sampaikan .. "Inna a'malu bi niyat"

Saya ada contoh kasus, beberapa hari lalu saya ke Jakarta dengan menggunakan Kereta Api, planning awal saya menuju stasiun menggunakan motor setelah ngedrop dulu anak ngaji subuh karena menggunakan kereta pagi pukul 05.00 .. Lalu seorang teman, dia driver taxol menawarkan biar dia aja yg anter jemput dan lalu terjadilah .. Pagi itu lancar jaya tanpa kendala.

Obrolan kami berlanjut, beliau menanyakan jam kepulangan.  Saya share e-ticket nya tertera dijadwalkan saya kembali berada di Bandung pukul 22. 45 wib. Malem banget ya!

Lalu teman saya ini bilang, "Kalo gitu aku sudah harus selesai tutup point taxol nya sebelum kamu pulang, biar bisa jemput kamu"

Dan tahukah anda?
Dalam perjalanan pulang masih dalam kereta api malam, temen saya ini ngeshare capture screen shoot capaian pekerjaan taxolnya hari itu .. Seperti yg anda lihat, amati jam yg tertera diatas screen shootnya. SEBELUM pukul 21 an kurang! Persis sebelum saya nyampe ke Bandung!

Great kan!
Betapa alam mendengar apa yg kita inginkan, sesuai rencana dan keinginan pula! So,, saran saya "berkatalah" baik karena atom2 dan molekul semesta sedang bersiap merekam, membuat perubahan sesuai dengan niat!!

Semesta raya ini saya ibaratkan luasnya lautan padang pasir lembut dan halus, dimana setiap pergerakan kita melalui "niat" yg terlisan tulus baik melalui mulut dan hati maka itulah yg terjadi.

Sekali anda lubangi hamparan pasir, maka pasir lain akan berebut mengisi kekosongan itu, mengisi dengan hal2 yg baru dan dibutuhkan.

Berlaku general!! Alias umum! Hal ini berlaku pada semua orang di dunia ini. Termasuk anda yg sedang menggunakan kendaraan apapun itu pada hari, jam, menit dan detik inipun .. Itu adalah berdasarkan NIAT BESAR anda yg direspon oleh semesta.

PASTIKAN SADARI bahwa segala sesuatu yg menimpa diri adalah tercetus dari dalam hati yg bernama NIAT! dan pastikan pula niat itu BAIK! karena jika niat anda tidak baik, otomatis menjadikan rentetan perilaku dan realita yang terjadi menjadi tidak baik!

Contoh kasus "perilaku/realita" yang tidak baik sangat banyak, meskipun seringkali dalam lisan menyangkal "gak ada niat" kalo gak ada kesempatan!! Ah itu rasanya mustahil.

Penciptaan ruang dan waktu yg bernama kesempatan itu tidak selamanya beriringan seringkali malah dimulai dengan penciptaan NIAT terlebih dahulu,  maka respon lainnya adalah mestakung alias semesta mendukung,  disertai rasa yg dominan terhantar dan  meliputi maka niat yg lebih dominan itu terciptalah dalam wadah yg bernama kesempatan (ruang dan waktu).

Niat untuk memperbaiki diri, pasti diri menjadi baik. Sudah besarkah niat anda?

Korelasi Harga Diri dan Pencitraan

Mungkin anda, atau saya pernah melakukan hal ini .. Kalau saya, saya akui dulu saya pernah melakukannya. Begini ..

Ini saya sebut ketika jaman jahiliyyah, jaman saya SMP mungkin, masuk dalam satu lingkungan baru disambut dengan baik, setiap acara saya dilibatkan dan salah satu moment lalu ada perasaan dalam diri saya "menganggap" ajakan orang lain itu tidak penting. Saya abaikan, dengan berbagai macam jurus alasan agar tidak eksis.

Ajakan lainnya berlanjut, demikian terus mengeluarkan jurus. Dan lalu, saat itu saya tidak menyadari bahwa saya sedang mempertaruhkan eksistensi diri saya di lingkungan sekitar .. Sampai suatu kali, saat satu undangan teman nama saya terlewat dan lalu ada semacam perasaan tidak nyaman di dalam dada.

Kemudian saya coba bertanya pada teman yg mendapat undangan, kenapa saya tidak diundang pernyataan yg didapatkan cukup mengagetkan "abis kamu, tiap kali diajakin suka nggak mau, jadi yaa buat apa di undang, pasti nggak bakalan dateng! Ya kan?"

Mendengar itu sepertinya untuk ukuran anak SMP cukup menohok seperti pukulan telak,  dan terjerembab dalam masa galau!
Perubahan apa yg terjadi setelah itu?
Lama untuk mendapatkan kembali satu kepercayaan teman jika saja mendapatkan undangan saya pasti menghadirinya. Dan benar saja, setelah itu undangan dalam bentuk lisan pun  saya usahakan untuk memenuhinya.

Sampai hari ini, sekuat tenaga jikapun memang tidak bisa menghadirinya saya akan permit by phone atau sekedar menyelipkan sesuatu ketika bertemu tanda permintaan maaf.  Lain halnya kalau memang tidak di undang walau saya kenal pun mungkin bukan ketidak sengajaan jika diabaikan.

Satu kasus yg sama ketika sudah beranjak dewasa, beberapa tahun yang lalu tepatnya, masuk dalam lingkungan baru dan ketika saya diminta untuk ikut serta menghadiri berbagai macam undangan relasi, atasan dan rekan sejawat saya selalu ada.

Wacana2 yang muncul ketika ada rekan sejawat yang lebih senior daripada saya berlaku sama ketika jaman jahiliyahnya ala saya. Diundang serba banyak alasannya, ketika ada undangan berkumpul selalu lebih dulu pulang dan itu berlangsung selama bertahun-tahun selama ia bergabung disana.

Dan sudah bisa anda tebak, label yang diberikan pada seorang kawan tersebut ialah seorang yang tak pernah datang jika diundang, selalu sibuk dengan urusannya pribadi. Dan lain sebagainya.

Sejatinya jikapun mau berburuk sangka penilaian tentu sejatinya bukan milik kita pribadi. Namun sudut pandang saya dalam hal ini adalah bagaimana  mengcounter sebuah kontinyuitas, eksistensi berbuah label citra diri.

Label, harga diri dari sebuah eksistensi dibutuhkan konsekuensi. Maka jika saja beberapa langkah kita mundur untuk mengenalkan diri pada lingkungan, sudah dapat dipastikan labelitas akan melekat entah itu baik ataupun buruk.

Oiya, dalam pandangan islam pun jika mendapatkan undangan semestinya kita penuhi bukan?

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari

Pencetus pribahasa lama yg satu ini keren bener ya. Pandangan pendahulu2 kita punya perspektif yang luas ternyata. Pribahasa lahir dari sebuah realita terhadap fenomena yg sedang dan akan terjadi.

Dari pribahasa tsb, jika kita lihat dari sudut pandang positif, ngga usah dilihat dari sudut pandang nehatip .. 😉 jika dilihat dari sudut pandang nehatip mah gampang, udah fitrah manusia lihat satu kesalahan pasti akan nampak diantara ribuan kebaikan.

Positifnya begini, awalnya persepsi saya si pencetus pribahasa ini ibu guru bukan pak guru .. Tapi pak gurupun dalam adab islam semestinya kencing pun disunahkan untuk tidak berdiri toh! Hehee 😬 Namanya juga pribahasa bukan makna sebenarnya hanya sekedar kiasan.

Sedikit flashback, ajaran sopan santun jaman baheula mampu mendidik manusia2 jaman old, etika dan attitude benar2 dipake, Ketemu guru pun rasa malunya setengah mati, tapi jaman now murid ketemu guru bukan lagi dach! , malah terkesan kepalang ajar. Becandain guru udah bukan hal tabu.

Dimana letak benarnya?
Semua benar dalam persepsinya, dalam masanya, dalam zamannya tapi bukan berarti membenarkan kebiasaan yang tidak benar. Soal etika, attitude adalah sesuatu yang membudaya. Ketika suatu kebiasaan dilakukan secara terus menerus lama kelamaan budaya lama yang dalam sudut pandang baik dan agung akan tergeser dan berlari seperti kencing yang terbirit-birit.

Baikkah itu?
Jawabannya ada pada nurani setiap kita. Anak-anak jaman now yang "kekinian" mungkinkah hasil didikan Guru yang "kencing berdiri"?.

Ah rasanya kalau menyudutkan "guru" rasanya hati nurani saya ngga terima juga, hiks!!  rupanya terlalu kompleks banyak faktor pendukung disana sini.

Balik, kita bahas pribahasa ini dari perspektif positif ya .. posisi guru baik ibu atau bapak guru jaman old mampu menempatkan diri bahwa manusia hasil didikannya akan mampu mengembangkan diri jauh melampaui apa yg ia contohkan. Berbagai peran guru bisa jadi sebagai pendamping, pendorong, dan peran informan.

Beliau2 sudah mampu meramalkan masa depan akan seperti apa murid2 nya kelak, perkembangan teknologi yg kita nikmati saat inipun hasil dari "guru kencing berdiri" bukan .. Makanya muridnya bisa "kencing berlari".

Gurunya keliling Indonesia aja belom, nah muridnya udah keliling dunia .. 😅😄 tapi ngga usah diragukan lah kalo soal pengetahuan, bisa didapat dari jejak jejak lisan dan tulisan (bukan ngeleees ... 😬)

"Tut wuri handayani, mendorong dari belakang".. Hhmm, posisi guru yg ada di belakang? Sepertinya mesti ada yg dirubah ni jangan sampai posisi guru yg selalu ada di belakang, ngedorooong terus, dibelakang! terus kapan di depan nya? Hehee .. Terbelakang secara materil maupun non materil.

Ah semoga mindsett tut wuri handayani, dimaknai luas dalam segala hal.

Saturday, 12 August 2017

Johannes Marliem Saksi Kunci e-KTP Meninggal Dunia

Saksi kasus e-KTP Johannes Marliem meninggal dunia. KPK belum mengirimkan tim ke Amerika Serikat, tempat Marliem diketahui tinggal.

tirto.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mendengar kabar meninggalnya salah satu saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek KTP Elektronik (e-KTP) Johannes Marliem di Amerika Serikat. Meski begitu KPK belum mengirimkan tim ke Amerika Serikat tempat Johannes tinggal. 

“Belum kirim tim ke sana. Kami masih dalami,” kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarief saat dihubungi tirto, Jumat (11/8).

Laode tak mau banyak berkomentar saat ditanya tentang signifikasi kesaksian Johannes dalam mengungkap kasus korupsi e-KTP. Ia beralasan hal itu bagian dari proses penyidikan. “Ia saksi, tapi saya tidak bisa disclose (membuka),” ujarnya.

Laode juga menolak berkomentar saat ditanya soal bukti-bukti apa saja yang didapat KPK dari kesaksian Johannes. “Sudah itu dulu ya,” katanya.

Marliem adalah provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1 di proyek e-KTP. Surat dakwaan Irman dan Sugiharto mencatat Marliem diduga menikmati duit korupsi e-KTP senilai 14,88 juta dolar AS dan Rp25,24 miliar. Marliem juga tercatat sebagai salah satu dari Tim Fatmawati.

Nama Marliem sempat disebut dalam persidangan kesembilan kasus korupsi e-KTP, Kamis (13/4/2017). Dalam persidangan itu saksi Tri Sampurno mengungkapkan salah satu pengusaha penyedia barang di proyek tersebut pernah membiayai kepergian dua staf Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Ia bersama dan Husni Fahmi ke Florida, Amerika Serikat untuk mengikuti seminar Biometric Conference dengan biaya dari pengusaha Johannes Marliem. Dua Staf BPPT itu mendapatkan duit akomodasi senilai 20 ribu dolar AS dari Marliem.

Sedangkan Sampurno dan Husni merupakan anggota tim teknis teknologi informasi di proyek e-KTP. Surat dakwaan untuk Irman dan Sugiharto menyebut Sampurno dan Husni juga bagian dari Tim Fatmawati. Tim Fatmawati ialah sebutan bagi mereka yang pernah terlibat pertemuan di Ruko milik salah satu tersangka di kasus ini, Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Dalam wawancara Koran Tempo edisi 19 Juli 2017 Johannes mengklaim menyimpan sekira 500 giga byte file rekaman percakapan proyek e-KTP.Termasuk pembicaraannya dengan Setya Novanto. 
#reblog

MEREKAM DESAHAN FERDINAND MARCOS dan DOVIE BEAMS

Meski desahan Ferdinand Marcos dalam pelukan Dovie Beams terekam dan tersiar ke publik Filipina pada 1971, Marcos tetap berkuasa hingga 1986. Rekaman bersanggama bisa jadi alat untuk menjatuhkan seseorang dari kekuasaan.

tirto.id - Ferdinand Marcos, presiden Filipina yang berkuasa selama 20 tahun, tahu benar soal ungkapan: “Kebohongan, bila terus-menerus diucapkan, akan terdengar sebagai kebenaran.” 

Ia mengklaim sebagai pahlawan pada masa perang melawan pendudukan Jepang di negaranya pada 1942-1944. Untuk lebih meyakinkan, dibuatlah detail cerita: ia memimpin sebuah pasukan gerilyawan bernama Ang Mga Maharlika. 

Sang presiden korup dan tukang ngibul ini, yang bikin rakyat Filipina sengsara selama 20 tahun ini, mengundang kru film dari Hollywood buat bikin kisah rekayasa tersebut. Judul filmnya sudah dirancang: Maharlika, artinya Si Pria Jatmika. 

Ada Paul Burke yang akan memerankan Marcos muda. Juga Dovie Beams yang kebagian peran sebagai Isabella, perempuan yang menaruh hati pada Marcos muda yang sedang berjuang melawan serdadu-serdadu Jepang.

Namun, perkaranya justru di situ. Ketika Dovie, bintang film Amerika kelas-B, tiba di Quezon, Manila, pada 1968, Marcos kepincut. Selama dua tahun, mereka menjalani musim panas pasangan yang kasmaran. 

Marcos bukan orang bego. Istrinya, Imelda Romueldez—yang sohor sebagai Imelda Marcos—dikenal sebagai putri rupawan, punya panggilan “Si Kupu-kupu Besi”, dengan koleksi ribuan pasang sepatu. 

Tetapi kekuasaan memang memabukkan. Marcos dikenal pria hidung belang dan matanya suka main keranjang. Sebelum kehadiran Dovie, ada sejumlah perempuan di dunia seksual si patriark Marcos. Main gila si presiden bahkan melahirkan buah terlarang, dan ia memberi nama anak-anak yang tak diakuinya dengan nama ibundanya.

Dovie Beams, yang terlahir sebagai Dovie Leona Osborne pada 5 Agustus 1932, segera mengundang pikiran mesum Marcos sesudah dikenalkan produser film Potenciano Ilusorio. Alih-alih buat syuting film, ia memeloroti Marcos sampai betah tinggal di Filipina selama berbulan-bulan.

“Berapa lama kau menyentuhku?” tanya Dovie kepada Marcos.

Marcos, yang dibelenggu birahi, menjawab singkat, “Dua tahun lebih.”

Dovie yang penuh harap berkata, “Lebih dari yang kita bayangkan, sudah dua tahun sekarang. Aku rasa akan selalu denganmu. Biarlah seperti ini.”

Adegan di atas ranjang itu hanya ada Dovie dan presiden. Tentu saja ada kalimat “f*ck me!” terucap dari kedua belah pihak. Juga Marcos yang mendesah. Terdengar juga suara Dovie yang cekikikan.

Marcos tak sadar, di kolong kasur, sebuah alat perekam menyala. Mereka bertempur dan Dovie tahu sesuatu yang berharga ada di bawah ranjang.

Transkrip rekaman ini terdapat di sebuah bab dalam buku Marcos' Lovey Dovie (1983) yang ditulis wartawan Hermie Rotea yang penuh dengan humor.

Rekaman itu akhirnya sampai pula ke tangan mahasiswa kritis di Filipina pada 1971. Ketika itu rezim Marcos belum memperlakukan Undang-Undang Darurat Perang yang kejam dan membatasi ruang gerak orang Filipina. Menurut catatan sejarawan Sterling Seagrave dalam The Marcos Dinasty (1988), para mahasiswa yang demonstrasi di Universitas Filipina mengambil alih siaran radio kampus dan rekaman itu diperdengarkan ke publik lewat radio. 

Segera seluruh negeri mendengarkan Presiden mereka berdesah dan tak lupa meminta Dovie mengulum barang ajaib milik sang Presiden. Selama seminggu rekaman itu diperdengarkan di kampus dan ibukota Manila.

Bahkan, ketika beberapa tentara diperintahkan untuk menyita rekaman tersebut, desahan Marcos dan cekikikan Dovie mengetuk selera humor tentara-tentara yang hendak menyitanya. Mereka tertawa sebelum merampasnya.

Merekam Desahan Ferdinand Marcos dan Dovie Beams

Imelda mengamuk. Nyawa Dovie terancam. Kaset asli rekaman yang dipegang Dovie dihargai 100 ribu dolar oleh Imelda. Belakangan, Dovie berhasil keluar dengan selamat dari Filipina dan melanjutkan kariernya di dunia hiburan kelas-B. 

Tak ada UU Anti-Perzinahan, atau anti-pornografi, yang menjerat Marcos ketika itu. Marcos adalah hukum itu sendiri. Ia tetap tetap berkuasa, meski wibawanya jatuh. UU Darurat Perang diberlakukan hingga 1981 untuk menjaga kekuasaannya, yang berlangsung sampai 1986. Kekejaman Marcos selalu diingat oleh mereka yang waras di Filipina.

Soal klaim bahwa dirinya pahlawan, The New York Times pada 1986 menulis, berdasarkan arsip pemerintah AS yang tak pernah disentuh selama 35 tahun, bahwa klaim itu cuma “tipu-tipu” dan “absurd.” Tidak ada bukti kokoh kalau Marcos memimpin pasukan bernama Ang Mga Maharlika di masa perang dunia kedua. 

Memanglah Marcos membuat propaganda yang mengagungkan kepahlawanannya, sebagaimana sejawatnya Presiden Soeharto di Indonesia. Stasiun penyiaran pemerintah, sampai jalan raya di pulau Luzon dan aula Istana Presiden, dinamai Maharlika. 

Marcos terjungkal oleh kekuatan rakyat. Ia bersama Imelda melarikan diri ke Hawaii. Tiga tahun kemudian ia meninggal di pengasingan dalam usia 72 tahun. Dari 1990-1998 keluarga Marcos menghadapi sejumlah kasus korupsi, yang merugikan negara hingga jutaan dolar AS. 

Dari lokasi rumahnya di AS, Dovie membuat pengakuan kepada seorang wartawan di tahun pemerintahan Marcos berakhir: “Aku tetap sayang dia, meski tidak suka dengan pandangan politiknya. Bagiku dia pria yang luar biasa cerdas, jenaka, dan mempesona.”

Imelda sendiri kembali ke negaranya pada 1991, dan berusaha mengembalikan kejayaan lewat kursi presiden tetapi gagal, lantas dilarang untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala negara. Namun, seperti Indonesia yang gagal membersihkan rezim lama Soeharto, Imelda berhasil duduk sebagai anggota DPR pada 2010.

Hingga tahun lalu, Marcos tetap jadi pembahasan politik ketika presiden baru Filipina, Rodrigo Duterte, berencana menjadikannya sebagai pahlawan nasional. Pemerintahan Duterte hendak menyuci citra dirinya sendiri yang haus darah dalam “perang melawan narkoba”, yang telah menewaskan 6.000 orang selama enam bulan pertama memimpin negeri itu sejak Juni 2016.

Minus kisah skandal seks yang mengiringi dekade terakhir kekuasaan Marcos, kisah pemimpin di negara yang hanya ditempuh 4 jam 30 menit lewat pesawat dari Jakarta ini tak ubahnya seperti kita melihat cermin Indonesia di bawah dan sesudah Soeharto. 
#reblog

JEJAK CABUL PEREMPUAN KOLONIAL BELANDA

Meski orang-orang Eropa dianggap sebagai orang-orang terhormat di Indonesia pada masa kolonial, namun ada juga orang berdarah Eropa yang bekerja dalam dunia prostitusi, atau setidaknya dunia yang tak mau dibicarakan oleh orang Eropa sendiri.
dari tirto.id Ketika Perang Dunia I (1914-1918) berkecamuk, di dunia ini pernah ada dua matahari bagi para intelejen. Yang pertama tentulah matahari yang jadi pusat semesta. Yang lainnya adalah Mata Hari, yang kemudian diredupkan hidupnya oleh juru tembak pada 15 Oktober 1917 di pinggir kota Paris. 

Mata Hari adalah nama panggung dari penari erotis merangkap pekerja seks kelas atas Eropa bernama asli Margaretha Gertruida Zelle. Mata Hari, yang kemudian meregang nyawa di tangan algojo tembak Perancis itu karena tuduhan spionase yang merugikan Perancis, adalah perempuan berkebangsaan Belanda. 

Sebelum menjadi Matahari dengan tarian erotisnya, Margaretha Gertruida Zelle adalah istri dari Kapten Rudolp McLeod. Dia dan suaminya pernah tinggal satu dekade di Indonesia.Mereka bercerai setelah anak mereka meninggal. Selama di Indonesia, Matahari mulai menari di kelompok tari tradisional. 

Setelah bercerai, seperti digambarkan dalam novel Namaku Mata Hari karya Remy Sylado, Margaretha berganti-ganti pasangan. Ia kemudian kembali ke Eropa, persisnya berada di Paris sejak 1903. Di sana, ia menjadi penari dan pekerja seks kelas atas, meski Mata Hari lebih dikenal sebagai mata-mata terkenal dunia.

Profesinya sebagai penari dan posisinya sebagai pelacur kelas atas menjadi kekuatannya sebagai mata-mata. Dia biasa berkencan dengan golongan aristokrat atau pejabat. Dari kencan-kencan itu, info intelijen bisa dikorek. Namun, kiprahnya sebagai agen ganda ketahuan dan segera disingkirkan. 

Kisah pelacur yang dibunuh juga terjadi di Indonesia. Jika Mata Hari karena jadi mata-mata, maka Fientje de Feniks dibunuh oleh pelanggan setia yang cemburu, Willem Fredrick Gemsar Brinkman. Sang pelanggan, salah satu pria terpandang di Betawi itu, tidak terima perempuan Indo berumur 20 tahun yang hendak dijadikan nyai-nya itu masih berkencan dengan laki-laki lain. 

Mayat Fientje yang membusuk ditemukan mengapung di sekitar Pintu Air pada 17 Mei 1912. Polisi pun melakukan penyelidikan. “Berbulan-bulan berikutnya publik yang keranjingan cerita seks, sensasi, dan kekerasan minta diladeni berita dengan pemberitaan mengenai pembunuhan itu,” tulis Rosihan dalam Sejarah Kecil La Petite Histoire Indonesia (2004).

Semula Brinkman menolak tuduhan bahwa dia adalah pembunuhnya. Tapi rupanya Rosna, kawan Fientje sesama pelacur di rumah bordil milik germo Oemar, menyaksikan pencekikan itu. Meski dituding berbohong oleh Brinkman, Rosna akhirnya bilang: “Saya seorang perempuan, jadi saya penakut, tapi saya katakan sekali lagi laki-laki itu yang telah melakukan pembunuhan.” 

Rosna pun menjadi saksi di pengadilan yang mengantarkan Brinkman ke tiang gantungan. Namun sebelum digantung, Brinkman bunuh diri terlebih dahulu, yang membuat Siloen rugi karena tak jadi menerima upah karena Brinkman batal digantung. Padahal Siloen sudah menghabiskan uang untuk mengadakan selamatan yang biasa dilakukan sebelum eksekusi terpidana di tiang gantungan.

Seperti halnya Mata Hari, Fientje de Feniks pun menjadi kisah yang ditulis berulang kali. Mata Hari ditulis kisahnya dalam Namaku Mata Hari (Remy Sylado), Sang Penari (Dukut Imam Widodo), De Moord op Matahari (S. Wagenaar), Matahari Courtesan and Spy (Majoor Coulson), Matahari (J.C. Brokken), dan The Fatal Lover (Juli Wheelwright). Selain novel, kisah Mata Hari juga diadaptasi menjadi film dan serial televisi. 

Sementara soal Fientje de Feniks, Tan Boen Kim merilis novelnya berjudul Nona Fientje de Feniks pada 1915, tiga tahun setelah Fientje terbunuh. Selain itu kisah Fientje juga ditulis oleh Pieter van Zonneveld yang menulis De Moord op Fientje de Feniks: een Indische Tragedie (1992). 

Dalam karya Pramoedya Ananta Toer, sosok Fientje hadir dalam Rumah Kaca. Namun novel ini bukan tentang seorang pelacur, melainkan tentang seorang perwira polisi bernama Jacques Pangemanann yang sering menghabiskan waktu bersama seorang pelacur. Dalam novel Pram tidak ada nama Fientje, melainkan Rientje de Roo. Dalam novel itu, suatu kali Rientje tidak datang kepada Pangemanan karena ia ternyata terbunuh. 

Prostitusi yang melibatkan perempuan-perempuan Indo-Belanda bukan hal baru di awal abad ke-20. Hendrik Naimeijer, dalam Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII (2012), mencatat beberapa pelacur berdarah campuran Portugis pada abad XVII. Mereka adalah Adriana Augustijn, Anna de Rommer, Dominga Metayeel, dan Lysbeth Jansz. 

Ayah-ayah mereka Portugis sementara ibu mereka adalah perempuan-perempuan pribumi. Dalam bukunya Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah (2006), Sudarsono Katam menggambarkan eksistensi pekerja seks keturunan Belanda di Bandung pada era kolonial.

Skandal Asusila Orang Belanda di Zaman Kolonial

Pelacuran, yang mau tak mau selalu ada di Hindia Belanda, juga menjadi masalah serius. Banyak pegawai kolonial Belanda jika bicara soal perzinahan akan satu pandangan dengan Gubernur Jenderal Jan Pieterzon Coen yang sama-sama moralis yang benci pelacuran dan perzinahan. Gubernur Jenderal Coen pernah menghukum putri angkatnya, Sarah Specx atas tuduhan berzinah dengan Pieter J. Cortenhoeff, di Balai Kota Betawi di tahun 1629. Sarah Specx adalah putri dari pejabat VOC lain dari hasil hubungannya dengan seorang perempuan Jepang.

Banyak yang menduga pemerintah kolonial punya andil dalam menyensor cerita novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Selentingan terdengar bahwa dalam versi asli Salah Asuhan, Corrie du Buus si perempuan Belanda kesayangan Hanafi itu meninggal karena penyakit kelamin. Dalam novel yang kemudian terbit, kisah Corrie yang tak meninggal karena penyakit kelamin adalah demi menjaga citra orang-orang Belanda saat itu.

Di dunia nyata, pejabat kolonial Belanda di Palembang juga berusaha membersihkan citra orang-orang Belanda dari prostitusi. Di tahun 1906, Asisten Residen Palembang van Mark melaporkan kehidupan seksual seorang perempuan muda 24 tahun bernama Henriette Anderson alias Nona Jet. 

Menurut catatan asisten residen, dulunya Nona Jet datang ke Plaju dan tinggal seatap dengan Sersan Nachtzijl. Mereka hidup di sebuah tangsi militer di Plaju, seberang kota Palembang. Suatu hari, Sersan itu berniat untuk menikahi Nona Jet, namun Nona Jet menolak dan minggat dari tangsi. Kemudian dia tinggal di Perkebunan Karang Ringin, Musi Ilir. 

Nona Jet tinggal “di Jalan Sajangan, di kawasan 16 Ilir Palembang. Dia sudah memulai hidup cabul. Dan lebih buruk setelah Nachtzijl pergi ke Eropa,” lapor Asisten Residen Van Mark kepada Residen Palembang pada 27 Juni 1906. Mark dan beberapa orang lainnya menilai Nona Jet melakukan prostitusi terselubung. Banyak laki-laki pernah menginap di rumahnya. Sang Nona pernah juga jadi perempuan simpanan seorang Tionghoa kaya di sekitar Palembang. 

Suatu kali, Asisten Residen Palembang, Van Mark, memberi surat perintah pada Jet untuk memeriksakan diri ke dokter militer. Dia juga diberi uang untuk berobat ke Jakarta agar menjauhi Palembang. Nona Jet rupanya tersinggung dan tidak terima seolah dirinya dituduh sebagai pelacur. Maka, ia pun mengirim surat keberatannya kepada Residen Palembang. 
#reblog

Kata Biasa, Tapi Imbasnya Luar Biasa

Malam ini selesai mengerjakan 1 project design dari Kemenpar untuk acara tgl 11-12 November mendatang, tak hentinya aku berucap syukur kali ...